
Tak terasa waktu sudah berlalu begitu cepat. Beberapa minggu telah berlalu dan bebanku pun turut berkurang. Aku menjalani hariku dengan tenang sebelum tiba saatnya aku mencari informasi tentang keluarga ku.
Aku tidak ingin terburu-buru walaupun aku sudah sangat ingin bertemu dengan ibuku. Tapi ini setidaknya membuat ibu yang telah merawatku tidak merasa tersisihkan dan terlupakan. Beliau tampak murung beberapa minggu yang lalu. Aku rasa dia sangat khawatir dan juga takut kalau aku tidak menyayanginya seperti dulu. Walaupun aku terus meyakinkan nya bahwa hal seperti itu tidak akan terjadi.
Beberapa waktu yang lalu aku sempat takut kalau keluarga ku diganggu lagi. Namun sepertinya aku tidak perlu menghawatirkan akan hal itu. Sepertinya, Ammar benar-benar ingin berdamai dengan ku. Aku sempat takut kalau dia membuat kekacauan dalam keluarga ku.
Tapi masih ada hal yang membuat perasaanku mengganjal. Arza. Aku benar-benar belum bertemu dengan dia. Entah dimana dia berada saat ini. Aku berkunjung ke rumah nya pun dia tidak ada disana. Padahal aku sudah memberanikan diri untuk datang ke rumah nya. Namun aku harus kecewa karena ternyata Arza sudah lebih dari satu bulan tidak tinggal di rumah itu.
Aku benar-benar ingin meminta maaf dan berterima kasih pada nya. Tapi sepertinya dia tidak memberikan kesempatan itu pada ku. Andai saja aku bisa mengikuti Ammar saat dia pulang ke rumah nya, mungkin aku bisa mencari tau dimana Arza berada. Tapi pemuda itu seolah tau setiap kali aku mengikutinya. Dia pulang ke tempat yang berbeda setiap aku mencoba mengikutinya.
Dia bahkan dengan terang-terangan mencegatku dan meminta ku untuk tidak menguntitnya. Karena menurutnya, percuma saja aku melakukan semua itu, tidak akan ada gunanya. Dan aku hanya bisa pasrah saat ini. Mungkin Arza benar-benar ingin menghindari ku.
.
.
.
Malam ini terasa sunyi. Setelah sore tadi hujan turun, suasana di rumah ini jadi terasa ikut dingin. Penghuni rumah ini tidak ada yang berkeliaran. Hanya beberapa penjaga di depan sana yang bergantian memeriksa keadaan sampai ke belakang rumah. Itu selalu dilakukan setiap hari oleh mereka.
Aku duduk di tepi kolam dengan santai. Menjawab sapaan mereka ketika mereka melihat ke arah ku. Aku belum bisa tidur. Lagipula ku rasa ini masih terlalu awal untuk tidur. Ini masih jam setengah sembilan malam.
Aku sudah menelpon ibu bahkan juga Zee. Aku ingin menghubungi seseorang saat ini. Aku rindu dia. Seharian dia tidak ada kabar dan ponselnya selalu sibuk. Panggilan ku tak pernah dia jawab. Aku menjadi khawatir. Apakah dia baik-baik saja?
Tepat saat aku menatap ponselku, benda itu berdering dan layarnya yang menyala menampakkan nama seseorang yang sedang aku rindukan saat ini. Aku tersenyum bahagia. Segera aku menjawab panggilannya.
"Hai," sapaku memulai bertepatan dengan suara orang menguap di seberang sana.
"Hai," jawabnya yang kurasakan dia sedang tersenyum.
"Kenapa tidak ada kabar seharian ini? " Aku tidak berniat menyimpan pertanyaan ku.
"Maaf, hari ini aku sangat sibuk. Ada beberapa orang yang bekerja dengan ku hari ini, dan mereka orang-orang penting. Aku tidak enak kalau-"
"Seharusnya kamu kabari aku dulu agar aku tidak mengganggumu. Aku sangat khawatir, Ace."
"Maaf, sayang. Tapi aku baik-baik saja kok. Jangan terlalu cemas."
