
.
.
Rain menatap mereka datar dan berjalan santai ke arah mereka. Beberapa lampu yang berada di jalan membuat suasana tidak segelap di lahan kosong tadi.
Rain bisa melihat orang-orang itu memakai pakaian hitam. Jumlah mereka sekitar sepuluh orang dan semuanya laki-laki bertubuh atletis.
Mereka melihat Rain setelah berbincang dengan si orang yang berlari ke jalan. Lalu beberapa dari mereka berjalan menghampiri Rain dan sebagian pergi ke lahan kosong. Mungkin untuk menjemput teman mereka yang tidak berdaya di sana.
Rain menatap orang-orang yang menghampirinya. Namun Rain terkejut saat mereka mendekat dan langsung menyerangnya.
Rain yang sendiri menghadapi enam orang sekaligus. Mungkin tidak sepadan. Apalagi Rain sudah bertarung sebelumnya.
"Cukup sudah bermainnya, Nona, " ucap salah satu dari mereka di sela-sela pertarungan.
Rain terengah-engah karena dia sudah menguras sebagian tenaganya tadi. "Aku juga tidak sedang bermain. "
Rain tersungkur ketika mereka menendangnya saat dia lengah. Salah satu dari mereka menginjak tubuhnya yang telungkup. Membuatnya merasakan sakit di dadanya.
"Kami tidak sebodoh mereka. Orang sepertimu harus dilawan dengan perlahan dan dengan ketenangan. " Orang itu tersenyum sinis.
Namun keadaan itu berbalik saat Rain bangkit dan langsung menarik kakinya hingga orang itu jatuh. Rain menekuk kakinya sekuat tenaga. Membuat orang itu berteriak kesakitan.
Teman-temannya menarik Rain dan memukul tubuh dan wajahnya hingga darah segar keluar dari sudut bibirnya. Yang lainnya membantu orang yang berteriak itu.
Rain berusaha melawan dengan sisa tenaganya. Namun satu dari mereka mendorongnya hingga dia terbaring di tanah.
Orang itu menindih tubuhnya dan mencekiknya. Namun segera disadarkan oleh temannya. "Jangan bunuh dia! Kita hanya diperintahkan untuk melumpuhkannya dan membawanya nanti."
Rain terbatuk saat orang itu melepaskan tangannya dari lehernya. Orang itu menatapnya kesal.
Rain terengah-engah dan segera duduk. Mereka membiarkannya karena merasa cukup membuat Rain mengalah.
"Ikutlah bersama kami. Maka kami tak akan menyakitimu lagi. "
Rain tersenyum sinis. "Siapa yang menyuruh kalian? Apa kalian bisa menjamin aku tak akan disakiti lagi nanti? "
Mereka tak menjawab dan justru mendekati Rain. Berniat untuk berdamai. Salah satu dari mereka berjongkok di samping Rain lalu mengulurkan tangan.
Rain melihat tangan itu tanpa berniat menyambutnya. Orang itu menunggu dengan sabar. Tapi Rain malah memalingkan wajahnya. Si orang yang mencekik terlihat geram.
"Mari kita bertarung lagi. Karena tidak mungkin aku akan baik-baik saja setelah mengikuti kalian. Mari kita lihat, aku atau kalian yang akan berhasil. " Rain menatap mereka setelah mengucapkan itu.
"Namun, aku tak yakin kekalahan ku bisa menjadi keberhasilan untuk kalian, " lanjutnya dengan tatapan sinis.
Orang di sebelahnya menghela nafas pelan. "Aku sudah memperingatkan mu. "
"Tapi kamu tidak bisa menjamin keselamatan ku setelah aku ikut denganmu. Iya, kan? Jadi lebih baik kita habiskan sisa tenaga kita. "
Orang itu membuang nafas kasar dan mengeratkan tulang pipinya. Menatap Rain yang kini sudah berdiri tegak. Bersiap untuk melawan mereka.
"Mari." Rain sudah bersiap.
Tiba-tiba, orang yang tadi mencekiknya menubruk tubuhnya hingga mereka berdua jatuh ke tanah. Teman-temannya melihat itu dan terkejut. Rain dan orang yang menubruknya pun sama.
Rain melotot saat laki-laki itu tak sengaja menciumnya. Laki-laki itu pun terkejut dan menatap Rain dengan matanya yang melebar.
"Apa yang kamu lakukan?! "
"A-aku... " Laki-laki itu bangkit dengan gugup.
"Bima! Loe apa-apaan sih?! "
__ADS_1
"Gue gak sengaja, " jawabnya sambil mundur perlahan memegangi dadanya yang berdetak hebat.
Teman-temannya menatapnya kesal lalu melihat Rain yang sudah mulai mengamuk.
"Hiyaaaa.... Dasar laki-laki kurang ajar!! "
Rain berjalan cepat ke arah Bima. Namun, dia dihentikannya oleh teman-temannya dan mereka lah yang kini dapat amukan dari Rain.
Bima hanya melihat mereka berkelahi. Seolah dia syok dengan apa yang terjadi barusan. Saat beberapa orang datang pun dia masih belum sadar.
