
.
.
Aku menceritakan beberapa hal yang ku ketahui tentang kecelakaan bang Arka pada Arza. Dia menunduk, serius mendengarkan sambil manggut-manggut.
Akupun memberikan rekaman cctv dari lokasi kejadian, berharap Arza bisa memberi ku jawaban dari rasa penasaran ku.
Arza kini serius dengan layar monitor nya dan aku hanya duduk diam sambil memperhatikan apa yang sedang dia lakukan.
Tapi mataku lelah. Melihat Arza yang serius dengan layar di hadapannya dan seolah melupakanku yang duduk di sampingnya. Akhirnya aku memutuskan untuk berkeliling di ruangan itu.
Melihat-lihat buku yang tersusun rapi di rak buku. Memilih salah satu yang membuatku tertarik. Tapi tak lama aku juga merasa bosan.
Apa Arza masih lama? Ku lirik laki-laki yang sedang duduk di sana. Aku hanya menghela nafas karena sepertinya dia tidak bisa diganggu.
"Hum... Gue ke dapur ya, Za? "
"Hem. " Jawabnya tanpa menoleh padaku.
Aku ke dapur untuk mengambil air minum. Walaupun sebenarnya aku tidak haus. Lalu aku kembali ke ruang depan dimana Arza sedang duduk sekarang.
Tapi langkahku terhenti saat aku melihat sebuah bingkai foto yang ditaruh di meja kecil di dekat pintu kamarnya.
Aku tidak pernah melihat foto ini sebelumnya. Ku perhatikan orang yang berada dalam foto itu.
"Arza? "
Aku mengerutkan dahiku karena melihat foto itu yang tampak usang.
Aku berjalan sambil membawa minum dan foto itu. Lalu duduk sambil memperhatikan dengan jelas kalau orang yang ada dalam foto itu benar-benar Arza.
"Za, kapan loe bikin foto model jadul begini?"
Arza tidak menjawab.
"Hish..."
"Gue lagi serius. Bisa gak sih loe gak usil? " Tanyanya lirih, lagi-lagi tanpa menoleh.
Aku cemberut. "Gue cuma tanya juga. "
"Bawel loe. Persis cewek. "
"Gue emang cewek! " Aku bertambah cemberut.
Arza tampak lebih serius dari sebelumnya. Aku mengoceh pun dia tidak menggubris.
"Ini beneran loe, kan? " Lagi-lagi aku bertanya. Entah kenapa aku penasaran sekali.
"Bukan, itu bokap gue. "
Spontan aku menatapnya, ingin melihat dia bercanda atau tidak. Tapi Arza tampak terkejut dengan ucapannya sendiri walaupun dia tidak menatapku. Kenapa dia terlihat terkejut?
"Bokap loe? "
Dia diam. Tapi dari pergerakannya, dia terlihat salah tingkah. Aku kembali melihat foto itu dan mengabaikan sikap Arza.
Mungkin benar ini ayahnya. Memang mirip, tapi Arza dan orang di foto ini memiliki sedikit perbedaan. Yang lebih mencolok adalah, bentuk tubuh mereka.
Ku rasa Arza tidak segagah orang di foto ini. Jadi mungkin benar ini ayahnya.
Ku balik bingkai foto itu. Mungkin karena rasa bosanku yang membuat aku memperhatikan hal-hal kecil begini.
Samar-samar dapat ku lihat tulisan miring di belakang bingkai foto itu.
__ADS_1
Sebuah nama.
Geraldi...
Zhang?
Aku tertegun sejenak, lalu ku perhatikan lagi Arza.
"Zhang? " Ucapku lirih sambil menatapnya. Aku yakin dia tidak mendengar ucapanku karena dia tetap serius seperti sebelumnya.
Apa ini nama ayahnya? Kalau iya, kenapa jauh sekali namanya dengan anaknya. Arza. Apa mungkin Za diambil dari kata Zhang?
Tapi kalau dilihat-lihat, Arza memang cocok dengan nama itu. Dilihat dari wajahnya dan kulitnya yang bahkan lebih putih dariku.
Zee bahkan mengidolakan Arza karena hal itu.
Aku memang tidak pernah tau karena aku tidak pernah bertanya. Sama seperti kisahku dulu, bahkan aku memang terkesan menipu.
Aku rasa aku tak perlu mempermasalahkan dia orang mana dan anak siapa. Toh, Arza selama ini baik-baik saja. Apa masalahnya kalau dia keturunan Tionghoa? Kami bersahabat baik selama ini.
Aku menyimpan bingkai foto itu dan menghampiri Arza yang masih serius. Dia melirikku sebentar saat aku duduk di sampingnya.
"Loe gak kerja? " Tanyanya tanpa menoleh.
"Gue izin hari ini. "
"Oh."
Hening.
