
"Kamu sendiri, apa yang kamu lakukan disini?" tanyanya setengah jengkel karena terkejut.
"Ini rumahku. "
"Aku tau. Tapi tidak biasanya kamu keliaran malam-malam begini. Apa kamu menggantikan para penjaga?"
"Jadi kamu sering berkeliaran malam-malam begini sampai tau kalau aku tidak keluyuran seperti mu? "
"Ayolah, Kana. Jangan memancing emosiku."
"Kenapa juga kamu jadi emosian? "
"Ya sudah lah, terserah kamu. Aku mau masuk. " Rain melenggang masuk meninggalkan Kana sendirian. Namun langkahnya terhenti dengan ucapan Kana.
"Aku tidak menyangka, dia akan mendapatkan mu dengan begitu mudahnya. Dan kamu melupakan semuanya dengan begitu mudah juga. "
Rain berbalik menatapnya tanpa ekspresi. "Tidak ada yang tau seperti apa hari esok menyambut kita, begitu pula aku. Aku tidak pernah menyangka ini terjadi padaku. "
Kana tersenyum sinis. "Heh. Tapi itu harusnya bukan menjadi alasan kamu mengabaikan ku seperti ini. Aku yang lebih dulu berpihak padamu, tapi kenapa kamu memilih dia? Apa kamu tau, ini pertama kalinya aku merasakan sakit hati karena perempuan, dengan artian yang sebenarnya. Kenapa kamu tega sekali padaku setelah aku berubah? Harusnya kamu membiarkan ku seperti dulu, dengan begitu, aku tidak merasakan sakit ini. "
Rain berjalan mendekatinya lagi. Jujur, dia merasa sangat bersalah pada lelaki di hadapannya ini. Namun, perasaan nya tak bisa ia paksakan.
"Aku minta maaf, Kana. Aku tidak berniat untuk menyakitimu. "
Kana menatapnya masih dengan senyuman yang sama. "Kamu sama saja. Kamu juga seperti mereka yang menganggap perasaan ku sebagai lelucon. Apakah aku seburuk itu? Apakah aku tidak diterima untuk berubah? Kenapa semuanya tidak berpihak padaku? Begitu juga kamu, perempuan pertama yang menyadarkanku. Kamu juga pergi. Bersama orang dari masa laluku. Kalian berdua membuatku hancur. "
Rain mendekatinya berniat untuk menenangkan, namun segera dihentikan oleh Kana. "Jangan berusaha untuk menenangkan ku jika kamu sendiri yang mengacaukan nya. Pergilah, aku tidak butuh rasa kasihan darimu. "
Rain tetap diam di tempatnya dan menatap Kana dengan sedih. Ia sadar, ini memang salahnya. Sebenarnya dirinya pun tidak berniat sama sekali untuk memiliki hubungan dengan Ace. Namun kenyataannya, berbagai kejadian dan keadaan membuat mereka memiliki perasaan yang sama.
"Pergilah. Lagipula aku sudah kalah. Tidak mungkin aku maju lagi sementara dirimu sendiri tidak menyambut ku. Apalagi, sebentar lagi kalian akan meresmikan hubungan kalian, kan? "
Rain terkejut. "𝘋𝘢𝘳𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘵𝘢𝘶? "
"Tidak mungkin kalau kalian akan seperti ini terus. Sudah pasti kalian akan maju lebih serius. Lagipula, kedua pihak orang tua sudah sama-sama setuju, bukan? " Kana tersenyum namun dengan wajah sedihnya. Ia mengusap wajahnya kasar dan menatap ke lain arah. Kana benar-benar terlihat berbeda dengan biasanya. Seolah Kana yang dulu tidak pernah ada pada dirinya.
__ADS_1
"Maafkan aku, Kana. "
"Itu tidak akan mengubah apapun. Hatiku masih saja sakit. Dan juga, maafmu tak mungkin disertai dengan perasaan mu yang berbalik padaku."
"Tapi... "
Rain tidak melanjutkan kata-katanya. Ia sendiri pun tak pernah menyangka Kana akan seserius ini, mengingat bagaimana sikap gemulai nya yang bahkan masih saja ada sampai saat dia dirawat di rumah sakit.
Kana menatapnya tanpa ekspresi. Menunggu Rain melanjutkan kata-katanya.
"Apa yang harus aku lakukan untuk menebus kesalahan ku dan mendapatkan maaf darimu? "
Kana tertawa seketika. "Hah? Atas dasar apa kamu berani bertanya begitu? Apa kamu tidak takut kalau aku memintamu untuk melepaskan Ace? "
Kana tertawa lagi karena Rain hanya diam. "Sudah ku duga, kamu bahkan tidak bisa memilih. Lalu untuk apa kamu bertanya seperti itu? "
Rain membuang nafas panjang. "𝘚𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘴𝘢𝘪 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘵𝘦𝘳𝘶𝘴. "
"Sebelum aku menjawab pertanyaan mu, aku juga ingin mengajukan beberapa pertanyaan padamu, " ucap Rain dengan tenang. Kana tidak menatapnya sama sekali.
