
"Penghianat!! " Teriakan Anih begitu menggema disertai dengan tubuhnya yang meronta memaksa untuk dilepaskan. Dia tak bisa berkutik setelah dirinya tertangkap dan semua anggota nya dilumpuhkan. Mata perempuan itu berkilat-kilat penuh amarah. Namun tak ada yang bisa dia lakukan saat ini.
"Maaf, Miss. Aku tidak bisa terus sejalan denganmu. Aku sadar dengan perbuatanku, aku salah. Aku terus merasa berdosa karena melakukan kejahatan ini, Miss," ucap seorang laki-laki penuh dengan penyesalan.
"Cuih! Persetan dengan dosa! Kamu hanya takut tertangkap seperti aku, penghianat! Akan aku pastikan kamu tidak akan tenang setelah ini, kamu akan menyesal telah menghianati aku. Kamu akan menderita! Kamu akan mati di tanganku, Amar!" Anih terus meronta. "Lepaskan aku! Lepaskan! " Namun semuanya mengabaikan keinginannya.
Laki-laki itu hanya menunduk. Seorang laki-laki di sebelahnya menepuk-nepuk bahunya dengan pelan. "Kamu sudah melakukan hal yang benar, terima kasih. Kami akan melindungi mu. Kalau saja kamu tidak mengabari kami dan membuka jalan untuk kami, aku tidak tau apa yang akan terjadi pada sahabatku. Terima kasih, Amar."
"Sama-sama, Arza. Aku senang bisa membantu. Ini juga berkat kebaikan kalian. Oh ya, apakah aku boleh bertemu dengan dia? Aku ingin meminta maaf padanya karena membantu Anih untuk melawannya."
"Tentu saja boleh, tapi tidak sekarang. Kondisinya tidak memungkinkan untuk kita bertemu dia dalam waktu dekat ini. " Amar menatap Arza, mencoba mengerti. Arza hanya tersenyum dengan tatapan laki-laki yang lebih muda darinya itu.
Lokasi itu sudah dibersihkan. Orang-orang yang lumpuh dibawa ke rumah sakit tapi mereka di bawah pengawasan polisi.
Amar memberitahukan bahwa walaupun mereka membuat kejahatan, tapi beberapa dari mereka benar-benar terpaksa melakukan itu. Anih memasang chip pada tubuh orang-orang itu yang membuat mereka tak bisa melawan. Ditambah lagi dengan keluarga mereka yang terancam bahaya jika mereka berontak.
Amar adalah salah satu dari anggota inti yang bisa mengatur orang-orang itu. Amar juga lah yang menjadi penghubung antara Anih dan orang-orang itu. Amar menjadi pembuka jalan setiap mereka akan melakukan sesuatu.
Anih benar-benar mempercayai Amar. Tapi kejadian yang tak disengaja membuat Amar sadar akan perbuatan jahatnya.
Amar memutuskan sambungan antara Anih dan orang-orang yang dia paksa. Amar juga yang menonaktifkan chip pada tubuh mereka saat Amar dan beberapa orang datang ke lokasi itu.
Anih benar-benar tidak percaya bahwa dirinya telah dikhianati oleh anak asuhnya sendiri. Anih benar-benar marah. Anih tidak bisa menerima kekalahannya. Apalagi saat semua anggota nya dilumpuhkan dengan mudahnya. Anih benar-benar murka.
"Kalian akan menyesal telah membuatku seperti ini. Aku tidak terima aku dikalahkan lagi. Tunggu saja pembalasanku. " Anih mengeratkan tulang pipinya sampai giginya gemeletuk.
.
.
.
Intan menangis selama perjalanan menuju rumah sakit. Wanita paruh baya itu benar-benar sedih melihat keadaan Rain. Apalagi gadis itu kini tidak sadarkan diri. Intan tidak mengingat hal lain dan perhatiannya hanya tertuju pada Rain.
"Tolong selamatkan dia, " ucap Intan dengan suara yang bergetar. Tangannya terus menggenggam tangan Rain dengan erat. Sakit yang dirasakan nya saat ini sungguh tidak bisa dijelaskan.
.
__ADS_1
.
.
Intan berjalan mondar-mandir saat pihak rumah sakit menangani Rain. Wanita paruh baya itu tidak bisa tenang. Dia tidak bisa berpikir apapun, dalam pikiran nya hanya ada Rain.
"Ma, udah, mama tenang dulu. Rain pasti selamat, " ucap Kana menenangkan. Intan hanya menoleh sekilas dan berhenti sebentar, menghela nafas kemudian berjalan mondar-mandir lagi.
Kana berdiri dan menghentikan tingkah ibunya. "Dia gak akan sembuh kalo mama cuma mondar-mandir kayak gini, " ucapnya terdengar kesal.
Kana memaksa ibunya untuk duduk, Intan pun pasrah. "Mama tenang. Mama berdo'a agar Rain selamat, itu jauh lebih baik. "
Intan terdiam sebentar sebelum menjawab, "Kamu benar, mama memang tidak bisa tenang. Terima kasih, Kana. Mama akan berusaha lebih tenang. " Intan tersenyum dan dibalas senyuman pula oleh Kana.
🌼🌼🌼🌼🌼
Keesokan harinya...
