Pelangi Tanpa Batas Warna

Pelangi Tanpa Batas Warna
Firasat


__ADS_3

Pagi hari yang cerah. Ku hirup udara segar dalam-dalam yang masuk lewat jendela kamarku. Aku bersiap untuk kuliah. Kupakai jaket merah pemberian temanku. Nyaman.


Aku beranjak ke dapur. Aku tertegun saat melihat bapak yang sedang menyuapi Zee. Hatiku tersentuh melihat kebersamaan mereka. Aku tidak ingin mengganggu mereka, jadi kuputuskan untuk keluar hendak memanaskan motorku.


Aku membuka pintu dan merasa ada yang aneh. Seperti ada orang yang memperhatikanku. Aku mengedarkan pandangan , tapi tak juga ku temukan orang yang mencurigakan.


Ku lanjutkan aktifitasku. Setelah selesai, aku beranjak masuk. Tapi, seseorang yang melewati rumahku membuatku terdiam.


Deg!


Mataku dan matanya sekilas bertemu. Aku hanya terdiam tanpa melihat kepergiannya.


Aku masuk dengan sedikit melamun. Aku tiba di dapur, tapi pemandangan di dapur membuatku terkejut.


Ugh!


Kenapa bapak dan ibu bermesraan di sini? Aku sedikit kesal dan malu.


Aku ke ruang depan dan ternyata abangku sudah siap berangkat kerja. Dia meneliti penampilanku.


"Dek! Pinjem jaketnya dong. "


Aku mengernyit. "Abang kan juga punya. Aku juga mau pake yang ini loh. "


"Sekali... Aja. Ya. " Tatapannya merayu.


Aku mendesah dan kulepaskan jaketku. Ku berikan padanya dan dia tampak senang.


Bapak keluar dari dapur dan menatapku sambil tersenyum. Kenapa perasaanku aneh? Kenapa aku malah merasa sedih melihatnya?


"Mau berangkat, neng? "


"Iya, pak. Tapi masih tunggu Zee. "


" Duduk dulu. " Ucapnya sambil lebih dulu duduk. Aku mengikutinya. Bang Arka dan ibu juga duduk di samping kami. Tak lama Zee keluar dari kamarnya dan ikut bergabung.


Apa bapak akan mengatakan yang ingin dia katakan? Aku sangat menantinya.


"Kamu sudah besar ya. "


Aku hanya diam. Tentu saja. Bahkan aku sudah lebih tinggi dari bapak.


"Kamu udah punya calon belum? "


"Hah? C-calon apa? "


"Ya calon suami lah. " Jawabnya tersenyum.


Ugh! Bapak ini...


"Belum lah, pak. Saya masih kuliah. Lagipula, saya masih ingin bekerja kalaupun saya sudah lulus kuliah. " Keluargaku terkekeh.


Zee pamit kebelakang, ingin buang air.


Bang Arka pergi ke dapur mencari alat untuk dibawanya kerja.


Tinggallah aku dan kedua orang tuaku.


Bapak menatapku serius. "Neng... Kalo nanti kamu mau menikah, menikahlah dengan laki-laki yang lebih tua darimu dan pastikan dia belum pernah menikah. Jangan kamu menikah dengan laki-laki yang lebih muda darimu. Ingat pesan bapak, ya. "


Aku mengangguk mengerti walaupun merasa aneh. Apa ini? Ini bukan kata-kata yang aku harapkan. Tapi aku menerimanya dan akan selalu ku ingat. Ini adalah pesan bapak.


Tapi, apakah hanya itu? Setelah lama pun bahkan sampai bang Arka dan Zee keluar pun tidak ada lagi kata-kata yang dikeluarkan oleh bapak. Aku sedikit kecewa.


Bapak dan bang Arka pamit bekerja. Bapak pamit pada ibu tidak seperti biasanya. Ibu terlihat enggan melepaskan bapak. Bapak menatapnya lembut kemudian menatap aku dan Zee.


