Pelangi Tanpa Batas Warna

Pelangi Tanpa Batas Warna
Terganggu


__ADS_3

.


.


"Kakak! "


Suara itu mengejutkanku. Aku terkesiap dan mengedarkan pandanganku, berharap bisa melihat orang yang memanggilku.


"Apa ibu dengar ada perempuan yang memanggil 'kakak'? "


Bu Intan tampak bingung. "Tidak. Ibu tidak dengar suara apa-apa. Sepertinya di sini hanya ada kita. "


Aku tertegun. Memang benar sepertinya, hanya ada kami. Tapi kenapa suara itu sangat jelas?


Aku melihat nisan yang bertuliskan nama Kania. "Apa Kania ini anaknya ibu? "


Bu Intan tersenyum. "Iya. Dia yang dulu ibu bilang keguguran. Jenis kelaminnya dulu sudah terlihat. Mungkin kalau dia masih ada, dia kurang lebih sebesar adik kamu, Zee. "


Aku terdiam.


Kepalaku tiba-tiba sakit. Sakit sekali. Aku memegangi kepalaku.


"Kakak! Terima kasih sudah berkunjung! "


Suara itu terdengar lagi dan seketika aku tidak ingat apa-apa.


.


.


.


Aku tersadar dengan kepala yang masih berat. Aku sudah di rumahnya bu Intan. Aku berada di kamarku.


Haah... Lagi-lagi aku tak sadarkan diri. Dan siapa yang membawaku kemari?


Aku masih berbaring di ranjang, tak berniat untuk bangun. Kepalaku masih sakit.


Aku terus terpikir dengan gadis dalam mimpiku. Tadi di makam bahkan dia bilang aku mengunjunginya. Aku tidak mengerti. Yang mana? Makamnya siapa?


Perasaan ini membuatku tak enak. Rasanya mengganjal sekali. Apa aku harus bertanya pada ibuku?


Bahkan aku belum menghubungi mereka setelah sampai ke sini.


Tunggu! Dimana ponselku?


Aku bangun dengan lemas mencoba mencari ponselku. Tapi dimana?


Aku beranjak dari tempat tidur dan menggeledah beberapa tas serta ransel ku. Ku lihat di meja juga tidak ada.


Akhirnya aku keluar kamar untuk menemui bu Intan.


Aku berjalan sempoyongan dengan kepalaku yang terasa berdenyut. Ish... Sakit...


Aku sampai di ruang keluarga. Tak ada siapapun di sini. Akhirnya aku duduk bersandar di sofa, mengistirahatkan kepalaku.


.


.


"Enak banget ya, loe. Datang kesini cuma numpang tidur! " Aku membuka mataku. Kulihat Ace berdiri berkacak pinggang di dekat sofa. Aku menatapnya malas.


"Cih! Tidak tau malu. Kerjaanmu cuma merepotkan orang saja. " Dia tersenyum sinis.


"Terserahmu lah. Aku tidak ingin berdebat. " Ucapku lirih. Andai saja kepalaku tak sakit, sudah ku maki balik dia. Menyebalkan. Siapa juga yang mau begini?


"Cepat bangun! Pergi dari situ! " Sebuah bantal mengenai kepalaku yang berdenyut.


Ya ampun.... Kepalaku sakit...


"Baiklah." Jawabku lemas dan aku mencoba berdiri. Tapi kepalaku sakit bahkan sekarang pusing. Tubuhku tak bisa kukendalikan. Aku ambruk di depan meja. Memegangi kepalaku yang tak kunjung sembuh.


Samar-samar kudengar suara bu Intan. Kedengerannya dia marah. Mereka berdebat, aku tak tau apa yang mereka perdebatkan. Kepalaku sudah sakit mendengar suara mereka.

__ADS_1


Aku merasa ada seseorang yang menyentuh pundakku. "Kakak... " Ucapnya lirih. Itu suara gadis yang kudengar tadi.


Seketika bulu kuduk ku merinding. Terasa angin dingin menyentuh kulitku.


"Siapa kamu? Kalau kamu memang adikku, jangan menggangguku. Pergilah... " Ucapku lirih.


Aku tidak merasakan lagi angin dingin itu. Sakit di kepalaku berangsur-angsur hilang. Kepalaku sudah tidak berat lagi.


Aku termenung sesaat. Aku sadar oleh suara dua orang di depanku.


Bu Intan dan Ace masih saja berdebat. Apa mereka tidak tau aku kesakitan tadi? Bahkan mereka hanya membiarkanku yang duduk lemas di lantai.


"Bu... " Bu Intan menatapku.


"Ya ampun... Mama sampai lupa, kan. Kamu sih! " Ucapnya pada Ace.


Ace berdecak kesal.


"Maaf, ya. Kamu gak pa-pa? Apa kepalamu masih sakit? Kenapa kamu keluar dari kamar kalau kamu belum baikan?"


"Saya udah enakan kok, bu. Saya cari hp saya. Apa ibu tau? "


"Oh iya. Ada ibu simpan di tas ibu tadi. Sebentar ibu ambilkan. "


Aku membuang nafas perlahan dan kembali duduk di sofa.


"Eeeh.... Malah duduk di situ lagi. Loe budek atau gimana sih? Gue kan udah bilang tadi, loe pergi dari situ! " Ace terlihat kesal. Aku menatapnya geram.


