
Aku tersenyum...
Aku bahagia...
Sungguh aku tak dapat mengendalikan perasaan ku saat melihat dia. Jantung ku berdegup begitu kencang dan tatapan ku hanya tertuju pada nya. Akhirnya dia pulang. Setelah beberapa bulan dia bekerja di sana.
Dia dengan senyuman nya yang aku rindukan datang menghampiri ku. "Hai, apa kabar?"
Bibirku tak bisa menahan senyumku. Dengan hati yang berbunga-bunga, aku pun menjawab nya. "Hai juga. Aku baik-baik saja disini. Bagaimana kabarmu?" Mataku tak bisa lepas dari pesonanya. Menatap ku dengan lekat, itulah yang dilakukan nya sekarang.
"Ekhem! Jangan lupa, disini masih ada Mama." Ucapan Bu Intan memutus kontak mata kami. Seketika aku tersadar dan tersenyum menahan malu. Aku menunduk karena saking malunya.
"Mama. Apa kabar, Ma?" Ace tersenyum lalu menyalami ibunya. Bu Intan menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Mungkin dia tak habis pikir dengan sikap kami.
"Kamu ini. Lupa ya kalo Mama ada di sini?"
"Maaf, Ma." Ace tertawa pelan sambil menggaruk tengkuknya dengan kikuk.
"Mama baik-baik saja. Kamu juga kan?"
"Aku saaangat baik." Ace tertawa dan dihadiahi tepukan di lengannya dari ibunya.
"Mari kita pulang," ajak Bu Intan pada kami dan kami segera meninggalkan bandara.
.
.
.
Seharian ini aku bekerja tapi rasanya aku ingin segera pulang. Setelah bertemu dengan Ace beberapa jam yang lalu, aku kembali ke Cafe. Sungguh aku ingin berada di rumah Bu Intan saat ini. Aahhh... Memalukan sekali aku ini. Kalau sampai ada orang yang tau apa yang kuinginkan saat ini.
Aku jadi tidak fokus bekerja. Aku terus saja melirik ke arah jam, melihat jam yang ternyata masih jam delapan malam. Cafe juga masih ramai karena ini malam minggu. Malam minggu memang selalu membuat Cafe ini ramai.
"Rain, kamu kenapa?" tanya Sinta yang sepertinya sengaja menghampiri ku untuk menanyakan itu.
"Gak pa-pa."
Sinta menatapku tak percaya. "Masa? Kok mukanya kusut begitu? "
"Beneran gak pa-pa." Aku jadi frustasi.
"Ya udah." Dan dia melenggang pergi seolah tidak terjadi apa-apa pada diriku. Ya memang sebenarnya tidak terjadi apa-apa, tapi dia pun pasti merasakan kegelisahan ku karena gerak-gerik ku yang tidak jelas.
.
.
.
"Capek sekali..."
__ADS_1
"Jangan ngeluh. Giliran Cafe sepi bilangnya sepi banget. Sekarang lagi dikasih rezeki gak usah gitu ngomong nya." Oceh salah satu temanku saat kami akan pulang.
"Lah terus? Aku harus bilang wow gitu? Emang beneran capek ini badan. Masa iya aku harus bilang ini badan enteng sampai rasanya mau terbang."
"Lah, kok ngegas?"
"Hadeuh... Anda pun bicara tak tau keadaan, Tuan."
"Eh udah! Ayok semuanya kita pulang. Hari esok yang lebih ramai sudah menunggu kita. " Senior ku datang melerai kami dan menggiring kami untuk keluar dari Cafe. Kami pun saling berpamitan dan pergi ke arah tujuan kami yang berbeda-beda.
.
.
"Assalamualaikum..." Salam ku dengan suara yang keras saat memasuki rumah Bu Intan. Aku berharap penghuni rumah ini belum semuanya terlelap.
Benar saja, memang belum semuanya terlelap karena aku mendengar sebuah suara yang setelah aku periksa, ternyata itu suara dari ponsel Kana. Dia sedang menonton drama di ponselnya. Duduk sendiri dan sama sekali tidak merespon ku. Sepertinya, kehadiran ku dia anggap tidak ada.
Aku membuang nafas panjang dan berjalan melewatinya. Aku benar-benar merindukan kasur ku yang empuk. Rasanya aku ingin sekali melompat ke sana sekarang juga.
