Pelangi Tanpa Batas Warna

Pelangi Tanpa Batas Warna
Takut


__ADS_3

.


.


"Memangnya siapa orang yang loe curigai? "


"Anih... "


Arza mengerutkan dahinya. "Siapa lagi coba itu? "


"Istri dari seorang maling yang aku lumpuhkan tiga tahun lalu. " Aku menatap Arza tanpa ekspresi. Membayangkan tentang kemungkinan dari hal itu.


Membayangkan perempuan lugu itu yang membuat kekacauan dalam keluargaku.


Bukan tidak mungkin kan kalau dia bisa berubah? Atau mungkin suaminya yang menuntut balas padaku?


"Loe bisa gak cari tau tentang dia? Adiknya orang ini tinggalnya gak jauh dari rumah gue."


Arza menghela nafas kasar. Menatap sekeliling dengan tatapan yang tidak bisa aku tebak.


"Kali ini gue mohon, Za. Mungkin aja memang mereka orangnya karena mereka dendam sama gue. Mungkin juga mereka pelaku yang sebenarnya di balik kecelakaan keluarga gue."


Aku menangis. Bagaimana kalau memang benar keluargaku jadi sasaran dendam orang itu karena ulahku dulu?


Sungguh aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri kalau kenyataannya benar seperti itu.


"Gue bantu. Loe kasih gue informasi tentang adiknya dulu ke gue, nanti gue selidiki sendiri." Arza menepuk-nepuk bahuku. "Loe jangan berpikiran aneh-aneh dulu. Belum tentu benar seperti itu kejadiannya. "


"Gue takut kalau itu emang bener. Gue takut keluarga gue terancam lagi. " Air mataku tak bisa ku tahan.


"Loe jangan khawatir, biar gue suruh temen-temen gue buat pantau mereka. Untuk jaga-jaga. "


Aku menatapnya sendu. "Makasih ya, Za. Loe udah banyak bantuin gue. "


"Loe juga udah banyak bantuin gue. Dulu loe udah ngelindungin gue. Kalo gak ada loe, gue gak tau nasib gue kayak gimana, " ucapnya sambil tersenyum menatapku.


"Gue cuma perantara. Itu emang karena umur loe masih panjang."


Arza menghela nafas sambil tersenyum. Aku membalas senyumnya dengan mata berkaca-kaca.


"Udah, jangan nangis. Loe udah makan belom? "


Aku menggeleng.


"Kalo gitu masak gih sana, gue juga laper. "


"Gue kira loe mau nawarin gue makan. "


"Gue gak masak. Udah sana masak, gue mau lanjut lagi. "


Aku belum menjawab tapi Arza sudah kembali fokus pada layar itu. Akhirnya aku beranjak ke dapur. Memasak untuk orang yang sudah membantuku, daripada harus melihatnya sampai mataku lelah.


.


.


"Haaah.... " Arza meregangkan kedua tangannya. "Capek... " Lalu dia menguap.


"Makan yuk! udah mateng semua nih, " ucapku saat menghampirinya. Arza beranjak tanpa menjawab.


Kami makan dalam diam. Arza tampak menikmati makanan yang kumasak. Tapi aku tidak. Entah kenapa rasanya tidak enak. Apa mungkin ini hanya perasaanku.

__ADS_1


"Enak banget. Udah lama gue gak makan masakan loe, " ucapnya sambil membersihkan mulutnya.


"Hah... kenyang... " Arza bersandar di kursi sambil mengelus perutnya yang tampak berisi.


Tapi makanan ku masih tersisa sangat banyak dan aku sudah tidak berselera makan.


"Kenapa gak dihabiskan makanannya? "


Aku menggeleng. "Gue gak laper. "


Arza menghela nafas pelan. "Jangan dipikir berat-berat, nanti yang ada loe gak nemu jawabannya. Masalah ini gak sama dengan ujian sekolah."


Aku menatapnya datar.


"Gue mau keluar bentar. Loe ngapain dulu kek. Ini juga hujan. Gak mungkin kan kalo loe mau pergi sekarang? "


"Hem."


Arza pergi meninggalkan aku yang terdiam di meja makan. Aku menatap sendu ke luar jendela. Melihat hujan yang tidak terlalu deras dengan pikiranku yang tak menentu.


Setelah lama aku terdiam, akhirnya aku beranjak dari kursi untuk membersihkan meja dan dapur.


.


.


Author POV


Rain sesekali melirik ke pintu depan, berharap pemilik rumah itu sudah datang. Namun setelah hampir satu jam dia menunggu, Arza belum juga kembali.


"Ini orang kemana sih? Mana hpnya gak dibawa, " ucap Rain menggerutu.


Rain berdiri di dekat jendela sambil melamun. Perasaannya tak bisa tenang kalau teringat lagi dengan keluarganya.



Rain masih berdiri dengan tatapan yang sama saat pintu rumah itu terbuka lebar, menampakkan sang pemilik rumah yang menatap Rain terpesona.



Gadis itu rupanya tidak sadar dengan kedatangan Arza. Karena Rain sampai terperanjat saat Arza berdiri di hadapannya.


