
.
.
.
Rain dan Kana sampai di rumah. Mereka turun dari motor dan berjalan dengan tenang menuju pintu rumah.
Nampaknya Intan sudah pulang. Karena di garasi terdapat mobilnya yang dibawa ke kampung halaman suaminya.
"Assalamu'alaikum... " Ucap Kana dan Rain bersamaan.
"Waalaikumsalam... " Jawab Intan dari dalam rumah.
Rain dan Kana bertemu Intan di ruang tamu. Intan tersenyum melihat kepulangan mereka.
"Kok tumben pulangnya telat? " Tanya Intan saat Rain dan Kana mencium tangannya.
Kana melirik Rain, terlihat bingung.
"Tadi ada orang yang motornya mogok di jalan. Jadi kami bantu mereka dulu. " Rain tersenyum mengucapkan itu.
"Benarkan, Kana? " Rain menatap Kana yang gugup.
"E.. I-iya. Iya gitu, Ma. "
"Oh... Eh tapi, kok jeket kamu kok kayaknya basah? Tapi kok cuma di satu bahu aja? " Intan melihat jaket hitam Rain lalu meneliti di bagian yang lembab itu.
"Keringat, Bu. Saya permisi dulu. " Rain tersenyum kemudian berlalu.
"Iya."
"Ma, aku juga mau rehat dulu. Daa, Ma. "
"Iya, sayang. Selamat malam. "
Kana tersenyum dan berlalu.
Intan merasa ada yang aneh. Perasaannya tak bisa membenarkan alasan Rain. "Kenapa sikapnya agak lain, ya? Apa benar itu keringat?" Gumamnya.
.
.
Rain mengalami demam. Merintih kesakitan dalam tidurnya. Tidurnya tidak tenang.Tubuhnya berguling kesana-kemari.
Beberapa saat kemudian tubuhnya bangkit walau matanya masih terpejam. Dengan mata yang tertutup, Rain berjalan keluar dari kamarnya.
Di dapur, Ace sedang bermain dengan ponselnya sambil meminum perlahan sekaleng soda. Padahal jam sudah menunjukkan pukul 11 malam.
Niatnya bergadang karena besok dia libur kerja. Ace duduk santai di meja dapur. Sesekali tersenyum ketika melihat ada yang lucu di ponselnya.
Meminum lagi sodanya dan tersedak karena tertawa. Tapi walaupun tersedak, Ace tetap meminum lagi soda itu.
__ADS_1
Dari ujung matanya, terlihat ada seseorang di pintu, berjalan memasuki ruang dapur.
Refleks Ace menoleh pada orang yang berjalan itu. Dan dia tersedak lagi karena terkejut melihat orang itu dan juga melihat penampilannya. " Uhuk uhuk uhuk... R-Rain? "
Rain berjalan dengan matanya yang masih tertutup. "Ya Tuhan, anak ini masih tidur? " Ace merasa tak percaya.
Matanya bergerak mengikuti pergerakan Rain. Pertama kalinya melihat Rain yang memakai pakaian seperti itu. Baju kaos longgar dengan lengan baju yang pendek dan celana jeans di atas lutut. Rambutnya yang tergerai sedikit berantakan. Ace memperhatikannya tanpa sadar hingga jakunnya bergerak naik turun.
Rain berjalan seperti zombie tak tentu arah. Terus mencoba maju walaupun ada kursi yang menghalangi jalannya. Kursi itu sampai berderit, sepertinya tak mau pindah dari tempatnya.
Ace berdiri dan berjalan menghampiri Rain yang tak jauh darinya. Melihat gadis itu dari atas sampai bawah kemudian tersenyum.
"Kok bisa ada orang sepertimu? " Ucapnya masih tersenyum.
Iseng Ace bertanya, "Kamu mau apa? " Lalu terkikik. Sebenarnya dia hanya ingin bercanda. Pikirnya, mana mungkin Rain bisa mendengarnya.
Tapi jawaban Rain membuatnya terkejut sampai matanya melotot.
"Minum..." Ucap Rain dengan suara seraknya.
"Eh! Loh? Kok bisa jawab? " Ace sedikit panik karena dari tadi dia memperhatikan Rain.
"M-minum? " Tanya Ace memastikan.
"...."
Ace memegang bahu Rain dan menuntunnya agar duduk, walaupun Rain tidak menjawabnya lagi. Tapi tubuh Rain seolah kaku dan Ace hanya bisa membiarkannya berdiri.
Tanpa diduga, Rain berjalan sendiri ke arah kulkas. Ace hanya diam melihat apa yang dilakukan Rain.
Melihat Rain yang hanya diam, Ace akhirnya membuka kulkas dan mengambil sebotol air dingin. Menempelkan botol dingin itu di pipi Rain.
"Sshhh.. " Mata Rain perlahan terbuka.
