Pelangi Tanpa Batas Warna

Pelangi Tanpa Batas Warna
Sebenarnya Tak Ingin Melihat (BL)


__ADS_3

โš ๏ธ Boys Love


.


.


Rain POV


Di malam yang sunyi aku duduk sendiri di balkon. Memandangi bintang-bintang yang sebagian tertutup oleh awan. Hembusan angin yang dingin terasa sejuk menyapu kulitku. Ku minum susu hangat yang sejak tadi menemaniku.


Ini barulah jam delapan malam, tapi suasana di sekitar rumah terasa sepi. Mungkin karena udara yang dingin ini. Aku bahkan bisa mendengar beberapa penjaga sedang berkeliaran di sekitar rumah sambil mengobrol pelan. Padahal biasanya aku tidak mendengar itu.


Aku menikmati waktu sendiriku dalam suasana yang gelap karena lampu di balkon tidak semuanya dinyalakan. Aku duduk di kegelapan karena tidak ingin para penjaga itu melihatku.


Saat kusandarkan tubuhku pada kursi yang aku duduki, aku mendengar langkah kaki mendekati balkon. Sepertinya bukan hanya satu orang.


Aku masih diam di tempatku saat ada dua orang muncul di hadapanku. Aku tidak yakin mereka melihatku yang duduk di kegelapan, karena yang mereka lakukan selanjutnya jelas membuatku tercengang.


Si angkuh tanpa aba-aba memeluk dengan mesra si gemulai. Begitupun dengan si gemulai. Mereka saling merengkuh dan mengeratkan pelukan masing-masing.


Terdengar suara nafas yang memburu dari mereka. Tubuhku sampai panas karena merasa tak nyaman dengan apa yang mereka lakukan.


Si angkuh menc***mi leher si gemulai sambil menghirupnya. Telingaku panas mendengar suara-suara aneh dari mulut mereka. Apa hal seperti ini sering mereka lakukan? Aku seketika mual dengan kelakuan mereka.


Ya. Siapa lagi kalau bukan Ace dan Kana.


Aku berdiri hendak pergi dari situasi ini. Tapi kata-kata Ace membuat aku mengurungkan niatku dan kembali duduk.


"Apapun yang terjadi, percayalah, aku tetap milikmu. Jangan hiraukan orang lain. Aku akan tetap melindungimu. Biarpun orang memandang hina diriku dan biarpun neraka terbuka lebar untukku, aku tidak akan menyerah dan menyesal dengan keadaan ini. Kamu bersabarlah. Aku sangat menyayangi dan mencintaimu. " Ace memeluk kembali Kana yang tampaknya menangis.


Aku mengerutkan keningku. Apa yang terjadi sehingga Kana terlihat begitu menyedihkan? Dan sungguh kata-kata Ace membuatku ingin tertawa. Biarpun neraka terbuka lebar untuknya katanya? Apa dia seyakin itu hingga menganggap remeh sebuah neraka? Sungguh kelakuan mereka membuatku bergidik.


Aku menyeruput susu hangatku sambil memperhatikan mereka yang masih berpelukan. Mereka melepas pelukan dan saling menatap. Apalagi selanjutnya?


Mereka mendekatkan wajah mereka perlahan.


Kurang kerjaan sekali aku ini, akan melihat k**s scene Boys Love secara langsung? Jujur aku belum pernah melihat hal itu dengan sengaja. Kalau aku melihat hal itu, itu adalah kecelakaan untuk mataku. ๐Ÿ˜โœŒ


Apa seharusnya aku memisahkan mereka?


Mereka saling menatap dalam diam. Ku kira akan ada adegan itu... Hahaha... Konyol sekali aku. Jangan salahkan aku berpikiran begitu, karena posisi mereka saja seperti itu.


"Maaf untuk apa yang aku lakukan pada Rain tadi. Aku tidak bermaksud menyakitimu. " Ucap Ace penuh sesal. Kurasa ini pertama kalinya aku mendengar Ace menyebut namaku.


Aku tertegun. Jadi ini ada hubungannya denganku? Apa Kana cemburu? Ya tentu saja iya...


"Iya. Aku tau kakak tidak ada niatan yang aneh. Aku selalu sayang kakak. " Ucap Kana di sela isakannya. Ace mengecup kening Kana.


"Sudahlah, jangan menangis lagi. Sayang air matamu kalau harus terbuang untuk sesuatu yang tidak jelas. " Ace mengusap mata dan pipi Kana. Kana mengangguk.


Kana merasa cemburu, tapi dia tidak marah malah hanya menangis? Bahkan dia tetap lengket pada Ace. Apa ini bisa jadi pelajaran baru untuk pasangan yang neko-neko agar mereka tetap bersama kita? Dengan tetap mesra. Haha... Tapi kalau pasangannya berengsek pasti ini adalah hal yang menguntungkan.


Aku merilekskan tubuhku yang sempat tegang tadi. Menatap sepasang kekasih itu dengan santai.


Mereka saling pandang dan tersenyum. Mendekatkan kembali wajah mereka. Aku menunduk, tidak ingin melihat kelanjutannya. Namun seketika aku kembali menatap mereka saat suara yang familiar keluar dari mulutku.


Hick

__ADS_1


Aku melotot karena tiba-tiba aku cegukan. Mereka menghentikan aksi mereka dan senyuman di wajah mereka pun hilang.


Hick


Mereka menatap ke arahku dengan tatapan horror.


