
Warning! ⚠️⚠️⚠️
.
.
Dia datang...
Aku mematung di tempat. Entah seperti apa ekspresi ku saat ini. Yang jelas aku sangat senang. Aku bahagia bisa melihat dia. Ini bukan mimpi atau ilusi, kan?
"Ace... " Dia sampai padaku dengan terengah-engah. Aku merasa kasihan melihatnya.
"Minumlah." Aku menyerahkan sebotol air minum yang sedari tadi aku genggam.
Dia meminumnya segera. Lalu kami saling menatap dalam diam. Dia terlihat... Sedih?
Apakah benar dia sedih? Tapi sedih kenapa?
"Ace... " Lagi-lagi dia memanggilku.
"Ya? "
"Aku... " Suaranya parau dan matanya berkaca-kaca. Dia tidak melanjutkan ucapannya tapi malah terus menatapku. Tatapannya tampak tersiksa.
Aku masih setia menunggunya bicara. Namun dia tetap setia dengan kebisuan nya. Aku terpaku dengan tatapannya. Tatapan yang mengisyaratkan kerinduan.
Aku tak ingin terlalu berharap. Aku menepis kemungkinan kalau dia merindukanku. Kalau iya, kenapa dia mendiamkan ku selama ini?
"Aku akan pergi. Kalau tidak ada yang ingin kamu bicarakan, lebih baik kamu pulang. Kalau berlama-lama disini, bisa-bisa aku ketinggalan pesawat, " ucapku dingin. Berbanding terbalik dengan hatiku yang bergetar karena dia.
Dia menunduk. "Kamu akan pergi? "
Bukankah dia sudah tau? Kenapa dia masih bertanya?
Aku tak menjawabnya.
"Ace, " bisiknya masih sambil menunduk.
Lalu dia mengangkat wajahnya. Tatapannya membuat perasaanku kacau.
"Bisakah kamu tidak pergi? " tanyanya parau.
"Untuk apa aku tetap tinggal? "
Dia tampak ingin menangis. Menggigit bibirnya dengan tatapan tak tentu arah. Lalu dia terisak. Air mata yang sudah ditahannya dari tadi akhirnya jatuh juga.
Aku tak tahan melihatnya seperti itu. Aku membawanya keluar. Dia memandangi ku sepanjang perjalanan.
"Apa kamu datang sendiri? "
"Aku datang bersama Pak Hendra. "
"Dimana mobilnya? "
Dia menunjuk ke sebuah mobil yang terparkir di dekat pohon. Aku segera membawanya ke sana.
"Dimana pak Hendra? "
"Aku tidak tau. "
Aku menatapnya dengan nafasku yang sudah memburu. "Sebenarnya apa mau mu? " tanyaku sinis. Dia tampak terkejut.
"Kamu marah? "
"Apa yang kamu lakukan? "
"Ace, kamu tidak ingin aku datang? " tanyanya dengan sedihnya. Itu membuatku serba salah.
"Kenapa kamu baru memperdulikan ku saat aku akan pergi?"
Seharusnya aku tak bicara seperti itu. Kedatangannya saja sudah membuatku senang. Tapi sebagian dalam diriku merasa kecewa karena dia mendiamkanku. Walaupun itu tidak lama dan walaupun aku tau apa alasannya.
Bibirnya bergetar. Dia mendekatiku lalu menarik kerah bajuku. Aku terkejut karena mengira dia akan memukul ku. Tapi ternyata apa yang dilakukannya membuatku lebih terkejut.
Aku diam mematung karena dia memelukku, memeluk dengan erat. Aku bisa merasakan bagaimana tubuhnya gemetar. Isakannya jelas terdengar di telingaku. Dia menyembunyikan wajahnya di bahuku.
Sebagian nafas hangatnya berhembus meniup leherku. Sisi lelakiku menegang karenanya.
"Rain, lepaskan aku. "
Aku merasakan tubuhnya menegang. Mungkin dia mengira aku menolaknya. Perlahan pelukannya mengendur. Lalu dia mundur sambil menunduk.
