Pelangi Tanpa Batas Warna

Pelangi Tanpa Batas Warna
Tetap Harus Bicara


__ADS_3

Ace melirik Rain yang masih duduk menunduk di kursi. Ace juga melihat ibunya yang sedang sibuk dengan ponselnya. Lalu diliriknya Kana yang malah menatapnya balik dengan ekspresi yang membuatnya kesal. Kenapa adiknya ini sekarang terasa menyebalkan?


"Ma, aku pamit ke atas dulu, " ucap Kana membuyarkan keheningan di ruangan itu.


"Iya, sayang. Silahkan, " jawab Intan tersenyum ke arahnya dan kembali sibuk dengan ponselnya lagi.


"Kamu gak naik juga? " tanya nya tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel.


Ace tau pertanyaan itu untuknya. Ia menghembuskan nafas pelan lalu menatap Rain yang masih menunduk. "Masih mau disini, Ma, " jawabnya sedikit lesu.


"Jangan lupa sama tugasmu, ya. Beberapa hari lagi kamu harus kembali ke Kalimantan."


Ucapan Intan membuat Ace bertambah lemas. "Ma, boleh gak kalau aku gak balik kesana lagi? "


"Kamu pasti tau jawaban Mama. " Intan menatapnya sekilas.


Ace menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Aku punya janji sama seseorang, Ma. "


Perkataan Ace sukses membuat kedua perempuan berbeda usia itu menatapnya dengan curiga. "Janji? Janji sama siapa? " tanya Intan yang terlihat sekali kalau dia penasaran.


"Seseorang yang mungkin lupa dengan apa yang aku janjikan. Tapi mungkin dia tidak mengira kalau aku akan datang secepat ini."


"Siapa sih? Mama jadi penasaran. Kamu ada bisnis sama seseorang? " tanya Intan yang sudah melupakan ponselnya.


Ace tersenyum dan ditatapnya dengan lembut gadis yang kini selalu mengisi hatinya. Rain mengerjap dan seolah mengingat-ingat sesuatu. Kemudian matanya membulat setelah ia ingat akan sesuatu.


Rain menatap Ace yang masih saja tersenyum dengan manisnya. Intan melihat kedua anak muda itu dengan heran. "Hei, kalian kenapa sih? Kok kayaknya ada sesuatu gitu? "


Rain kebingungan. Ace kembali menatap ibunya masih dengan senyuman nya yang manis. "Nanti aku kabari Mama lagi kalau sudah ada kemajuan. Aku cuma mau ngingetin seseorang itu aja. Kalau sudah ada jawaban dari dia akan aku diskusikan dengan Mama. "


Kemudian Ace pergi meninggalkan Rain yang gugup dan Intan yang kebingungan. Ace berbalik sebentar dan dilihatnya lagi gadisnya itu. Senyumnya tampak mengembang saat Rain balas menatapnya.


"𝘈𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘨𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘵𝘢-𝘬𝘢𝘵𝘢𝘬𝘶 𝘸𝘢𝘭𝘢𝘶𝘱𝘶𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘱𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘫𝘢𝘶𝘩 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘱𝘦𝘳𝘬𝘪𝘳𝘢𝘢𝘯. 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱 𝘱𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨. 𝘈𝘬𝘶 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘢𝘶 𝘣𝘢𝘩𝘸𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳-𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘴𝘦𝘳𝘪𝘶𝘴 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶. 𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘶𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘨𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶𝘮𝘶. "


Intan dapat merasakan ada sesuatu yang tidak beres dengan dua anak muda yang saling jatuh cinta itu. Intan tersenyum menggoda Rain. "Ekhem, ada yang main rahasia-rahasiaan ini rupanya. Tapi Ibu tunggu kabar baiknya aja. Ibu harap, kalian tidak mengecewakan Ibu. "


Walaupun dengan senyuman jahil, tapi Rain tau kalau Intan benar-benar serius mengucapkan itu. Rain menjadi semakin gugup.


Sebenarnya, kalau keadaannya tidak seperti ini, mungkin Rain akan dengan senang hati menerima apa yang diinginkan Ace. Tapi keadaan keluarga dan dirinya sendiri sungguh membuatnya bingung. Sekarang, Rain ingin mencari tau terlebih dahulu tentang keluarga nya. Ia tidak ingin membawa orang lain masuk ke dalam permasalahan keluarga yang bahkan dirinya sendiri tidak mengerti.


.

__ADS_1


.


.


.


"Mamamu dimana? " tanya Ardian pada Ace yang sedang sibuk dengan laptopnya di kamarnya.


"Lagi di kamarnya Rain, " jawabnya. Menatap sekilas pada ayahnya yang berdiri di sampingnya.


"Oh."


Ace merasakan ada sesuatu yang tidak benar pada ayahnya. Ace menatapnya untuk memastikan itu. "Ada masalah, Pa? "


Ardian hanya tersenyum. Kini tubuhnya ia duduk kan di ranjang anaknya. Ace kembali serius dengan laptopnya.