"Hai kasurku... Aku datang..." Tanpa aba-aba, aku langsung saja menghempaskan tubuh ku diatasnya, setelah aku masuk ke kamar ku.
"Nyamaaan sekali..." Rasanya aku ingin langsung tidur. Sungguh aku lelah sekali. Keinginan ku bertemu dengan Ace pun seolah kalah dengan rasa lelah ini. Tapi aku masih harus terjaga karena aku belum mengganti pakaian dan membersihkan diri sebelum aku tidur.
Dengan malas, aku pergi ke kamar mandi yang berada tak jauh dari dapur. Didalam kamarku tidak ada kamar mandi. Walaupun jaraknya sekitar dua belas meter dari kamarku, tapi aku tetap berjalan ke sana.
Aku mencuci wajah, tangan dan kaki. Menggosok gigi dengan bersih dan mengganti pakaian yang memang setiap aku mandi, aku selalu membawanya bersama ku. Walaupun kalau hari sudah malam begini aku tidak mandi. Tapi aku mandi sore hari tadi.
"Eh? Sejak kapan kamu disitu?" tanyanya dan tampak terkejut.
Aku mengerjapkan mataku dengan bingung. "Aku? Aku dari tadi disini."
Dia tertawa pelan. "Lalu apa yang kamu lakukan disitu? Melihat wajah tampanku ini?"
Hem... PD sekali dia...
"Tidak juga. Aku kira tadi kamu itu hantu."
"Uhuk! Hantu macam apa yang tampannya seperti aku?"
Seketika aku ingin memukul kepalanya. Kenapa laki-laki yang aku rindukan menjadi menyebalkan begini?
"Sudahlah. Aku mau ambil minum lalu akan kembali ke kamar ku dan segera tidur."
Aku berjalan menuju rak dan mengambil gelas disana. Berjalan kearah dispenser dan mengisi gelas itu hingga penuh. Aku melirik Ace yang sepertinya sedang memperhatikan apa yang aku lakukan. Dia tidak bersuara sama sekali.
"Aku ke kamar ku dulu. Jangan tidur terlalu larut, tidak baik." Aku berjalan menuju kamar ku namun dia segera menghentikan ku.
"Eh... Tunggu."
"Apa?" Aku menatapnya yang menahan pergelangan tangan ku. Aku berusaha untuk tidak terbawa perasaan.
__ADS_1
"Kamu gak kangen? "
Oh Tuhan... Kuatkan lah aku...
"Kangen kok. Tapi ini sudah sangat malam. Lagipula tidak ada orang selain kita disini."
"Memangnya kenapa?" Ace bertanya dengan polosnya seolah keadaan ini tidak akan berdampak apa-apa.
"Kenapa? Kenapa ya kira-kira?" Aku menatapnya tajam dan dia segera melepaskan tanganku.
Ace tersenyum cengar-cengir. "Iya deh, maaf. "
"Aku ke kamar ku dulu. Selamat malam."
"Eits! Tunggu. Aku mau bicara sesuatu dulu. Sebentaar saja." Dia menatapku sambil menangkupkan kedua tangannya di dada.
"Besok saja, ya? "
Ace tidak menjawab dan malah mengambil alih gelas yang aku pegang. Menyimpan benda itu di meja dan menuntunku menuju kursi. Aku hanya menatapnya tak mengerti. Apalagi dia hanya membiarkanku berdiri sementara dia sudah duduk dengan tenang.
"Apa yang-"
Seketika aku terkejut saat dia menarikku dan membuatku duduk di pahanya. "Ace!"
"Sebentaar saja,ya?"
"Jangan begini, Ace. " Tapi dia malah semakin mengeratkan pelukan nya pada tubuhku.
"Sebentaar aj-"
Dia menghentikan ucapannya saat aku menutup mulutnya. "Hem... Sebentar sebentar. Terus lama-lama apa?" Aku segera bangkit dari posisi yang tidak nyaman ini. Oh sungguh jantungku tidak aman sekarang ini.
Dia tertawa namun juga terlihat kecewa. "Heheh... Baiklah. Selamat malam, sayang."
Aku tersenyum lega. "Selamat malam. Aku pergi dulu." Dan aku benar-benar pergi ke kamar ku meninggalkan dia sendiri di dapur. Aku tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak seharusnya ketika kami berdua saja.
.
.
.
bersambung...
.
.
.
salam dari Yuya😘😘
__ADS_1