__ADS_1
"Maaf. Maafkan aku karena lancang memelukmu. " Benar kan, dia salah faham.
Aku mendekatinya dan menarik dagunya. Aku tersenyum menatapnya. Dia terlihat bingung.
"Hapus dulu air matamu. " Tapi aku sendiri yang menghapusnya.
"Aku tidak ingin melewati batas ku. Sesuatu yang kamu lakukan membuatku tegang. " Perkataan jujurku sepertinya masih tidak dia mengerti. Karena dia malah menautkan alisnya.
"Aku lupa kalau ini tempat umum. Maaf. "
"Hanya itu? " tanyaku. Dia menatapku tak mengerti.
"Hanya itu yang kamu kira? " Dia mengangguk ragu.
Aku memandangi wajahnya. Lalu mataku tertuju pada bibir mungilnya. Mataku terpaku melihatnya.
"Ace... " Pemiliknya menyadarkanku. Aku pun menatap seluruh wajahnya. Dia menampilkan ekspresi yang membuatku goyah.
Aku terpana.
Aku mengusap wajahku kasar. Kalau begini terus, bisa-bisa aku melewati batas ku. Aku harus segera pergi.
"Panggilah pak Hendra, aku akan segera pergi, " ucapku tenang. Namun raut wajahnya masih sama.
Kamu membuatku tidak tahan, Rain. Apa yang kamu inginkan?
Aku mengalihkan pandangan ku dengan gusar. Ku tarik pegangan pintu mobil tanpa berniat membukanya. Kulakukan itu karena pikiranku kacau. Tapi pintu mobil itu malah terbuka.
Ah... Pak Hendra, kenapa kamu ceroboh sekali sampai tak mengunci mobil ini? Tapi aku berterima kasih padamu karena kecerobohan mu.
"Masuklah, " perintahku pada Rain. Gadis itu masuk tanpa bertanya.
Aku segera masuk dan menutup pintu. Menghadap kearahnya yang sepertinya siap dengan apapun kata-kataku.
"Maafkan aku, Ace. "
"Maaf untuk apa?"
Dia menunduk dengan sedih. Apa yang terjadi padanya sampai sikapnya seperti ini?
"Mungkin aku salah mengira, " ucapnya lirih lalu memalingkan wajahnya. Tatapannya tidak sesedih tadi. Atau mungkin dia berusaha untuk menutupi kesedihannya. Tapi sikapnya memang cepat sekali berubah.
"Lihat aku, " perintahku. Namun dia tak menoleh sedikitpun.
Aku memegang pipinya dan menariknya agar melihatku. Kedua matanya bergerak menatap mataku.
"Sebenarnya apa yang kamu inginkan? Kenapa kamu membuatku bingung? Apakah kamu tau, aku merasa tersiksa karena sikapmu? "
"Maafkan aku atas sikapku selama ini. Seharusnya aku tak bersikap seperti itu. Aku merasa takut. Aku takut diriku tak bisa mengendalikan diri. Aku takut aku akan menyakitimu.Tapi, ternyata kepergianmu membuatku merasa lebih takut. Aku tidak rela kamu pergi. " Air matanya tergenang lagi. Dia menunduk.
"Jadi, apa artinya ini? "
Dia seperti takut untuk berkata jujur. Salahkah kalau aku mengira dia tak berani menyatakan perasaannya?
"Aku... " Dia menggantung perkataannya lagi. Dia menatapku sayu. "Ace, aku... "
"Kamu menyukaiku? "
Wajahnya tampak gelisah.
"Jawab aku. "
Dia tidak berani menatapku.
"Apa kamu ingat tentang perkataanku saat pagi-pagi kamu tak sadarkan diri? Apa kamu ingat?" Dia mengangguk.
"Lantas kenapa kamu masih bertanya? Lalu kenapa juga kamu seolah tak peduli padaku? Padahal kamu sudah tau bagaimana perasaanku."
