
Tak lama kemudian, pintu ruangan itu pun terbuka dan masuklah Intan bersama Kana. Intan tampak terburu-buru bahkan menghampiri Rain tanpa menyapa orang-orang yang ada di ruangan itu.
Kana tersenyum dan menganggukkan kepalanya saat melihat keluarga Rain. Kana hanya berdiri di samping ibunya yang tampak khawatir dengan kondisi Rain.
"Bagaimana kondisi mu? Apa sudah lebih baik? Apa masih ada yang sakit? Hah? Gimana? Bilang sama ibu. " Intan meraba-raba tubuh Rain dengan wajah yang panik.
Rain tersenyum. "Saya udah enakan kok, bu. Ibu kan tau saya kuat. Ibu jangan terlalu khawatir gitu, " jawab Rain sambil menggenggam tangan Intan.
Intan bernafas lega. "Ibu tuh khawatir banget sama kamu, sayang. Ibu takut kamu kenapa-kenapa. Ibu takut kejadian ini membuat kamu syok dan berdiam diri tanpa sadar. "
"Saya baik-baik aja kok, bu. Apalagi ada keluarga saya yang nemenin saya terus. "
Intan seketika sadar dengan keberadaan keluarga Rain, menatap mereka satu persatu dan tersenyum tak enak hati. "Aduh, maaf. Saking paniknya saya sampe gak sadar kalo di sini ada orang. "
Hastini tersenyum begitu pula dengan Arka dan Zee. "Gak pa-pa, bu. Namanya juga orang panik, " jawab Arka karena Hastini hanya terdiam.
Hastini melihat kedekatan Intan dan Rain, itu membuatnya merasa cemburu. Ada perasaan tak rela dalam hatinya melihat Rain seakrab itu dengan Intan.
"𝘈𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘪𝘯𝘪 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩𝘢𝘯? 𝘈𝘱𝘢 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢𝘢𝘯 𝘬𝘶 𝘴𝘢𝘫𝘢? 𝘚𝘶𝘥𝘢𝘩𝘭𝘢𝘩, 𝘸𝘢𝘫𝘢𝘳 𝘣𝘶 𝘐𝘪𝘯 𝘴𝘦𝘴𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘵𝘶 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘙𝘢𝘪𝘯. 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘳𝘦𝘭𝘢? " Hastini melamun sementara yang lainnya asyik mengobrol.
Arka menepuk pundak ibunya karena ibunya hanya diam saja saat Intan bertanya padanya. Hastini pun tersadar dan akhirnya ikut dalam obrolan mereka.
Rain tersenyum saat didapatinya Zee yang sesekali mencuri pandang pada Kana, tapi Kana tetap mengobrol seru, apalagi saat Arka yang bercerita, Kana tampak lebih tertarik dengan apa yang diceritakan Arka.
Sekarang Rain jadinya yang melamun. "𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘦 𝘣𝘢𝘯𝘨 𝘈𝘳𝘬𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘨𝘢𝘯𝘵𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘈𝘤𝘦 𝘥𝘪 𝘩𝘢𝘵𝘪 𝘒𝘢𝘯𝘢, 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘣𝘦 𝘪𝘯𝘪. 𝘗𝘢𝘥𝘢𝘩𝘢𝘭, 𝘡𝘦𝘦 𝘬𝘢𝘺𝘢𝘬𝘯𝘺𝘢 𝘯𝘢𝘬𝘴𝘪𝘳 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘥𝘪𝘢, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘒𝘢𝘯𝘢 𝘯𝘨𝘦𝘭𝘪𝘳𝘪𝘬 𝘡𝘦𝘦 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘢𝘫𝘢 𝘯𝘨𝘨𝘢𝘬, 𝘥𝘶𝘶𝘩. 𝘚𝘦𝘮𝘰𝘨𝘢 𝘒𝘢𝘯𝘢 𝘨𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘶𝘣𝘢𝘩 𝘩𝘢𝘭𝘶𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘨𝘪. "
"Oh iya, Rain, " celetuk Kana dan Rain spontan menatapnya. "Ya? "
"Kemarin kan kamu kehilangan banyak darah, " ucap Kana dan tidak melanjutkan kata-katanya.
