
"Kalau kita gak ketemu lagi, ibu bisa simpan baju itu buat kenang-kenangan." Rain tersenyum. Intan tersenyum dan mengambil kantong plastik yang diberikan Rain dan pergi ke kamar mandi untuk mengambil celananya yang digantung dibalik jaketnya.
Rain terlihat sedang menelpon ketika Intan keluar dari kamar mandi. Anak itu terlihat kesal. Intan menghampirinya.
"Kenapa? "
"Bapakku tadi ternyata gak baca smsku.. " Rain cemberut ekspresinya seolah tidak sadar dengan siapa dia berbicara. Intan rasanya ingin tertawa tapi ia tahan.
"Anak saya juga kayaknya belum bisa jemput. Sampai sekarang dia belum ada kabar. " Kata-kata Intan seketika menyadarkan Rain yang sedang kesal.
Rain melihat raut wajah wanita paruh baya itu nampak sedih.
"Emng... Bu.. Mungkin kita dibuat sama-sama menunggu supaya kita bisa saling menemani." Rain merasa canggung dengan kata-katanya sendiri.
Intan tersenyum menatap Rain.
"Ya. Kamu benar. Coba bayangkan jika saya dan kamu tidak bertemu, maka kita sama-sama menunggu sendirian." Intan menghela nafas.
"Tuhan memang adil. " Lanjutnya.
"Hujannya sudah agak reda, ibu mau tetap disini atau kembali ke pos? "
"Kita ke pos saja. Lagipula di sana juga terang dan lagi anak saya bisa saja menunggu di sana."
Mereka berjalan ke pos dengan santai karena tetesan hujan tidak membuat mereka basah kuyup.
Sampai di sana Intan mendapat telfon. Rain mendengar suara seorang laki-laki di sebrang sana.
"Mama sudah selesai dari tadi. Kamu kemana aja? " Tanya Intan dengan wajah sedih.
Rain hanya diam memperhatikan tanpa menguping jawaban orang di seberang sana.
"Ya sudah.. Iya.. Jemput mama di tempat tadi." Intan menutup telfonnya dan menatap Rain.
"Dia katanya lagi jenguk adiknya. Di sana juga hujan deras ternyata." Rain hanya mengerjap bingung. Intan memandangi langit hitam dengan ekspresi yang sulit ditebak oleh Rain.
Rain ikut memandangi langit yang hitam itu. Air hujan masih setia turun walaupun tetesannya tidak sebesar tadi.
Mereka memandangi langit hitam dalam diam.
Cukup lama hingga Rain yang sedang mendongak tiba-tiba mengerjapkan matanya mengaduh.
Intan menatapnya bingung."kenapa? " tanyanya.
Rain mengucek matanya dan sambil berusaha mengambil sesuatu didalam tas ranselnya.
Rain mengeluarkan sebuah kotak yang ternyata isinya beragam. Rain mengambil tetes mata dan menuangkan cairan itu ke matanya.
"Saya kelilipan tadi, Bu. Gak tau apa yang masuk. "
"Sudah lebih baik? "
"Iya"
Rain menyimpan kembali botol kecil itu. Intan melongok kearah kotak yang dibawa Rain.
"Bawaan kamu ini beragam, ya. sampe tetes mata kamu bawa." Intan meneliti benda-benda kecil yang ada di dalam kotak itu.
Dari obat sakit kepala, sakit badan, sakit perut dan obat lambung juga ada. Intan melihat ada dua buah pembalut dan celana yang digulung kecil. Plester dan obat luka juga ada. Intan tersenyum, dia tidak bisa melihat semua benda di dalamnya.
Intan melihat botol minyak kayu putih yang ukurannya kecil.
"Waahh.. kebetulan ada ini. Saya boleh minta? " Intan menatap Rain meminta izin.
Rain mengangguk. "Seperti yang saya bilang tadi kan, Bu. Kita memang tidak tau apa yang akan terjadi. Ini cuma persiapan kecil. "
Intan mengangguk-angguk sambil menghirup aroma minyak itu dan sedikit mengoleskannya ke bagian lehernya. Karena baju yang dipinjamkan Rain adalah baju gamis, jadi dia tak bisa mengoleskannya ke perut. Padahal perutnya rasanya dingin.
Intan menyerahkan botol kecil itu, Rain kembali memasukkan kotak itu ke dalam ranselnya. Dia melihat kamera pemberian Arza. Rain tersenyum. Arza hanya menjadikan Zee sebagai alasan untuk membuat Rain datang dan menerima kamera itu.
Intan menatap kearah benda yang dilihat Rain.
Terlihat dari kotaknya, itu adalah sebuah kamera. Intan menduga Rain adalah fotografer juga.
"Kamu suka memotret? " pertanyaan Intan membuat Rain menoleh.
