Pelangi Tanpa Batas Warna

Pelangi Tanpa Batas Warna
Musibah


__ADS_3

.


.


Keesokan harinya. Rain ke bengkel seperti biasanya. Dia mengendarai motornya dengan santai.


Ketika dia sampai di bengkel, dia keheranan melihat teman-temannya yang tampak lesu sedang duduk di bangku.


"Kenapa nih? Kok belum pada mulai? " Ucap Rain sambil turun dari motornya.


"Bengkel kemalingan. " Ucap si pemilik bengkel.


Rain jelas terkejut. "Loh! Kok bisa? Kapan? "


"Tadi malam. Pagi gue buka, udah berantakan aja di dalem. Banyak barang yang hilang. Padahal duit gue baru aja gue belanjain buat barang itu. Duit gue di rumah juga ilang. Gimana lagi? Libur dulu sekarang. Mau belanja juga duit gue kurang." Orang itu tampak kesal dan lesu.


Rain duduk di sampingnya dengan ekspresi kebingungan. Dia berpikir ke sana kemari.


"Loe udah lapor polisi? "


Temannya hanya berdecak dengan wajah yang kesal.


Mereka pun terdiam.


Rain memijat pelipisnya yang terasa nyeri. π˜’π˜°π˜¬ 𝘒π˜₯𝘒... 𝘈𝘫𝘒, 𝘺𝘒. Batinnya.


.


.


Akhirnya Rain pulang ke rumahnya. Sampai di rumah pun dia masih di buat terkejut. Di depan rumahnya tampak ramai orang. Dagangan ibunya terlihat berantakan.


"Kenapa ini, bu? "


"Tadi ada orang gila ngamuk terus hamburin barang-barang ibu. Rusak semua ini. " Jawabnya terlihat lelah.


"Mana orangnya? "


"Udah dibawa warga. Gak tau kemana. "


Rain mengusap wajahnya pelan.


"Ya ampun... " Ucapnya masih dengan tangan di wajahnya.


.


.


.


"Assalamu'alaikum, bu Intan... "


Rain menghubungi Intan dan mengatakan kalau ibunya sudah setuju dan dia akan segera pergi ke sana. Intan terdengar senang di seberang sana. Kejadian hari ini membuat Rain tak bisa ikut merasa senang.


"Ya sudah. Nanti ibu jemput kamu. "


"Hari ini juga? "


"Tentu saja. Bukannya kamu ingin segera bekerja? "


"Bisa tidak bu, saya perginya besok saja. Saya masih ada urusan hari ini. Adik saya juga masih sekolah. "


"Ya. Yang penting kamu datang. "


Rain duduk termenung di kamarnya lalu mengambil buku tabungan dari lemarinya dan melihat-lihatnya. Rain sebenarnya berniat untuk berpamitan pada temannya tadi. Tapi keadaan membuatnya mengurungkan niatnya.

__ADS_1


Rain berpamitan pada ibunya untuk pergi ke bengkel lagi. Rain tidak bercerita pada ibunya tentang kejadian di bengkel.


Rain disambut tatapan bingung temannya saat dia sampai di bengkel.


"Kok loe balik lagi? "


"Gue ada perlu sama loe. "


Mereka duduk di bangku. Rain mengambil sebuah amplop dari dalam tasnya. Dia mengambil uangnya saat akan ke bengkel.


"Gue besok mau pergi. Gue ada tawaran kerja di Jakarta. Maaf kalo mendadak gue kasih taunya. Sebenarnya tadi pagi gue mau bilang, cuman keadaannya lagi kurang baik. "


Temannya diam menunduk. Rain memberikan amplop itu pada temannya. "Ini gue ada sedikit buat loe. Ini bisa buat modal loe lagi. Emang gak seberapa, tapi mungkin bisa ngebantu loe. Ya... Sebelum gue pergi. Nih... "


Orang itu masih diam tak berniat mengambilnya dari Rain. Rain mengambil tangan temannya lalu amplop itu dia taruh di tangan temannya.


"Gue gak bisa terima. Gaji loe aja belum gue bayar. Kalo loe emang mau pergi, silahkan. Gue gak pa-pa. Gue senang loe udah dapet kerjaan baru. " Ucapnya terlihat lesu sambil memberikan amplop itu kembali.


"Ini loe ambil aja. Kalo loe merasa gak enak, ini anggap aja gue minjemin ke loe. Tapi gak usah dijadikan beban juga buat bayarnya. Masalah gaji gak usah loe pikirin, gue gak akan minta bayaran dari loe. Gue senang bisa bantu loe. Selama ini juga loe udah banyak bantu gue. "


Rain menyerahkan kembali amplop itu. Kini temannya tidak menolak.


