Pelangi Tanpa Batas Warna

Pelangi Tanpa Batas Warna
Kabar


__ADS_3

.


.


.


Rain tetap bekerja walaupun kondisi tubuhnya masih kurang sehat. Ia tak membiarkan Kana mengatakan kejadian kemarin pada siapapun, apalagi Intan. Rain tidak ingin membuat perempuan itu khawatir.


Untuk jaga-jaga, Rain kini tak membiarkan Kana mengikutinya ke cafe. Dia takut kalau sampai orang-orang yang bertujuan menyerangnya justru malah membahayakan keselamatan Kana.


Walaupun berat hati, Kana tetap mengikuti saran dari Rain. Kana memikirkan kesibukan apa yang akan dilakukannya untuk mengisi waktu luangnya.


Rain sampai di rumah dengan wajah yang terlihat kelelahan. Berjalan gontai menuju kamarnya. Belum sampai ia di kamarnya, langkahnya sudah terhenti oleh panggilan dari Intan.


Rain menoleh dan diam menunggu perempuan itu sampai padanya. "Kenapa, bu? "


Intan menepuk bahu Rain. Rain sedikit meringis, menahan sakit.


"Udah makan? "


Rain menatapnya bingung. " Sudah, Bu. Tadi di cafe. Ibu sendiri sudah makan?"


"Udah. Ibu ada yang mau diomongin, bisa minta waktunya sebentar? "


"Bisa. Saya simpan tas dulu ya, Bu. "


Intan mengangguk. Rain berjalan ke kamarnya dan kembali dengan pakaian yang berbeda.


Intan membawanya ke ruang keluarga. Rain menurut tanpa berkomentar.


"Gimana keadaan cafe, aman? " Tanya Intan setelah mereka duduk.


Rain mengernyit sebelum menjawab, " Aman, Bu. Memangnya kenapa? "


Intan menghela nafas, terdiam beberapa saat. "Maaf kalau kabar dari ibu membuatmu khawatir atau mungkin takut. Tapi, ibu hanya ingin kamu berhati-hati. "


"...."


"Sewaktu di kampung, Ibu melihat dari CCTV ada orang yang mencurigakan saat malam di dekat cafe. Awalnya Ibu gak terlalu mempermasalahkan, tapi tadi saat semua karyawan sudah pulang, orang itu kembali datang. "


Rain terdiam tampak berpikir. "Bisa saya lihat, Bu, hasil rekamannya? "


Intan meraih laptopnya yang berada di meja dan memperlihatkan sesuatu yang membuat Rain mematung.


"Walaupun wajahnya tidak terlihat, apa kamu bisa menebak siapa orang ini? "


Rain menggeleng. "Saya tidak yakin, tapi... Melihat dari tubuh mungilnya dan cara pakainya, saya jadi teringat orang yang memperhatikan saya di kegelapan. Itu kejadiannya sudah lama dan lokasinya di dekat rumah saya. "


Hening.


"Apa selama Ibu pergi ada kejadian aneh? "


Rain diam sesaat. "Tidak, Bu. "


"Kalau ada apa-apa, kamu bilang sama Ibu. Jangan sembunyikan sesuatu. Kamu jangan sungkan sama Ibu. "


Rain mengangguk. Sebenarnya Rain tak ingin membuat Intan khawatir. Apalagi kalau sampai keluarganya mendapat masalah karena Rain.


"๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜จ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ด๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช? ๐˜š๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ, ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ข๐˜ณ๐˜จ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ. "


"Oh, ya. Ibu mau tanya sesuatu, ini gak ada hubungannya dengan orang itu. "


"Apa? "


"Tadi Azz bangunnya siang banget. Dia kan bilangnya kurang tidur. Terus Ibu tanya, 'emang ngapain sampe kurang tidur? ' dia malah bilang, 'bilangin si Rain kalo mau tidur bawa air minum sekalian ke kamarnya' gitu. "


Rain mengerjapkan matanya berkali-kali. "Uhm... Itu... Saya kurang tau, Bu. "

__ADS_1


Rain mengira-ngira, apa yang terjadi padanya semalam. Karena walaupun dia bisa berjalan kemana-mana, Rain biasanya tidak akan ingat apa yang terjadi saat itu. Rain tiba-tiba merasa malu dan panik.


"๐˜‘๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ-๐˜ซ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ต ๐˜ต๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ. ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ฐ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ณ ๐˜จ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฆ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ต. ๐˜’๐˜ข๐˜ญ๐˜ฐ ๐˜ช๐˜บ๐˜ข, ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฎ? ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜ต๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ?"


Wajahnya memerah. Perasaannya tak karuan. Panik mengingat kata ibunya bagaimana dirinya saat tidur sambil berjalan. Panik juga mengingat apa yang dilakukan Ace saat di kolam. Rain jadi membayangkan yang tidak-tidak.


"Oh... Ya ampun... " Gumamannya masih bisa didengar Intan.


"Kenapa? "


"Ng... Nggak pa-pa, Bu. " Rain tersenyum kikuk.


"Yakin gak pa-pa? "


Rain mengangguk. Intan hanya tersenyum, menyembunyikan sesuatu yang sudah diketahuinya.