"Bagaimana aku tidak cemas sementara kamu sendirian di sana. "
"Aku sudah besar. Aku bisa menjaga diri. Kalau ada apa-apa, pasti aku hubungi kamu atau pun mama. Lagipula, disini ada beberapa orang karyawan mama yang menjagaku walaupun tidak serumah dengan ku."
__ADS_1
"Baiklah."
Dan kami mengobrol tentang banyak hal, seperti biasanya. Rasanya aku tak bosan untuk bercerita padanya. Dia pun melakukan hal yang sama. Ace tampak antusias untuk menceritakan apa yang dilaluinya walaupun cerita nya setiap hari hampir sama, yaitu tentang pekerjaan dan juga orang-orang yang bertemu dengan nya. Tapi sepertinya dia selalu punya hal menarik dengan pekerjaannya.
"Bagaimana dengan keluarga mu saat ini? Apa kalian baik-baik saja?" tanya Ace karena aku tidak setiap hari menceritakan tentang keluarga ku.
"Aku dan mereka baik-baik saja."
"Syukurlah. Benar kan? Semua akan baik-baik saja. Keluarga mu itu adalah orang yang baik."
Aku tersenyum dengan ucapannya. "Ya, kamu benar. Mereka memang orang-orang yang baik."
Kami terdiam beberapa saat, hanya terdengar suara jangkrik yang turut menemaniku di gelapnya malam ini.
"Ehm... Aku mungkin akan pulang sekitar satu bulan lagi."
Perasaan ku mendadak seperti melayang. Aku bahkan tak bisa menahan senyumku karena kabar yang ia berikan. Kabar ini tidak pernah dia ucapkan.
"Benarkah? Baguslah kalau begitu. Kamu bisa beristirahat dari lelahnya pekerjaan di sana." Aku berusaha untuk menyembunyikan perasaan senang ku.
"Hanya itu?"
"Tidak ada yang lainnya lagi?"
Aku tersenyum dengan dadaku yang berdetak tak karuan. Perasaan senang ku seakan membuncah. Mengingat dia akan melamar ku ketika dia pulang nanti.
"Menurutmu?"
"Kenapa malah balik bertanya? Aku takut seseorang lupa dengan janji yang aku berikan."
"Sepertinya tidak ada yang lupa." Aku tersenyum lagi. Ingin rasanya aku melihat wajahnya saat ini. Apakah dia juga tersenyum seperti ku? Tapi aturan dari Bu Intan untuk kami yang hanya diperbolehkan untuk saling mengabari lewat telepon tak bisa kami abaikan. Aku tidak tau kenapa Bu Intan memberi aturan seperti itu.
Kami terdiam beberapa saat. Rasanya aku sendiri kesulitan untuk bicara karena perasaan ku ini. Mungkin dia juga sama.
"Rain..." Akhirnya dia memanggilku.
"Ya?"
"Aku merindukanmu. Tunggulah aku datang dan aku akan melamarmu. "
Aku benar-benar tak bisa menahan senyumku. "Ya. Aku akan menunggu. Aku juga sangat merindukanmu, Ace."
__ADS_1
"Terima kasih."
Dan kami terdiam lagi.
"Rain..."
"Ya?"
"Andai kamu bisa melihat wajahku saat ini. Pasti kamu akan mengira kalau aku ini aneh."
"Kenapa?"
"Bibirku tak bisa tertutup."
"Kenapa?" Aku menjadi khawatir.
"Aku sangat senang. Aku terus saja tersenyum. Kalau bisa, aku ingin berteriak karena saking senangnya."
Aku tersenyum malu dengan ucapannya. "Kamu ini. "
"Apa kamu juga sama?"
Aku tidak langsung menjawab nya. "Pipiku bahkan sampai pegal." Aku mendengarnya tertawa pelan. Aku hanya tersenyum karena merasa malu.
Kami mengobrol lagi cukup lama hingga ku dengar dia terus saja menguap. Akhirnya aku menyudahi pembicaraan kami karena aku kasihan padanya yang pasti kelelahan dengan pekerjaannya. Dia yang seperti nya enggan untuk melakukan itu tetap menuruti ucapanku. Kami memutuskan sambungan dan aku kembali dengan suasana sepi di rumah ini.
.
.
.
bersambung...
.
.
.
salam dari Yuya 😘😘
__ADS_1