Rain mengerutkan dahinya. "Lalu? "
"Mamaku donorin darahnya loh buat kamu, " ucap Kana tersenyum dengan bangganya seolah dirinya yang melakukan hal itu.
Intan merasa tak enak, apalagi saat melihat Hastini dan Rain spontan menatapnya dengan wajah terkejut. Intan berpikir kalau ibu dan anak itu tidak setuju. "Em... Itu, kebetulan darah saya cocok, gak pa-pa kan? Saya gak punya riwayat penyakit apa-apa kok. "
Hastini dan Rain segera mengubah ekspresi nya. "Em... Gak pa-pa, bu. Saya berterima kasih banget malah. Tapi jadinya saya ngerepotin ibu lagi. "
" Ibu gak pa-pa, kok. Lagian darah kita cocok, daripada mencari yang lain, kan lebih baik ibu aja yang dekat, kan bisa cepat juga."
Arka melihat ibunya yang hanya terdiam, Arka mengelus pundak ibunya agar ibunya tidak lagi melamun. Arka mengerti dengan perasaan ibunya saat ini.
"𝘚𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘪𝘯𝘪, 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘙𝘢𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘵𝘶𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘳𝘢𝘯𝘴𝘧𝘶𝘴𝘪 𝘥𝘢𝘳𝘢𝘩, 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳𝘨𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘰𝘭𝘰𝘯𝘨𝘯𝘺𝘢. 𝘐𝘣𝘶 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪 𝘴𝘦𝘥𝘪𝘩. 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘬𝘦𝘣𝘦𝘵𝘶𝘭𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘥𝘢𝘳𝘢𝘩 𝘣𝘶 𝘐𝘯𝘵𝘢𝘯 𝘤𝘰𝘤𝘰𝘬 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘙𝘢𝘪𝘯? 𝘈𝘱𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘣𝘦𝘵𝘶𝘭𝘢𝘯? 𝘈𝘱𝘢 𝘨𝘰𝘭𝘰𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘬𝘦𝘣𝘦𝘵𝘶𝘭𝘢𝘯 𝘤𝘰𝘤𝘰𝘬 𝘢𝘵𝘢𝘶...
... 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘣𝘶 𝘐𝘯𝘵𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘪𝘳𝘪𝘱 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘪𝘣𝘶 𝘬𝘢𝘯𝘥𝘶𝘯𝘨 𝘯𝘺𝘢 𝘙𝘢𝘪𝘯. 𝘓𝘢𝘨𝘪𝘱𝘶𝘭𝘢, 𝘣𝘶 𝘐𝘯𝘵𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢𝘪 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘭𝘦𝘭𝘢𝘬𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘶𝘴𝘪𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘵𝘶𝘢 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘙𝘢𝘪𝘯. 𝘚𝘶𝘥𝘢𝘩𝘭𝘢𝘩, 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪 𝘣𝘶 𝘐𝘯𝘵𝘢𝘯 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘣𝘶 𝘬𝘢𝘯𝘥𝘶𝘯𝘨 𝘯𝘺𝘢 𝘙𝘢𝘪𝘯. "
__ADS_1
🍂🍂🍂
Sore pun tiba dan Intan dengan terpaksa harus pergi untuk mengurus beberapa masalah di kantornya. Arka pun harus pergi mengantarkan Zee ke asrama. Tinggallah Kana dan Hastini yang menemani Rain.
Kana terus berceloteh, tidak peka dengan diamnya Hastini dan Rain. Kana tetap semangat bercerita walaupun tidak ada yang menanggapinya.
Tertawa sendiri, bersedih sendiri sampai ketika dia tertawa terbahak-bahak dan membuat Rain melotot saking kagetnya.
Kana menjadi bingung sendiri. "Kenapa? Kamu kesambet ya? Orang cerita lucu kok mukanya kayak orang keselek gitu. "
" Eh... I-iya. Lucu kok. Saking lucunya ini, hehe." Rain tersenyum kikuk lalu beralih menatap ibunya yang terlihat murung.
"Bu, ibu istirahat aja dulu, gih. Ibu belum makan, kan? Saya gak mau ibu kenapa-kenapa, " bujuk Rain.
