
"Ibu sudah bilang kan sama kamu, kalau ada apa-apa, kamu bilang. Jangan sembunyikan masalah yang begitu besar dari Ibu. Apalagi kamu adalah tanggung jawab Ibu. Ibu sudah berjanji pada ibumu untuk menjagamu. Tapi apa? Ibu malah tidak tau sesuatu yang terjadi padamu. " Intan tak bisa menahan tangisnya. Rain menjadi serba salah.
"Ibu... Sebenarnya ada apa? "
"Siapa orang yang menusuk mu? "
Rain tercengang. "E- itu... Saya sendiri tidak tau. Salah satu dari mereka menghadang saya dan yang lainnya tiba-tiba mengepung. Mereka tidak mengatakan siapa yang menyuruh mereka. "
Intan sangat terkejut. "Mereka? Jadi bukan hanya satu orang?"
Rain mengangguk.
"Ya Tuhan... " Intan menangis dengan keras. Rain panik melihatnya.
"𝘈𝘱𝘢 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳-𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘙𝘢𝘪𝘯? 𝘠𝘢 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯... 𝘈𝘱𝘢 𝘙𝘢𝘪𝘯 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘬𝘰𝘳𝘣𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢?"
"Bu... "
Para pekerja di sana berdatangan karena mendengar tangisan Intan yang begitu keras. Mereka bertanya pada Rain apa yang terjadi. Rain hanya menggeleng. Tidak tau pasti yang menyebabkan Intan menangis sekeras itu. Apakah karena sangat mengkhawatirkannya?
Mereka berusaha menenangkan Intan. Kana sampai turun karena mendengar keributan di bawah.
"Ada apa ini? Mama kenapa?" Kana menatap tajam orang-orang di sana.
"Maaf, den... Kami gak tau apa-apa. Kami disini karena bu Intan nangis. " Ucap salah satu dari mereka lalu menatap Rain.
Kana menatap Rain meminta penjelasan. Rain menghela nafas karena tak tau harus menjawab apa.
"Sudahlah. Mama gak apa-apa. Kalian semua bubar. " Mereka masih diam, tampak ragu untuk pergi. Karena dari tadi Intan hanya menangis tanpa memberi penjelasan pada mereka.
"Kalian tidak dengar? Kembali pada pekerjaan kalian masing-masing! " Mau tak mau para pekerja itupun kembali pada tempat mereka. Hanya tersisa Kana dan Rain yang masih menatap Intan dengan heran.
Kana duduk di samping ibunya. "Ma... Sebenarnya ada apa? " Tanyanya lembut.
Intan menatap kosong ke depan. "Kalian tidak akan mengerti. Sebaiknya tak usah bertanya lagi. Kalau kalian ingin membantu, berusahalah untuk terbuka pada Mama. Apalagi menyangkut nyawa kalian. "
Kana menatap Rain, begitupun sebaliknya.
"Mama tidak ingin kehilangan. "
"Ma... "
"Kamu tau kan, Kana... Kenapa kamu sampai tinggal bersama Mama? "
Kana terkesiap. Rain semakin bingung. "𝘈𝘥𝘢 𝘢𝘱𝘢 𝘭𝘢𝘨𝘪? "
"Mama tidak bisa selalu ada di samping kalian. " Intan kembali menangis walaupun dengan suara yang pelan. Kana dan Rain menatapnya bingung.
"Sudahlah, kamu pergilah kuliah. Setelah itu pulanglah, jangan kerja dulu, " Ucap Intan tanpa melihat Rain.
Rain masih diam dengan banyak pikiran. Kana menepuk bahunya, Rain tersadar karena itu dan pergi ke kamarnya untuk mengambil beberapa barangnya. Rain kembali ke ruang tamu dan meninggalkan mereka dengan ucapan pamit yang lirih.
"Ma... Ada apa lagi? "
"Kana... Mama tidak bisa cerita sekarang. Lagipula masalah ini tidak ada hubungannya dengamu."
Kana menghela nafas pelan.
"Kamu istirahat saja. Jangan terlalu dipikirkan. "
"Tidak ada hubungannya denganku? Tapi ada hubungannya dengan Rain, kan? "
Intan menatap lekat wajah anaknya.
