Pelangi Tanpa Batas Warna

Pelangi Tanpa Batas Warna
Ingin Bermain


__ADS_3

.


.


Istrinya Pak Broto masih belum sadar dan dia masih belum bisa dijenguk. Rain dan teman-temannya menemui Pak Broto di luar ruangan.


Pak Broto tampak menyesal dan merasa tak enak hati pada para pegawainya. Dia akan memberi ganti rugi pada para pegawainya. Para pegawai yang di rumah sakit sudah di beri biaya oleh Pak Broto. Begitupun para pelanggan yang terluka saat kejadian.


Rain dan teman-temannya yang merasa tidak dirugikan, menolak niat dari Pak Broto. Rain membiarkan teman-temannya yang lebih tua yang berbicara.


"Bapak gak usah sungkan sama kami. Bapak tidak merugikan kami. Ini semua adalah kecelakaan. Siapa juga yang tau akan adanya kecelakaan ini. Kami do'akan istri bapak cepat sembuh dan bapak bisa berjuang lagi. " Ucap teman Rain.


"Iya, Pak. Kami tidak merasa dirugikan. Mungkin ini sudah jalan kami. Mungkin sampai di sini perjuangan kami bersama bapak. Kami sangat senang bisa bekerja bersama bapak. Bapak sangat baik pada kami. " Ucap yang lain.


"Bapak pikirkan saja dulu istri bapak. Walaupun resto pasti menjadi beban pikiran, tapi bapak selesaikan dulu satu masalah dengan lapang. Bapak tidak perlu memikirkan kami berlebihan. Istri bapak lebih membutuhkan bapak sekarang. " Ucap yang lainnya lagi.


Pak Broto menunduk lesu. Dia hanya menghembuskan nafas kasar. Wajahnya terlihat lelah.


"Terima kasih atas perhatian dan pengertian kalian. Saya minta maaf kalau selama saya menjadi atasan, saya banyak menyusahkan dan menyakiti hati kalian. " Pak Broto menarik nafas perlahan. "Kalau saya masih bisa bangkit lagi, saya pasti akan menjadikan kalian sebagai pegawai saya lagi. Harapan saya tidak berlebihan kan? " Dia tersenyum dengan ucapannya sendiri.


Mereka membalas senyumannya.


"Kami juga berterima kasih dan meminta maaf kalau selama bekerja, kami banyak melakukan kesalahan pada bapak. Kami yakin bapak bisa bangkit lagi." Ucap yang pertama.


Sebenarnya, Pak Broto bisa saja membangun lagi resto yang baru. Walaupun biayanya tidak sedikit, karena kerusakan pada resto membuat resto harus dibangun dari awal. Pak Broto pengusaha yang cukup sukses. Tapi melihat kondisi keluarganya dan dengan kesehatan istrinya, Pak Broto sepertinya tidak bisa membangun dalam waktu dekat ini.


Apalagi dia juga harus mengurus karyawannya di rumah sakit dan beberapa pelanggan yang terluka saat kejadian. Belum lagi mengurus pesangon untuk para karyawannya.


.


.


Lama mereka berbincang, Pak Broto tiba-tiba menanyakan tentang Intan pada Rain.


"Saya gak tau, pak. Bu Intan beberapa hari ini tidak ada kabar. Tapi kalau beliau ke resto, pastilah bapak tau. " Rain juga merasa heran kenapa Intan tidak ada kabar sama sekali.


"Dia sedang ada urusan mendadak di luar negeri. Mungkin dia terburu-buru sampai tidak mengabari kamu. Tapi sepertinya beberapa hari lagi dia akan pulang. "


Rain merasa aneh. π˜’π˜’π˜­π˜’π˜Ά π˜—π˜’π˜¬ π˜‰π˜³π˜°π˜΅π˜° 𝘡𝘒𝘢, 𝘬𝘦𝘯𝘒𝘱𝘒 π˜₯π˜ͺ𝘒 𝘣𝘦𝘳𝘡𝘒𝘯𝘺𝘒 𝘱𝘒π˜₯𝘒𝘬𝘢? π˜‰π˜’π˜©π˜¬π˜’π˜― π˜₯π˜ͺ𝘒 𝘡𝘒𝘢 𝘬𝘒𝘱𝘒𝘯 π˜‰π˜Ά 𝘐𝘯𝘡𝘒𝘯 𝘒𝘬𝘒𝘯 𝘱𝘢𝘭𝘒𝘯𝘨. Batin Rain dengan wajah datar.


\=\=\=\=\=


Kini Rain bekerja di bengkel seperti saat dia belum kerja di resto dulu. Walaupun penghasilannya tidak sebanyak saat dia kerja di resto, tapi paling tidak dia masih punya penghasilan.


Hastini juga membuka warteg di depan rumahnya. Tentu saja Rain lah yang memasak. Keuntungannya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Warung itu baru dibuka sekitar satu minggu. Jadi penghasilan Rain bisa disimpan untuk kebutuhan lain yang juga banyak.

