
\=\=\=\=\=\=
"Gak nyangka banget ya kak, kalo pak Ramli sejahat itu. " Ucap Zee tiba-tiba saat aku sedang duduk di kursi sambil melihat-lihat nilai ujiannya.
Zee sedang berbaring di kursi panjang sambil mengayunkan sebelah kakinya yang menggantung. Matanya asyik menatap langit-langit rumah. Sementara kedua tangannya dijadikannya bantal.
Ibu juga sedang duduk di kursi di sebelahku dan sedang mengamati hal yang sama denganku.
"Ya... Namanya juga orang, dek. Kalik aja dia khilaf. " Ucapku menoleh sekilas ke arahnya.
"Huh! Khilaf kok berkepanjangan." Aku terkekeh mendengar ucapannya itu. Aku menatapnya yang sedang memonyongkan bibirnya.
"Sudahlah, lagipula masalahnya kan sudah selesai. Pak Ramli juga sudah mendapatkan hukuman yang setimpal. Kita gak usah berlebihan mencibir orang. Kita juga memiliki kesalahan." Ibu menasehati dengan halus.
"Gak mencibir kok, bu. Cuma berkomentar. Hehe... " Zee cengengesan.
"Lagipula komentarku gak berlebihan loh, bu. Lagian aku kan tidak menipu dan memeras orang seperti Pak Ramli. " Lanjutnya.
Ibu hanya menghela nafas dan melanjutkan melihat-lihat kertas yang ku pegang.
"Padahal dulu tu ya, waktu pertama dia datang, dia tu ramaaah banget orangnya. Kita semua hormat sama dia. Dia baik. Kalo kita ada masalah, dia nasehatin kita. Sampe kita percaya dan banyak bercerita sama dia
Kita tu gak ada pikiran jelek sama dia.
Mungkin disitu juga kesalahan kita. Sampe ada murid baru yang masuk pun dia tetap sama. Tapi beberapa bulan kemudian mulai deh banyak kejadian yang aneh dan mengejutkan."
Aku mengkerutkan keningku dengan ceritanya.
"Jadi Pak Ramli itu termasuk baru jadi penjaga sekolah? "
Zee mengangguk. "He'em. Bahkan dia datang waktu kita udah semester dua di kelas 7. Terus murid baru itu, anaknya Pak Ramli alias Risya, dia masuk waktu kenaikan kelas 8."
"Apa sebelum Risya datang ada kejadian yang aneh juga? "
"Gak ada. Semua biasa aja. Paling juga anak-anak pada jahil biasa. Gak sampe kayak kejadian ini. Ngeri loh aku, kak. " Zee bergidik sambil terus menatap langit-langit.
"Mungkin Pak Ramli memang menunggu kedatangan Risya untuk melancarkan aksinya. Karena Pak Ramli sedikit banyak sudah tau tentang kalian, makanya dia bisa pilih-pilih korban. Terus dia suruh anaknya yang beraksi sementara dia memantau dari belakang."
"Itu baru kepikiran setelah kita tau siapa Risya dan Pak Ramli. " Ucap Zee datar.
"Haah... Aku jadi keinget sama kakak kelasku yang di fitnah berbuat yang enggak-enggak di sekolah. Kasian banget dia. "
"Memangnya dia kenapa? " Aku dan Ibu sudah fokus pada Zee.
"Seseorang menjebaknya dan membuat yang dilakukannya terekam kamera. Dia sampe depresi waktu itu. Hampir semua orang menyalahkan dia. Tapi setelah banyak yang menjadi korban dan kejadiannya terlalu aneh menurut kami, kami semua percaya dia tidak melakukan kesalahan itu.
Banyak lagi masalah yang lain dengan korban yang lain pula. Waktu itu Pak Ramli seolah jadi penolong dengan masalah di sekolah.
Tapi selesai satu masalah, datang lagi masalah lain. Kita gak ada pikiran kalo Pak Ramli pelakunya. Kita cuma berpikir kalau Risya itu terlalu licik dalam mengelabui orang.