"Jadi, kamu... "
"Jadi kamu, apa? Kamu takut aku menolakmu setelah kamu mendiamkanku? " Dia mengangguk.
"Mungkin sebaiknya aku pergi. "
Dia terkejut. Matanya menatapku nanar. "Ace."
Memohonlah, Rain. Mungkin aku serakah. Tapi aku menginginkan dia bertindak lebih.
"Tidak bisakah kamu tinggal dulu sebentar, aku mohon. " Tatapannya membuatku kacau lagi.
Aku mengusap-usap pipinya. Jejak air mata membuatnya terlihat berantakan.
__ADS_1
"Apa yang akan aku dapatkan jika aku tetap tinggal? "
Dia kebingungan. "Aku tak bisa menjamin apapun. Tapi kamu sudah tau bagaimana perasaanku. Tapi kamu... "
"Kamu ingin tau bagaimana perasaanku saat ini? " Dia mengangguk.
Aku membelai pipinya. Dia masih diam. Tapi saat aku menyentuh bibirnya, dia mulai bereaksi. Reaksi yang tidak pernah aku duga.
Reaksimu benar-benar membuatku lupa diri, Rain.
Aku tak bisa menahannya. Aku m*****t bibir itu tanpa permisi. Tak peduli sekarang pemiliknya menegang. Biarlah dia mengamuk nanti. Aku ingin menikmati ini. Penuh dengan perasaan.
Aku mencintainya. Aku menyukainya. Tapi aku juga harus menjaganya. Aku tak boleh berlebihan.
Aku melepaskan tautan bibir kami. Dia terengah dengan pipi yang memerah. Aku menempelkan ujung hidungku dengan hidungnya. Mengatur nafas agar kembali normal.
Namun...
"Aku mencintaimu, Ace. "
Dia mencium ku. Entah sadar atau tidak saat dia melakukannya. Satu tangannya m*****s lengan bajuku. Jujur aku takut aku hilang kendali.
Tapi aku terbawa arus sampai tak ingat ketakutan ku. Apa aku bisa menjaganya?
Aku dan Rain tersadar saat mendengar suara deringan ponsel. Posisi kami saat ini tak bisa dikatakan baik.
Aku segera bangkit dari tubuhnya. Entah sejak kapan aku sudah berada diatasnya. Aku merasa bodoh sekali. Aku memperbaiki posisinya agar dia duduk.
Aku melihat ponselku. Ternyata ibuku menelpon. Dia selalu menyadarkan ku. Entah apa jadinya jika dia tidak menghubungiku.
Aku menghubungi balik ibuku. Ku lirik Rain yang bersandar di kursi sambil mengatur nafasnya. Dia tidak mengamuk? Salahkah kalau aku merasa senang?
Ibuku bertanya tentang keberadaanku. Aku menjawab seadanya. Tapi tidak dengan apa yang terjadi antara aku dan Rain.
Akhirnya kami duduk dengan canggung. Dia tidak berani menatapku.
Tadi itu... Hampir saja.
Benar ucapannya, kami mungkin tak bisa mengendalikan diri. Walaupun aku menyukainya, tapi kuharap ini tidak terjadi lagi.
Dan perkataan ibuku memang benar. Mungkin ini sebabnya dia mewanti-wantiku agar menjaga jarak dengan Rain.
.
.
.
.
Author POV
Beberapa saat sebelum itu...
"Nyonya, mereka masuk ke dalam mobil."
"Pantau saja dulu. Kalau sekiranya ada yang tidak beres, kamu segera hubungi aku. "
"Baik, Nyonya. "
Tak lama kemudian...
"Nyonya, mobil itu bergoyang, " ucap orang itu yang tak lain adalah pak Hendra, sang supir. Dia terlihat panik. Begitupun dengan orang yang ditelpon nya. Intan.
"Apa?! Kamu disitu saja dulu. Biar aku hubungi mereka. "
.
.
.
bersambung...
.
.
.
salam dari Yuya😘😘😁😁😁
__ADS_1