"Iya." Jawab Rain tersenyum.
"Objek apa yang biasa kamu ambil? "
"Pelangi. Karena pelangi tidak bisa diperkirakan kapan akan muncul. Jadi kamera ini juga persiapan. " Rain tersenyum.
"Apa kamu juga fotografer? Kalau dilihat dari penampilan kamu, sepertinya profesi itu cocok untuk kamu. "
Rain menggeleng sambil tersenyum.
Perhatian mereka teralihkan kala ada sebuah mobil yang berhenti dijalan.
Rain menatap Intan karena perempuan itu berdiri dan membereskan barang-barangnya.
"Ibu mau pulang dulu, ya. " Intan tersenyum menatap anak yang ada dihadapannya.
Perasaan Rain berubah drastis, seperti ada yang hilang. Hatinya tiba-tiba merasa kesepian.
"Oh ya. Kita tunggu aja dulu sampe Bapak kamu datang, biar kamu gak sendirian disini. Sebentar ya, saya mau simpan barang-barang saya dulu. " Rain hanya tersenyum.
Rain melihat Intan yang berbincang dengan anaknya. Rain tidak mengerti dengan perasaannya.Rain masih setia menatap Intan yang berdiri di dekat mobil.
Rain tidak bisa melihat wajah orang di dalam mobil karena gelap.Rain tidak mendengar apa yang di ucapkan oleh ibu dan anak itu.
__ADS_1
Intan kembali pada Rain dengan raut wajah yang terlihat sedih.
"Sepertinya ibu gak bisa temani kamu disini. Maaf ya. Anak ibu yang satu lagi sedang sakit dan tidak ada yang menunggu." Intan terlihat sungkan.
Rain berusaha tersenyum walau hatinya masih menginginkan ditemani.
"Iya, Bu. gak apa-apa kok. sebentar lagi juga bapakku datang. "
"Ya sudah saya pergi dulu"
Rain tersenyum mengangguk. Intan membelai lembut rambut Rain sebelum pergi.
Intan duduk di depan dan melambai pada Rain.
Di saat itu pula Rain melihat wajah anak Intan.
wajah datar yang ditekuk. Laki-laki itu melirik sekilas ke arah Rain dan melengos dengan tatapan tak suka.
"Ih! kenapa lagi" Rain bergumam.
Mobil itu sudah benar-benar pergi. Rain sendiri.
"Aku tidak takut sendiri dan juga sudah terbiasa merasa sepi, tapi apa yang terjadi kali ini, aku tidak mengerti" Batin Rain.
\=\=\=\=**\=\=\=\=
"Neng! Ayo! Neng! Rain....!! Ayo pulang!!"
Entah yang keberapa kalinya pak djaja memanggil anaknya yang termenung di pos.
Merasa tak sabar pak djaja turun dari motornya dan menghampiri anaknya itu.
"Assalamu'alaikum"
Rain menatap datar ayahnya.
"Wa'alaikumsalam" Jawabnya lalu menatap ruang kosong kembali.
"Masih bisa menjawab rupanya? " Pak djaja merasa bingung sendiri menghadapi anaknya yang satu ini.
"Jangan keseringan melamun, kamu mau pulang atau tidak? "
Rain mendongak menatap ayahnya.
" Tidak akan terjadi apa-apa kalau saya masih sadar. rasanya saya malas berdiri"
Rain berdiri dengan lemas dan berjalan mendahului ayahnya.
"Eehh... anak.... anak" Pak Djaja geleng-geleng kepala dengan sikap Rain.
"Kenapa lagi coba" Lanjutnya sambil berjalan.
.
.
"Kamu kenapa sih? Dari tadi bapak lihat bengong.... terus" Pak djaja turun dari motor dan melepas mantel yang dipakainya.
Rain melepas helm yang dipakainya dan duduk di kursi teras.
"Gak apa-apa, Pak. Mungkin tadi kesambet hantu pos makanya saya bingung. sekarang hantu posnya sudah berpisah dengan saya. "
"Hah? "
Pak djaja melongo dengan penuturan anaknya itu. Istri dan kedua anaknya keluar karena mendengar obrolan.
"Weeh... Yang baru pulang..capek gitu kayaknya" Celetuk arka lalu duduk di depan rain meneliti wajah lusuh adiknya itu.
"Kenapa? " Lanjutnya.
"Haehhh... Tadi katanya tu dia kesambet hantu pos, bengong terus dari tadi." Pak djaja sudah tak mau tau karena tidak bisa juga di cari tau. Pak djaja melenggang masuk.
Kedua saudara rain tergelak dengan wajah bengong rain yang tampak konyol. Hastini geleng-geleng dan ikut masuk mengikuti suaminya.
