Pelangi Tanpa Batas Warna

Pelangi Tanpa Batas Warna
Berjalan lancar


__ADS_3

Beberapa hari berlalu, aku dan Ace sepakat untuk mengatakan semuanya pada orang tua kami. Aku harap semuanya bisa berjalan dengan lancar.


Hari ini aku pulang ke rumah ku, tentu saja untuk mendiskusikan tentang aku dan Ace pada ibu dan bang Arka. Aku ingin mendiskusikan dengan mereka, bagaimana baiknya semuanya dilakukan.


Tapi usul dari ibuku malah membuatku melongo. "Kenapa gak langsung nikah aja?" tanyanya.


"Kalian sudah sama-sama dewasa dan lagi kalian tinggal satu atap. Ibu gak mau kalau sampai terjadi sesuatu yang tidak diinginkan kalau kalian tidak segera menikah."


"Tapi saya mau menyelesaikan kuliah dulu baru menikah."


"Kalau gitu, tunggu sampai kamu lulus."


"Ibu..."


"Kamu ngotot sekali." Ibu menatapku sambil memicingkan matanya.


"Bukan begitu."


"Lalu?"


"Sebenarnya, saya ingin mencari tau dulu tentang keluarga saya. Mungkin saja saya masih punya keluarga yang bisa menjadi wali ketika saya menikah nanti."


Dan tatapan ibuku berubah. Dia tidak terlihat semenakutkan tadi. Tatapannya menjadi lebih lembut namun juga sedih.


"Ya, ibu faham."


"Saya menyanggupi lamaran ini sekarang karena tidak ingin membuat Ace kecewa. Nantinya saya bisa memberikan alasan menunggu Zee lulus untuk menunda hari pernikahan itu. Saya harap, dia mau bersabar. "


"Jadi sampai saat ini tidak ada satupun dari mereka yang tau?"


"Iya. Mungkin saya bisa memberitahukan masalah ini jika keadaannya sudah mendukung. Saya hanya takut mereka menjadi sasaran orang-orang yang dulu menyerang kita."


"Ibu harap, dia mau bersabar menunggu mu. Tapi mungkin ada baiknya juga jika kamu menceritakan semuanya pada mereka. Mungkin saja mereka bisa membantumu. Apalagi calon mertuamu bukan orang sembarangan."


"Saya tidak tau,Bu. Apakah memberitahu dan meminta bantuan kepada mereka adalah hal yang tepat."


"Kalau kamu merasa berat, kamu bisa pikir-pikir dulu. Jika kamu ingin mengatakan semuanya pada mereka, kamu juga harus hati-hati."


"Iya,Bu."


"Tapi kalau kalian belum bisa menikah sekarang, ibu punya permintaan yang ibu harap, kalian bisa menyanggupinya."


"Apa itu, Bu?"


"Kalian tidak boleh tinggal serumah lagi sampai kalian berdua resmi menikah. Bisa?"


Aku tersenyum karena hal itu tentu bisa aku sanggupi. "Saya sanggup, Bu."


Lalu ibu tersenyum dengan tatapan yang aneh. "Diskusikan dulu hal itu pada calon suami dan mertuamu. Mungkin saja mereka keberatan."


"Baik, Bu."


.


.


.

__ADS_1


Aku mengatakan apa yang dipesankan oleh ibuku pada Ace. Terlihat sekali di wajah Ace, antara senang namun juga kecewa dengan pesan yang kubawa ini.


"Aku harap kamu sanggup. Tidak ada salahnya ibuku memberi pilihan seperti itu."


"Kenapa kamu terlihat senang? Apa kamu senang jauh dariku?"


"Iiih... Bukan begitu. Memang kan kurang baik juga kalau kita terus-menerus tinggal serumah."


"Lalu kenapa kamu tidak langsung menikah denganku?"


"Aku belum lulus kuliah, Ace."


Dan Ace hanya mengusap wajahnya dengan kasar. Ia terlihat pusing.


"Sudahlah, kita jalani saja dulu. Lagipula, menunggu aku lulus tidak akan lama,kan?"


Dia menatapku seolah ingin menerkamku. Aku sampai bergidik melihat ekspresi wajah nya itu. "Kenapa lihatnya seperti itu?"


"Kamu membuatku tidak sabar."


Aku pun menggembung kan pipiku. "Ya harus sabar lah."


"Aku mau sabar tapi aku minta imbalan atas kesabaranku."


Aku menatapnya was-was. "Apa itu? Aku harap permintaan mu tidak macam-macam."


"Tidak,kok. Kemarilah, duduk di sampingku dan peluk aku." Aku memeluknya seperti yang ia inginkan.


"Aku akan bersabar menunggu, sekalipun jika itu menghabiskan sisa umurku."


