Pelangi Tanpa Batas Warna

Pelangi Tanpa Batas Warna
Terjadi Sesuatu


__ADS_3

.


.


Rain tertawa keras sendiri sampai membuat orang-orang itu saling memandang bingung.


"Cukup sudah! Bawa dia pergi. Dia hanya berpura-pura agar kita takut. "


Mereka mengerumuni Rain dan membawanya pergi. Rain tidak melawan dan masih tertawa. Bahkan ketika orang-orang itu melepaskan helm yang dipakainya.


"Gadis seperti ini yang harus kita hadapi bersama? Sungguh diluar dugaan. Lihat bagaimana dia sangat menurut, " ucap salah satu dari mereka sambil menggiring Rain.


"Sudah, diam. Ikat dia dan bawa bersamamu. Kalian sudah pastikan tidak ada orang yang akan melewati jalan ini, kan? "


"Iya. Kami sudah blokir jalan ini. Tapi apa kita bisa membawanya menggunakan motor?"


Si orang pertama yang sepertinya ketua dari orang-orang itu, menatap Rain penuh selidik.


"Sepertinya bisa. Lagipula ini waktu maghrib. Tidak banyak orang yang akan melihat kita. Apalagi jalan juga sudah diblokir. Aku akan memanggil bantuan jika keadaannya tak mendukung. "


"Blokir? " Tanya Rain tiba-tiba.


Mereka yang menggiring Rain berhenti saat tubuh gadis itu kaku dan tak bisa di bawa berjalan seperti tadi.


"Wah... Kebetulan sekali. Berarti kalau ada sesuatu di sini tidak akan ada yang tau? " ucap Rain dengan senyum mengerikannya.


Mereka berlima saling pandang. Kemudian mereka tersenyum penuh arti.


"Kurasa itu menjadi ide yang bagus. Kita bisa bermain dulu dengan gadis setengah gila ini. Kalau dilihat-lihat, dia ini lumayan cantik juga. " Mereka menyeringai melihat Rain dari atas sampai bawah.


"Kalian singkirkan motor-motor itu dulu. Aku akan membawanya ke tempat yang lebih aman, " ucap si ketua.


Rain tersenyum penuh arti, tapi orang-orang itu mengartikan senyuman Rain seperti menggoda mereka. Ditambah lagi sikap Rain yang sangat menurut dibawa oleh mereka.


Apalagi mengingat ucapannya tentang pelampiasan dan terjadi sesuatu. Mereka bertambah yakin dengan dugaan mereka.


Mereka membawa Rain ke sebuah lahan kosong yang jaraknya cukup jauh dari tempat tadi. Namun karena tempat itu memang sepi, tak ada seorang pun yang tau dengan apa yang mereka lakukan.


Apalagi hari sudah mulai gelap dan terasa sunyi dimana-mana. Membuat mereka tenang dengan apa yang mereka lakukan.


Namun sebuah deringan ponsel membuat mereka menghentikan langkah. Si pemilik ponsel segera mengambil benda itu dari kantung celananya.


"Ya, halo? "


".... "


"Kami sudah mendapatkannya. Kami akan segera membawanya padamu, tenang saja," ucap orang itu sambil melirik Rain dengan senyuman menakutkan.


Rain diam tanpa ekspresi.


"Apa? Hati-hati? " Dia tertawa. "Aku merasa tak percaya kamu menyuruhku berhati-hati. Tenanglah, dia bahkan sangat menurut. Kami akan membawanya padamu setelah urusan kami selesai. "

__ADS_1


"..... "


"Kami tidak salah orang. Dia jelas sama dengan orang yang ada di foto. Sudahlah, kamu tenang saja. Kami bahkan berlima dan dia hanya seorang perempuan."


Orang itu menutup panggilannya dengan kesal dan kembali pada teman-temannya. "Ayo lanjutkan. "


Si ketua bertanya, "Apa yang membuatnya khawatir sampai menyuruh kita berhati-hati? "


Yang ditanya hanya mengedikkan bahu. Lalu mereka kembali berjalan sampai menemukan tempat yang mereka anggap aman.


"Sepertinya ini sudah cukup jauh. "


"Dekat sekalipun, jalan ini sangat sepi. Apalagi dalam waktu sore begini, " jawab yang lain.


Mereka mengelilingi Rain. Si ketua berada paling dekat dengannya. Rain mendongak menatap laki-laki tinggi yang sebenarnya tidak jelek.


Rain tertawa dalam hati. Melihat kepercayaan diri mereka. "𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘶-𝘮𝘢𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘪𝘴𝘶𝘳𝘶𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘶𝘭𝘪𝘬𝘬𝘶? "


"Berbuatlah sesuatu agar memberiku alasan untuk melakukan hal yang lebih pada kalian, " ucap Rain tenang. Dirinya sendiri merasa tidak se emosi tadi. Tapi dia sangat berambisi untuk menghajar mereka.


"Sepertinya kamu sudah tidak sabar. Baiklah." Si ketua melepaskan jaketnya dan jaket yang dipakai Rain. Lalu melepaskan tali yang mengikat rambutnya. "Kamu terlihat cantik dengan rambut tergerai, " ucapnya sambil mengusap wajah Rain.


Rain memandangnya sekilas lalu menunduk."Kuharap kalian tidak menyesal karena tidak mengikat ku, " ucapnya. Menghentikan pergerakan orang di hadapannya.


