Pelangi Tanpa Batas Warna

Pelangi Tanpa Batas Warna
Berbanding terbalik


__ADS_3

Badanku rasanya pegal sekali. Duduk berjam-jam bersama Ammar membuatku kehilangan banyak waktu. Selalu ada saja yang bisa dia tanyakan yang akhirnya membuatku duduk kembali menemaninya. Dan dia selalu punya cara agar aku tidak pergi.


Aku sampai makan dua porsi makanan yang ku pesan. Ditambah lagi dessert dan juga minuman favorit di sana. Aku juga memang ingin memberikan dia pelajaran karena terus saja menahan ku. Aku yakin, banyak sekali uang yang ia keluarkan untuk membayar makanan ku tadi.


Ternyata Ammar memang sedikit aneh, menurutku. Sikapnya selalu saja berubah. Dia bisa bercanda walaupun candaannya bagiku sangat menyebalkan. Tapi beberapa saat kemudian, dia bisa bersikap dingin lagi. Bersikap dan berkata dengan menakutkan lalu berubah baik lagi.


Ammar terus saja menekanku dengan pertanyaan nya tentang Arza. Pertanyaan yang aku sulit menjawabnya. "Kamu ini teman macam apa? Arza sudah membantumu tapi kamu tidak tau berterima kasih sama sekali."


Padahal kenyataannya aku ingin sekali bertemu dengan Arza dan berterima kasih padanya. Tapi aku takut kalau harus menemuinya di rumah nya. Aku menanyakan nomor ponsel baru Arza pada Ammar, tapi dia dengan menyebalkan nya menolak permintaan ku. Dia beralasan bahwa Arza tak ingin aku mengetahui nomor barunya itu.


"Apakah kamu benar-benar mengenal Arza?"


Dan dia dengan santainya memperlihatkan layar ponselnya padaku. Di sana dia sedang berpose bersama Arza. Bahkan bukan hanya satu foto yang ia perlihatkan padaku. Di sana, terlihat sekali kalau mereka berdua sangat dekat. Padahal Arza jarang sekali mau berfoto. Dan memang aku juga tidak suka melakukan itu dengan nya.


Aku awalnya heran dan juga sempat merasa curiga. Bagaimana dan kenapa Arza bisa sedekat itu dengan Ammar yang aku rasa dia baru saja mengenalnya.Tapi Ammar menceritakan semuanya hingga membuat pikiran burukku pergi.


"Kamu tidak akan menyangka bagaimana murkanya Arza saat tau kalau aku adalah bawahan Anih yang merencanakan kejahatan terhadapmu. Dia memukuliku dengan brutal saat itu. Aku hampir mati di tangannya. Tapi aku sendiri tidak menyangka, keadaan bisa berbanding terbalik saat ini. Semua itu juga berkat kamu. "


"Kenapa aku?"


"Mungkin karena kamu kesayangannya Arza."


Ucapannya seketika membuatku menyemburkan minuman yang sedang aku teguk. Aku memelototinya yang melihat ku dengan santainya. Kenapa perkataannya terkesan melenceng?


Ya Tuhan... Sejauh mana dia tau?


Dan dia menolak untuk menjelaskan lebih lanjut. Bagaimana pun caraku memaksanya, dia tetap bungkam. Dia hanya terus saja mengolok-olok ku dan mengatakan aku tidak tau berterima kasih.


"Kenapa juga dia tidak datang menjengukku? Apakah dia sangat sibuk?"


"Kamu tidak tau? Saat itu kami datang ke rumah sakit untuk menjengukmu. Tapi aku tidak tau alasan kenapa Arza berubah sangat marah dan akhirnya memilih pergi. Mungkin dia cemburu pada lelaki yang bersamamu. Tapi saat dia bertemu dengan seorang perempuan yang kira-kira usianya di atas empat puluh tahun, Arza menjadi lebih emosi. Aku tidak tau kenapa dan juga siapa perempuan itu. Aku juga tidak tau Arza dan perempuan itu bicara apa saja karena aku langsung pergi. Sebenarnya, aku ingin meminta maaf pada mu saat itu. Karena Arza tau bagaimana sikapku. Dia tidak yakin kalau aku bisa meminta maaf dengan benar."


Aku menunduk dan terdiam beberapa saat. Membayangkan bagaimana emosinya Arza saat itu. Aku semakin merasa bersalah padanya. Tapi rasa takutku juga belum bisa aku kendalikan. Aku tidak ingin menyakitinya saat dia tidak sengaja kehilangan kendali.