Ku ambil bantal yang dilemparkannya padaku tadi dan ku lemparkan kembali padanya."Ini! Bawel banget sih! "


"Loe gak sopan ya sama tuan rumah. Loe mikir loe itu tinggal dimana?! "


"Gue juga mikir gue tinggal dimana. Loe sendiri juga gak mikir, gak sopan sama orang. Gue kesini bukan buat loe!" Kesal sekali aku.


Mentang-mentang yang punya rumah, seenaknya sekali sama orang.


"Loe tu cuma bikin susah orang tau gak. Pengen banget gue rasanya tendang loe sekarang juga dari sini. "


"Silahkan kalau anda berani. " Aku menantangnya. Ini tidak benar. Tapi dia benar-benar menjengkelkan.


Bu Intan datang dengan hpku di tangannya. Dia menyerahkan hpku. Aku segera menerimanya dan meminta izin padanya untuk menghubungi keluargaku. Dia mengizinkan dan aku pergi ke kamar.


.


.


Aku menghubungi Zee dan dia terdengar senang sekali ketika aku menghubunginya. Dia bertanya banyak hal padaku. Aku menjawab seadanya. Tapi tidak dengan sakit di kepalaku.


Padahal belum ada satu hari aku pergi, tapi dia sudah penasaran setengah mati.


Aku mencoba bertanya pada ibuku, apakah aku punya adik lain selain Zee. Tentu saja ibu menjawab tidak. Ibuku heran kenapa aku bertanya begitu.


"Saya tadi di mobil tidur, terus dalam mimpi, ada cewek seumuran Zee yang panggil saya kakak. "


" Oh... Cuma mimpi. Gak usah terlalu dipikir. "


"Tapi tadi saya juga dengar suaranya di kuburan. Tadi saya diajak bu Intan ke makam ibunya. " Mungkin. Bu Intan tidak bilang itu makam siapa.


"Kuburan? "


"Iya."


Ibuku terdiam. Aku sabar menunggunya.


"Mungkin itu bawaan kamu datang ke tempat baru. " Apa masuk akal?


"Oh... " Aku tidak tau harus bilang apa.


"Kamu gak usah terlalu berlebihan memikirkan itu. Yang penting dia gak ganggu kamu. "


Ya, benar. Tapi dia sudah menggangguku, bu. Ingin sekali aku mengucapkan itu. Tapi kalau aku bilang bagaimana keadaanku tadi, ibuku pasti khawatir.


Setelah kami mengobrol lama, kami pun memutuskan sambungan telepon.

__ADS_1


Malam tiba. Aku duduk berdua di sofa dengan bu Intan. Kedua anaknya entah ada dimana dan aku tidak peduli.


Entah yang keberapa kalinya bu Intan bertanya tentang kesehatanku. Dia selalu terlihat khawatir. Padahal jelas aku sudah sangat sehat.


"Maaf, ya. Mungkin gara-gara ibu ajak kamu pergi tadi. Tapi ibu mau tinggal kamu di rumah juga ibu gak tenang. "


"Iya. Gak apa-apa kok, bu. Ini saya sudah sehat."


Dia membuang nafas pelan. "Ibu tu kalo udah keinget sama mamanya ibu, gak bisa ditunda lagi buat pergi. Bawaannya kepikiran... Terus. "


Aku hanya mengangguk. Jadi itu memang makam ibunya bu Intan.


Tapi kenapa hanya ibunya? Ayahnya dimana?


"Emm... Bu. "


"Ya? "


"Papanya bu Intan ada dimana? "


"Papa ibu juga udah meninggal. Tapi makamnya ada di Kalimantan, tanah kelahirannya. " Jawabnya tersenyum. Dia terlihat baik-baik saja.


"Oh... " Aku mengangguk-anggukkan kepalaku.


Bu Intan terlihat senang. Dia terus saja tersenyum.


"Ibu seneng... Deh. Akhirnya kamu tinggal sama ibu. " Dia menatapku lembut masih dengan senyumannya.


Akhirnya? Tidak salah kan kalau aku merasa kata-kata bu Intan ini aneh?


Apa dia memang menungguku untuk tinggal di rumahnya? Untuk apa?


"I-iya, bu. " Aku hanya tersenyum canggung.


"Saat ibu pertama kali bertemu kamu, ibu sudah sangat senang melihatmu. Ibu ingin punya anak perempuan seperti kamu.


Kejadian yang kamu alami membuat ibu berniat untuk merawatmu. Walaupun itu mustahil. Karena kamu masih punya keluarga."


Aku masih diam mencerna kata-katanya.


"Kamu tidak keberatan kan, kalau ibu menganggap kamu anak ibu? "


"Ya. Saya tidak keberatan. " Ucapku sedikit bingung.


"Maaf kalau ibu membuatmu tidak nyaman. Bukannya ibu senang sesuatu yang terjadi dalam hidupmu membuatmu bisa bersama ibu, Ibu sendiri tidak menyangka kalau kamu akan mengalami kejadian yang menyedihkan. "


Aku memperbaiki ekspresiku. Ya. Mana mungkin bu Intan senang dengan penderitaanku?


Aku tidak boleh berpikiran buruk padanya. Sementara hatiku sendiri senang dan merasa tenang ketika bersamanya. Mungkin itu juga yang dirasakannya.


"Tapi kalau ibu kamu tidak mengizinkan, kamu juga belum tentu ada disini bersama ibu. "


Aku hanya mengangguk.


Sebenarnya aku penasaran, apa yang dikatakan bu Intan pada ibuku sehingga membuat ibuku terlihat tenang untuk melepasku?


.


.


.


.


.


.


.


bersambung...


.

__ADS_1


salam dari yuya ☺


__ADS_2