__ADS_1


Sudah satu bulan Rain bekerja di bengkel. Selama itu pula Intan belum pernah menemuinya. Rain sebenarnya merasa kecewa, perasaan itu tidak dapat dipungkirinya. Tapi siapalah dia? Mungkin dia terlalu percaya diri berharap Intan menganggapnya lebih dekat.


Rain sendiri tidak mengerti kenapa dirinya ingin sekali dianggap benar-benar seperti keluarga. Bahkan Rain menganggap Intan seperti ibunya.


Intan memang masih mengabarinya, tapi baginya itu tidak cukup. Rain selalu mengharapkan bisa bertemu dengan Intan.


Rain mengambil nafas dalam-dalam mencoba menenangkan diri.


"Huft.... Tenanglah... Mungkin Bu Intan masih sibuk. " Gumamnya.


Rain bekerja di bengkel setiap hari. Walaupun dia kuliah, tapi Rain bisa memulainya setelah dia pulang. Temannya mengerti dengan keadaan Rain. Hari sabtu dan minggu, Rain bekerja dari pagi.


Tapi Rain seperti diistimewakan di sana. Dia selalu di suruh untuk pulang lebih awal. Mereka bilang rumah Rain yang lebih jauh lah alasannya.


.


.


Ketika hari sudah sore, Rain bersiap-siap untuk pulang.Teman-temannya masih menyelesaikan beberapa pekerjaan. Karena rumah mereka dekat, mereka bisa bekerja lebih lama dari Rain


Rain mengendarai motor matic merah kesayangannya. Melewati jalan raya yang padat, pemukiman warga dan jalanan sepi yang biasa dilaluinya saat akan ke taman. Jalan itu bukan jalan raya, jadi yang biasa melewati jalan itu tidaklah banyak.


Rain mengendarai motornya dengan kecepatan normal. Lamat-lamat dari kejauhan di depannya, terlihat ada beberapa orang yang berlari. Rain menatapnya datar.


Hingga terdengar teriakan dari beberapa orang itu.


Teriakan dari beberapa orang yang tertinggal oleh dua orang berbadan besar di depan.


Rain menghentikan motornya. Dua orang berbadan besar itu melihatnya dan menghampirinya. Rain melepaskan helmnya.


"Serahin motor loe! " Ucap salah satu dari mereka keras dengan mata yang seakan mau keluar.


Rain menatapnya datar, kemudian dia menunjukkan kunci motornya.


" Kalian mau Ini? "


"Iya! Cepetan kasih! Kalo nggak gue hajar loe ntar!" Ucap satunya tak kalah melotot.


Rain turun dari motornya.


"Nih. Ambil sendiri. " Rain melemparkan kunci motornya tinggi ke udara. Dua preman itu melihat kunci motor itu bersama-sama.


Tapi kemudian, Rain dengan santainya melayangkan kaki panjangnya pada wajah dua preman itu sambil sedikit melompat.


"S**lan! " Pekik mereka bersamaan. Beberapa orang yang mengejar mereka sudah sangat dekat.

__ADS_1


Dua preman itu hendak lari tapi Rain menendang b**kng mereka sehingga mereka jatuh tersungkur.


Merasa marah, akhirnya dua preman itu berbalik menatap Rain dengan tajam kemudian mereka melawan Rain bersama-sama.


Tidak peduli lagi dengan orang-orang yang mengejar mereka. Mereka sangat marah telah dipermainkan oleh orang yang menurut mereka masih bocah.


Preman itu melayangkan tinju berkali-kali, tapi Rain dengan santainya menghindari tinju mereka.


Preman itu murka dan menggeram. Rain tertawa melihat wajah merah kedua preman itu. Apalagi satu preman itu berkepala botak. Rain semakin ingin mempermainkannya.


"Bocah tengik! Jangan main-main! "


"Tapi bocah ini masih ingin bermain. " Ucap Rain dengan senyum manis.


Orang-orang yang sudah sampai di dekat mereka hanya menonton aksi Rain dan kedua preman itu.


Rain mulai serius ketika dua preman itu melawannya bersamaan dari dua arah. Tidak ingin terpojok, Rain sedikit mengambil jarak dari kedua preman itu.


Kedua preman itu menyeringai merasa menang melihat Rain yang mundur perlahan. Apalagi melihat orang-orang yang hanya menonton mereka. Ada pula beberapa pengendara yang berhenti dan ikut menyimak.


Ya ampun...


Dua preman itu merasa semakin di untungkan.


Tanpa Rain ketahui, si pemilik tas yang diambil oleh preman itu, sudah sampai di dekat mereka dan melihat aksi mereka.


Orang itu menegur orang-orang yang hanya menonton. "Kenapa kalian cuma nonton? Dibantuin dong! Kalian kan banyak. Apalagi yang dilawan mereka itu perempuan! "


"Kita lihat saja dulu, bu. Dia itu bukan perempuan sembarangan. "


"Hah? " Perempuan itu menatap punggung Rain dengan wajah mengkerut.


..


.


.


.


bersambung....


.


.

__ADS_1


salam dari yuya....


__ADS_2