"Masih lama, ya? "
"Nggak. Gue cuma lagi cocokin sesuatu. "
"Apaan? "
"Apa? "
"Ini tentang ibu-ibu yang sekarang jadi bos loe. "
"Bu Intan? Emang kenapa lagi dia? Dia itu bukan orang jahat, Za. Selama ini dia banyak bantuin gue. "
"Gue curiga kalo salah satu orang yang ngincer gua adalah suruhannya dia. "
Dahiku mengkerut bingung. "Emang buat apaan dia ngincer loe? Bu Intan tuh gak kenal sama loe. "
Arza menghembuskan nafas kasar lalu kembali menatap layar di depannya. Dia memperlihatkan beberapa rekaman yang entah dimana lokasinya itu.
"Loe liat gak orang yang pake hoodie sama masker ini? "
Aku memperhatikan orang yang ditunjuknya kemudian mengangguk.
"Kenapa dalam beberapa kejadian yang berhubungan sama loe pasti ada dia? "
Aku menatap Arza, bingung.
"Ini salah satu rekaman saat tragedi kebakaran di resto tempat loe kerja dulu dan yang lainnya saat kecelakaan keluarga loe. Ada beberapa juga yang kayaknya cuma gue targetnya. "
"Maksudnya ini apa? " Aku tidak sepenuhnya bertanya.
"Ini rekaman yang loe kasih. Kalo loe lebih merhatiin, sebenarnya di sana juga ada dia. Terus dia pergi beberapa meter dari lokasi itu, dia keliatan lagi merhatiin kamera dan pergi ke jalan yang dilalui mobil yang nabrak abang loe. Selanjutnya mobil dan orang itu hilang tanpa jejak. Gue gak tau rekaman dari tempat lain yang mereka retas atau emang mereka gak pernah lewat jalan itu. Tapi kalo gitu, mereka pergi kemana?"
Arza menepuk bahuku. "Jangan sampai ini rencana bu Intan itu, Rain. "
Aku menatapnya tak berkedip. Kenapa pikirannya sampai kesitu? Tak mungkin kan kalau bu Intan setega itu?
__ADS_1
"Gue udah pernah bilang kan sama loe, dia itu bukan orang sembarangan. Keluarganya bisa melakukan apapun untuk tujuan mereka, termasuk dia. Apa selama ini loe gak pernah curiga?"
Pikiranku melayang. Mengingat tentang banyak hal. Tentang kata-kata bu Intan yang kadang memang membuatku bingung.
Dan akhir-akhir ini banyak kejadian yang membuatku harus memilih tetap tinggal di sana.
Tidak mungkin kan kalau bu Intan mencelakai keluarga ku agar aku tinggal di rumahnya?
Tapi aku teringat lagi dengan kata-katanya saat dia ingin anak-anaknya berubah. Dia akan melakukan apapun untuk mereka. Tapi aku tidak percaya kalau bu Intan sengaja menjeratku agar tinggal di rumahnya.
"Loe sadar sekarang? "
Aku masih termangu. Bingung harus berkata apa pada Arza.
"Bukannya loe bilang gak cuma satu kelompok yang ngincer loe? Siapa lagi orang yang loe curigai? "
"Loe masih gak percaya? " Arza tampak tak suka dengan pertanyaan ku.
"Gue juga mencurigai seseorang yang gue belum tau persis dia itu siapa. "
Aku kembali melihat layar itu. Melihat dengan teliti orang yang memakai hoodie itu. "Cuma perasaan gua atau emang orang ini yang dulu sering berdiri di depan rumah gue? "
"Maksud loe apaan? "
"Dulu ada orang yang pake jaket, berdiri lama-lama di lahan kosong depan rumah gue. Pas gue datangin, dia langsung lari. "
Aku terdiam sejenak. "Sebelum kecelakaan bapak gue, gue liat seseorang yang udah lama gak ketemu sama gue. Walaupun gak ada bukti kalau kejadian itu ada hubungannya sama dia. "
"Gue gak ngerti. "
"Sebenarnya ada orang yang mencurigakan di dekat tempat kerja gue sekarang, dan bu Intan yang ngasih tau gue hal ini. Dia juga kasih tau gue biar gue hati-hati."
Arza menatapku lekat. " Bisa aja kan kalo orang itu adalah suruhannya? Dia udah rencanain semua dari awal lewat orang itu."
"Kalau benar suruhannya, kenapa sampai sekarang dia masih ngikutin gue? Dan harusnya bu Intan gak kasih tau tentang orang mencurigakan itu kalo emang dia suruhannya bu Intan. "
Arza tersenyum sinis, mungkin dia tidak senang karena aku masih tidak percaya. "Terus siapa orang yang loe curigai? "
Aku menatap lurus ke depan tanpa ekspresi.
"Anih... "
.
.
.
bersambung...
.
.
.
halloo...
bisa tebak gak siapa yang dicurigai dan pelaku sebenarnya?
walaupun dari ceritanya masih memusingkan 😁😁😁
makasih dukungannya ya☺☺☺
.
__ADS_1
.
salam dari Yuya😘😘😘