Hick


Alamak...


.


.


.


.


Aku ditarik keluar dari kegelapan oleh dua orang itu. Wajah mereka terlihat tidak bersahabat. Aku sebenarnya santai saja. Toh ini juga bukan salahku. Salah mereka kenapa melakukan hal itu di sini.


"Loe itu kurang ajar ya jadi orang! Lancang tau gak?! " Ucap Ace penuh emosi.


"Hah? Lancang? Hick. Eh... Gue gak salah ya, tuan. Salahkan diri kalian sen- hick diri. " Haduh... Cegukan ini menyusahkanku.


"Terus loe ngapain diem di situ. Mana gue tau kalo ada orang duduk di gelap-gelapan sendirian. Lagian disitu gak ditaruh kursi. Mana gue ada pikiran orang mau duduk di situ." Aku hanya diam.


Memang sih... Aku membawa kursi plastik ini dari kamarku. Ya karena aku ingin duduk di bagian gelap itu. Karena kursi di balkon tidak bisa dipindahkan.


"Tapi itu bukan alasan loe salahin gue. "


"Amit-amit gue kalo sengaja lihat kelakuan kalian. Harusnya kalian sadar diri. Jangan mentang-mentang ini rumah punya kalian terus kalian seenaknya gini gitu di mana-mana. Kalo sampe ada orang lain selain gue yang liat kelakuan kalian, apa kalian akan marah juga? " Mereka diam.


"Loe berdua liat gak sih tu di bawah banyak penjaga berkeliaran? Apa mereka sebenarnya udah terbiasa menonton kegiatan kalian? " Ucapku sinis masih diikuti cegukan.


"Kalo gitu kejadiannya, ya loe gak perlu marah lah. Loe nya aja gak kasih privasi. " Ace terlihat sangat kesal dan Kana tampak salah tingkah.


"Gue gak mau cari ribut. Gue di sini niat kerja, bukan cari masalah sama kalian. Kalo emang loe gak mau sampe gue liat kelakuan kalian, ya... Loe... Loe pikir sendiri lah gimana. " Aku membuang nafas kasar.


Sebenarnya aku sedikit kesal karena mereka menyalahkanku. Tapi aku bingung sendiri harus seperti apa menyikapi kelakuan mereka. Ini adalah rumah mereka.


Mereka tidak hati-hati dengan kelakuan mereka tapi saat diketahui oleh orang lain, mereka marah. Haah....


Kami berdiri dalam diam. Hanya terdengar suara cegukan dari mulutku yang belum juga hilang. Yang satu ini juga membuatku kesal.


Aku hendak beranjak pergi meninggalkan mereka. Tapi sebuah tangan meraih pergelangan tanganku dan menghentikan langkahku.


Aku berbalik dan ternyata Kana yang melakukan itu. Ace tampak menatap tajam tanganku.


"Ada apa? " Tanyaku datar.


"Bukankah kamu dan kakak bertanding kemarin? Bagaimana dengan hasilnya? "


Aku menatap sekilas pada Ace lalu menatap Kana kembali. "Lupakan saja. Lagipula itu tidak penting. " Ucapku dan melepas tanganku dari genggamannya.


Aku berjalan meninggalkan mereka. Tapi saat baru lima langkah aku berjalan, aku mendengar suara Ace yang mengejekku. "Cih! Pecundang! Sudah tau kalah tapi malah lari dari tanggung jawab."


Aku berbalik dan menatapnya tajam. "Apa aku tidak salah dengar? Lari dari tanggung jawab? Memang apa yang aku lakukan? "

__ADS_1


"Apa kamu takut karena kamu kalah? Makanya kamu pergi dan tidak ingin membayar kekalahanmu. " Aku memejamkan mataku mencoba bersabar saat melihat wajahnya yang begitu menjengkelkan.


"Untuk apa takut? Toh yang menang juga aku. "


"Ha? Kamu yang menang? Aku yang menang, bukan kamu. Gerakanku saja lebih cepat darimu. "


"Kamu lebih cepat tapi kamu juga lebih dulu kalah. "


"Pokoknya aku yang menang! "


"Aku! "


"Tidak, aku! "


"Akuuu! Hick. "


"Pffttt. Hahaha..." Ace tertawa terbahak-bahak karena cegukan terdengar lagi dari mulutku.


Aku menatapnya kesal dan menghentakkan kakiku. Aku menginjak kakinya dan dia berteriak kesakitan.


"Aw! Aduh... Sakit, g*b**k! "


Ace memegangi kakinya sambil meringis. "Loe bilang gak mau cari masalah, terus ini apa? Seenaknya sama tuan rumah. "


Sudah berubah jadi loe gue?


" Hei! Loe sendiri cari masalah. "


"Bukan gue tapi loe! "


"Loe! "


"Loe, bukan gue! "


"Pokoknya loe! Titik! " Ucapku yang tidak sadar entah sejak kapan aku berada tepat di depan wajahnya.


.


.


.


.


bersambung...


Hai teman-teman sekalian๐Ÿค—๐Ÿค—


semoga kalian gak bosen dengan kelanjutan karyaku ini. karya yang masih di bawah rata-rata.


makasih atas dukungan kalian...


apapun itu aku senang karena kalian mau hadir ke karya kecilku ini.


kurang lebihnya mohon dimaafkan ya...


salam dari yuya๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜

__ADS_1


__ADS_2