Namun si ketua tidak peduli dan melanjutkan apa yang menjadi keinginannya. Tangannya sudah mengusap punggung Rain. Namun gadis itu masih menunduk. Laki-laki itu akhirnya memeluknya. Memeluk dengan erat tak ingin membuat Rain pergi.


Teman-temannya berbalik tak ingin melihat. Memilih menjadi penjaga daripada menonton. Membuat pagar pelindung untuk ketua mereka dari jarak yang jauh.


Mereka hanya menelan ludah sambil sesekali memegangi tengkuk mereka. Mencoba mengalihkan perhatian agar tak menghiraukan suara di belakang mereka.


Mereka masih diam disana saat ketua mereka mengerang dengan keras. Mereka saling pandang bingung. Salah satu dari mereka mengisyaratkan untuk tak terkecoh.


"Apakah se- emmm... itu? " ucap salah satu dari mereka sambil membuat tanda kutip dengan kedua tangannya. Wajahnya terlihat gelisah.


"Sssttt... Diamlah. Kalau kamu mau, kamu bisa mencobanya nanti, " jawab yang lain sambil mengedipkan matanya.


Yang dilihat tersenyum kecut. "Sebenarnya aku tidak mau yang bekas. " Mereka tertawa pelan.


Setelah lama, suara gedebuk itu tak terdengar lagi. Namun, masih terdengar geraman dari ketua mereka. Sementara suara Rain tidak terdengar sama sekali, bahkan sejak tadi.


"Apakah sudah? " Mereka saling pandang.


"Mungkin, " jawab yang lain.


"Ekhem! "


Suara deheman itu membuat mereka terpaku. Entah apa yang ada di pikiran mereka ketika mendengar suara perempuan itu.


Mereka pun berbalik. Namun sesuatu yang mereka lihat membuat mereka melotot dan berteriak, " Bos!!"


Mereka berlari menghampiri orang yang meringkuk di tanah tanpa mengenakan baju. Mulutnya disumpali kain, bahkan ditambah lagi dengan ikatan di mulut itu. Sepertinya bajunya sendiri yang dipakai menyumpal mulutnya.Tangannya terlihat bengkok. Orang itu masih mengerang kesakitan bahkan sampai menangis.

__ADS_1


Mereka sekarang tau. Bos mereka mengerang, bukanlah karena seperti yang ada di pikiran mereka.


Kemudian mereka teringat pada Rain. Tadi mereka tak sadar dengan keberadaan gadis itu karena panik ketika melihat bos mereka.


Mereka berbalik. Terlihatlah sosok yang berdiri dengan mata yang tajam. Rambut dan pakaiannya sudah berantakan.


Sosok itu menatap mereka dengan senyuman mengerikan. "Apa kalian sudah siap? Melayani gadis setengah gila ini? Hahahaha.." Rain tertawa dengan lebar.


Mereka menelan ludah kasar. Merasakan sesak ketika melihat Rain yang seolah berubah. Namun karena erangan bos mereka, mereka akhirnya sadar dan mulai emosi. Mereka berlari menghampiri Rain. Mencoba melawan gadis itu.


Rain dengan senang hati melayani mereka. Mengimbangi setiap serangan yang ditujukan padanya.


Rain berhenti sejenak. "Aku akan mengabulkan keinginan kalian. Bukankah hal seperti orang itu yang kalian inginkan? " Lalu menatap orang yang meringkuk di tanah.


Keempat orang di hadapannya menatap dengan geram. "Sepertinya kamulah yang akan berada di posisi itu. "


Mereka kembali beradu. Rain sama sekali tidak terlihat kewalahan. Bahkan salah satu dari mereka sudah tumbang dan meringkuk di tanah.


Mereka berhenti dan Rain menunggu mereka dengan sabar. Tiga lelaki itu terengah-engah.


"Panggil bantuan sekarang, " ucap salah satu dari mereka lalu kembali menyerang Rain.


Hari semakin gelap, namun tidak membuat Rain kesulitan. Gadis itu malah terlihat lincah dan menampilkan senyuman ketika mereka menatapnya.


"Aku... Sepertinya sudah tidak kuat. Hah hah.." Satu lagi dari mereka kalah dan hanya duduk di tanah.


Kini tinggal Rain dan dua lelaki dengan perawakan yang tinggi besar, sama seperti orang pertama tadi.


Rain memiringkan kepalanya saat mereka diam sambil mengatur nafas. "Seharusnya kalian mendengarkan agar berhati-hati denganku, " ucapnya tersenyum manis.


Dua orang itu bersiap menyerangnya lagi. Namun Rain melongo saat satu dari mereka malah lari ke rerumputan dan bukan lari menyerangnya.


Orang itu kesulitan berjalan disana. Rain menatapnya aneh lalu kembali melihat satu orang yang tersisa. Orang itu juga terlihat aneh.


"Apa yang-"


Rain belum sempat melanjutkan, tapi orang itu sudah lari terlebih dulu. Rain mengejarnya. Mereka berlari ke jalan semula.


Saat mereka hampir sampai, Rain menghentikan langkahnya ketika melihat beberapa orang turun dari mobil.


.


.


bersambung...


.


.


.

__ADS_1


salam dari Yuya 😘😘😘


__ADS_2