Pelangi Tanpa Batas Warna

Pelangi Tanpa Batas Warna
Kecewa


__ADS_3

⚠️⚠️


.


.


Rain menunduk sambil mengeratkan tulang pipinya. Menahan rasa sakit yang mendera tubuhnya. Sakit karena rasa takut dan emosi yang ditahannya.


Arza mendekatkan wajahnya hendak melakukannya hal yang lebih, tapi ucapan Rain membuatnya menghentikan niatnya.


"Loe tau kelemahan gue apa, tapi kenapa loe lakuin ini ke gue? " Rain menatap tajam Arza dengan mata sembabnya.


Tatapannya sangat menusuk.


Arza melepaskan tangannya yang memeluk Rain. Mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan sambil menghembuskan nafas kasar. Merutuki kebodohannya karena tak bisa menahan diri dan mengendalikan perasaannya.


Hatinya merasa sakit melihat sikap Rain yang berubah padanya. Tapi dia sadar kalau itu adalah perbuatannya dan dia merasa menyesal.


"𝘈𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘶 𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯? 𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢𝘢𝘯 𝘬𝘶 𝘴𝘶𝘭𝘪𝘵 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘢𝘬𝘶 𝘬𝘦𝘯𝘥𝘢𝘭𝘪𝘬𝘢𝘯?"


Mereka berdiri dalam diam. Arza membiarkan Rain tenang. Tentu dirinya juga sedang berusaha untuk menangkan diri.


Rain menunduk diam sambil mencoba mengendalikan perasaannya. Mengatur nafasnya perlahan agar bisa menghadapi Arza dengan tenang.


Rain mengambil nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. Menatap Arza yang menunduk melihatnya. Rain dapat melihat penyesalan di mata itu.


"Gue minta maaf. Maaf karena gue gak bisa kendalikan perasaan gue. Tapi gue mau jujur, gue suka sama loe. Udah lama gue pendam ini dan berusaha nunjukkin ke loe,tapi loe gak pernah sadar."


"Sekarang loe salahin gue? " Rain menatapnya tak percaya. "Loe gak sadar perbuatan loe ini udah kelewatan, Za. Gue kecewa sama loe. Kenapa loe bisa jadi jahat gini? "


"Itu karena gue suka sama loe! Gue tau loe sekarang lagi deket sama seseorang. Gue gak mau dia ngeduluin gue. "


Rain menatapnya nyalang. "Gak gini caranya, Za. Loe bukan orang bodoh. Apa loe pikir dengan ini loe bisa milikin gue? Gak sama sekali, Za! "


Rain hendak pergi namun Arza mencekal pergelangan tangannya.


"Lepasin, sebelum tangan gue bereaksi, " ucap Rain datar.


"Gue mau lepasin asalkan loe kasih satu hal buat gue."


Rain tidak menjawab. Namun dia tau apa yang Arza inginkan saat laki-laki itu mendekatinya perlahan, menatap lekat wajahnya.


"Loe mau mati? " Raut wajah Rain jauh dari kata baik.


"Gue gak akan nyesel kalo mati setelah itu. "


Arza menangkup wajah Rain, mencondongkan tubuhnya dan mendekatkan wajahnya pada Rain.

__ADS_1


"Loe udah ambil itu tadi, si**an! " ucap Rain dengan tatapan tajam.


"Itu cuma kecupan. Gue maunya lebih dari itu."


"Udah gila loe, ya. Gak akan gue kasih! "


"Kalo gitu loe gak akan bisa pergi dari sini. "


"Bukannya tadi loe udah minta maaf? Apa artinya itu sekarang? "


"Gue gak akan sekasar tadi. Gue cuma mau hal ini, gak lebih. Gue masih bisa tahan diri, " ucap Arza sambil menyapu bibir Rain dengan ibu jarinya.


Rain bergidik mendengar ucapan Arza dan menepis tangan Arza dengan kasar.


"Gue mau pulang! "


Rain baru berjalan satu langkah saat Arza kembali menariknya dan tanpa aba-aba laki-laki itu menc***m paksa Rain. Menekan kepalanya dan memeluk Rain untuk mengunci tubuhnya. Membuat gadis itu kembali tersulut emosi.


Rain berontak dengan sekuat tenaga agar lepas dari cengkraman Arza. Melupakan sejenak kalau laki-laki itu adalah sahabatnya. Hingga akhirnya pelukannya terlepas dan....


Plak!


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi putih Arza, sampai membuat laki-laki itu memalingkan wajahnya dengan tubuh yang terhuyung.


"Gue rasa itu masih gak sepadan, tapi kalo gue melakukan hal yang lebih, gue gak yakin loe masih bisa bersyukur dengan kematian loe. "


Arza diam dan tidak menatap Rain. Ekspresi wajahnya sulit dimengerti. Nafasnya sedikit sesak saat gadis itu menampar nya.


