Pelangi Tanpa Batas Warna

Pelangi Tanpa Batas Warna
Apa Yang Sebenarnya Terjadi


__ADS_3

.


.


Rain berjalan menunduk dan tak sengaja bertabrakan dengan seseorang saat keluar dari sebuah ruangan di rumah sakit, mereka bertatapan sekilas. Rain meminta maaf dan berjalan kembali meninggalkan orang itu yang diam mematung.


"Rafendra, " Ucap orang itu, lirih.


Dia tersadar kemudian masuk ke ruangan yang mungkin saja disinggahi oleh gadis yang dilihatnya barusan.


"Selamat siang, dokter, " Ucapnya saat masuk.


Seorang dokter perempuan yang sedang sibuk pun menoleh. "Selamat siang, dokter Rendra. Ada yang bisa saya bantu? "


.


.


.


"Jadi namanya Rain? "


"Benar. Dan luka di bahunya cukup dalam. Tapi saya heran, bagaimana bisa dia menahan rasa sakitnya? Saya yang melihatnya saja merasa ngilu. "


Dokter Rendra terdiam dengan alis yang bertaut.


"Maaf, dokter. Sebenarnya ada apa? Apa dokter mengenal gadis tadi? "


Dokter Rendra tersenyum. "Tidak. Hanya saja, ketika melihat matanya, saya jadi teringat dengan teman lama. Terima kasih dokter Nisa, atas informasinya. Saya pamit dulu. Selamat siang. "


"Ya, selamat siang. "


Dokter Rendra berlalu masih dengan pikiran yang tak tenang. Dia teringat seseorang dan segera menghubunginya, " Halo... Aku akan ke rumahmu nanti sore. Ku harap kamu bisa meluangkan waktu, ini penting."


Dokter Rendra mematikan sambungan setelah mendengar jawaban dari seberang, menghela nafas dengan tatapan tak terbaca.


.


.


.


Rain memandangi rintik hujan dari jendela kamarnya, menyandarkan tubuhnya ke kursi. Merasa jenuh karena tidak bekerja, tapi saran dari dokter tidak bisa diabaikannya.


Beralasan tak enak badan pada Intan agar dia tak curiga. Karena sampai saat ini, Rain mengira tak ada orang lain selain Kana yang tau akan luka di bahunya.


Pintu kamarnya terbuka dengan keras. Rain benar-benar terkejut, apalagi saat melihat siapa yang mendorong pintu itu.


"Ace! Ada apa? " Rain bangkit dengan dahi mengkerut. "Apa kamu tidak ingat apa yang dikatakan ibumu? "


"Aku ingat, maka dari itu, ayo ikut aku, " Ucapnya santai sambil bersandar di pintu.


"Kemana Kana? "


"Ada aku di sini, kenapa kamu malah menanyakan dia? " Ace tampak tak senang.


"Tidak apa-apa. Hanya saja, aku tidak mau kalau sampai ada drama lagi. "


"Drama? "


"Ya. Drama cemburu-cemburuan kalian. "


Ace mengerutkan dahi dan berjalan masuk. Perlahan, mereka kini berdiri berhadap-hadapan. Rain tanpa sadar sudah terpesona oleh Ace dan terus menatapnya.

__ADS_1


"Jadi kamu bisa melihat kalau aku cemburu? "


Rain mendesis. "Aku tidak lupa dengan kisah kalian. Entah bagaimana caranya aku menjelaskan pada kalian, tapi aku sama sekali bukan ancaman untuk hubungan kalian. Aku tidak ingin jadi pengganggu walaupun aku tau yang kalian lakukan itu salah. Dan juga, aku tidak mau menjadi pelampiasan saat kalian ada masalah."


Ace menatap dalam kedua manik Rain. "Pelampiasan? "


"Hah... Aku tidak perlu menjelaskan. Aku muak mengingat itu. " Rain memalingkan wajahnya, terlihat kesal.


"Apa kejadian di ko-"


"Berhenti! Kalau kamu sudah tau, jangan bahas lagi. Pergilah. " Rain berusaha untuk tidak menatap Ace.


"Kamu kesal karena kejadian itu? Kalau aku tidak menjadikanmu pelampiasan, apa kamu masih akan marah? " Ace tersenyum.


Rain menatapnya dan terpaku melihat wajah Ace. "𝘠𝘢 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯... 𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯𝘬𝘶? 𝘚𝘢𝘥𝘢𝘳𝘭𝘢𝘩 𝘙𝘢𝘪𝘯... 𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘶𝘬𝘢𝘪 𝘭𝘢𝘬𝘪-𝘭𝘢𝘬𝘪, 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘥𝘪𝘢? "


Ace semakin mendekat, sampai nafasnya menyapu wajah Rain. Tatapan yang lekat itu semakin dalam. Lagi-lagi, Rain hanya diam. Mematung seolah kesadarannya telah pergi.


"Jadi selama ini kamu masih mengira aku masih menjalin hubungan dengan Kana? "


Rain refleks mengangguk, tanpa sadar.