__ADS_1
"Walaupun aku tidak tau apa masalahnya, tapi karena aku mengalami hal yang membuatku harus tinggal bersama Mama, aku yakin Rain juga mengalami hal yang sama, " Bibir Kana bergetar. "Apa ada orang yang menginginkan nyawa Rain juga? Apa itu yang membuat Mama membawa Rain ke rumah ini?"
Intan menangis.
"𝘑𝘶𝘴𝘵𝘳𝘶 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘙𝘢𝘪𝘯 𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭 𝘥𝘪 𝘴𝘪𝘯𝘪 𝘯𝘺𝘢𝘸𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘯𝘤𝘢𝘮. 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘮𝘢𝘮𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘪𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨. 𝘞𝘢𝘭𝘢𝘶𝘱𝘶𝘯 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱𝘮𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘮𝘢𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘵𝘢𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳𝘨𝘢 𝘔𝘢𝘮𝘢 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳𝘯𝘺𝘢."
Kana masih menunggu jawaban ibunya saat suara jeritan Rain terdengar dari luar rumah. Kemudian beberapa orang terdengar panik. Kana menatap ibunya lalu segera berlari ke luar.
Intan dan Kana terkejut saat melihat Rain yang berteriak histeris sambil mencakar tubuhnya sendiri, mengusir orang-orang yang mendekatinya.
"Rain! " Intan berlari ke arah Rain, berniat menenangkan.
Rain menatap Intan dengan mata yang merah seakan ingin menerkamnya. Kana segera menarik tangan ibunya.
"Ma! Jangan dekati dulu, Rain sedang tidak sadar."
"Pergi!!! Kenapa kamu selalu menggangguku? Pergi!! " Rain menangis sambil berteriak.
Rain terduduk dengan tangan yang mencakar tubuhnya sendiri seolah ingin melepaskan sesuatu. Beruntunglah dia memakai baju panjang.
Beberapa orang disana mencoba memeganginya, tapi mereka malah mendapatkan cakaran darinya.
Mereka tak menyerah dan mencoba lagi untuk memegangi Rain. Dengan susah payah, akhirnya mereka berhasil. Rain menangis meraung-raung meminta untuk dilepaskan.
Intan tak tahan melihatnya dan segera berlari untuk memeluk Rain. Sambil menangis, Intan berusaha menenangkannya.
"Sayang, sadarlah. "
Rain tetap meronta dan menangis histeris. Orang-orang di sana tak tau bagaimana cara menyadarkannya. Tapi mereka berusaha tenang dengan membaca beberapa ayat yang mereka yakini bisa menyadarkan Rain.
Mereka hanya berusaha, selebihnya mereka pasrahkan pada yang Maha Kuasa.
"Rain... Lihat Ibu, " Intan menangkup wajah Rain sambil menahan tangis. Hatinya merasa sakit melihat Rain seperti itu.
Mereka yang memegangi Rain segera membawanya ke dalam, membaringkan tubuhnya di sofa.
.
.
Rain membuka perlahan matanya, mencoba menyesuaikan penglihatannya. Matanya menatap ruangan tempatnya terbaring, ruang keluarga dan masih berada di rumah majikannya.
Rain mencoba bangkit, tapi rasa pening di kepala disertai mual yang tiba-tiba menyeruak membuatnya kembali berbaring. Rain memijat kepalanya yang berdenyut, berharap rasa sakit itu bisa pergi.
"Apa yang terjadi padaku? Kenapa badanku perih dan kepalaku sakit sekali. Aku benar-benar lemas."
Rain memejamkan matanya karena rasa mual datang seiring dengan sakit di kepalanya. Sampai suara langkah kaki membuatnya membuka kembali matanya. Rain menatap Intan yang menghampirinya, terlihat jelas kalau Intan menghawatirkan nya.
"Kamu sudah bangun? " Intan masih berdiri ketika mengusap rambut Rain.
"Iya, " Jawabnya parau.
"Bagaimana keadaanmu?"