"Ampun, Za... Loe tu kalo masuk rumah pake salam dulu kek, " ucap Rain sambil mengelus dadanya yang berdegup kencang.


Arza menggaruk tengkuknya dan tersenyum kikuk. "Em... Sorry. " Lalu pemuda itu tersenyum malu-malu pada Rain.


"Ish! Loe apaan sih? Kenapa tuh muka? "


Arza mendengus. "Gak! " Lalu dia pergi ke ruang tengah diikuti Rain yang berjalan gontai.


"Loe kenapa sih, Za? Kok ditanya jadi ngambek gitu? " Rain terus mengekori Arza sampai laki-laki itu duduk.


Arza menunduk tanpa menjawab. Rain sampai ikut menunduk untuk melihat ekspresi temannya itu.


"Loe kenapa? " Rain mengguncangkan tubuhnya.


"Gue minta maaf kalo gue salah. Abisnya tadi muka loe aneh gitu. "


"Loe minta maaf tapi malah ngejek gue. Gak ikhlas loe minta maafnya. " Arza cemberut masih sambil menunduk.


"Ih... Apaan sih loe. Kok lebay gitu? "

__ADS_1


"Tuh kan ngejek lagi. "


Rain memegang punggung tangan Arza. "Iya, deh. Gue minta maaf. " Rain menunjukan senyum termanis nya dan mengedipkan sebelah matanya saat Arza menatapnya.


Tapi tatapan itu lagi-lagi terasa aneh untuk Rain. Hingga senyum di wajahnya menghilang begitu saja.


"Oh, iya. Karena loe udah pulang, gue mau balik sekarang. Udah sore juga. Kapan-kapan gue mampir lagi, ya? "


Rain berdiri dan bersiap untuk pergi. Mengabaikan sikap Arza yang membuatnya bingung.


Arza mengikuti setiap pergerakan Rain dengan raut wajah yang terlihat dingin, tapi Rain tidak menyadari itu. Rain sibuk mencari sesuatu yang hilang dari dalam tasnya.


"Za, loe liat headset gue gak? Tadi kayaknya gue gak keluarin dari tas, tapi kok sekarang gak ada, " ucap Rain tanpa melihat Arza. Tangannya sibuk memasukkan kembali barang-barangnya yang dikeluarkan dari dalam tas.


"Za? " Rain menatap Arza bingung. "Loe kenapa? "


Arza bangkit dan berjalan menghampirinya dengan tatapan yang membuat Rain sedikit takut.


Rain menelan ludahnya. Menatap Arza dengan jantung yang berdegup kencang. Rain tidak mengerti kenapa dirinya merasa takut. Ini hanya Arza, begitulah pikirnya.


Rain terus menatap Arza dengan jantung yang berdebar. Hingga Rain mematung saat Arza menariknya dan memeluknya dengan erat seolah tak ingin ditinggalkan.


Rain menjadi bingung. Lagi-lagi dia bertanya, "Loe kenapa, Za? " dengan khawatir.


"Gue kangen sama loe, " ucap Arza lirih sambil menyembunyikan wajahnya di bahu Rain.


"Hah? " Rain tak bisa menebak maksud dari kata-kata Arza.


Arza semakin merengkuh tubuh Rain. Menghirup aroma tubuh gadis itu dengan nafas yang memburu. Membuat Rain seolah membeku dengan kelakuannya.


"Gue kangen sama loe, " ucap Arza berbisik tepat di telinganya. Membuat tubuh Rain meremang dan merasa ketakutan.


"Za, loe kenapa? Sadar, Za. " Rain mencoba melepaskan tubuhnya, namun Arza malah mempererat pelukannya.


"Arza... Loe jangan bikin gue takut. "


Tubuh Rain gemetar menahan rasa takut dan juga sakit saat bibir Arza menelusuri lehernya sambil menghirupnya. Menghembuskan nafas yang memburu tepat di telinganya.


"Arza! Lepasin gue! "


Rain berontak namun Arza tak membiarkannya lepas. Arza justru mendekap tubuhnya dan mendorongnya ke dinding. Menghimpit tubuhnya dengan sekuat tenaga. Menciumi wajah dan leher mulus itu hingga meninggalkan jejak di sana.


Rain menangis. Menahan sakit karena rasa takut dan emosi yang ditahannya. Menangis karena sikap tak terduga sahabatnya. Rain menangis karena tak mampu melawan perasaannya.


Rasa takut dan sakit itu membuatnya lemah. Andai saja dia bisa mengendalikan kemarahannya dengan hanya menampar Arza. Namun dia tau, tubuhnya mungkin akan melakukan reaksi yang lebih pada Arza.


Rain tidak ingin sampai membuat Arza meregang nyawa.


Arza menangkup wajah Rain dengan kedua tangannya. Menatap dalam ke arah mata gadis yang menangis itu.


"Gue suka sama loe. "


.


.


.


bersambung...


.

__ADS_1


.


salam dari Yuya😘😘😘


__ADS_2