Ace menatap langit-langit dengan senyuman yang merekah. Perasaannya tiba-tiba menjadi senang. Merasa tidak sia-sia karena sudah berharap.


Ace menunduk kembali untuk menatap Rain yang masih mendongak menatapnya. "Aku ingin mengatakan sesuatu padamu. "


"Apa? "


Dengan jantung yang berdebar, tangan Ace perlahan menyentuh pipi Rain. Rain merasa gugup tak karuan tapi tubuhnya hanya diam dengan irama jantung yang tak beraturan.


"Aku... Me-"


"Rain! "


"Kana! " Rain membelalak melihatnya dan meninggalkan Ace. Ace diam mematung melihat Rain yang tampak khawatir pada Kana. Tangannya yang menyentuh Rain masih menggantung di udara, sama dengan kata-katanya yang terpotong.


Tubuh Kana gemetar saat Rain menghampirinya. "Kana... Maafkan aku. Kamu jangan salah faham. "


Kana pingsan dan membuat Rain semakin panik. Ace pun turut panik melihat itu dan bersama Rain dia membawa Kana ke dalam.


.


.


.


"Kenapa sampai begini? Apa yang terjadi di rumah? " Intan berdiri tak tenang dan tampak kesal. Rain dan Ace menunduk. Merasa bingung bagaimana harus menjelaskan. Karena mereka sendiri tidak tau alasan utama Kana pingsan.


Intan sudah tau kejadian di kamar Rain. Hanya saja Intan tidak tau kenapa Kana sampai basah kuyup dan kemudian pingsan. Sebenarnya yang membuat Intan kesal adalah sikap putra sulungnya yang keras kepala.


"Sebentar lagi dokter Rendra akan sampai. Kalian pergilah ke kamar masing-masing."


"Baik, Ma. " Ace berlalu.


"Eng... Bu. "


"Ya? "


"Bukannya ini kamar saya, bu? " Rain tersenyum canggung.


Intan mengerjapkan matanya, tersenyum malu.


.

__ADS_1


.


.


"Rain... "


"Iya, bu? "


"Tolong kamu buatkan dua gelas teh. Tamu ibu sudah datang, " Ucap Intan tersenyum saat Rain selesai mandi dan masih berada di dapur yang jaraknya dekat dengan kamar mandi.


"Apa Kana sudah diperiksa? Bagaimana keadaannya? " Rain jelas terlihat khawatir.


"Dia baik-baik saja, cuma demam karena kehujanan. Sepertinya, dia sedikit syok. Gak usah terlalu dipikir. " Intan berlalu meninggalkan Rain yang merasa bersalah.


"Pasti tadi dia terkejut melihatku dengan Ace. Hah... Lagipula kenapa juga aku ini? Kenapa semakin lama aku tidak bisa menghindar saat Ace mendekatiku? Apa itu hal yang wajar saat menyukai seseorang? "


Rain segera membuatkan teh dan membawanya ke ruang tamu. Tampak seseorang yang diyakini Rain seorang dokter, sedang mengobrol dengan Intan.


"Permisi, bu. Ini tehnya, silahkan. "


"Iya. Makasih ya. "


Rain tersenyum dan kembali ke dapur. Teman bicara Intan menatap Rain tak percaya.


"Anak itu tinggal di sini? "


Intan mengerutkan dahi. "Apa maksudmu dengan 'anak itu'? "


Orang itu tampak tidak sabaran. "Dia yang membuatku menghubungimu tadi siang. Aku rasa bukan karena kebetulan anak itu bisa tinggal di sini, mengingat bagaimana ketatnya kamu dan suamimu."


"Apa maksudmu, Ren? "


"Aku harap kamu tidak membuatnya dalam masalah, Intan. "


"Dia bekerja di sini. Tidak ada masalah, kan?"


"Tentu tidak masalah kalau dia bukan seorang gadis dan juga kalau dia tidak mirip dengan Rafendra. Apa karena dia mirip dengannya sehingga membuatmu memasukkannya ke rumahmu? "


"Aku harap kamu tidak mengungkit terlalu jauh." Intan terlihat kesal dan memalingkan wajahnya.


"Aku bukannya mau mengungkit, tapi sesuatu yang dialaminya membuatku harus mengungkit ini. "


Intan mengalihkan pandangannya dan menatap serius ke arah orang itu.


"Apa kamu tau kalau bahu anak itu tertusuk? " Rendra menatap Intan serius apalagi saat Intan terlihat terkejut.


"Kamu tau atapun tidak, aku akan tetap menyalahkanmu. Bagaimana kalau orang-orang itu tau kalau ada seorang gadis yang mirip dengan Rafendra tinggal di rumahmu? Seharusnya kamu berpikir kesitu dan mengesampingkan egomu. Serindu apapun kamu pada mereka, tapi nyawa anak itu bisa jadi taruhan. Orang-orang itu bisa saja mengira Rara masih hidup dan selanjutnya, kamu bisa tau apa yang mungkin terjadi."


Intan menangis. "Aku rindu mereka, Rendra."


.


.


.


bersambung....


.


.


.

__ADS_1


salam dari Yuya😘😘☺


__ADS_2