.


.


.


Cafe tempat aku bekerja sudah direnovasi beberapa hari sebelum aku melangsungkan acara lamaran kami. Rencananya aku akan tinggal di sana bersama beberapa temanku setelah aku menyelesaikan acara. Tapi kalau tempat itu belum selesai direnovasi, aku masih akan tinggal di rumah Bu Intan.


Ibuku tidak melarang asalkan aku dan Ace bisa menjaga diri. Mungkin ibuku terlalu banyak aturan, tapi itu demi kebaikan kami dan juga dia tidak salah kalau meminta kami untuk menurutinya.


.


.


.


Acara lamaran ku berjalan dengan lancar. Tidak ada hambatan sama sekali. Keluarga ku dan keluarga Ace menjadi lebih dekat. Walaupun sebenarnya kami memang sudah sangat dekat sejak dulu.


Bu Intan dan ibuku tampak senang dengan adanya acara ini. Aku melihat Bu Intan sampai menangis karena terharu. Aku merasa seperti telah menemukan keluarga ku dengan adanya acara ini.


Kini, tinggal aku fokus dulu pada kuliahku dan setelah aku lulus, aku akan memulai mencari tau tentang keluarga kandungku.


.


.


.

__ADS_1


Waktu berjalan begitu cepat, tidak terasa kini aku sudah berhadapan dengan hari wisuda ku. Aku sangat senang karena akhirnya bisa lulus. Aku bersyukur aku bisa menyelesaikan kuliahku walaupun tidak ada bapak. Aku juga bersyukur karena bisa menyekolahkan Zee tanpa mengganggu kuliahku.


Rezeki memang tidak ada yang tau akan datangnya dari mana. Walaupun tidak ada lagi bapak yang menjadi tulang punggung keluarga seperti dulu. Tapi kebutuhan kami masih bisa tercukupi.


.


.


.


Aku ikut sibuk bersama beberapa orang yang membantu ku untuk pindah ke Cafe. Kami merapikan barang-barang kami karena kami pindah ke Cafe ini bersamaan.


Aku akhirnya memilih untuk tinggal di Cafe setelah beberapa hari aku lulus. Tidak ada penolakan dari siapapun. Kami saling mengerti dan tidak merasa terbebani sama sekali.


Walaupun masih saja terlihat ada rasa tidak senang dari raut wajah Ace saat aku memutuskan untuk pergi. Tapi sekali lagi, dia tidak bisa untuk menolak.


.


.


.


Aku mulai melakukan pencarian informasi yang menyangkut dengan keluarga ku. Berhari-hari aku melakukan itu semuanya sendiri saat aku istirahat. Aku sama sekali tidak merasa lelah walaupun aku tidak kunjung menemukan jawaban.


Aku tidak akan menyerah semudah itu. Aku akan berusaha walaupun ini sangatlah sulit. Aku tidak bisa melakukannya sendiri, tapi aku masih belum bisa mempercayakan masalah ini pada siapapun.


Hingga sampai pada saat dimana Ace menanyakan tentang kelanjutan hubungan kami, aku belum bisa untuk menjawabnya.


Tapi aku harus menjelaskan apa padanya? Aku bingung dan juga takut.


Aku tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak diinginkan,tapi sejujurnya aku juga tidak bisa untuk menghadapi masalah ini sendirian.


"Sebenarnya ada masalah apa? Apakah kamu menganggap keseriusan ku ini sebagai lelucon?" Tanya Ace yang sepertinya sudah mulai tidak sabar jawaban yang aku berikan.


"Aku sama sekali tidak menganggap seperti itu."


"Lalu apa? Kamu tidak mengatakan apapun padaku dan hanya melakukan penolakan seperti ini berulang-ulang. Kalau kamu tidak ingin melanjutkan semua ini, katakan saja. Sebelum aku benar-benar kecewa."


Aku terhenyak. Terkejut dengan ucapannya.


"Kenapa kamu bisa bicara seperti itu?"


"Kamu pasti tau alasannya." Ace berbalik membelakangi ku.Aku merasa sangat sedih.


"Sebenarnya, selama ini kamu menganggap aku ini apa?" Tanya Ace tanpa memandang ku.


"Kenapa kamu tidak bisa jujur dengan apa yang kamu hadapi? Aku ini adalah pasanganmu. Aku akan berusaha untuk membantumu dan kita akan menghadapinya bersama-sama. Aku mohon jangan sembunyikan apapun dariku," ucap Ace yang akhirnya membuat ku tak bisa menahan tangisanku.


Ace datang memelukku dengan erat. Aku menangis di pelukannya. Dia tidak menanyakan apapun dan hanya memelukku sambil mengusap rambut ku.


.


.


.


bersambung...

__ADS_1


__ADS_2