Pelangi Tanpa Batas Warna

Pelangi Tanpa Batas Warna
Apa Alasannya?!


__ADS_3

Zee yang baru saja sampai, melompat-lompat girang dan bergelayut di tangan Rain.


"Kakak. Tadi aku tu papasan sama kak Arza di jalan. Dia senyum sama aku. Hiiii... Meleleh deh aku liat dia." Zee seakan ingin jingkrak-jingkrak di depan kakaknya. Tidak peduli betapa dinginnya wajah ibu dan kakak laki-lakinya. Rain sudah tampak pucat ketakutan melihat wajah menakutkan ibunya.


"Ehm... Dek. Tangannya kakak ini lagi sakit loh. Kamu coba gak usah nempel kakak terus. " Ucap Rain lembut, berusaha tenang dan mengalihkan perhatian.


"Kenapa emangnya tangannya kakak? " Zee memperhatikan kedua tangan Rain. Rain membuka telapak tangannya. Zee menatapnya tanpa ekspresi. "Cuma lecet gitu doang, kak. "


Pak Djaja menceritakan kejadian yang menimpa Rain. Hastini dan Zee tampak membelalak terkejut.


Rain juga menjelaskan kalau Arza yang mengantarkan Rain pulang.


"Kamu tau siapa pelakunya? " Tanya Hastini.


"Nggak, bu. Dia udah putar balik duluan waktu saya menoleh melihat dia. Mungkin orang gak penting, bu. Biarin aja. "


"Kenapa terus saja ada orang yang ingin mencelakai kamu? " Hastini tampak resah.


"Udah biarin aja, gak pa-pa. Lagian saya juga gak kenapa-kenapa. Mungkin mereka gak suka sama orang yang galak kayak saya. Udah biasa. Saya mau masuk dulu, mau bersih-bersih. Udah mau adzan ini. " Rain beranjak masuk meninggalkan mereka. Dia bisa bernafas lega.


Akhirnya lepas juga dia dari tatapan maut ibunya.


"Apa tadi itu Reynald? " Ucap pak Djaja tiba-tiba setelah Rain pergi. Tatapannya menerawang seolah tidak berbicara dengan orang yang ada didekatnya.


"Maksud bapak siapa? " Hastini bertanya.


"Temannya Rain tadi, yang antar Rain pulang. "


Kini Zee menyahut, "Bukan, pak. Namanya Arza. Kan tadi kakak udah bilang. Emang kenapa? "


"Dia mirip dengan orang yang bapak kenal. Tapi jelas dia masih terlalu muda. Tidak, tidak. Mungkin itu bukan dia. Tapi apa mungkin.... " Pak Djaja terus berbicara sendiri.


Hastini dan kedua anaknya saling menatap bingung.


"Bapak kenapa sih? " Tanya Hastini.


Pak Djaja masih tampak berpikir. Tidak menjawab pertanyaan istrinya dan juga tidak merespon kebingungan anak-anaknya.


.


.


.


.


Ketika malam tiba....


Rain yang memang tidak berencana ke resto, dia hanya duduk dengan santai sambil menonton TV bersama kedua saudaranya.


Kakinya baru saja diurut oleh seorang perempuan tua yang memang ahli dalam mengurut. Kini kakinya sudah tidak terlalu sakit lagi. Hanya saja, telapak tangannya masih terasa perih.


Perempuan tua itu baru saja diantar pulang oleh Arka.


Pak Djaja dan istrinya berada di dapur. Hastini awalnya tidak merasa aneh dengan sikap suaminya. Tapi pak Djaja terus termenung sehingga membuat Hastini bingung.


"Bapak kenapa sebenarnya? " Tanya Hastini lirih sambil mengelus lembut punggung tangan suaminya.


"Bapak takut, bu. Bapak takut mereka datang lagi untuk mencelakai Rain. Apa kita harus pergi lagi? " Pak Djaja tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya. Hastini tercengang. "Maksud bapak apa? "


"Anak tadi sangat mirip dengan Geraldi, orang yang bapak kenal. "


Hastini mengerutkan dahinya. "Bapak tidak pernah bercerita tentang Geraldi sebelumnya. Lagipula tadi bapak bilang anak itu Reynald, bukan Geraldi. Siapa dia? "


"Reynald adalah anak dari Geraldi, salah satu ajudan bu Atmawati. " Kini raut wajah Hastini menegang, diam dengan mata yang seolah tak bisa berkedip.


"Pak, bu. Ada apa? " Ucap Rain yang tiba-tiba masuk ke dapur. Kedua orang tuanya tampak terkejut lalu memperbaiki ekspresi mereka.

