
.
.
.
Ku ketuk pintu kamar Rain tanpa memanggilnya. Dia mempersilahkan aku untuk masuk. Ku buka pintunya perlahan.
Ku tatap dia yang duduk melamun di atas ranjangnya. Tatapannya kosong. Aku menjadi serba salah.
"Rain... " Sapaku dan itu membuatnya mendongak. Dia terlihat terkejut dan seketika tatapannya seolah ketakutan melihatku.
"Aku boleh masuk? " Sebenarnya aku sudah berada di dalam kamarnya.
"Kamu sudah masuk tanpa izin ku, " Jawabnya dingin.
"Aku hanya ingin minta maaf. "
Dia menatapku dengan tatapan yang tidak bisa aku tebak. Aku masih berdiri di dekat pintu. Pintu ku biarkan terbuka lebar.
"Minta maaf untuk yang mana? Karena kamu menipuku atau perbuatan mesummu? " Tapi dia terlihat salah tingkah setelah mengucapkan itu.
Aku berjalan menghampirinya.
"Tidak baik seorang laki-laki masuk ke kamar perempuan. Apalagi kita hanya berdua, " Ucapnya menatapku.
Aku masih terus berjalan dan duduk di tepi ranjangnya, duduk berjauhan dengannya. "Aku tidak punya niat buruk. "
"Begitu kah? " Dia tersenyum sinis lalu memalingkan wajahnya.
Kami terdiam beberapa saat.
"Aku hanya tidak ingin terlihat konyol karena telah jatuh ke kolam. Aku tidak berniat menipumu. Aku tidak tau kalau kejadiannya akan seperti itu. Dan untuk yang itu... " Aku menatapnya yang terlihat gelisah. Dia tidak menatapku.
"Aku memang salah, maafkan aku. Aku tidak berniat melakukan itu. Aku tidak tau kenapa aku melakukan itu, " Aku menatapnya lekat.
Rain menatap kedua mataku. Tatapan sendunya membuat pikiranku kacau. Apa yang dia pikirkan? Kenapa tatapannya seperti itu?
Dia tidak menjawab.
"Hei... " Aku menggeser duduk ku, berniat mendekatinya.
"Berhenti disitu! " Ucapnya dengan tatapan yang berubah tajam.
Aku menghela nafas pelan. Tak biasanya aku sabar menghadapinya. Bahkan perasaanku berubah lemah. Apakah kata lemah tepat untuk mendeskripsikan perasaanku saat ini?
Aku tidak mengerti dengan diriku sendiri.
Rain membuang nafas pelan. Aku masih setia menatapnya. Menunggu apa yang akan diucapkannya.
Rain POV
Kedatangan Ace ke kamarku sungguh membuatku terkejut. Aku yang sedang memikirkan pesan dari Adi seketika terkejut dan bahkan rasa takut muncul begitu saja. Mengingat apa yang dilakukannya padaku di kolam.
Pagi tadi, aku mengira kalau mbak Sari lah yang jatuh ke kolam setelah dia pulang dari pasar. Tidak ada pikiran lain selain menghawatirkan mbak Sari. Karena Ace berkata padaku kalau dia akan pergi. Setahuku tidak ada orang di rumah selain aku dan satpam di depan sana.
__ADS_1
Tapi saat melihat Ace yang terlihat tak sadarkan diri di dalam kolam, membuatku seketika panik. Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan. Berteriak meminta tolong padahal sudah tau tidak ada orang di rumah.
Dengan bodohnya aku malah masuk ke dalam kolam. Bukannya ke depan memanggil satpam untuk meminta bantuan.
Pada saat aku masuk, aku masih merasa lega karena kolam tidak sedalam yang aku kira. Tapi tak lama aku berjalan, aku sudah tidak bisa merasakan kakiku. Pada saat itulah aku ketakutan. Ketakutan akan kejadian dulu dimana aku tenggelam.
Aku meronta tapi tubuhku tetap tidak bisa naik. Air masuk ke dalam hidung dan mulutku dan membuatku semakin takut. Aku tidak sadar dimana aku dan apa yang terjadi padaku.
Hingga aku merasakan sakit di bagian kepalaku. Membuat rasa takutku dan juga kesadaranku hilang sepenuhnya.
.
Aku terbatuk-batuk dan merasakan sesak di dadaku yang perlahan menghilang. Terengah-engah seolah aku baru saja berhenti bernafas.
Ku pegang kepalaku yang terasa pening. Ku buka perlahan mataku dan samar-samar ku lihat seseorang menundukkan kepalanya, mendekati wajahku.
Aku tidak melihat jelas siapa itu. Tapi sesuatu yang dilakukannya membuat tubuhku tegang seketika. Dia menc***m b***rku yang dingin, membuat rasa panas menjalar ke seluruh tubuhku.
Sesuatu yang tidak pernah dilakukan siapapun padaku. Jelas saja karena selama ini tidak ada siapa pun yang berani menyentuhku.
Tapi sekarang, keadaanku yang lemah membuatku tak bisa melawan. Seakan tenagaku saat mendorongnya tidak berarti apa-apa baginya. Bahkan tubuhnya bertambah turun dan menghimpit tubuh lemah ku.