Aku kembali melihat Ammar. "Ya. Kamu memang tidak tau caranya meminta maaf. "


"Itu juga alasannya kenapa aku tidak mencari mu lagi. Aku hanya menunggu Arza. Tapi ternyata kita bertemu disini. "

__ADS_1


"Aku tidak tau apakah itu kenyataan atau hanya sekedar alasan."


"Tentu saja ini kenyataannya." Ammar menatapku dengan kesal.


.


.


.


Aku berjalan gontai saat turun dari motor ku. Walaupun hari masih sore tapi untuk mengunjungi cafe rasanya aku lelah sekali. Aku akhirnya memilih untuk pulang ke rumah Bu Intan. Dia juga tidak akan mengira aku pergi kemana saja kan?


Aku memasuki rumah itu yang memang tidak pernah dikunci, karena di gerbang sana ada tiga orang penjaga yang menjaga rumah ini bergantian. Belum lagi di rumah ini ada beberapa pekerja yang kadang sampai sore belum pulang.


Aku berjalan menuju kamar ku. Mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Rasa pegal ku perlahan mulai berkurang. Mandi memang bisa membuat tubuh ku terasa lebih ringan. Apalagi menggunakan air hangat seperti ini.


Setelah ritual mandi ku usai, aku bergegas mengenakan pakaian dan meratakan lotion secukupnya. Aku jarang sekali berdandan. Aku juga memang tidak tau dan tidak ingin tau bagaimana caranya. Begini lebih cepat dan aku lebih nyaman seperti ini.


Aku mengambil ponselku dan berjalan menuju dapur. Rumah ini rasanya sepi sekali. Apakah Bu Intan belum pulang? Lalu kemana perginya Kana? Rumah ini terasa benar-benar kosong. Apakah orang-orang sudah pulang ke rumah mereka?


"Pak..."


Dia menoleh dan tersenyum. "Ya? Kamu sudah pulang?"


"Iya. Bu Intan belum pulang ya, pak?"


"Belum. "


"Terus Kana?"


"Sepertinya dia ada di kamarnya. Kurang tau juga sih tapi."


"Oohh.. ya udah pak. Makasih. Saya mau masak dulu."


"Iya, silahkan."


Aku masuk kembali dan melihat meja makan. Membuka tudung saji dan disana hanya tersisa sedikit makanan. Untung aku pulang. Mungkin sebaiknya aku juga mengabari bu Intan agar dia tidak memesan makanan.

__ADS_1


Aku memasak untuk para pekerja di rumah ini terlebih dahulu. Sebelum tukang kebun pulang, sebaiknya dia makan dulu. Pekerja yang lain sepertinya sudah pulang. Karena rumah ini terlihat sudah bersih dan benar-benar sepi.


Haah...


Aku jadi merasa bersalah dan sedih kalau mengingat Kana. Hubungan kami saat ini sangat renggang. Aku tau dia berusaha menjauhiku. Aku juga mengerti ini tidak mudah. Tapi rasanya aku seperti kehilangan perhatian adikku. Entahlah...


Aku jarang sekali berjumpa dengan Kana. Saat sarapan pun kami jarang bertemu. Apalagi saat seperti ini. Kana akan bertahan di kamarnya sampai ia yakin kalau aku sudah tidak mungkin satu ruangan lagi dengannya.


Bu Intan seperti nya tidak menganggap ini masalah besar. Dia tetap seperti biasanya. Aku juga heran, kenapa dia bisa sesantai itu. Bahkan saat anaknya tidak sarapan bersamanya. Dia terlihat tidak mempermasalahkan sama sekali. Aku jadi merasa serba tidak enak.


.


.


.


Aku menghubungi Ace untuk membagi kisahku hari ini, tapi ternyata dia masih sibuk. Akhirnya aku memutar musik untuk menemani ku memasak. Membuat kegiatanku tidak terasa lama dan akhirnya selesai saat tukang kebun itu hendak pulang.


Aku menyuruhnya makan dan bergantian dengan satpam yang ada di depan sana. Mereka makan dengan lahap. Aku senang ketika mereka dengan tulusnya tersenyum ketika memakan masakanku.


Melihat bapak-bapak seperti mereka, aku jadi rindu pada ayahku...


.


.


.


bersambung...


.


.


.


salam dari Yuya😘😘

__ADS_1


__ADS_2