"Sejak kita berteman, kapan aku mengabaikan mu? Dan lagi, apa kamu pernah mengutarakan perasaan mu padaku dan ingin kita serius? Kenapa seolah-olah aku ini menghianati mu?
Mungkin aku egois, tapi dalam hal ini, kamu tak bisa mengalahkan ku seorang. Aku sendiri tidak tau sejak kapan dan karena apa kamu berubah. Aku tidak tau kalau aku yang sudah mengubahmu. Saat itu aku senang. Aku berusaha membantu, tapi aku tidak pernah menjanjikan perasaan ku. "
Kana menatapnya dengan tatapan yang kacau. "Seharusnya kamu tau, bagaimana sikapku selama ini dan juga permintaan ku padamu untuk menjauhi Ace. Tapi apa yang kamu lakukan? Kamu ternyata tidak peduli dan masih saja mendekatinya. "
"Aku tidak ingin salah mengartikan sikapmu. Aku tidak berpikir kamu menyukaiku. Aku hanya berpikir, kamu ingin berubah dan membutuhkan bantuan ku. Lagipula, bukankah selama ini aku juga sudah berusaha untuk mengikuti keinginan mu? "
"Tapi apa kenyataan nya sekarang? Bagaimana dengan keadaan ini? " Kana tampak marah.
"Lalu kenapa kamu tidak mengatakan semuanya sejak awal kalau kamu sadar keadaan tidak berpihak padamu? Aku tidak bisa terus menghindar dalam setiap keadaan, " jelas Rain yang tampak sedikit kesal.
"Sekarang kamu menyalahkan ku? "
Rain membuang nafasnya kasar. "Kita berdua sama-sama salah. Aku salah karena tidak peka, dan kamu salah karena kamu terlambat mengambil tindakan. Jadi kita impas. "
__ADS_1
"Kamu... " Kana kesal dibuatnya.
"Maaf, Kana. Mungkin aku jahat, tapi ini semua bukanlah sesuatu yang aku rencanakan. Aku sama sekali tidak menduga akan berada di posisi seperti ini. Tetaplah pada jalanmu. Aku yakin, suatu saat nanti, akan ada seorang gadis yang tulus mencintaimu. Gadis yang bisa menerima mu apa adanya. Dan lagi, aku ini sudah menganggap mu seperti adik. Jadi aku minta maaf. Maaf karena mengecewakan mu. " Rain tersenyum menatap Kana yang masih terlihat kesal.
"Aku berharap, ini bukanlah akhir dari pertemanan kita. Aku berharap kamu tetap pada jalanmu. Yakinlah kamu bisa bahagia walaupun bukan dengan ku. Sekali lagi, aku minta maaf. " Kana masih saja diam.
Rain menatapnya beberapa saat lalu dia pergi meninggalkan Kana sendiri di sana.
"𝘔𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘫𝘢𝘩𝘢𝘵, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘥𝘪𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳𝘪, 𝘥𝘪𝘢 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘬𝘦𝘤𝘦𝘸𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘶𝘬𝘢. 𝘈𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘢𝘱, 𝘥𝘪𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘒𝘢𝘯𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘶𝘭𝘶 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘬𝘦𝘬𝘦𝘤𝘦𝘸𝘢𝘢𝘯 𝘯𝘺𝘢 𝘪𝘯𝘪."
"Hah?! Kenapa jadi begini? Seharusnya aku yang marah. Seharusnya dia tidak bisa marah? Seharusnya tidak seperti ini. "
Kana terdiam beberapa saat sebelum dia tertawa sendiri di sana. "Ya. Aku memang sudah kalah. Aku memang kurang cepat dalam mengambil tindakan sehingga aku didului orang. Tapi kenapa harus dia yang mendapatkan mu? Akhirnya aku kalah lagi darinya. "
.
.
.
Rain hanya memandangi langit-langit kamarnya setelah ia masuk. Ingatan tentang rencana Ace dan juga masalah yang menimpanya selalu berputar di kepalanya.
"Apakah aku bisa mengatakan tujuan baik Ace dalam keadaan seperti ini? Sebaiknya rencana itu ditunda dulu. Aku juga harus mengatakan alasannya pada Ace agar dia tidak kecewa. Yang pasti, aku ingin menjelaskan semuanya dulu pada keluarga ku, barulah rencana itu aku utarakan pada mereka. "
.
.
.
bersambung...
.
.
__ADS_1
.
. salam dari Yuya😉😉