"Kepala saya sakit,Bu. Badan juga rasanya perih. Kalau dibuat duduk, rasanya mual. "
"Kamu makan, ya. Nanti minum obat supaya tubuh dan kepalamu lebih enakan. Tadi ibu dikasih beberapa obat dan vitamin oleh dokter yang memeriksa kamu."
"Tapi saya mual, Bu. "
"Minum obat mual dulu, siapa tau bisa lebih baik."
Rain mengangguk dengan lemah.
__ADS_1
Intan memanggil ART nya agar membawakan makanan untuk dimakan Rain. Perempuan paruh baya itu tampak tak senang saat majikannya memberi perintah seperti itu.
Apalagi ketika melihat Rain yang terbaring lemah dan mendapatkan perhatian lebih dari majikannya.
Perempuan itu tak senang karena baginya, Rain sama seperti mereka yang bekerja di rumah itu.
Perempuan itu membawakan semangkuk bubur yang masih hangat, menaruhnya di meja dan kembali ke dapur dengan wajah cemberut. Rain tidak memusingkan dengan sikapnya.
"Tunggu beberapa menit dulu, nanti di makan buburnya. Ibu mau panggil Kana dulu."
"Memangnya Kana sudah sembuh?"
"Lebih baik dari keadaan kamu sekarang." Intan tersenyum dan pergi dari sana.
Beberapa saat kemudian, Intan turun bersama Kana. Kana terlihat khawatir, sama seperti ibunya tadi.
"Rain... "
Rain tersenyum ke arah Kana. Kana duduk di sampingnya dan menggenggam tangannya."Bagaimana keadaanmu?"
"Tidak seburuk tadi. Kamu sendiri bagaimana?"
"Kamu bisa melihatnya. " Kana melihat bubur yang terletak di meja. "Kamu belum makan, kan? Biar aku suapi."
Rain rasanya masih terlalu lemas untuk menolak. Rain mencoba untuk duduk. Rasa mualnya tidak separah tadi walaupun terlihat jelas diwajahnya kalau dia menahan rasa itu.
Intan menatap keduanya dalam diam. Pikirannya berkecamuk. Bahkan dirinya tidak berangkat kerja hanya untuk menunggu Rain.
"Rain... "
Rain menatap Intan, menunggu.
"Sebenarnya apa yang terjadi tadi pagi? " Rasa penasaran Intan jelas sangat besar, apalagi melihat Rain yang seperti itu tadi pagi.
Rain terdiam, mengingat hal yang membuat telinganya berdengung dan kepalanya seakan dibenturkan. Rain berpikir, mungkinkah hal itu yang membuatnya tak sadar?
Kana mengguncang bahunya karena Rain hanya diam. Rain mengerjap , "Ya?"
"Apa yang terjadi?" Kana tak sabar ingin mendengar penjelasan Rain.
"Sebenarnya... "
'𝘈𝘱𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘴𝘶𝘢𝘳𝘢 𝘨𝘢𝘥𝘪𝘴 𝘪𝘵𝘶𝘭𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵𝘬𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘨𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶. 𝘛𝘢𝘱𝘪, 𝘢𝘱𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘤𝘢𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘶𝘢𝘳𝘢 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘨𝘢𝘥𝘪𝘴 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨𝘨𝘪𝘭𝘬𝘶 𝘬𝘢𝘬𝘢𝘬 𝘥𝘢𝘯 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘴𝘪𝘯𝘪? '
Rain berpikir untuk pergi dari rumah Intan saat akan berangkat kuliah,namun sebuah suara yang dikiranya tidak akan terdengar lagi justru kembali didengarnya dan suara gadis itu terdengar keras sampai membuat telinganya berdengung.
' 𝘉𝘶 𝘐𝘯𝘵𝘢𝘯 𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘨𝘢𝘳 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘣𝘶𝘬𝘢 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘯𝘺𝘢, 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪, 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘮𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘫𝘢𝘸𝘢𝘣𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢.
"Sebenarnya ada suara seorang perempuan yang memanggil saya kakak dan menangis agar saya tidak pergi dari rumah ini. "
.
.
.
bersambung....
.
.
salam dari Yuya☺☺
__ADS_1