
Beberapa saat berlalu. Aku kini duduk bersama ibu dan bang Arka dengan gugup. Aku terus menatap mereka yang sedang asyik menonton TV. Entah mereka sadar atau tidak dengan sikapku, tapi sesekali mereka melihat kearah ku dengan tatapan yang bingung.
Ya Tuhan...
Aku benar-benar takut. Bagaimana kalau mereka tidak menerima semua penjelasan ku? Tapi hal ini membuatku tidak bisa tenang. Jadi aku harus mengatakan ini sebelum ada orang lain yang memberitahu mereka.
"Bu, " panggil ku lirih dengan tangan yang sudah berkeringat. Ibu menatapku dengan wajah yang bingung.
"Ya, ada apa? " Aku menunduk sejenak lalu kembali menatapnya.
"Ada apa? Ibu lihat, dari tadi kayaknya kamu gak tenang. " Ibuku menggeser posisi duduknya dan mendekatiku. Bang Arka tampak penasaran juga. Ia menatapku dan ibu dengan serius.
Aku menarik nafas panjang dan membuangnya perlahan. Ku ucapkan bismillah dengan lirih dan hanya menunduk saat memulai mengatakan semuanya pada mereka.
"Sebelumnya, saya minta maaf, " ucapku memulai sambil memejamkan mataku sesaat.
"Saya tau, bukan lagi mungkin kalau hal ini akan membuat ibu dan bang Arka terbebani, tapi saya tidak bisa menyimpan masalah ini lebih lama. Lebih baik ibu dan bang Arka mendengarnya langsung dari saya sebelum ada orang lain yang mengabari. " Ibu dan bang Arka semakin serius melihat dan mendengarkan ku. Ku lihat sesaat, tatapan mereka juga terlihat was-was.
"Bu, "panggilku lirih. Suaraku sudah bergetar, tapi ibu dan bang Arka masih dalam posisi dan sikap yang sama. Aku menunduk. Dengan air mata yang sudah tidak bisa aku bendung, aku mengatakan semuanya pada mereka. Aku tidak bisa menyimpan masalah ini yang mungkin saja akan lebih menyakiti mereka jika ini menjadi rahasia. Aku pasrah. Bagaimanapun hasil akhirnya akan aku terima.
__ADS_1
Ruangan ini akan terasa sunyi, jika saja tak ada suara tangisku yang tak bisa kutahan ini. Walaupun aku sudah mengatakan semuanya, tapi rasanya aku tidak bisa merasakan kelegaan.
Aku merasa seperti terhimpit oleh batu besar. Rasanya sesak sekali. Rasa sakit dan takut bercampur jadi satu. Apalagi melihat ibu dan bang Arka yang hanya terdiam seperti patung dan bahkan tidak melihatku sama sekali.
"Saya minta maaf, bu. Karena saya, kalian semua menderita. Karena saya juga bapak dan bang Arka kecelakaan sampai membuat bapak meninggal. Maafkan saya, ibu. Maafkan saya, bang, " mohon ku dengan suara yang hampir hilang.
"Ibu... " panggilku lalu bersimpuh di hadapan mereka berdua.
Aku tak bisa berkata apa-apa lagi selain menangis. Ternyata, apa yang aku takutkan selama ini benar terjadi. Mereka tak bisa menerima ini. Aku memang salah. Aku akan menerimanya.
"Ibu, hukum saya karena kesalahan saya ini. Hukum saya karena saya telah membuat kalian menderita. Hukum saya karena kesalahan yang sulit dimaafkan ini, bu. "
Aku tidak tau lagi harus bagaimana. Memohon maaf pada mereka rasanya mustahil. Apa aku pantas meminta maaf lagi? Kesalahan ku sangat besar.
Aku terus saja memanggil ibu sambil memeluk kakinya. Ku telungkup kan wajahku di kedua paha ibu dan aku menangis disana. Aku sangat takut. Aku takut kehilangan ibu yang selalu menyayangi ku walaupun aku bukanlah anak kandung nya. Aku benar-benar takut.
Aku tertegun sejenak sebelum melihat tangan milik siapa itu. Aku mendongak untuk melihat wajah pemilik tangan itu yang kini sudah berderai air mata. "Ibu, " panggilku padanya.