"Gue harap ini menjadi yang terakhir gue tampar loe. Ini peringatan buat loe karena gue gak yakin gue bisa tahan tangan ini biar gak bunuh loe, Arza, " ucap Rain dingin.


Rain bergegas mengambil tasnya. Melupakan benda yang dicarinya yang mungkin jadi penyebab dia terjebak dalam situasi itu.


Rain berhenti di ambang pintu. Menoleh ke belakang pada Arza yang masih diam di tempatnya.


"Emang salah gue karena udah datang kesini." Kemudian Rain benar-benar pergi.


Dengan sudut bibir yang mengeluarkan darah, Arza tersenyum namun dengan wajah yang terluka.


"Seengaknya ini lebih baik, daripada loe cuma diem dan gak mukul gue sama sekali." Arza tersenyum lembut. "Dan ini gak akan menjadi yang terakhir. Gue senang loe udah bisa kendalikan emosi loe. Walaupun sebenarnya tadi gue emang kelepasan."


Rain terisak di sepanjang perjalanan, mengingat banyak hal. Mengingat ucapan ibunya yang dulu sempat diabaikannya.


𝘈𝘱𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘸𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘨𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶𝘮𝘶? 𝘈𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘢𝘮𝘱𝘶 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘢𝘩𝘢𝘣𝘢𝘵𝘮𝘶? 𝘈𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘢𝘮𝘱𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘯𝘥𝘢𝘭𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘦𝘮𝘰𝘴𝘪𝘮𝘶?


"Ibu... " Isaknya lirih.


Rain menyesal karena tidak begitu menghiraukan ucapan ibunya dulu. Rain sungguh tidak pernah menyangka Arza bisa melakukan ini padanya.

__ADS_1


Tapi Rain sadar, Arza juga manusia biasa dan dia seorang laki-laki. Wajar bila menyukai seorang perempuan walaupun itu sahabatnya. Tapi perbuatan Arza sungguh membuatnya kecewa.


Sedari tadi tubuhnya gemetar menahan emosi, tapi ia tak mungkin melampiaskan itu dengan memukuli Arza. Bisa benar-benar mati laki-laki itu di tangannya.


"Brengsek loe, Za. Loe kira gue apa? Gimana pun gue ini perempuan. Kalo sampe loe kebablasan dan gue lemah, siapa yang susah kalo bukan gue? " Rain terus menggerutu dan mengumpati Arza di sepanjang jalan, sampai ia merasa kalau ada orang yang mengikutinya.


Perlahan perhatiannya teralihkan pada kaca spionnya, melihat ke belakang dari kaca itu. Memperhatikan setiap pengendara yang sejalan degannya.


"Apa dia ngikutin gue? " Entah siapa yang dimaksud.


Rain berbelok dari jalan yang seharusnya. Memilih jalan yang jarang dilalui oleh para pengendara. Berhenti untuk melihat lagi ke belakang.


"Mungkin cuma perasaan gue aja kalik ya? "


Rain berbalik lagi ke depan untuk melanjutkan perjalanannya. Tapi dia mengurungkan niatnya saat melihat tiga motor melaju beriringan ke arahnya.


Rain mengerutkan keningnya tanpa ada pemikiran buruk sedikitpun. Rain hanya ingin membiarkan mereka lewat dulu.


Namun, pemikirannya berubah saat tiga motor itu berhenti di depannya dan datang pula dua motor dari belakangnya dan ikut berhenti juga.


Rain mematikan motornya dan menatap tiga orang di depannya dengan tenang.


"Jadi, kalian ini mau apa? "


Tiga orang di depannya turun tanpa menjawab. Rain tetap berada di atas motornya. Melihat mereka tanpa ekspresi.


"Kami mau bawa kamu pergi, " ucap salah satu dari mereka. Kemudian mereka melepaskan helm mereka, menampakkan wajah yang tidak Rain kenal.


Rain membuang nafas kasar dan memandang ke sembarangan arah.


"Kalo gue gak mau? "


"Kami akan tetap membawamu, " ucapnya lagi. Kali ini dengan senyuman.


Lalu dua orang di belakang Rain ikut turun dan menghampiri mereka. Menampakkan juga wajah mereka yang rupawan.


"Kenapa kalian datang dalam kesempatan ini? Mungkin ini bisa dibilang tepat dan tidak tepat. Aku sedang butuh pelampiasan sekarang, " ucap Rain dengan seringaian mengerikan. Kemudian dia terkikik seperti hantu.Tertawa keras sendiri sampai membuat orang-orang itu saling memandang bingung.


.


.


.


bersambung...


.

__ADS_1


.


salam dari Yuya😘😘😘


__ADS_2