
Mereka menikah...
Tiga tahun setelah aku dilahirkan!
Apa ini tidak salah? Apa tanggalnya salah?
Aku masih terpusat pada angka itu saat bang Arka memanggilku. "Rain, kamu sedang apa di sini? " tanyanya lalu pandangannya tertuju ke arah buku di tanganku.
Aku menatapnya dengan penuh tanya. Kenapa aku merasakan ketakutan dalam pertanyaan nya?
Aku ingin membuka buku itu lagi, tapi bang Arka mencegahku. "Kamu dipanggil ibu, " ucapnya tegas namun terdengar seperti kegelisahan di telingaku. Dia mengambil buku itu dariku.
Aku masih ingin melihatnya. Ingin melihat status ibu dan bapak sebelum mereka menikah. Salahkah kalau aku ingin tau? Karena tahunnya saja sudah membuatku bingung. Tapi kenapa bang Arka melarangku?
"Bang, itu... "
Bang Arka menatapku dengan tatapan yang beragam, antara takut, cemas dan marah.
Kenapa?
"Kamu gak dengar barusan abang bilang apa?!" tanyanya tajam. Aku terkejut. Kenapa dia marah?
"Iya. Aku cuma mau ambil KK aja. " Aku berlalu pergi meninggalkan nya dengan perasaan ku yang aku sendiri tidak tau bagaimana.
Pikiranku masih tertuju pada angka-angka itu. Aku tidak salah lihat, tahunnya memang itu. Tahun 2000. Lalu, apa artinya ini?
Kalau itu salah ketik, kenapa reaksi bang Arka seperti itu? Kenapa dia tidak menjelaskan apa-apa dan malah marah? Tapi apakah mungkin bisa salah ketik?
Apakah ini alasan aku tidak boleh mengambil KK sendiri? Karena buku nikah itu?
Aku berjalan keluar sambil melamun. Aku sampai tidak sadar saat aku melewati ibu dan teman-temannya. Aku bahkan tidak pamit pada mereka.
Aku menaikki motorku dengan pikiranku yang kacau. Aku tidak bisa berpikir dengan tenang. Pikiranku seperti berlarian dan membuat kepalaku pusing.
Aku masih berada di atas motorku saat benda itu berhenti sendiri. Aku akhirnya tersadar aku berada dimana.
Ya ampun...
Untung aku belum sampai ke jalan raya. Entah apa yang akan terjadi jika aku berkendara sampai ke sana sambil melamun begini.
Aku turun dari motorku untuk melihat penyebab benda itu berhenti. Rupanya bensinnya habis.
Aku menghela nafas panjang dan mengedarkan pandangan, tempat pengisian bensin masih jauh.
Dan sialnya, kalau motorku kehabisan bensin, akan sulit dinyalakan kembali. Butuh waktu lama untuk menghidupkan nya.
Tadinya aku berniat untuk membeli bensin menggunakan motor bang Arka, namun angka-angka itu membuatku melupakan banyak hal.
Padahal bu Intan menitipkan sesuatu untuk ibuku. Itupun aku melupakannya, lagi-lagi karena angka itu. Aku mendorong motorku kembali ke rumah. Sepanjang perjalanan, aku terus teringat dengan buku nikah itu.
Aku berusaha berpikir positif, mungkin saja mereka mengulang pernikahan. Atau buku nikah itu dibuat setelah mereka menikah begitu lama. Ya, mungkin seperti itu.
Aku hanya bisa berspekulasi, menghibur diriku sendiri. Aku tidak ingin membuat diriku berpikir terlalu jauh.
Tapi...
Kenapa pikiran itu tidak bisa hilang?
Bang Arka, apa dia tau?
__ADS_1
.
.
.
Author POV
Rain terus berjalan sambil mendorong motornya. Berjalan dengan tidak memperhatikan sekitar. Beberapa orang bertanya padanya, namun dia tidak menjawabnya karena pikirannya berlayar entah kemana.
"Rain!! " Panggil seseorang dengan keras.
Rain mengerjap dan menatap orang itu. "Loh, Bu Yuni? Kok ibu di sini?"
"Lah, memangnya kenapa kalau saya di sini? Ini rumah saya, " perempuan itu menatap heran ke arah Rain. Rain melihat sekeliling, dia sudah sampai di dekat rumahnya.
"Kamu sendiri kenapa? Kok motornya didorong? "
"Bensinnya habis. "
"Kenapa gak diisi? "
"POM bensin masih jauh. "
"Di jalan yang kamu lewati tadi kan ada yang jual. "
Rain menengok ke belakang. "Dari sini udah gak keliatan. "
Perempuan itu membuang nafas pelan. "Lagian kamu ini kenapa? Kok jalan sambil melamun sampe gak sadar dengan sekitar ?"
Rain menggeleng.
Rain menatapnya cepat seolah penasaran. "Aneh gimana, bu? "
"Gak tau itu. Kita masih ngobrol sama bu Tini, eh dia keluar dari rumah mukanya udah nyeremin begitu. Gak biasanya dia begitu. Dia kan gak pernah marah sama ibunya. Tapi tadi kok tiba-tiba mau ada sesuatu yang dibicarakan sama ibunya katanya. Kita semua terpaksa pulang, karena dilihat aja udah gak enak begitu. "
Rain menjadi bertambah yakin kalau ada sesuatu yang tidak beres di balik fakta buku nikah itu. "ππ₯π’ π’π±π’ π΄π¦π£π¦π―π’π³π―πΊπ’, π£π’π―π¨? "
Rain pamit pada perempuan itu, berjalan lagi menuju rumahnya yang tinggal beberapa langkah saja dari tempat itu.
