Pelangi Tanpa Batas Warna

Pelangi Tanpa Batas Warna
Apa bisa dipercaya?


__ADS_3

"Aku akan bersikap lebih baik kali ini." Ucapan Ammar terdengar lebih halus kali ini.


"Itu harus." Tapi aku masih saja ketus.


Aku melihatnya dengan wajah yang ku yakini sangat jelek. Sedari tadi, wajahku ini hanya aku tekuk. Tidak peduli bagaimana baiknya ekspresi wajah Ammar saat ini.


"Maafkan aku atas kesalahan yang telah ku perbuat pada mu dan juga keluarga mu. Maafkan aku juga karena tidak bersikap baik. Aku tau, sulit bagimu untuk memaafkan apa yang telah ku lakukan, tapi aku benar-benar tulus ingin meminta maaf," ucap Ammar terdengar bersungguh-sungguh. Aku hanya mengerutkan keningku. Mendengar ucapan dan juga melihat sikapnya ini sedikit membuatku bingung. Kenapa dia bisa berubah jauh sekali dari yang tadi?


"Walaupun sulit, tapi aku harap kamu mau memaafkan ku. Aku bersungguh-sungguh ingin membantu mu. Aku ingin membuktikan kesungguhan ku dalam meminta maaf dengan cara membantu mu. Aku berharap kamu mau menerima bantuan ku. "


Walaupun dia terlihat serius, tapi aku masih takut untuk percaya padanya. Bisa saja kan kalau dia sedang berpura-pura saat ini. "Apa yang membuatmu menginginkan maaf dariku? "


Dia menatapku dengan tatapan yang teduh. Entah seperti apa sebenarnya sifat orang ini. Bisakah orang seperti dia dapat dipercaya?


"Karena aku merasa bersalah. Aku tidak bisa tenang karena terus saja terbayang akan kesalahanku. Aku tidak ingin terus dibayangi oleh kesalahan yang telah ku perbuat. Mungkin alasan ku ini masih tidak diterima, tapi selain dari itu, aku juga memang benar-benar ingin meminta maaf padamu. Ya, karena aku memang bersalah. " Dia menatapku sesaat lalu menunduk.


"Maafkan aku juga karena tidak sedari dulu membantumu untuk lepas dari Anih. Mungkin kamu berpikir, kenapa aku tidak melakukannya sejak awal. Tapi keadaan dulu dan kini sangat jauh berbeda. Aku pun kurang lebih sama dibutakan nya oleh Anih, seperti beberapa orang yang ikut bersama kami."


Aku terus saja menatapnya yang masih bertahan menundukkan kepalanya. Mungkin bisa memaafkan dia karena masalah yang dialami oleh keluarga ku bukan murni atas rencananya. Tapi untuk mempercayainya dan membiarkan dia membantuku, sepertinya itu bukan ide yang bagus saat ini.


"Baiklah, mungkin kesalahanmu bisa ku maafkan. Aku juga pernah berada di posisimu. Tapi untuk menerima bantuan mu, sepertinya aku tidak bisa. Aku harap kamu mengerti. "


Dia mengangkat kepalanya dan menatapku dengan mata yang berkaca-kaca. Aku jadi bertambah tidak mengerti dengan sikap nya. Apakah keputusan ku memaafkan dia adalah hal yang tepat? Tapi aku tidak ingin melanjutkan urusanku dengan dia. Aku berharap, tindakan ku ini tepat.


"Terima kasih. Aku mengerti jika kamu tidak bisa mempercayakan aku untuk membantumu. Tapi suatu saat jika kamu butuh bantuan ku, hubungi saja aku. Aku bersedia membantumu walaupun nyawa taruhannya sekalipun."


Aku tertawa mendesis. "Apakah kamu orang yang sama dengan orang yang menyombongkan diri beberapa saat yang lalu?"

__ADS_1


Dia mengalihkan pandangannya dari ku. Terlihat salah tingkah. "Aku tidak pernah merendahkan diri terhadap siapapun. Aku juga bingung bagaimana harus memulai untuk mengatakan semuanya padamu. Tapi, sebenarnya aku juga ingin sedikit berdebat denganmu. Maaf. "


Aku menaikkan sebelah alisku karena jawabannya. "Hah?! Alasan macam apa itu? "


"Tapi ya sudahlah. Urusan kita sudah selesai. Kalau kamu ingin membantu, jangan ganggu aku apalagi keluargaku. Pertemuan kita cukup disini saja. Aku harap, kamu bersungguh-sungguh dengan ucapan mu. " Aku menatapnya tajam tapi tentu saja dia tidak melihat karena dia masih tidak menatap ku.


Aku berdiri dan hendak meninggalkan nya, namun ada saja hal yang dilakukan nya yang membuatku menghentikan niatku.


"Kamu mau pergi?" Dia melihatku dengan polosnya.


"Tentu saja. Aku juga masih ada urusan lain."


"Tunggulah sebentar. Aku ingin memberikan sesuatu padamu."


Aku mengerutkan kening ku dan melihat nya yang kini sibuk mengorek isi tasnya. Ternyata dia mengambil sebuah pulpen dari sana.


Aku menghembuskan nafas panjang dan menunggu dengan malas. Aku memperhatikan apa yang sedang dilakukan nya. Ammar melihat ponselnya dan menulis sesuatu di kertas. Kenapa dia bisa terlihat polos begitu? Padahal beberapa saat yang lalu, dia benar-benar terlihat kejam dan menyebalkan. Bukankah harus lebih berhati-hati dengan orang yang seperti ini?


"Ini," ucapnya sambil menyodorkan kertas yang bertuliskan beberapa digit nomor.


Aku melihat kertas itu sekilas dan mengambilnya. Memasukkan nya ke dalam saku jaket ku dan aku berniat pergi. Tapi lagi-lagi...


"Oh ya, apa kamu sudah bertemu dengan Arza?" Pertanyaan nya sontak menghentikan langkahku dan membuatku terkejut. Dia mengenal Arza?


Aku berbalik dan menatap nya yang menunjukkan ekspresi tidak tau apapun. "Apa? Kenapa kamu terlihat takut begitu?"


"Darimana kamu kenal dia?"

__ADS_1


"Profesi ku kurang lebih sama dengan dia. Kami bertemu saat kami membantu kepolisian. Awalnya aku juga tidak tau kalau dia itu adalah temanmu."


"Oh." Aku tidak tau harus bereaksi seperti apa?


"Dan kamu mengenalku dari dia?" Tanyaku dengan wajah yang ku yakini sangat bodoh.


"Tentu. Eh! Apa kamu sudah bertemu dengan dia?"


"Hem? Aku? " Aku mendadak jadi pusing. Mereka saling mengenal? Lalu, seperti apa kejadian yang sebenarnya?


"Hei! Ada apa?"


"Entahlah..."


.


.


.


bersambung...


.


.


salam dari Yuya😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2