
Aku tertegun. Jadi dia sudah tau? Bahkan sepertinya bukan sedikit yang ia tau.
"Sebenarnya, masalah ini yang mau aku bilang sama kakak, tapi aku terlalu takut dan bingung untuk bilang semuanya. Aku juga gak tau apakah masalah ini baik jika aku katakan? Apakah lebih baik aku simpan,seperti ibu, bang Arka dan juga bapak?Tapi, aku takut kalau kakak mengetahui sendiri hal ini. Walaupun aku gak bilang, masih ada kemungkinan kalau kakak akan mengetahui hal ini dan itu yang aku takutkan sampai membuatku tidak bisa tenang. "
Kini aku yang seolah mematung."Jadi... "
"Aku tidak tenang bukan karena harus mengatakan hal ini atau tidak, tapi aku tidak tenang karena takut kalau kakak mengetahui hal ini dan pergi dari kami. Aku malah berencana untuk menyembunyikan masalah ini. Aku gak mau kalau sampai kakak tau. Maafkan aku, kak. Tapi, keluarga kakak bukanlah orang yang baik. Sebaiknya, kakak tetap bersama kami. " Zee menatapku penuh harap.
Kini, tidak penting sejak kapan dia tau hal ini. Yang pasti, dia sangat menghawatirkan ku sampai membuatnya tidak tenang. Mungkin juga hal ini yang membuatnya tampak murung akhir-akhir ini. Mungkin hal ini juga yang membuat proses belajarnya terganggu di sekolah lamanya. Kalau benar begitu, berarti dia sudah tau cukup lama tentang hal ini.
"Zee, biarpun mereka mungkin saja bisa melenyapkan nyawa kakak, tapi ada ibu kandung kakak disana yang mungkin saja masih ada untuk menunggu kakak datang."
Zee terlihat sedih. "Tapi, kak... "
"Kakak akan hati-hati. Kamu jangan khawatir. Kamu tau kalau kuat, kan? " Aku tersenyum menatapnya yang terlihat tidak yakin dengan kata-kata ku, namun dia hanya diam.
"Lagipula, kakak masih menyimpan dengan rapat hal ini. Kakak akan mencari tau semuanya setelah kakak lulus kuliah. Masih banyak yang harus kakak lakukan. Kakak akan mencoba menyelesaikan nya satu persatu. "
Zee membuang nafas panjang seolah ucapanku ini membuatnya lega.
Aku terpikir dengan sesuatu. "Kakak penasaran, bagaimana reaksimu saat mengetahui masalah ini? "
Zee melihat ke sembarang arah dan tampak berpikir. "Awalnya aku marah sih, " jawabnya tapi terlihat ragu.
"Marah? "
"Iya. "
"Marah pada kakak? "
Zee mengedikkan bahu. "Entahlah. Aku tidak tau aku marah pada siapa awalnya. Tapi setelah aku bisa berpikir, aku marah pada mereka yang terus mengejar keluarga kita. Kemudian rasa takut akan kehilangan kakak, muncul terus menerus. "
"Apa kamu dengar dari ibu? "
__ADS_1
Zee mengangguk. "Ya. Aku rasa, ibu tidak tau kalau saat itu aku berada di rumah. Ibu tidak curiga karena aku juga bisa menyembunyikan keterkejutan ku."
Aku meluruskan punggung ku kemudian menyandarkannya ke kursi. Apakah aku bisa merasa lega sekarang? Tapi aku bersyukur, kenyataan tidak seburuk yang aku bayangkan.
Mungkin aku terlalu berpikiran buruk pada keluarga ku. Nyatanya, mereka adalah orang yang baik. Tapi, sebagian orang juga pasti akan merasakan kebingungan seperti ku jika berada dalam posisi seperti ini.
Kini aku akan fokus mengurus masalah yang lain. Tapi sebaiknya aku menyelesaikan urusan kuliahku dulu sebelum memulai mencari tau tentang keluarga ku.