Aku pun menyerah. Tapi itu membuat orang yang sudah ku ketahui seperti kerasukan dan semakin merengkuh erat tubuhku. Aku merasakan sesuatu yang tidak pernah hadir. Hatiku berdesir dan dengan bodohnya aku terbuai dengan yang dilakukannya. Sungguh, aku malu bahkan pada diriku sendiri.
Tapi perasaan itu berubah setelah melihat keadaannya. Bagaimana tidak, orang yang ku kira tak sadarkan diri malah berdiri tegak setelah dia membekapku. Seolah tidak terjadi apa-apa.
Perasaanku bercampur aduk setelah ku lihat bagaimana keadaanku. Apalagi setelah dengan santainya dia bilang dia hanya ingin membantuku.
Membantu?
Bukan kah dia yang menyebabkan aku begini? Bahkan dia juga yang hampir membunuhku karena membekapku.
Bahkan setelah dia minta maaf pun aku masih kesal. Walaupun terlihat dari matanya dia tulus meminta maaf.
Hubungannya dengan Kana tidak baik-baik saja. Apa mungkin karena itu pula dia melakukan itu padaku?
Kenapa hatiku tiba-tiba sakit. Tidak mungkin kan kalau aku berharap lebih padanya atas apa yang telah dia lakukan padaku?
Dia tidak sejalan denganku. Walaupun dia laki-laki, tapi dia berbeda.
Aku ingin tidak memperdulikannya, tapi tatapan matanya mengingatkanku lagi saat setelah dia membekapku. Salahkan aku merasa kecewa kalau aku jadi pelampiasan?
Ace sudah berada di depanku dan mengguncang bahuku. Mungkin karena melamun jadinya aku tidak sadar dia sudah mendekat.
Dia berulang kali memanggil namaku dan tatapan matanya tampak khawatir. Aku terkesima melihatnya dan tidak menjawab.
"Hei... Ada apa? Kenapa kamu terlihat gelisah begitu? " Tanyanya sambil memegang pipiku.
Aku seolah tak berkedip menatapnya. Apakah ini berlebihan?
Sepertinya tidak. Karena dia biasanya tidak seperti ini. Biasanya dia tidak peduli padaku bahkan cenderung memusuhiku.
"A-aku? Gelisah? " Aku yakin saat ini wajahku konyol sekali.
Jantungku berdetak tak karuan saat dia menatapku dengan tangannya yang masih bertahan di pipiku. Kenapa jadi begini? Huwaaaa...
Saat kami terdiam dengan tatapan matanya yang tak lepas dariku, saat itulah suara seseorang terdengar dan menyadarkan ku akan situasi ini.
"Rain... "
__ADS_1
Itu suara Kana. Aku refleks menoleh padanya yang berdiri mematung di ambang pintu. Ekspresi wajahnya yang rumit membuatku sedikit panik. Apalagi tangan Ace masih saja menempeli pipiku.
Apa tangannya tidak bisa lepas?
"K-kana? Ini... " Aku menatap Ace dan Kana bergantian. Aku sebenarnya takut Kana akan salah paham dan membuat pertemananku dengannya renggang kembali.
Aku menurunkan tangan Ace. Entah kenapa aku merasa Ace tidak senang dengan tindakanku. Mungkin itu cuma perasaanku.
Kana berjalan menghampiriku dan segera naik ke ranjang untuk duduk di depanku.
Kini dua laki-laki itu duduk di depanku dengan ekspresi mereka yang berbeda.
Glek
Terasa sulit sekali walaupun hanya menelan ludah. Rasanya dadaku sesak melihat tatapan mereka.
Aku merasa ada aura permusuhan di sini. Tapi aku tidak tau siapa yang menjadi musuh siapa? Tapi rasanya ruangan ini menjadi mengerikan.
Aku masih diam dan tak berani menatap mereka. Ku dengar suara helaan nafas dan menatap orang itu.
Kana menatapku lembut. Tangannya terulur ke wajahku, menyentuh dahiku. "Aku mendengar dari mbak Sari kalau kamu sakit. Apa sekarang masih sama? "
Aku menggeleng. "Ini sudah lebih baik. Aku sudah minum obat tadi. "
Kana tersenyum dengan tangannya yang kini mengusap rambutku. Rasanya aku telah menjadi orang lain. Kenapa aku diam saja diperlakukan begini?
Ku tatap Ace yang hanya diam dan sedikit mundur. Rahangnya mengeras dan ekspresinya membuatku berpikir kalau dia masih tidak terima aku dan Kana dekat seperti ini.
Sepertinya pikiranku tentang dia yang menjadikanku pelampiasan tidak salah. Dia masih menginginkan Kana. Mengingat itu membuat tubuhku menjadi lemas.
Kenapa aku menjadi pelampiasan?
Dan orang itu adalah Kana yang seorang laki-laki. Apakah penampilanku seburuk itu hingga aku terlihat seperti laki-laki?
Ya Tuhan...
.
.
.
.
.
bersambung...
.
.
.
.
baru bisa upðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
maaf dengan keterlambatan dan dengan hasilnya...
__ADS_1
ku harap bagi yang membaca agar tidak kecewa...
salam dari yuya....