Hastini membuang nafas berat. "Ibu belum lapar. Ibu mau nemenin kamu disini. Lagian ibu juga cuma duduk-duduk aja. "
"Loh, kok belum lapar? Emang kapan ibu makan? "
"Sebelum kamu bangun. "
"Ibu makan aja dulu, ini udah sore loh, bu. Lagian kan ada Kana yang nemenin. Atau biar Kana yang carikan makan terus ibu makan disini, ya? "
Hastini menatap Kana yang cengengesan. "Iya, ibu makan bentar lagi. Ada makanan kok di tas, tadi abangmu yang carikan. " Rain mengangguk.
"Kamu kan udah makan waktu aku makan tadi. "
"Kan bukan kamu yang nawarin. "
"Lah, apa bedanya? Itu perut keisi juga. "
"Beda lah kalo ayank yang nawarin. " Kana cengengesan lagi.
"Ish! " Rain menarik kedua ujung bibirnya dan memekarkan hidungnya.
Kana tertawa terbahak-bahak. "Ahahaha... Itu muka kocak amat. "
"Dih! Kocak emang ya. Tau muka lagi ngenes babak belur gini malah diketawain, gak kasian banget emang kamu. Orang suasana hatiku lagi berduka begini. Lagian kamu tu kesambet apa sih? Perasaan dari tadi girangnya gak ketulungan."
"Ehm... Sorry. Soalnya aku lagi kasmaran, hihi." Kana tersenyum sendiri dan memeluk tubuhnya sendiri, membuat Rain mengerjap-ngerjapkan matanya dengan pikiran yang berkelana.
"𝘠𝘢 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯, 𝘴𝘦𝘮𝘰𝘨𝘢 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘯𝘨 𝘈𝘳𝘬𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘪𝘬𝘪𝘯 𝘒𝘢𝘯𝘢 𝘬𝘢𝘴𝘮𝘢𝘳𝘢𝘯, 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘯𝘢𝘯𝘵𝘪? "
Hastini hanya menatap dengan datar tingkah dua anak muda di hadapan nya. Hastini tak bisa ikut tersenyum. Entah kenapa hatinya terus merasa resah.
🌼🌼🌼🌼
__ADS_1
Tap
Tap
Tap
Suara langkah kaki yang terburu-buru terdengar di koridor, suaranya terdengar menggema karena tidak banyak orang yang melintasi tempat itu.
Seorang laki-laki dengan pakaian yang rapi namun dengan raut wajah yang kacau tengah berjalan terburu-buru mencari sebuah ruangan. Langkah kakinya ia percepat saat melihat seseorang yang dikenali nya keluar dari sebuah ruangan.
"Mama! " panggil laki-laki itu.
Spontan seorang perempuan menoleh ke arahnya karena mengenali suaranya. "Ace? Kamu pulang? "
"Dimana Rain, ma? "
Perempuan itu menoleh ke belakang, ke dalam ruangan yang masih terdapat beberapa orang yang bercengkrama. "Dia di dalam. "
Ace hendak masuk tanpa permisi dan tanpa berucap sepatah kata pun pada ibunya.
"Hem... Emang ya kalo orang lagi jatuh cinta, mamanya aja dilupain. " Ucapan Intan terdengar jelas dan membuat Ace berbalik dan memeluknya.
"Apa kabar mama? Aku baik-baik aja dan pulang karena merasa gak tenang dan kepikiran sama Rain. Aku hubungi orang-orang di rumah dan ternyata ini jawabannya. Aku boleh masuk sekarang? "
Intan ingin tertawa rasanya mendengar ucapan Ace. "Masuklah. Minta izin dulu sama ibunya. Kamu calon menantu yang baik, kan?"
Ace menatapnya dengan tatapan yang beragam. Senang dan gugup bercampur jadi satu. Lalu ia berbalik dan melihat Rain yang terduduk di ranjang rumah sakit.
Gadis yang ia rindukan itu kini sedang menatapnya dengan lekat, seolah tidak percaya kalau saat ini dirinya berada di hadapannya.
.
.
.
bersambung....
.
.
.
salam dari Yuya🥰🥰🥰
__ADS_1