Pelangi Tanpa Batas Warna

Pelangi Tanpa Batas Warna
Ada Apa?


__ADS_3

.


.


Suasana di ruangan terasa hening. Hanya terdengar suara tangisanku seorang. Bu Intan mencoba menenangkanku.


Walaupun Adi hanya teman kerjaku, tapi saat kehilangan untuk selamanya rasanya hatiku kembali sakit. Bagaimana pun, Adi juga pernah menjadi orang terdekatku. Menjadi salah satu temanku.


Andre memintaku untuk tidak ikut datang. Lagipula percuma. Saat aku datang, Adi pasti sudah dikuburkan. Jarak tempuh yang jauh menjadi salah satu alasannya. Andre saja dikabari saat Adi sudah dimandikan. Itupun katanya setelah keluarganya Adi melihat secarik kertas berisi pesan yang aku tidak tau pesan apa itu.


Andre akan memberitahukannya padaku nanti.


Kesedihanku membuat suasana gembira yang dirasakan Kana berubah. Kana tampak sedih melihatku yang menangis. Dia duduk di sampingku dan ikut mengusap-usap bahuku.


Akhirnya aku pamit pada mereka, tak ingin melanjutkan kesedihanku dihadapan mereka. Rasanya tak enak juga kalau mereka melihatku yang terus menangis.


Aku menenangkan diriku di kamar. Setelah beberapa lama akhirnya tangisku terhenti. Aku bergegas ke kamar mandi setelah mendengar suara adzan. Lebih baik aku shalat untuk membuat diriku lebih tenang.


.


.


.


***\=\=\=***


.


.


.


Dingin....


Hanya itu yang aku rasakan dalam kegelapan. Tanpa melihat apapun dan akupun hanya diam tak ingin memperdulikan apa yang sedang terjadi.


Tapi...


Suara tangisan perempuan membuatku terkejut.


Dimana aku?


Samar-samar dapat kulihat seorang perempuan sedang terduduk sambil menangis. Aku datang menghampirinya. Dia membelakangiku. Bahunya bergetar kuat dan tangisannya terdengar begitu memilukan.


Aku berjongkok mensejajarkan posisiku. Aku mengusap bahunya dan dia menoleh.


Aku terkejut melihat wajahnya yang ternyata dia adalah perempuan yang selalu membuatku takut. Tapi kali ini dia terlihat begitu rapuh.


Dia memutar tubuhnya sehingga kini dia menghadap ke arahku dan terlihatlah seorang bayi dalam dekapannya. Seorang bayi yang lucu.


Seorang bayi dengan garis luka memanjang di dahinya.


Aku menatap mata bayi itu dan garis luka di dahinya bergantian. Lalu aku meraba garis luka di dahiku.


Luka di dahiku menghilang!


Tiba-tiba tubuhku seakan terdorong sesuatu dan aku terjatuh!


Aku terbangun!


Ternyata aku hanya mimpi?


Aku terkejut sekali saat aku mimpi terjatuh tadi. Seakan aku benar-benar jatuh.


Aku tidak terlalu peduli dengan tamu di mimpiku itu. Walaupun dia sudah jarang bertamu dan walaupun dia tampak sedih.


Aku melihat sekeliling kamarku. Sepertinya ini masih malam. Aku tidak bisa melihat jam karena keadaan ruangan yang gelap.


Aku berjalan untuk menyalakan lampu, tidak berniat melihat jam. Aku berjalan ke luar kamar untuk mengambil air minum di dapur.

__ADS_1


Belum sampai aku di sana, aku sudah di kejutkan dengan suara dua orang yang sepertinya sedang berdebat.


Itu suara bu Intan dan suaminya.


Apa yang mereka perdebatkan? Apa boleh aku menguping?


"Mama mohon, Pah. Biarkan dia di sini. Mama yakin tidak akan terjadi apa-apa. "


"Ma, tapi dia itu seorang gadis. Papa gak mau kalo sampe terjadi apa-apa dengan anak gadis orang! " Suaminya bu Intan yang bernama Pak Ardian itu tampak kesal.


Bu Intan menangis. Kenapa sampai dia menangis? Sepertinya yang mereka perdebatkan adalah aku.


"Pa... Biarkan dia di sini. Apa papa lupa bagaimana perilaku kedua anak kita? Mama yakin sekali semua akan baik-baik saja. "


Pak Ardian terdiam.


"Mama sudah menyayangi dia, Pa. Izinkan dia tinggal bersama mama. " Suara bu Intan melemah.


"Papa tau mama sayang sama dia. Tapi Papa gak mau ambil resiko karena kita menampung anak gadis orang. Biarpun anak kita tak jadi masalah, tapi dia pasti akan menjadi masalah bagi kita saat dia berhubungan dengan orang lain di luar sana. " Pak Ardian menghembuskan nafas kasar.


"Papa gak mau kena imbasnya, Ma. Mama ngerti, kan? "


"Tapi Rain itu anak yang baik. Lagipula dia bisa menjaga diri. Mama yakin dia tidak akan merugikan kita. " Bu Intan terisak.


"Sebenarnya, Mama seperti melihat Rara dalam diri Rain, Pa. " Bu Intan semakin tersedu sampai suaranya bergetar.


Pak Ardian terlihat terkejut dan bingung.