"Bapak pergi dulu, ya. Nanti hati-hati di jalan. Jangan bawa motor ngebut-ngebut ya, neng. Dijaga adiknya. Ibu baik-baik di rumah. " Kami menyalami bapak bergantian.

__ADS_1


Bapak dan bang Arka sudah pergi. Kini tinggallah kami bertiga.


"Bu, tadi saya kok kayak lihat mbak Anih. "


Ibu menatapku, " Anih istrinya Danang? " Aku mengangguk.


"Gak mungkin. Mungkin itu adiknya. Anih sama adiknya sangat mirip. Anih dan suaminya sudah pergi setelah kejadian waktu itu. Warga yang geram dengan kelakuan Danang tak segan-segan memgusir mereka. Ibu sebenarnya kasian sama Anih. Tapi suaminya itu loh... Ngeselin!"


Aku kembali mengingat maling yang tak sengaja kumasukan ke rumahku, beberapa bulan setelah kami tinggal di sini.


Aku setengah sadar memasukkan orang ke rumahku di malam hari. Aku kira itu bapak. Aku yang mendengar suara di balik pintu langsung saja membuka pintu dan mempersilahkan orang itu untuk masuk.


Aku tidak ingat apa-apa sampai ku dengar teriakkan adikku. Aku berlari ke kamarnya.


Tapi aku gelagapan dan gelap mata saat adikku berteriak dan meminta tolong karena ada orang yang menyelinap masuk ke kamarnya.


Aku melihat seseorang yang menggunakan topeng sedang mencekik adikku dari belakang dan sebuah pisau dia arahkan padaku.


Seketika, aku menerjang orang itu sampai dia berteriak kesakitan. Tidak peduli dengan pisau yang diarahkannya padaku. Entah apa yang aku lakukan?


Aku memukulinya hingga dia lumpuh.


Keluargaku sangat terkejut dan ibu syok melihat aku seperti orang yang kerasukan.


Seketika rumah kami riuh didatangi warga. Saat itu pula warga baru tau kalau ternyata Danang adalah maling yang selama ini meresahkan warga.


Warga tidak menyalahkanku. Tapi ibu syok dan tidak bisa bicara saat itu.


Saat keramaian itu pula aku melihat Anih dengan wajah lugunya menangisi suaminya. Aku mengenalnya dan aku tau dia perempuan yang sangat baik. Aku merasa bersalah telah melakukan itu pada suaminya.


Setelah itu aku tidak tau apa yang dilakukan warga pada Danang. Aku tidak pernah mencari tau kabar tentang mereka.


"Kakak.. "


"Rain! "


"Cepat berangkat. " Ucap Ibu.


Aku dan Zee pun pergi.


.


.


.


Entah kenapa perasaanku tidak nyaman. Aku belajar dengan tidak tenang.


Padahal aku masih ada kelas lagi tapi aku sudah tidak bersemangat.


Aku termenung sendiri di bawah pohon, di belakang gedung.


Tiba-tiba ponselku berdering. Aku melihat ibuku menghubungiku.


"Assalam-"


"Rain... " Ibu memotong salamku. Suaranya bergetar.


"Bapak kecelakaan... "


Seketika aku merasa lemas hingga tak sanggup berdiri. Ibu tidak mungkin menghubungiku sambil menangis kalau keadaannya tidak parah.


Ibuku memintaku datang ke rumah sakit yang jaraknya kira-kira 25 menit perjalanan menggunakan motor dari sini. Aku menenangkan diriku dan bergegas pergi tanpa pamit pada siapapun, aku tidak ingat.


Selama perjalanan, air mataku terus saja berlinang. Perasaanku sangat kacau. Mungkin inilah penyebab aku merasa tidak tenang. Apalagi mengingat bapak yang memberiku pesan seperti itu tadi pagi.


Keadaan bapak pasti tidak baik-baik saja.

__ADS_1


Aku menangis sedih dan juga gelisah karena merasa diriku tak kunjung sampai ke rumah sakit itu. Aku terus memanggil bapakku dengan lirih.