__ADS_1


"Eh! Gak pa-pa, neng. Kamu mau apa? " Ucap Pak Djaja lembut.


"Saya haus, Pak. Mau ambil minum. " Rain berjalan ke arah kulkas dan mengambil sebotol air minum. Sebenarnya Rain merasa curiga dengan diamnya orang tuanya. Tapi dia tidak bertanya lebih.


Pikirnya, kalau memang orang tuanya ingin berbagi cerita, pastilah mereka sudah bercerita sendiri tanpa harus ditanya.


Rain pun kembali ke ruang depan menemani kedua saudaranya.


Rain menceritakan kembali apa yang diceritakan oleh Arza tentang pak Ramli. Zee merespon dengan sesekali menganggukkan kepalanya.


Sementara Arka sesekali melirik kedua adiknya sambil asyik menonton TV dan makan camilan.


"Pantas saja Risya itu keliatan tua. Ternyata emang dia gak seumuran sama kita. "


Rain mengernyit. "Kamu punya pikiran begitu?"


"Iya lah. "


"Tapi kan dia gak tua-tua amat. "


Zee hanya mendengus sambil merengut.


"Tapi aku berterima kasih banget deh sama kak Arza. Entah apa jadinya kelanjutannya kalau tidak ada dia. "


Arka mulai terlihat tak suka.


"Iya, bilang makasih sih boleh. Tapi kamu gak usah terlalu berlebihan begitu. Yang selesaikan masalah ini bukan cuma dia sendiri loh, dek. "


"Iya, aku tau, kak. Aku cuma merasa kagum aja gitu ama dia. Dia tuh udah kayak jadi idolaku yang baru. " Zee mengedikkan bahunya berkali-kali sambil tersenyum pada Rain.


Rain menarik sudut bibirnya kebawah.


"Kakak kapan-kapan tanyain dia dong, dia itu asli mana. Aku tu kepo loh....." Zee merayu.


Rain hanya membuang nafasnya pelan.


"Kamu udah lama kenal Arza, neng? " Tanya pak Djaja tiba-tiba. Rain yang merasa kalau pertanyaan itu untuknya pun menjawab, " Iya, pak. Memangnya kenapa? " Rain merasa ada yang aneh.


"Sebaiknya kamu menjaga jarak dengan dia. Bukan bapak berpikiran buruk, tapi entah kenapa bapak merasa kalau dia itu mirip dengan seseorang yang bapak kenal dulu dan dia bisa saja mencelakai kamu. "


Rain mengernyit mendengar pengakuan ayahnya dan berpikir, mungkinkah ini yang membuat orang tuanya tampak termenung tadi? Kenapa bisa pikirannya sejauh itu?


"Bapak.... Arza itu orang baik. Selama saya berteman dengan dia, dia tidak pernah ada masalah dengan saya. Kalau pun dia ingin mencelakai saya, harusnya sudah dia lakukan dari dulu. Sangat banyak sekali kesempatan untuk melakukan itu. "


Pak Djaja membuang nafas berat. "Bapak hanya khawatir, neng. Bapak takut. Lalu apakah kamu tau asal-usul Arza? Siapa dia dan siapa kedua orang tuanya? " Pak Djaja menatap Rain lekat.


"Saya memang tidak tau siapa kedua orang tuanya. Yang saya tau, kedua orang tuanya itu sudah meninggal."


Pak Djaja tampak terkejut. "Meninggal? "


Rain menatap Pak Djaja sedikit aneh.


Arka yang sudah penasaran pun bertanya, "Memangnya ada apa lagi kali ini, pak? Kenapa juga dengan Arza? "


Kini Pak Djaja yang tampak bingung bertambah bingung dengan tatapan ketiga anaknya. Mereka tampak menunggu jawaban kepastian dari Pak Djaja.


"Pak? " Rain tampak tak sabar.


Pak Djaja mengusap wajahnya kasar. Kepalanya menengadah menatap langit-langit rumah.


"Apa kali ini kita juga harus pergi? Begitu maksud bapak? " Zee tampak sedih dan matanya pun berkaca-kaca.


"Sebenarnya ada masalah apa dengan kakak sampai kita harus pergi menjauh? Bapak selalu lari. Apa bapak gak berniat untuk mengakhiri masalah ini? Masalah yang bahkan kakak sendiri tidak tau apa itu."


Zee mulai menangis. "Hiks...Aku capek, pak. Aku capek harus terus lari dari orang yang tidak jelas. Apakah tidak bisa kita melawan? Kenapa bapak gak mau lapor ke polisi kalau memang itu mengancam keluarga kita? " Air mata Zee jatuh bercucuran. Kini dia terisak dan bahunya bergetar. Hastini pun tak bisa menahan air matanya.