Mereka membayangkan sendiri-sendiri tentang hantu pos sambil mengoceh kesana kemari tak menghiraukan Rain yang sedari tadi terdiam.
Mereka tergelak. Perhatian Rain teralihkan pada kedua saudaranya itu. Wajahnya merengut.
"Eh! Tau gak bang? Aku dapat salam dari hantu pos,katanya dia pengen nyanyi bareng abang loh...." Rain menaik turunkan alisnya.
Zee tergelak tak terkira. tapi apa yang lucu? jelas ekspresi Arka yang lucu, lucunya melebihi wajah konyolnya rain.
Setelah sarapan kemarin, dengan tiba-tiba saja Arka bercerita kepada kedua adiknya apa yang membuat dia berlari ketakutan dari sungai.
Arka menceritakan ketakutannya saat mendengar suara perempuan yang mengikuti nyanyian Rain dengan sangat merdu.
Padahal dilihatnya saat itu tidak ada siapa-siapa. Bulu kuduk Arka meremang dan seketika dia berlari kencang melupakan pancingnya.
Saat diceritakan kemarin, kedua adiknya serius menanggapi dan tidak tertawa sama sekali. Tapi yang terjadi sekarang malah Arka yang di pojokkan. Arka berdecih kesal.
Rain tersenyum mengejek dan berlalu pergi di ikuti Zee yang berlari kecil.
.
.
Malam itu berlalu seperti biasa.
Di kamar orang tua Rain...
__ADS_1
Orang tua rain berbincang setelah beribadah.
"Sebenarnya rain tadi kenapa? " Hastini nampak masih penasaran.
"Ah.. Gak tau lah bu. tadi waktu di telpon ya kedengeran ngambek, tapi itu kan biasa"
"Apa mungkin karena dia lama menunggu makanya dia kesal? "
"Gak tau juga."
"Emang tadi dia gak keliatan sama siapa gitu? "
"Tadi waktu bapak nyampe sih dia sendiri. waktu dia telpon bapak, dia bilang dia lagi di mushola. kedengerannya sih ada orang lain. tapi mungkin cuma jamaah mushola."
Hastini termenung.
"Tapi ya bu, rain tadi di pos itu bengong nya gak kayak orang bego begitu." Pak djaja dapat tepukan di punggung nya dari istrinya.
"Bapak ini! "
"Heheh.. habisnya apa lagi, orang tua udah serius nanya, ehh.. jawabannya malah begitu. gak habis pikir bapak sama dia. sikap anehnya kelewatan"
"Gak usah berpikir dia beneran kesambet hantu pos ya, bu. " Pak djaja melihat istrinya yang diam.
"Ck! ya nggak lah, pak"
Mereka akhirnya beristirahat,mencoba menghilangkan prasangka tentang anak mereka.
Rain POV
Aku berlari kecil, melompat sampai rasanya melambung tinggi terbang bersama kupu-kupu.
Ku langkahkan kakiku di rerumputan yang hijau. Bunga-bunga nampak bermekaran.
Indah sekali.
Ku sentuh setiap ujung bunga-bunga itu. Ku hirup wanginya hingga aku terbuai dalam situasi yang tidak pernah melintas dalam hidupku.
Langit yang cerah tidak juga membuatku merasakan panas. Aku terus berjalan menyusuri taman indah itu sambil tanganku terus bersentuhan dengan bunga-bunga cantik itu.
Aku menari dengan memakai gaun putih.
Apakah ini aku?
Aku terus berjalan sampai aku bertemu orang lain.
Seorang perempuan yang tengah menimang bayi sambil duduk.
Perempuan itu membelakangiku.
Dia bersenandung merdu dan dibalas celotehan lucu anak bayi dalam pangkuannya.
Kepala, tangan dan kaki bayi itu bergerak lucu.
Tapi, aku juga tak bisa melihat wajah bayi itu.
Aku diam memperhatikan mereka.
Perempuan itu menghentikan nyanyiannya, seperti merasa kalau aku sedang memperhatikannya.
Perlahan dia memutar kepalanya hingga batas yang tak wajar. Matanya menatapku dingin dan dia tersenyum menyeringai ke arahku.
Seketika aku terbangun!
Aku bermimpi? Haaah...
Apa ini? Mimpi indah tapi seram atau mimpi seram tapi indah?
Eh?
Apa juga bedanya?
Ngeri juga.
Ku lihat jam dinding menunjukkan pukul 12 malam. baru kali ini aku bermimpi seperti ini.
"Perempuan itu seperti yang ada di mimpiku kemarin? perempuan yang menangis histeris. siapa dia? "
.
.
.
.
.
.
.
.
apa ya...?
mau gimana pun ini baru karya pertama...
harap maklum dengan banyaknya kekurangan..
__ADS_1
salam dari yuya... dari Rso....