"Kenapa bisa sampai Mama menganggap dia seperti itu? "


"Mama juga gak tau. Mama mohon, biarkan Rain tinggal di sini. Mama sangat tenang saat melihat dia. "


Pak Ardian membuang nafas perlahan dan akhirnya berucap setelah terdiam beberapa saat. "Baiklah. Kalau itu membuat Mama tenang. Walaupun sebenarnya Papa khawatir akan terjadi apa-apa pada anak itu. Tapi demi Mama, Papa akan izinkan dia tinggal di sini. "


Bu Intan memeluk suaminya sambil menangis haru. "Makasih ya, Pa. Karena Papa mau mengerti Mama. "


"Iya."


Tapi sekarang pikiranku lebih tertuju pada bu Intan, tentang Rara.


Itu adalah nama bayi yang ditangisi bu Intan di permakaman.


Ya. Aku masih ingat jelas nama bayi itu.


Sepertinya memang benar kalau Rara adalah anak bu Intan. Dan dugaanku tentang keluarga ini pasti juga benar. Keluarga ini menyimpan banyak rahasia yang bahkan anak-anak mereka saja tidak tau.


Aku pernah menanyakan tentang Rara pada Kana. Tapi Kana mengatakan bahwa Rara adalah anak dari temannya bu Intan.


Dan mungkinkah aku di sini karena bu Intan memang merencanakan ini karena dia seperti melihat Rara dalam diriku?


Haaah....


Aku pusing.


.


.


.


***\=\=\=***


.


.


.


Ace POV

__ADS_1


Sarapan di pagi ini terasa berbeda. Terasa ramai dengan adanya kedua orang tua Kana. Mereka masih di sini karena rencananya mereka akan menginap selama tiga hari di sini.


Kami duduk bersiap untuk sarapan. Tapi seseorang yang biasanya hadir di meja ini belum selesai dengan pekerjaannya di dapur. Jadi kami masih menunggunya datang sambil mengobrol.


Entah kenapa aku memikirkan Rain. Melihatnya menangis kemarin membuatku merasa kasihan. Padahal biasanya aku tak pernah peduli dengan apapun masalahnya.


Mungkin dia sangat merasa kehilangan atau mungkin orang yang meninggal itu sangat berarti untuknya, makanya dia terlihat sangat sedih kemarin.


Tak lama Rain pun datang. Aku terus melihat ke arahnya sepanjang dia berjalan menuju meja makan. Senyum manis tak pernah pudar dari wajahnya. Selalu ia tampakkan ketika bertemu dengan kami di meja makan.


Sebenarnya dia sering tersenyum, walau kadang ekspresinya kaku. Hanya padaku saja dia sering menunjukkan wajah kerasnya.


Aku meneliti wajahnya. Matanya tidak sembab, tapi kantung matanya tampak sedikit menghitam. Aku terus menatapnya sampai dia duduk pun aku tidak berhenti melakukan itu.


Dia melihat ke arahku dan dari tatapannya, sepertinya dia bingung. Mungkin dia bingung kenapa aku terus melihatnya. Aku juga tidak tau kenapa aku ingin melihatnya.


Dia menunduk memutuskan tatapan kami. Tapi hatiku merasa tak puas ketika dia melakukan itu.


Dan lagi, aku tidak tau apa alasannya.


.


.


.


Aku menemui Kana di kamarnya, berniat mengajaknya berangkat bersama. Karena jalan menuju kampusnya searah dengan tempat kerjaku. Tapi lagi-lagi dia menolaknya.


Entah sudah yang keberapa kali Kana menolak ajakanku, bahkan sudah tak bisa kuhitung.


Kana akhir-akhir ini selalu menghindari ku. Walaupun dia tetap ramah seperti biasanya, tapi aku merasakan ada yang berbeda dengannya.


Semenjak aku melarangnya terlalu dekat dengan Rain. Semenjak itu pula Kana menunjukkan sikap protesnya.


"Bukankah Rain yang memenangkan pertandingan kalian? Lalu kenapa aku tidak boleh menuruti apa yang menjadi keinginannya? Apa yang salah? " Aku ingat dia terlihat kesal saat mengatakan itu beberapa minggu lalu.


Tanpa meminta persetujuanku dia berteman baik dan selalu dekat dengan Rain.


Mereka selalu pergi bersama. Kana bahkan tak pernah lagi pergi bersamaku. Dia seolah tak peduli lagi padaku.


Apakah aku se salah itu hingga dia kini menjauh dariku?


Aku merasa tidak nyaman setiap kali melihat dia tersenyum dan bahkan tertawa lepas bersama Rain. Walaupun aku tak lagi melihat ekspresi takut dan rapuh dari wajahnya. Aku tetap tidak senang. Entah apa yang diperbuat Rain pada Kana.


Akhirnya aku bersiap dan berangkat sendiri. Tapi pemandangan di halaman membuatku merasa kesal.


Rain dan Kana saling melempar senyum dan seolah tak memperdulikan aku yang berada tak jauh dari mereka.


Jadi sekarang Kana berangkat dengan Rain? Walau arah tujuan mereka berbeda?


Aku mendahului mereka dan kugas kuat mobilku saat melewati mereka. Mereka tampak bingung.


Sebenarnya ingin sekali aku memisahkan mereka. Tapi itu tak mungkin kulakukan.


.


.


.


.


bersambung....


.


.


.

__ADS_1


salam dari yuya😉😉😘😘


__ADS_2