Ibu menatapku sambil masih mengelus kepalaku. Rasanya nyaman sekali. "Selama ini, kamu simpan semua masalah mu sendiri." Aku tidak tau apakah itu pertanyaan atau pernyataan untukku. Namun aku tidak menjawab apapun dan hanya menatap ibu."Apa kamu sudah menganggap kami ini orang lain? Ibu tidak bisa membayangkan bagaimana kamu berada di posisi itu sendirian. Kamu pasti ketakutan. " Ucapan ibu terhenti karena dia menangis. Suara tangisannya bergetar dengan matanya yang terpejam.
Aku menggeleng karena tidak kuat melihat ibu seperti itu. Lagipula apa yang ia pikirkan tidaklah benar. Sampai kapanpun, dia adalah ibuku. Keluarga ini adalah keluargaku.
"Ibu... " Aku memanggilnya sambil mengambil sebelah tangannya dan menggenggamnya. Ibu masih saja menangis.
"Maafkan saya walaupun kesalahan saya ini memang sulit untuk dimaafkan. Tapi saya sama sekali tidak bermaksud dan berpikir kalau ibu adalah orang lain. Ibu tetaplah ibu saya. Saya memang takut. Saya terlalu takut untuk jujur, bu. Karena saya yakin, perbuatan saya ini adalah sebuah kesalahan. Karena saya... "
"Sssttt. Cukup, sayang. Jangan menyalahkan dirimu sendiri. Ini semua bukan kesalahan kamu. Bapak meninggal karena kecelakaan, itu sudah menjadi kehendak Allah. Biarpun kecelakaan itu disebabkan oleh Anih yang dendam padamu, tapi ini bukan kesalahanmu. Ibu memang terkejut. Ibu memang marah. Tapi marahnya ibu tidaklah seperti yang kamu pikirkan. "
"Tapi, bu... "
__ADS_1
"Rain, anak ibu. Biarpun kamu yang melumpuhkan Danang, tapi bukan kamu yang menghilangkan nyawanya. Ibu juga akan melakukan hal yang sama jika ada di posisi mu. Ibu tidak akan tinggal diam saat keluarga ibu disakiti. Hanya saja, pengendalian diri kita berbeda. Jadi jangan menyalahkan dirimu sendiri lagi, ya. Ibu akan merasa sangat bersalah kalau kamu terus seperti itu. Lagipula, sebenarnya kamu sudah membantu banyak orang dengan cara melumpuhkan Danang. "
Aku menatap ibu lalu menatap bang Arka yang dari tadi menunduk. Apakah bang Arka bisa seikhlas ibu?
"Bang... " Aku memanggilnya dengan takut. Dia mengangkat wajahnya lalu memanggilku untuk memeluknya. "Kemarilah... "
Aku dan dia berpelukan sambil menangis tersedu. Berbagai sakit dan rasa bersalah masih saja menempeliku. Mengingat aku juga yang membuat dia berada dalam keadaan ini.
"Maafin aku, bang. Maafin aku..." Ku rasakan bang Arka menggeleng lalu semakin mengeratkan pelukannya. Diusap nya juga pucuk kepalaku dengan lembut. Bang Arka berusaha membuatku diam dengan cara yang sama seperti saat aku kecil. Mungkin baginya, aku masihlah adik kecilnya yang nakal.
Mungkin seharusnya aku tidak berpikir buruk. Keluarga ku tidak seburuk itu. Tapi bagaimanapun, perasaan takutku tak bisa hilang. Aku dikalahkan oleh perasaan takutku sendiri sehingga melupakan bahwa keluarga ku adalah orang-orang yang baik. Mereka mengerti bagaimana keadaan ku dan keadaan yang sesungguhnya. Aku sangat bersyukur memiliki keluarga seperti mereka.
.
.
.
Seharian ini ku habiskan waktu untuk duduk di rumah. Bukan hanya karena hatiku masih sedih, tapi rasanya aku ingin sekali menempeli ibu terus. Ibu pun sampai kebingungan dengan sikapku namun dia tetap mengikuti keinginan ku.
Bang Arka hanya membiarkan kami seperti itu namun dia juga ikut bersantai bersama kami. Bang Arka terus saja tersenyum saat melihat aku menempeli ibu. Aku tidak peduli. Walaupun sedikit malu dengan tatapan nya, namun aku tetap memeluk ibu seolah kami akan berpisah jauh.
Kami memesan makanan untuk makan siang dan sore pun seperti itu. Aku tidak membiarkan ibu sibuk dan hanya membuatnya duduk menemaniku. Mungkin kami berpisah untuk mandi dan keperluan lainnya yang tak bisa dilakukan bersama. Mungkin aku berlebihan, tapi terserah lah...
.
.
.
Bersambung...
.
.
__ADS_1
.
salam dari Yuya😘😘😘