Temannya mengambil nafas dalam dan membuangnya perlahan. "Makasih banyak, ya. Loe emang temen baik gue. Padahal gue gak banyak berbuat apa-apa buat loe. Semoga usaha loe lancar di sana. Semoga loe sukses dan betah di sana. Jaga diri loe baik-baik. " Orang itu menepuk-nepuk bahu Rain. Rain tersenyum padanya.


"Oh, ya. Yang lain pada kemana? Gue mau sekalian pamit sama mereka. "


"Kayaknya mereka lagi pada gak ada. Karena gak ada kerjaan, mereka pada main. Nanti gue sampein ke mereka kalo loe pergi. "


"Ya udah deh. Gue pergi dulu. "


"Ya. Hati-hati. "


Rain pun melajukan motornya. Rain berniat menemui Arza. Tapi hari belum lah siang. Pasti temannya itu sedang sibuk bekerja.


.


.


.


\=\=\=\=\=\=\=\=


Rain memijat pelipisnya yang terasa semakin sakit. Dia, ibu dan abangnya tampak pusing ketika melihat Zee pulang dengan pakaian yang acak-acakan. Zee hanya diam menunduk. Tak tau harus bicara apa.


Kejadian di sekolah pastilah akan diketahui oleh keluarganya.


"Ck! Dek... Dek... Dulu jadi pikiran karena dibully, sekarang jadi pikiran karena berantem. Kakak gak tau harus senang atau sedih dengan keadaan kamu sekarang."


Rain sudah berpikiran ke sana. Saat Zee turun dari mobil Vanya, Rain melihat pula kedua teman adiknya yang sama berantakannya. Pak supir meminta maaf karena dia tidak tau menau. Kejadian itu terjadi masih di area kelas mereka.


Saat itu pula Rain mendapatkan pesan video. Dia membukanya dan matanya membelalak ketika melihat adiknya yang dulu tertindas, sekarang malah nampak menindas. Rain geleng-geleng kepala. Arza mengiriminya banyak sekali emot tertawa. Rain mendengus melihat itu.


"Dek... Kakak khawatir suatu saat nanti mereka akan melawan kamu lebih mengerikan lagi. "


"Ya abisnya mereka ngeselin, kak. Aku kan lama-lama jengkel juga. " Jawabnya dengan bibir mengerucut.


Rain bertambah pusing.


.


.


.


Sore hari di taman biasa.

__ADS_1


"Za. Gue besok mau pergi kerja di Jakarta. Gue mau tinggal di sana. " Ucap Rain langsung pada intinya. Rain memang sengaja ingin bertemu dengan Arza.


Ekspresi Arza membuatnya bingung.


"Loe kerja apaan di sana? "


"Sama kayak di rseto. "


"Oh."


Mereka diam cukup lama.


Arza membuka laptopnya dan memperlihatkan rekaman dari resto ketika malam kebakaran itu. "Gue nemu bukti kalo kejadian di resto itu bukan karena kecelakaan."


Rain mengernyit. "Loe selidiki juga kasus ini? Gue bahkan gak ada di sana ketika kejadian. "


"Gak harus ada loe juga kalik... Tapi ini bukan punya gue. Ini kerjaan temen gue. "


"Oh." Arza menatap Rain karena reaksinya itu.


"Di awal kejadian ada beberapa ledakan yang letaknya saja sudah mencurigakan. Pastinya itu jadi pertanyaan. Makanya kasus ini diselidiki. "


Rain mengangguk-anggukkan kepalanya sambil terus melihat layar laptop itu.


"Terus udah ketemu siapa penyebabnya? "


"Belom. Masih ribet. "


Arza menutup kembali laptopnya.


"Loe mau kerja sama siapa di sana? "


"Ada... Kenalan lama gue. "


"Siapa? "


"Gue kasih tau juga loe pasti gak tau. "


"Ya... Terserah lah. Gue cuma mau kasih tau ke loe. Loe hati-hati sama ibu-ibu yang waktu itu sering datang ke resto. Dia itu bukan orang sembarangan. "


Rain menatap Arza heran. "Maksud loe? "


"Ya loe pasti tau siapa orangnya. "


Rain hanya mengangguk. Tak mungkin dia memberitahukan Arza kalau dia akan bekerja dengan orang itu. Rain sebenarnya tidak merasakan ada yang aneh dengan Intan. Tapi kalau sekarang dia katakan pada Arza, pasti temannya itu akan menahan Rain untuk pergi ke sana.


.


.


.


.


.


bersambung...


.


.


.


salam dari yuya...

__ADS_1


__ADS_2