Di rumahnya, Arka sedang berbicara serius pada ibunya. Hastini hanya menangis saat emosi Arka benar-benar memuncak. Walau Hastini tau anaknya itu bukan marah padanya. Hastini pun menangis bukan karena kemarahan Arka, melainkan perihal Rain yang tak sengaja membuka buku nikah nya.
"Kenapa ibu ceroboh sekali? Apa yang akan terjadi kalau dia mengetahui yang sebenarnya, bu? " Arka mengacak-acak rambutnya dengan keras.
"Maafin, ibu. Ibu benar-benar lupa. Lalu bagaimana ini, Arka? Rain tadi bahkan tidak pamit pada ibu. Apakah dia sudah mengiranya? " Hastini menangis tersedu.
"Aku gak tau, bu. Kita terima saja kemungkinan itu. Menerima kemungkinan dia akan membenci kita. "
Hastini berbicara dengan lirih. "Rain tidak akan membenci kita, tapi yang ibu takutkan adalah orang-orang itu akan melenyapkannya saat mereka menemukan Rain. Ibu gak bisa terima itu. Ibu gak mau berpisah dengan dia. Ibu sayang dia, Arka. Ibu gak mau dia kenapa-kenapa. Tolong kamu hubungi dia dan jelaskan semuanya. Bilang padanya apapun untuk menutupi hal ini."
Arka terdiam.
"Arka, jawab ibu. "
"Aku gak tau, bu. Mungkin saja reaksiku sudah membuatnya curiga. Tapi kita tunggu saja bagaimana sikapnya nanti. Karena aku yakin Rain belum sepenuhnya tau. Mungkin saja dia hanya melihat sebagian dari buku itu."
"Lalu, kenapa dia pergi tanpa pamit? " Arka tidak menjawabnya.
"Hubungi dia, Arka. Ibu tidak mau dia kenapa-kenapa dan berpikir buruk. "
__ADS_1
"Ponselnya tidak bisa dihubungi. " Air mata kembali berjatuhan di pipi Hastini.
Sementara itu, Rain yang sampai ke rumahnya tanpa suara merasa heran karena rumahnya tampak sepi, namun pintu rumahnya sedikit terbuka.
Rain mengambil sebuah kotak yang di titipkan Intan untuk ibunya. Ia tak ingin lupa lagi. Namun baru beberapa langkah dia masuk, terdengar suara tangisan ibunya dari dalam kamar.
Sebenarnya dia terkejut dan akan menghampiri ibunya, namun percakapan antara ibu dan kakaknya membuatnya menghentikan langkahnya dan menempelkan tubuhnya ke dinding.
Rain mendengar dengan jelas kalau mereka sedang membahas tentang buku nikah itu. Rain diam dan menajamkan pendengarannya.
"Apakah sebenarnya dia tau dan menghindar dari ibu? Arka, ibu benar-benar takut. Ibu belum siap dia mengetahui semuanya sekarang. Tolong lakukan sesuatu."
"Aku gak tau, bu. Aku sebenarnya juga gak mau seperti ini, tapi sepertinya aku bersalah karena telah bereaksi seperti itu. Jujur aku gak bisa kendalikan emosiku waktu Rain lihat buku itu. "
"Apa saja yang sudah dia lihat, Arka? " Hastini terus saja menangis. Arka terdiam.
"Ibu tau suatu saat dia pasti akan pergi, tapi ibu belum siap. Mungkin ibu egois karena tidak merelakan dia bertemu dengan keluarganya. Tapi keluarganya juga belum tentu baik untuknya. "
"Kita harus relakan dia pergi, bu. " Hastini menggeleng. "Tidak sekarang, Arka. "
"Bu, ini semua juga karena kecerobohan ibu. Coba ibu tidak membiarkan dia mengambil KK sendiri."
"Ibu benar-benar tidak sadar, Arka. "
"Hah... Kita hadapi saja, bu. Apapun yang akan terjadi kedepannya. Mungkin ibunya masih hidup dan ingin bertemu dengannya. kita biarkan dia menemukan ibunya. Ibu sendiri adalah seorang ibu. Ibu pasti bisa memahaminya. "
"Arka, ibu belum siap Rain mengetahui kalau ibu ini bukanlah ibu kandungnya. Ibu belum siap dia bertemu ibu kandungnya dan membuatnya dalam bahaya. "
Bruk
Kotak yang dipegang Rain terjatuh dan membuat Arka yang membelakangi pintu menoleh dengan terkejut. "Rain! "
Hastini yang duduk bersandar di ranjang seketika bangkit. "Rain, ibu... "
Rain berjalan perlahan dengan mata yang menatap mereka kosong. Air matanya yang tergenang jatuh dengan derasnya.
"Bu, " lirihnya sambil mengangkat tangan untuk menyentuh ibunya.
Hastini menyambutnya dengan tangisan yang tertahan. Hatinya merasa sakit melihat Rain seperti itu. Mungkin saja dia sudah mendengar apa yang mereka ucapkan.
"Aku anak ibu, kan? Aku anak ibu. Rain adalah anak ibu. "
πΌπΌπΌπΌπΌ
.
.
.
.
bersambung...
.
.
.
__ADS_1
salam dari Yuyaππ