"Apa kamu tidak merasa kalau perhatian Mama mu terlalu berlebihan untuk Rain? "


Ace menghentikan aktivitas nya dan kembali menatap ayahnya. Tatapan bingung ia berikan pada ayahnya. "Aku rasa tidak. "


"Apa kamu tidak merasa cemburu atau iri? "


Ace tertawa pelan. Pertanyaan macam apa itu? "Tentu saja tidak. Aku bukan anak kecil, Pa. Kenapa harus cemburu padanya? " Sebenarnya Ace merasakan itu saat Rain baru-baru tinggal di rumah nya. Tapi sekarang tidak sama sekali.


"Memang nya ada apa? "


Ardian tersenyum kemudian bangkit dari duduknya. "Tidak ada. Ya sudah, lanjutkan pekerjaan mu. Papa keluar dulu. "


Ace tidak menjawabnya tapi malah menatap kepergian ayahnya dengan bingung. "Apa Papa sebenarnya tidak setuju aku memiliki hubungan dengan Rain? Kenapa sikapnya aneh sekali? "


.


.


"Terima kasih, Bu. Ibu tidak menjelaskan semuanya pada keluarga saya. "


"Ibu tau kamu butuh waktu. Kamu bisa menjelaskan sendiri pada mereka. Yakinlah mereka akan menerima semuanya dengan lapang. Mereka sangat menyayangimu. Lagipula, kita sebagai manusia hanya bisa mencegah, kita juga tidak tau akan ada musibah apa di hari kemudian. "


Rain menunduk dengan sedih. Ia tahan air matanya agar tidak tumpah. Ia tak ingin melihat Intan lebih khawatir lagi padanya.


"𝘚𝘦𝘢𝘯𝘥𝘢𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘯𝘪, 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘯𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘢𝘥𝘢𝘱𝘪 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳𝘨𝘢 𝘬𝘶. 𝘛𝘢𝘱𝘪, 𝘬𝘦𝘯𝘺𝘢𝘵𝘢𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘩𝘸𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘬𝘢𝘯𝘥𝘶𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘐𝘣𝘶, 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘮𝘢𝘬𝘪𝘯 𝘵𝘢𝘬𝘶𝘵 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘦𝘭𝘢𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢. 𝘈𝘱𝘢𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘢𝘥𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘡𝘦𝘦. 𝘉𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯 𝘳𝘦𝘢𝘬𝘴𝘪 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘪𝘵𝘶 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘵𝘢𝘶 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢? 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘪𝘮𝘱𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢𝘯𝘺𝘢. 𝘊𝘦𝘱𝘢𝘵 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘭𝘢𝘮𝘣𝘢𝘵, 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘶. 𝘈𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘯𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢."

__ADS_1


"Rain, " panggil Intan lirih saat Rain hanya menunduk.


"Ya, Bu? "


"Ibu mendukung mu. Lebih baik kamu katakan masalah ini pada keluarga mu sebelum ada orang lain yang memberi tau mereka terlebih dahulu. Yakinlah mereka akan tetap menerimamu. Karena umur setiap manusia sudah ditetapkan oleh yang maha Kuasa. Kita juga tidak bisa mengira seperti apa caranya. "


Rain menatap Intan dengan sendu. "Saya akan tetap bicara pada mereka. Saya tidak ingin mereka sakit hati karena mendengar semua ini dari orang lain. Tapi saya masih butuh waktu. Kesehatan Ibu saya juga kurang stabil. Saya tidak ingin dia lebih terbebani. "


Intan tersenyum menatapnya. "Untuk saat ini, mungkin masih bisa terkendali. Ibu tau, kejadian ini adalah hal yang berat untukmu. Tapi Ibu bangga sama kamu, kamu anak yang kuat. Kamu masih bisa tegar. Mungkin Ibu malah tidak sekuat kamu saat menghadapi masalah seperti ini. "


Intan tersenyum. Tapi senyuman nya mengisyaratkan rasa sakit yang berusaha ia sembunyikan. Mengingat ia yang memang tidak sekuat gadis yang ada di samping nya saat ini.


"Saya tidak sekuat yang Ibu ucapkan. Saya juga rapuh. Tapi berkat Ibu dan orang-orang di sekeliling saya, saya bisa sekuat ini. Entah bagaimana kalau saya tidak dikelilingi oleh orang-orang sebaik kalian. "


.


.


.


Suasana di rumah besar itu terasa sunyi. Gelap dan dinginnya malam tak membuat seorang perempuan mengurungkan niatnya untuk berjalan di tepi kolam. Dipandangi nya air yang bergerak tenang itu dengan tatapan datar. Matanya melihat ke sana namun tidak dengan pikirannya.


"Aku belum berterima kasih padamu, Za. Tapi kamu malah tidak ada kabar sama sekali. Apakah kamu juga tidak datang ke rumah sakit untuk menjenguk ku? Aku masih takut untuk datang ke rumah mu. Jujur, aku tak ingin kejadian itu terulang lagi. Aku tidak ingin kita saling menyakiti. Tapi aku harus menemuimu. "


"Apa yang kamu lakukan disini malam-malam begini? "


Pertanyaan itu sukses membuat gadis yang tak lain adalah Rain, terkejut bukan main. Tubuhnya hampir saja jatuh ke kolam. Matanya menatap nyalang seorang pemuda yang sudah membuatnya terkejut.


.


.


.


.


bersambung...


.


.

__ADS_1


.


salam dari Yuya


__ADS_2