Banyak dari kita yang berpikir kalau kejadian aneh itu Risya lah penyebabnya. Dia merekrut banyak murid untuk membantunya dengan imbalan yang besar. Kita juga tau itu.
Tapi setiap kita mau melaporkan dan ingin membuktikan, maka kita sendiri yang terkena imbasnya. Haaah... Mana lah kita tau kalo mereka punya mata di mana-mana.
Pantas saja Risya selalu bisa mendapatkan kunci. Bisa masuk ke ruang manapun dan selalu tau kalau ada bahaya. Jadi apa yang dilakukannya tak pernah jadi masalah. Dia selalu selamat dari masalah." Ucap Zee panjang lebar dengan wajah yang terlihat sedikit kesal.
"Mereka kayak udah pengalaman ya sama masalah itu. Apa mungkin ini bukan yang pertama untuk mereka? "
"Gak tau juga, kak. "
"Hehem... Tapi aku seneng masalah ini udah selesai. Seneng juga aku tau siapa yang udah bantu selesaikan masalah ini. " Zee terlihat senyum-senyum sendiri dengan posisi yang sama.
"Kak Arza ganteng ya, kak. Alisnya tebel, kulitnya putih. Kayak oppa Korea gitu. Iihh gemes deh aku. " Aku memandang aneh adikku itu. Tangannya tidak dijadikannya bantalan lagi. Tapi kini tangannya memeluk tubuhnya sendiri seolah memeluk orang lain.
"Apa emang dia keturunan sana, kak? " Zee menatapku.
"Gak tau juga, dek. Kakak gak pernah lihat foto orang tuanya. Kakak juga gak pernah tanya dia itu asli mana."
"Lihat foto? Emang orang tuanya dimana? Kenapa kakak gak bilang 'gak pernah ketemu orang tuanya' gitu? " Zee dengan wajah polosnya menatapku.
__ADS_1
"Orang tuanya di kuburan. " Ucapku dengan wajah horror menatapnya.
"Eh?! Mereka udah meninggal? " Nada suaranya terdengar sedih.
"Iya.dia bilang papanya udah meninggal kurang lebih 3 tahun yang lalu. Kalo mamanya kakak gak tau. Dia gak pernah cerita. Dia cuma bilang orang tuanya udah meninggal. " Zee tampak membulatkan bibirnya.
"Kasian ya dia. Semoga dia tetap bahagia walaupun dia sendirian. Eh bentar, dia ada adik atau kakak gak? "
"Gak ada. Dia sendiri. "
"Ooh.. Kasian... "
"Kasian mulu. Dia udah gede lah. Lagian dia itu cowok. Dia juga keliatan biasa aja. " Ucapku yang agak bosan dengan reaksi adikku. Walaupun sebenarnya aku juga kasihan pada Arza.
"Gak gitu lah, kak. Aku gak bisa bayangin ada di posisinya. Aku gak mau kehilangan keluargaku." Zee tampak sedih.
Kenapa jadi kesini arahnya?
Aku dan ibu saling menatap bingung.
"Kalau boleh, aku pengen jadi pendampingnya kak Arza. Ganteng dia. Senang aku lihatnya. Hihi.... " Raut wajahnya sudah berubah lagi.
"Ei! Kamu tu masih kecil. Kok mikirin pendamping? " Aku geleng-geleng tak habis pikir dengan sikapnya.
"Kalo gak jadi pendamping aku, jadi kakak ipar juga boleh. Hehe... Aku bisa terkenal karena punya kakak ipar kayak dia. " Jawabnya tanpa beban dan masih tersenyum.
Ya ampun anak ini....
Aku melihat raut wajah ibu yang kurang bersahabat. Aku berdehem karena merasa canggung. Zee masih terlihat senyum sendiri tidak sadar dengan tatapan menyeramkan ibu.
"Ehm... Ini udah sore. Aku siap-siap ke resto dulu, ya. " Aku beranjak ke kamar meninggalkan ibu dan Zee.
Habis aku nanti kalau terus meladeni ocehan adikku.
.
.
.
Aku menghembuskan nafas kasar. Jarang sekali aku bertemu dengan mereka walaupun aku tinggal serumah. Aku menyalami mereka berdua dan pamit pergi.