Rain memukuli lagi orang-orang itu. Mereka pun akhirnya melawan Rain lagi. Menyingkirkan niat untuk berdamai dengannya.
Rain terus beradu hingga tidak memperhatikan sekitarnya. Bahwa kini bukan hanya mereka yang ada di sana.
Rain hendak memukul seseorang. Namun, orang itu memanggil namanya berulang-ulang hingga Rain kini melihat dengan jelas ke wajahnya. Seorang pria paruh baya.
Kedua alisnya bertaut melihat pria itu. Namun Rain tak peduli dan akan memukul lagi.
"Saya suruhannya Nyonya Atma! "
Rain berhenti. "𝘉𝘶 𝘐𝘯𝘵𝘢𝘯? "
Orang itu menunjukkan wajah Intan yang sedang khawatir disebuah layar ponsel. Intan memanggilnya. Rain menghela nafas, mengatur emosinya.
Rain dan Intan mengobrol sebentar, lalu Rain memutuskan sambungan. Kembali pada laki-laki paruh baya tadi.
Rain melihat sekeliling. Orang-orang yang menghajarnya tadi sudah pergi. Tanpa sisa. "𝘉𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘴𝘢𝘥𝘢𝘳 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘪𝘯𝘪?"
Rain melihat banyak sekali orang di sana. Rain meyakini mereka adalah orang suruhannya Intan. Mereka diam di dekat mobil. Rain menatap pria paruh baya itu. "Kenapa kalian baru datang sekarang? " tanyanya dingin.
Yang ditanya menunduk. "Maafkan kami. "
"Kalau sampai kalian terlambat, aku tidak tau apa yang akan terjadi. "
Rain membuang nafas pelan. "𝘔𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘣𝘶𝘯𝘶𝘩 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘯𝘶𝘩. 𝘚𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘴𝘢𝘥𝘢𝘳. "
"Ayo pulang. " Rain berjalan menuju motornya dan meninggalkan mereka.
"Nona, silahkan ikut kami. Ini adalah perintah Nyonya Atma. "
Rain berbalik dan masuk ke mobil tanpa menjawab. Melihat salah satu dari mereka mengendarai motornya lalu dia memejamkan matanya.
.
.
.
"Kita mau kemana? " tanya Rain pada supir.
"Ke rumah sakit, Nona. Ini perintah Nyonya Atma. "
"Bawa aku ke rumahnya. "
"Tapi ini perintah. "
"Tapi aku tidak mau. Lagipula aku baik-baik saja. "
"Sepertinya Nona tidak baik-baik saja. "
"Aku yang lebih tau tentang diriku. Bawa aku pulang, atau aku akan melompat dari sini. "
"Baiklah." Supir itu mengalah.
__ADS_1
"𝘋𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘬𝘦𝘢𝘥𝘢𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘪𝘯𝘪, 𝘣𝘪𝘢𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳𝘨𝘢𝘬𝘶 𝘭𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯𝘬𝘶. 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘬 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘣𝘢𝘳𝘪 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢. 𝘈𝘱𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘳𝘪𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪? 𝘋𝘪 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨?"
.
.
.
"Dasar bodoh! Kalian sudah aku peringatkan, tapi kenapa kalian masih melakukan itu?! "
"Maafkan kami. Kami tidak tau dia bisa seperti itu."
"Kata maafmu tidak bisa mengubah apapun! " Orang itu menatap beberapa orang yang lain. "Lalu kalian juga sudah tau kan, apa yang terjadi pada teman kalian, kenapa kalian ceroboh?!"
"Maafkan aku, Miss. Aku tidak sengaja melakukan itu padanya. Aku hanya berniat melumpuhkan nya. "
"Tapi perbuatanmu membuat dia kembali kuat, kan? Hahaha... Sungguh sifat yang sangat aku benci darinya. "
"Kami akan mengatur lagi rencana selanjutnya. "
"Lalu kalian akan mati konyol? Tidak perlu. Kalian awasi saja dia. Aku akan menghadapinya sendiri setelah mempermainkannya. Tidak mudah membuatnya menderita. Namun sangat mudah membuatnya menderita karena orang-orang terdekatnya."
.
.
.
"Rain... "
Intan menghampiri Rain saat gadis itu turun dari mobil. Rain diam mematung dengan tubuh yang sedikit gemetar. Air mata sudah menggenang di pelupuk matanya.
Intan memeluknya. "Bagaimana keadaanmu? Kenapa kamu tidak mau dibawa ke rumah sakit? "
Rain masih diam. Intan menatap wajahnya. Wajah yang tidak baik-baik saja. Ada beberapa luka lebam di sana dan juga darah yang mengering di sudut bibirnya.
Tubuh Rain gemetar. Air matanya sudah berjatuhan walaupun dia tidak berkata apa-apa. Intan kembali memeluknya.
"Tenanglah, nak. Kamu sudah di rumah. Maafkan ibu yang terlambat mengetahui ini. "
Rain terisak. Intan terus mengusap punggungnya. Berusaha menenangkan gadis itu.
.
.
.
bersambung...
.
.
.
mungkin bab ini sedikit memusingkan...
.
.
.
__ADS_1
salam dari Yuya....