Ketika aku sampai, aku segera berlari mencari ruangan UGD. Bapak pasti ada di ruangan itu . Dengan kebingungan aku berlari terhuyung-huyung sampai menabrak orang lain berkali-kali. Biasanya aku tidak kebingungan mencari ruangan itu dan akan segera menemukannya. Aku menangis sambil terus memanggil bapakku.


"Bapak.... Hiks... Bapak... "


Aku melihat ada beberapa tetanggaku di depan sebuah ruangan. Aku yakin bapak ada di dalam ruangan itu.


"Bapak! " Aku berteriak sambil berlari mendekat. Tetanggaku menyambutku dengan wajah yang sendu. Mereka mempersilahkan aku untuk masuk.


"Bapak.... " Tangisku pecah melihat bapakku yang terbaring dengan wajah yang bengkak.


Aku menghampirinya dengan air mata yang menutupi pandanganku. Tak memperhatikan siapa saja yang ada di dalam ruangan itu.


Aku menatap dan membelai wajah yang tampak pucat itu. Bapak membuka matanya dan menatapku.


"Kamu sudah datang, neng? " Hatiku semakin sakit mendengar suaranya yang begitu dalam.


"Iya, pak... Rain sudah datang. " Suaraku bergetar.


Bapak memandang sekeliling. Aku mengikuti arah pandangnya. Tampak ibu dan juga Zee yang masih memakai seragam, menangis pilu di samping ranjang bapak. Ada pula seorang yang ku kenal sebagai Ustadz dan juga dua orang lainnya yang tidak ku kenal. Seorang dokter dan suster berdiri agak jauh dari kami.


"Kemarilah, " Ucap bapak lirih tapi masih bisa ku dengar. Aku sudah sangat dekat. Aku duduk di kursi dan menundukkan kepalaku lebih dekat seperti keinginannya. Aku tidak berani memeluknya melihat bagaimana kondisinya.


"Maafkan bapak ya, neng. Bapak banyak salah sama kamu. " Aku menggeleng, menangis dan tak mampu bicara.


"Suatu saat nanti kalau kamu sudah tau kebenarannya, bapak harap kamu tidak membenci bapak dan juga orang di masa depan, " Ucap bapak lirih dengan suara yang dalam dan serak.


"Bapak tidak berdaya untuk melakukan lebih dari ini. Bapak sayang kamu. Kamu anak yang kuat dan berani. Jagalah ibu dan adikmu. Walaupun kamu perempuan, tapi kamu adalah perempuan yang kuat. Tapi, kendalikanlah emosimu, ya, nak... Ingat selalu pesan bapak. Kelak kamu akan tau apa alasan bapak mengatakan itu... Haah... " Nafas bapakku terlihat sesak. Aku semakin tak kuasa menahan air mataku.


Bapak....


Ku mohon kuatlah...


"Astaghfirullah.... Bapak... Kuat, pak... " Ucapku tersendat-sendat karena tangis.


Beberapa orang sudah mendekati kami.


Bapakku terlihat semakin kesulitan untuk bernafas. Seorang ustadz, tetanggaku. Dia mendekati bapak dan membisikkan syahadat di telinganya.


Bapak mengikutinya dengan suara yang lirih. Ibu dan Zee tampak menahan tangisannya hingga suaranya tercekat. Kenapa dokter dan suster itu hanya diam saja? Kenapa bapak dibiarkan seperti ini?


"Dokter, tolong bapak... Kenapa kalian cuma diam? " Aku setengah berteriak. Tapi mereka hanya menunduk.


Aku menangis memanggil bapakku sambil beristighfar.


Hingga ucapan ustadz itu membuat duniaku runtuh sampai rasanya aku mati rasa.


"Innalillahi wa inna ilaihi rajiun... " Aku berdiri mematung dengan air mata yang menggenang. Mataku membelalak dan nafasku tercekat. Aku tidak percaya bapakku sudah pergi...


.


.


.


.


bersambung....


.


.


Author pemula..


maaf kalo gak ngena.

__ADS_1


salam dari yuya...


__ADS_2