.
.
.
.
"Loe ngapain kesini lagi?" Tanyaku pada Arza yang saat aku sampai dia sudah ada di halaman resto, duduk di motornya.
"Gue cuma mau makan aja kok di sini, gak lebih." Jawabnya tanpa memandangku.
"Oke. Gua tinggal masuk dulu. " Aku pun beranjak masuk tapi sebuah tangan kini mecekal pergelangan tanganku dan membuat aku berhenti. Aku menatap pemilik tangan itu.
"Kenapa lagi? " Aku menatapnya tak sabar.
"Kapan-kapan kita ngobrol di taman. Gue ada hal penting. " Arza menatapku serius.
"Gue gak bisa janji. Kalau gue sempat, ntar gue kabarin. Gue mau masuk dulu. " Tangan itu pun segera melepaskan tanganku.
Aku beranjak masuk dan meninggalkannya. Kenapa Arza agak aneh akhir-akhir ini? Dia tidak seperti biasanya yang tengil. Apa dia sangat kelelahan?
Aku akan membuat menu spesial untuknya hari ini. Mungkin sikapnya bisa kembali seperti biasanya. Walaupun kemungkinan sangat kecil.
.
.
__ADS_1
.
.
"Maaf, Tuan. Apakah kali ini anda mau mewawancarai karyawan saya lagi? Lalu bagaimana dengan berita yang Anda buat beberapa hari yang lalu? Apakah sudah ada hasil? " Pak Broto datang secara tiba-tiba saat aku baru saja mengantarkan menu spesial ke meja Arza.
Aku sampai terkejut. Sekarang jantungku berdegup tak karuan.
Aku takut bos ku marah.
Arza terlihat menggaruk tengkuknya salah tingkah.
"Saya hanya ingin makan sekarang ini, pak. Tidak ada yang lain. " Ucap Arza sambil tersenyum kikuk.
"Baiklah kalau begitu. Maaf mengganggu kenyamanan anda. Dan kamu Rain. Segera kebelakang setelah selesai dengan pekerjaanmu. Tugasmu bukan di sini. " Ucap Pak Broto kemudian berlalu.
"Huft... Loe sih! Ketahuan kan sekarang kalo loe bohong. "
"Dari mana dia tau? "
"Sekarang mana berita yang loe buat tentang gue? Udah jadi? Makanya jangan gangguin gue kalo lagi kerja. Sekarang Pak Broto curiga sama loe. "
Arza hanya berdecak.
"Lagian ya, dia pasti curiga karena waktu itu loe bawa gue pergi. Selama ini gue gak pernah pergi sama pelanggan selain Bu Intan. "
"Abisnya gue bingung liat loe tidur sambil berdiri. Apa jadinya nanti sama loe. "
"Iya tapi-"
"RAIN! " Suara Pak Broto menggelegar.
"I-iya, Pak! " Aku panik.
"Ya udah. Gue kebelakang. Abisin tu makanannya. " Aku setengah berlari menuju dapur.
Selama aku bekerja, baru kali ini aku ditegur dan di teriaki oleh Pak Broto. Haduh... Apa jadinya nanti.
.
.
.
.
Seperti biasanya, aku pulang saat hari sudah sangat malam dan suasana di sekitar rumahku sudah sangat sepi. Resto memang tidak buka sampai tepat jam 10 malam, tapi kami para karyawan harus merapikan kembali resto sebelum kami pulang agar kami bisa pulang sama-sama tanpa meninggalkan satu pun teman kami.
Aku sampai di rumah dan mengetuk pintu. Aku bisa mendengar suara langkah kaki yang berjalan menuju pintu. Aku sabar menunggu.
Tapi saat orang di dalam sedang membuka kunci, aku berlari kejalan mengejar seseorang....
.
.
.
bersambung.....
.
.
..
.
semoga kalian suka dengan karya kecilku ini...
__ADS_1
selalu.. aku minta maaf kalau ada kata-kata yang kurang menyenangkan. aku harap kalian mau memberi saran untukku...
salam dari yuya😘😘😘