Ya, aku juga harus bertemu dengan Arza. Aku bahkan belum berterima kasih padanya atas bantuan yang ia berikan. Tapi, aku tidak berani untuk datang ke rumahnya. Harus aku cari dimana dia? Nomor yang ia gunakan sama sekali tidak bisa aku hubungi. Aku tidak tau siapa saja orang terdekatnya. Bertanya pada tentangganya pun mereka tidak tau.
.
.
.
.
Ku lajukan motorku dengan kecepatan sedang. Melewati banyak bangunan dan mendahului beberapa kendaraan. Aku berniat pulang ke rumah bu Intan setelah mengantarkan Zee kembali ke asrama.
Aku berniat mengunjungi tempat yang kadang-kadang dikunjungi oleh Arza. Tidak salahkan kalau aku berharap Arza ada disana, walaupun kemungkinannya kecil.
Aku menghentikan motorku setelah sampai di depan sebuah cafe. Cafe yang lokasinya jauh dari tempat kerja ku. Aku pernah mengunjungi cafe ini. Dua kali mengunjunginya dan itu bersama Arza.
Aku memasuki cafe dan mengedarkan pandanganku sambil berjalan perlahan. Aku ingin mendapatkan tempat yang pas untuk aku duduk menyendiri.
Namun tiba-tiba ada seseorang menabrak ku saat aku sendiri memang sedang tidak fokus. Aku banyak-banyak meminta maaf pada orang yang ternyata seorang lelaki berkacamata. Orang itu juga meminta maaf padaku.
Aku ikut berjongkok seperti dia untuk membantunya merapikan barang-barangnya yang jatuh dari tasnya. Untung laptop yang ia pegang tidak ikut jatuh. Karena aku melihat ada sebuah barang -yang aku tidak tau itu apa- dan barang itu terlihat retak. Walaupun aku tidak tau apakah itu retak karena terjatuh. Tapi apakah dia tidak menutup dengan rapat tasnya? Kenapa isinya sampai berhamburan begitu?
"Rain? " Tanya lelaki di hadapanku ini secara tiba-tiba saat kami hampir selesai merapikan barang-barangnya. Aku menatapnya bingung.
"Rain, kan? " Tanyanya lagi seolah kurang yakin.
__ADS_1
"Siapa? " Tanyaku bingung. Aku rasa, aku tidak pernah bertemu dengan orang ini.
Dia mengulurkan tangannya. "Aku Ammar. "
Walaupun bingung, tapi aku tetap menyambut uluran tangannya. Lalu kami berdiri setelah semua barangnya masuk kembali ke dalam tasnya.
Aku berniat meninggalkan nya sesaat sebelum dia memanggilku. "Bisa kita bicara? " Tanyanya dengan ramah.
Aku sedikit ragu. Haruskah aku duduk mengobrol dengan orang yang bahkan aku sendiri tidak mengenalnya?
Seolah tau dengan keraguan ku, Ammar pun kembali berucap. Namun kali ini intonasinya sangat berbeda dengan yang tadi. "Ini tentang Anih. "
Suara dan tatapannya yang datar seolah mengubah suasana di tempat ini. Aura dingin seolah mengiringi langkahnya yang kini berjalan menjauhiku.
Aku berjalan menghampiri nya yang sudah duduk dengan tenangnya di kursi di pojok ruangan. Aku duduk di hadapannya dengan wajah datar.
"Mungkin ini agak lama. Maaf karena membuat mu tidak nyaman, " ucapnya sambil tersenyum ramah namun tak bisa menghilangkan kesan yang kuanggap dingin darinya.
"Aku minta maaf. " Aku hanya menatapnya tanpa menjawab, menunggu ia melanjutkan kata-kata nya.
"Akulah yang membantu Anih untuk mencelakai mu. "
.
.
.
bersambung..
.
.
__ADS_1
salam dari Yuya