Ace mengerjap, sedikit gugup. "Ini air minum mu. "
Rain menatapnya tanpa ekspresi dan segera meminum air di botol itu. Minum dengan mata kecil yang masih menatap Ace. Ace menggaruk tengkuknya merasa canggung karena diperhatikan.
Setelah minum, Rain menyerahkan botol itu begitu saja dan berbalik berjalan meninggalkan dapur. Ace melongo.
Ace mengejar Rain setelah menaruh botol. Rain masih berjalan seperti zombie menuju kamarnya. Ace tak tau kenapa dia ingin sekali mengikuti Rain ke kamarnya.
Rain masuk tanpa menutup pintu kamarnya. Ace yang merasa dapat kesempatan langsung saja masuk. Tersenyum dengan jantungnya yang sudah berdebar tak karuan.
Rain berdiri mematung di dekat ranjangnya. Ace menghampirinya dan melongo lagi karena melihat Rain yang tertidur sambil berdiri. "Ya ampun... "
"Zzzzz"
"Gadis sepertimu sungguh menghawatirkan. Bagaimana kalau ada orang jahat ikut masuk ke kamarmu? "
Ace terkejut sendiri dengan kata-katanya. "Tidak tidak, aku bukan orang jahat, " Ucapnya meyakinkan diri sendiri.
Ace menuntun Rain agar berbaring di ranjangnya. Tak diduga, Rain dengan relax nya mau berbaring.
__ADS_1
"Apa dengan minum bisa melenturkan tubuhmu? Aneh sekali kamu ini. "
Ace diam memandangi wajah Rain saat tertidur. Mengingat lagi kejadian seminggu yang lalu. Tangannya terulur menyentuh wajah Rain. Menelusuri setiap inci wajahnya dengan jari.
Kemudian Ace menyadari tubuh Rain sedikit panas. Ace menaruh telapak tangannya di dahi Rain. "Kamu demam? " Tanyanya, seolah Rain bisa mendengar.
Ace menyelimuti Rain dengan hati-hati. Menatap lagi wajah gadis yang tertidur pulas itu. "Apa yang membuatmu bisa dekat dengan Kana? Apa bedanya aku dengan dia? Dia bahkan lebih tidak normal daripada aku. "
"Nghh... " Rain melenguh kemudian merubah posisi tidurnya. Ace sempat terkejut, tapi melihat Rain yang masih tidur membuatnya merasa lega.
Rain tidur sedikit miring. Bajunya yang memang longgar membuat tulang selangkanya terlihat. Ace melihat kearah itu.
Tapi sebuah kain putih dibalik bajunya membuat Ace heran. Ace sedikit ragu untuk membuka lebih lebar. Tapi rasa penasarannya sangat besar. Tak peduli Rain akan terbangun karena ulahnya.
Ace menarik perlahan kerah baju Rain hingga bahunya terlihat. Bahu yang tertutupi perban. Terlihat ada darah dibalik kain putih itu.
"Apa yang terjadi denganmu? " Ace nampak khawatir. Tapi sesaat kemudian tubuhnya bereaksi lain melihat bagian tubuh yang terekspos itu.
Ace terkejut dengan sikapnya kemudian bangkit. "Kamu memang benar. Tidak baik aku berduaan denganmu disini. " Lalu beranjak ke dapur.
Akhirnya Ace mengompres gadis itu. Walaupun Ace sudah sangat mengantuk, tapi dia tetap menunggu sampai suhu tubuh Rain kembali normal. Barulah Ace pergi ke kamarnya untuk tidur.
.
.
.
Ace belum bangun walaupun hari sudah sangat siang. Ibunya sampai heran dan khawatir karena putra sulungnya itu tak kunjung keluar dari kamarnya.
Berkali-kali Intan mengetuk pintu kamar Ace. Tapi tak juga ada jawaban. Merasa tak sabar, akhirnya Intan menggedor-gedor dengan keras pintu kamar itu.
"Azz!! Bangun....!! Kamu masih ada di dalam, kan? Ayo keluar... Azz... " Intan sampai berteriak.
Tak lama, akhirnya pintu kamar itu terbuka. Memperlihatkan penghuni kamar yang tampak seperti.... Entahlah..
Kantung matanya hitam, wajahnya pucat dan mata yang merah. Kalau rambut berantakan itu sudah biasa.
"Ya ampun... Anak mama kenapa kayak zombie begini? " Intan tampak panik.
Ace mengernyit. "Anak mama ini gak pa-pa. Cuma kurang tidur. "
"Emang kamu ngapain sampe kurang tidur? Nonton drakor? "
"Nggak, Ma. Mama bilangin aja si Rain, lain kali kalo mau tidur, bawa air minum sekalian ke kamarnya. " Ace berlalu meninggalkan ibunya yang kebingungan.
"Kok, Rain? Ngelindur kalik ya ni anak? "
.
.
.
__ADS_1
bersambung...
salam dari yuya😘😘😘