
.
.
"Innalillahi wa inna ilaihi rajiun... " Aku berdiri mematung dengan air mata yang menggenang. Mataku terbelalak dan nafasku tercekat. Aku tidak percaya bapakku sudah pergi...
Ibu berteriak histeris sementara Zee sudah pingsan dan jatuh ke lantai. Seseorang menahannya hingga tubuhnya tidak jatuh dengan keras.
"Ba-bapak... K-kenapa? " Aku masih mematung.
Aku tidak tau apa yang terjadi denganku. Sampai aku mendengar suara seseorang.
"Istighfar, neng! Sadar! " Ucapnya sambil mengguncang tubuhku. Aku segera sadar dan berhambur memeluk bapakku yang sudah tak bernyawa.
"Bapak... Bapak kenapa tinggalin Rain, pak...?"
Aku memeluknya dan membenamkan wajahku di dadanya. Tidak ada lagi detak jantung yang terdengar, tapi aku masih bisa merasakan tubuhnya yang masih hangat.
"Bapak... "
Aku mengguncangkan pelan tubuhnya sambil terus memanggilnya. Ibu menangis meraung-raung sambil memeluknya.
Aku bisa merasakan tangan seseorang mengusap-usap punggungku. Aku membiarkannya.
Sangat lama kami menangisi kepergian bapak Sampai sang ustadz menegur ibuku.
"Bu, saya mohon maaf. Tapi sebaiknya kita segera membawa almarhum pulang untuk dimandikan. "
Ibuku masih menangis dan menatap sendu wajah bapakku. Lama kemudian dia hanya mengangguk.
Zee masih belum sadar. Sekarang dia sedang dibaringkan di ranjang lain di ruangan itu.
Aku melihat sekeliling, tapi aku tidak melihat abangku. Dimana dia?
"Bu... " Ucapku dengan suara bergetar.
Ibu mendongak menatapku. "Ya. " Jawabnya lirih.
"Dimana bang Arka? "
Seketika air matanya kembali jatuh dengan deras. Ada apa? Dimana abangku dan apa yang terjadi padanya?
"Abangmu tidak di sini. Dia dirujuk ke rumah sakit yang lebih besar. " Ucapnya setelah bisa mengendalikan tangisannya.
"Sejak kapan? "
"Sejak kecelakaan, abangmu sudah tidak sadarkan diri dan dia langsung di rujuk ke sana."
Ya Allah... Bahkan abangku yang pergi bersamanya tadi pagi, tidak tau kalau bapak sudah meninggal.
Apa jadinya dengannya kalau tau bapak sudah tidak ada?
"Kenapa dengan abang, bu? " Tapi ibu tidak menjawab.
"Kenapa bapak gak dibawa ke sana juga? "
"Bapakmu sudah tidak kuat, sayang. Rumah sakit sana terlalu jauh. "
"Tapi... "
Pikiranku berkecamuk. Tapi mau bagaimana lagi. Mungkin ini memang sudah takdirnya. Andai pun bapak dibawa ke sana, belum tentu juga bapak masih ada.
Aku tidak bisa terus menyalahkan keadaan. Keadaan ibu juga sedang tidak baik sekarang. Lebih baik aku diam.
Lalu bagaimana dengan abangku di sana? Dia sendirian dan bagaimana kondisinya?
\=\=\=**\=\=\=
__ADS_1
Akhirnya kamipun membawa almarhum bapak untuk pulang. Sesampainya di rumah, kami sudah disambut oleh para tetangga.
Mereka tampak ikut sedih dan bahkan menangis dengan kedatangan kami.
Ibu yang bahkan tidak berhenti menangis, tak mampu berbicara apapun pada mereka.
Orang-orang menurunkan jasad bapak dari dalam ambulans. Hatiku sakit sekali melihat pemandangan itu. Mereka menggotongnya perlahan dengan hati-hati.
.
\=\=\=\=**\=\=\=\=
.
Aku masih berdiri mematung di depan makam bapakku. Zee dan ibu tidak berhenti menangis walaupun mata mereka sudah bengkak. Hanya ada kami bertiga.
Padahal tadi pagi bapakku masih duduk bersamaku dan tersenyum padaku. Sekarang, tatapanku padanya akan terus terhalang oleh gundukan tanah ini.
Bapak... Semoga engkau tenang di sana. Seperti pesanmu, aku akan menjaga ibu dan Zee sekuat tenagaku.
Aku mengingat kembali kakak laki-lakiku. Apakah dia bisa menerima kenyataan kalau bapak sudah tiada. Bahkan kondisinya saat ini sangat memprihatinkan.
Ibuku bilang, bang Arka mengalami kerusakan yang parah pada satu kakinya yang mengharuskannya untuk menjalani operasi. Membayangkannya saja sudah membuat hatiku sakit.
Aku mencoba bersabar dan ikhlas untuk mereka saat ini. Walaupun hatiku sendiri sangatlah rapuh.
Entah seperti apa hancurnya perasaan bang Arka. Aku tidak tau apa yang akan terjadi setelah dia mengetahui semuanya nanti.