Pak Djaja hanya diam dengan air mata yang berlinang.

__ADS_1


"Apa bapak masih ingat sama Lita? Gadis kecil yang tertabrak mobil saat dia mengejar kepergian kita. Apa bapak ingat?"


Pak Djaja sudah tidak tahan dan menutup wajahnya dengan tangannya. Bahunya bergetar hebat.


"Hiks... Dia meninggal tepat di depan mataku karena aku terlambat datang menemuinya, pak... Hiks..."


"Sudah, sayang. Cukup. " Ucap Hastini dengan suara yang bergetar.


"Nggak, bu. Biarkan bapak ingat. Bahkan bapak saat itu tidak membiarkan aku mengantarkannya ke tempat peristirahatan terakhirnya... Huhuhu.... " Zee menangis keras.


Arka dan Rain ikut menangis dalam diam. Rain berpikir kalau dirinya patut disalahkan, bukan hanya ayahnya.


"Ini semua karena kakak, dek. Jangan salahkan bapak terus, " Ucapnya dengan suara yang bergetar.


Zee menatapnya sendu. "Lalu apa kakak tau apa alasan bapak melakukan itu? Tidak pernah ada satu alasan pun yang keluar dari mulut bapak tentang pelarian kita, kak. Bapak hanya bilang kita harus cepat pergi. Selalu hanya itu. "


Rain yang memang tidak tau alasan jelas kenapa ayahnya melakukan itu, dia hanya terdiam. Rain sendiri tidak tau ada masalah apa ayahnya dengan orang-orang itu.


" Maafkan bapak... " Ucap pak Djaja lirih.


Zee tersenyum miring masih sambil menangis.


"Terserah bapak lah, pak. " Jawabnya lirih. Merasa jemu dengan kata-kata yang sama yang dia dengar kalau menyangkut masalah ini.


Suasana pun hening. Walaupun masih sesekali terdengar isakan dari Zee.


.


.


.


Zee meringkuk di kamarnya ditemani oleh ibunya. Tangisannya sudah berhenti, tapi kesedihan masih terpancar jelas di wajahnya.


Rain, Arka dan Pak Djaja masih duduk di ruang depan. Tiga orang itu diam dengan pikirannya masing-masing.


Rain menghela nafas dan membuangnya perlahan. Matanya sayu memandang seorang lelaki paruh baya yang tampak kusut dan menyedihkan.


"Pak... " Ucap Rain lirih. Pak Djaja menatapnya sekilas lalu menunduk.


"Maafkan Zee kalau kata-katanya menyakiti hati Bapak. Zee terlalu sedih kalau mengingat masa lalu itu. Saya tidak menyalahkan bapak kalau menurut bapak itu yang terbaik untuk kami. " Rain menatap Arka yang juga terdiam lalu kembali menatap Pak Djaja.


"Bukan saya ingin menyalahkan bapak, tapi saya hanya ingin bertanya. Betul-betul ingin tau jawaban bapak. Apakah bapak tidak punya masalah pribadi dengan orang-orang itu? " Pak Djaja menggeleng pelan, tampak tak yakin.


"Jadi masalahnya mereka ada pada saya? " Pak Djaja diam, tampak tak berniat menjawab.


Rain mengatur nafasnya mencoba menenangkan diri.


"Kalau memang pelarian kita selama ini hanya untuk melindungi saya, saya minta bapak tidak perlu melakukan itu lagi. Anak-anak bapak ini sudah besar. Biar kita hadapi sama-sama apa yang akan terjadi. Bapak jangan takut sesuatu akan menimpa saya. Saya ikhlas dengan apa yang akan terjadi. Umur kita sudah diatur oleh yang Maha Kuasa.


Biarpun kita terus lari, belum tentu kita akan selamat. Pelarian kita bahkan mungkin malah menjauhkan kita satu sama lain, pak. Kasian Zee kalau kita terus pergi dari tempat tinggal kita sendiri. Jujur, saya memang masih ingin tau apa penyebabnya mereka mengincar saya. Tapi kalau bapak belum bisa cerita, saya hanya minta... Tetaplah kita untuk tinggal di sini. Di rumah kita sendiri. Jadikan rumah ini rumah terakhir yang kita singgahi.


Apa bapak bisa kabulkan keinginan saya? Bapak jangan menyalahkan diri bapak kalau saya berakhir di tempat ini. Yang penting kita tetap bersama, pak. "


Pak Djaja membuang nafas kasar.


"Baiklah, neng. Kita tidak akan pergi lagi. "


.


.


.


bersambung...


salam dari yuya😊😊

__ADS_1


__ADS_2