Rain membuka matanya perlahan dan pemandangan pertama yang dilihatnya adalah tatapan khawatir dari keluarga nya. Rain semula bingung, kenapa mereka mengerumuninya? Namun segera ia teringat dengan kejadian yang ia pikir mungkin saja hal itu yang membuat nya berada di sana.
"Rain, " panggil Hastini dengan lirih. Rain tersenyum dan menjawab dengan lemah, "Iya, bu? "
"Bagaimana perasaanmu? " tanya Hastini saat Rain selesai diperiksa dan dokter sudah pergi.
"Kalau dibandingkan dengan sebelum saya pingsan dan akhirnya tersadar, ini jauh lebih baik, " jawab Rain lalu tersenyum lembut menatap ibunya. Hastini terlihat sedih.
Rain sedih dan merasa sangat bersalah, apalagi melihat tatapan ibunya. Walaupun dia tau, ibunya sedih karena kejadian yang dialaminya ini, bukan seperti yang ada di pikirannya.
"Maafin saya, bu. " Rain menangis. Ia benar-benar tidak kuat menahan tangisannya.
"Kamu jangan berpikiran macam-macam, tidak ada yang perlu dimaafkan, kamu gak salah apa-apa. Tenang kan pikiran mu supaya kamu cepat sembuh. Masalah ini juga sudah selesai, " ucap Hastini menenangkan.
"Tapi saya jelas bersalah, bu. Ini semua karena saya. " Rain sedih apalagi mengingat dengan perkataan Anih. Itu semua ia yakini belum diketahui oleh keluarga nya.
Hastini menggeleng. "Kamu gak salah apa-apa, ini semua musibah. Kita tidak tau apa yang akan terjadi. "
"Iya. Kamu tenanglah, jangan terlalu banyak pikiran, " ucap Arka menambahkan.
__ADS_1
"Sudah, ya. Jangan terlalu dipikirkan. " Hastini mengusap dengan lembut rambutnya.
Tangisan Rain sedikit mereda, lalu ditatapnya lagi sekeliling ruangan itu. "Siapa yang membawa saya kesini, bu? "
"Tentu saja bu Iin. Dia bilang, saat dia menelpon mu, kamu berada di taman. Dia tidak memutuskan sambungan telponnya dan mendengar semua percakapan mu dengan segerombolan preman. Dia bilang, ada masalah yang terjadi di perusahaan dan cafe tempat mu bekerja yang membuatnya tak bisa datang dengan segera padamu.
Akhirnya dia menyuruh beberapa orang untuk membantumu karena dia beranggapan yang terjadi antara kamu dan para preman itu adalah hal yang cukup serius.
Ibu bisa melihat penyesalan di matanya saat dia bercerita. Dia pasti menyesal karena tidak datang tepat waktu. Tapi ibu berterima kasih padanya. Entah apa yang akan terjadi kalau dia tidak menelpon mu atau memutuskan sambungan telepon nya. Mungkin saja semua akan lebih terlambat. " Hastini menghela nafas panjang setelah bercerita.
"Hanya itu yang diucapkan bu Intan? Apakah tidak ada orang lain selain para preman itu? "
Hastini mengerutkan dahi dengan pertanyaan Rain. "Tidak ada. Mereka pasti hanya preman yang biasa lewat situ. " Rain terdiam.
"Sudah lah. Lagipula semua ini sudah diselesaikan. Orang-orang itu sudah diamankan. Ternyata, temanmu itu orang baik. Dia juga ikut membantu menyelesaikan masalah ini. Saat ini, mereka sedang mengurus hal yang bersangkutan dengan masalah ini. "
"Lalu, dimana bu Intan sekarang? "
"Banyak masalah yang harus diselesaikan nya. Dia pergi sejak tadi pagi. Tapi ibu sudah mengabari nya tentang kondisi mu saat ini. Mungkin sebentar lagi dia datang. "
Rain terdiam sementara Hastini dan kedua anaknya mengobrol. Rain menatap tiga orang itu bergantian.
"𝘑𝘢𝘥𝘪 𝘣𝘶 𝘐𝘯𝘵𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘶 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘥𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘵𝘶𝘱𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳𝘨𝘢 𝘬𝘶. 𝘓𝘢𝘭𝘶 𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘳𝘦𝘢𝘬𝘴𝘪 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳𝘨𝘢 𝘬𝘶 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘵𝘢𝘶 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘢𝘬𝘶 𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘦𝘯𝘺𝘦𝘣𝘢𝘣 𝘬𝘦𝘮𝘢𝘳𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘈𝘯𝘪𝘩? 𝘓𝘢𝘨𝘪-𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘱𝘦𝘯𝘺𝘦𝘣𝘢𝘣 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘬𝘦𝘬𝘢𝘤𝘢𝘶𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪. 𝘡𝘦𝘦, 𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘤𝘢𝘳𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘦𝘭𝘢𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶? " Rain menatap Zee yang tersenyum padanya.
"𝘈𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘯𝘤𝘪𝘬𝘶? 𝘗𝘦𝘳𝘮𝘢𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘯𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘴𝘢 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘬𝘶 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵𝘬𝘶 𝘣𝘪𝘯𝘨𝘶𝘯𝘨, 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨? "
.
.
.
bersambung...
.
.
__ADS_1
.
salam dari Yuya😁😁