\=\=\=\=**\=\=\=\=
Author POV
"Maafkan aku dengan kepergianku. Aku sudah membawa luka yang sangat besar untukmu selama ini. Tapi itulah caraku untuk melindungimu dan buah hati kita. Selamat tinggal untuk selamanya. Aku selalu menyayangimu, cinta pertamaku. "
"Haah!! "
Seorang perempuan terbangun dari tidurnya. Terengah-engah seolah sehabis berlari. Dia termenung beberapa saat dan bergumam.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Bapak sayang Arka. Sampai kapan pun Arka akan menjadi jagoannya bapak. Walaupun kini Arka sudah punya dua adik, tapi Arka tetap yang pertama. "
"Aku sayang bapak. "
"Bapak juga sayang Arka. Arka baik-baik, ya. Jaga Rain sama Zee kalau bapak lagi pergi. Kan Arka jagoan. "
"Tentu, pak. Arka akan selalu jaga mereka. Bapak jangan khawatir. "
"Kalau begitu bapak pergi dulu. Mana tos nya?"
Arka kecil menempelkan tinjunya pada Pak Djaja. Terlihat senyuman hangat dari keduanya.
Pak Djaja melangkah meninggalkan Arka. Arka terus menatap kepergiannya hingga matanya terbelalak ketika melihat Pak Djaja yang tiba-tiba tertabrak mobil dengan sangat keras, sehingga tubuhnya terpental jauh.
Arka berteriak memanggilnya dan ingin menghampirinya, tapi tubuhnya tak bisa bergerak dan dia hanya bisa berteriak ditempat.
"Bapak!!!!... Bapak!!!... " Arka kecil berteriak dengan tangisan yang memilukan.
"Bapak! "
"Haah!! " Arka terengah-engah setelah dia tersadar. Matanya terbelalak menatap ruang kosong. Sekelebat ingatan akan kecelakaan itu melintas kembali di kepalanya.
"Bang Arka? Abang sudah bangun? " Arka menatap orang yang memanggilnya.
"Rain? "
"Iya, bang. Gimana keadaan abang? Aku panggilin dokter dulu, ya. Abang tunggu sebentar. "
__ADS_1
Rain hendak pergi tapi Arka mencekal pergelangan tangannya.
"Abang baik-baik aja. Gak usah panggil dokter dulu. "
"Tapi bang-"
"Kamu duduk aja dulu di sini. "
Rain menurut dan kembali duduk.
Arka menatap langit-langit kamar. "Abang kangen sama bapak, dek, " Ucap Arka pelan. Rain hanya menunduk.
Arka mengingat kembali saat sebelum tragedi kecelakaan yang menimpanya dan ayahnya.
"Pak, aku boleh gak peluk bapak? " Ucap Arka yang saat itu dibonceng ayahnya.
"Emang kamu gak malu? "
"Enggak lah, pak. Bapak kan bapakku. Entah kenapa aku pengen banget peluk bapak. "
"Ya sudah, peluk saja. "
Arka memeluk ayahnya dengan erat seolah takut di tinggalkan. Hingga tiba-tiba sebuah mobil dari arah berlawanan, melaju kencang berbelok-belok tak tentu arah.
Pak Djaja tak bisa mengendalikan motornya saat melihat mobil itu dan saat itu pula ada mobil lain menabrak motornya. Pak Djaja terpental hingga tubuhnya terjatuh di trotoar dengan keras. Dari mulutnya keluar darah yang kental dan Pak Djaja tak sadarkan diri.
Sedangkan Arka terjatuh berlainan arah dengan ayahnya. Tetangga Pak Djaja yang memang berangkat bersama mereka karena tempat kerja mereka sama, orang-orang itu segera membawa Arka dan Pak Djaja ke rumah sakit.
Sedangkan mobil yang menabrak itu sudah pergi entah kemana. Begitupun dengan mobil yang tak tau arah itu. Kedua mobil itu sudah hilang tanpa jejak.
.
.
.
Arka menangis tanpa suara. Dirinya masih terlalu sedih dan merasa sangat kehilangan sosok ayah yang sangat menyayanginya itu.
Arka sangat terpukul ketika mengetahui ayahnya sudah meninggal. Bahkan sampai sekarang Arka belum bisa melihat kuburannya.
Rain hanya diam. Dia ingin memberi waktu untuk Arka sampai merasa lebih tenang.
Rain selalu menemani Arka setiap malam. Sementara Hastini akan menemani Arka pada siang hari. Walaupun ada teman Arka yang menjenguk, tapi mereka tidak menginap di sana.
Kondisi Arka sering tidak stabil karena pikirannya tidak tenang. Dia sering mengalami demam tinggi sampai pernah pula dia kejang dan tak sadarkan diri, sehingga membuat Arka lebih lama dirawat di sana.
Kondisi Zee pun tak bisa dikatakan baik. Dia sering pingsan dan jarang sekali bicara. Kondisi itu membuatnya belum bisa masuk sekolah. Teman-temannya sering datang ke rumah untuk menjenguknya.
Hastini mempunyai teman-teman yang sangat baik. Mereka menjaga rumahnya dan Zee ketika Hastini menemani Arka di rumah sakit.
Jarak rumah sakit yang sangat jauh dari rumahnya membuatnya tak bisa pulang pergi semaunya. Hastini akan menunggu Rain pulang kuliah setelah itu barulah dia pulang ke rumahnya.
Walaupun wajahnya terlihat pucat dan tubuhnya yang semakin kurus, tapi Rain tidak pernah mengeluh akan hal itu. Dia tetap siap walaupun harus berkendara ke sana kemari.
Tubuhnya memang lelah tapi demi keluarganya, dia rela merasakan itu setiap hari.
Tidak akan selamanya keadaannya seperti ini, itulah yang selalu diucapkannya pada keluarganya. Meyakinkan mereka bahwa dirinya kuat dengan keadaan ini.
.
.
.
bersambung....
.
__ADS_1
.
salam dari yuya...