"Oh iya. Ibu mau tanya satu hal lagi. Temanmu yang namanya Arza itu, siapa orang tuanya? "


Ekspresi Rain berubah serius. "Saya kurang tau juga, Bu. Soalnya saya gak pernah tanya siapa orang tuanya. Karena saya juga gak pernah ketemu mereka. Arza bilang, orang tuanya udah lama meninggal. Itu yang saya tau. "


"Meninggal? " Intan tampak terkejut. Rain hanya mengangguk walaupun merasa bingung. Rain diam membiarkan Intan tertegun.


.


.


.


Rain merenung di dalam kamarnya. Mengingat lagi beberapa kejadian yang menimpanya selama tinggal di rumah Intan. Lalu Rain teringat akan Arza, sahabatnya yang selalu mencari tau masalah yang menimpanya.


Sudah berbulan-bulan Rain tidak tau kabar sahabatnya itu. Mungkin Arza masih marah karena tau Rain tinggal di rumah Intan. Walaupun entah dari mana Arza tau.


Intan yang dalam pandangan Arza adalah orang berbahaya. Dan sekarang malah Rain tinggal di rumahnya. Arza mungkin masih marah karena Rain tidak mendengarkannya dan malah tinggal di rumah Intan tanpa sepengetahuannya. Hal itulah yang selalu dipikirkan oleh Rain.


Ingin sekali dirinya bertemu dengan Arza. Karena setiap Rain pulang ke rumah ibunya di akhir bulan, Rain selalu menyempatkan diri mampir ke rumah Arza. Tapi Arza tak pernah ada. Bahkan tetangganya pun tak tau Arza ada dimana.


Rain juga tak bisa menghubunginya. Seakan Arza memutuskan kontak diantara mereka. Rain jadi semakin merasa bersalah. Tapi Rain juga merasa kalau Arza salah menilai Intan. Baginya, Intan adalah orang baik.


Rain bangkit dari ranjangnya dengan malas. Merasa heran karena Kana mendatanginya di malam yang sudah larut ini.


Belum sempat Rain bertanya, dirinya sudah dikejutkan dengan Kana yang mendorongnya masuk saat pintu sudah terbuka.


Kana memegang kedua lengannya dengan kuat. Mendekatkan wajahnya sehingga Rain spontan memundurkan kepalanya. Rain menatap nyalang Kana yang berani melakukan itu padanya.


Kana semula merasa takut dengan ekspresi Rain. Apalagi mengingat kemarahan gadis itu. Tapi mengingat tujuannya datang ke sana membuat perasaan itu hilang.


"Rain! " Ucapnya keras pada Rain yang berada di depan wajahnya. Sampai rambut Rain bergerak tertiup angin dari mulutnya.


"Apa?! Kamu pikir aku tuli? Aku sedekat ini denganmu tapi suaramu sekeras itu? " Rain mendelik.


Kana merasa gugup tapi kemudian memberanikan diri bertanya pada Rain. "Apa benar kamu berc*****n dengan kakakku di kolam? "


Mata Rain melebar. "I-itu... " Rain gelagapan.


"Jawab? Apa itu benar? " Kana tampak sedih. Apalagi melihat ekspresi Rain yang gugup.


Namun terdengar suara dari ambang pintu yang membuat mereka berdua menoleh ke sana. "Sudah ku bilang, kami memang melakukan itu. Lihat, dia bahkan gugup dan tidak bisa menjawab, " Ucap Ace yang bersandar di pintu dengan melipat kedua tangannya di dada. Menatap Kana dan Rain dengan percaya diri.


Rain semakin salah tingkah dan merasa kesal pada Ace. Tak tau kah dia seperti apa wajah Kana sekarang?


"Kana... " Rain memanggil Kana yang tertunduk, memanggilnya dengan lembut. Kana tetap diam. Kedua tangannya terlepas dari lengan Rain.


Rain mencoba untuk menjelaskan walaupun dia bingung, apakah Kana bisa menerima penjelasannya.


"Kana, sebenarnya saat itu Ace hanya menolongku. Aku tenggelam. Kamu tau kan bagaimana keadaannya kalau orang tenggelam? Jadi jangan berpikir yang tidak-tidak. "


Kana menatapnya.

__ADS_1


"Pasti dia hanya ingin membuatmu cemburu, " Ucap Rain sedikit berbisik.


"Ya, aku memang cemburu. Dan sekarang pun masih sama. Apa kamu tau apalagi yang dia katakan? "


"A-apa? "


"Kamu membalasnya. Bagaimana mungkin orang yang tidak sadar bisa membalas? "


Rain membelalakkan matanya. Otaknya mengingat kembali kejadian di kolam. Rain merasa kesal karena dirinya sampai tidak sadar apa yang dilakukannya. Lalu mau bagaimana sekarang?


Matanya menatap tajam pada Ace yang masih berdiri dengan posisi yang sama dan dengan tampang yang membuatnya bertambah kesal.


"Lihat aku! " Kana memegang kedua bahu Rain. Rain spontan menatapnya. Terkejut, terlebih lagi dengan nada suara Kana.


"Apa aku harus melakukan hal yang sama? " Pertanyaan Kana benar-benar membuat Rain bingung.


"Apa maksudmu? "


"Sesuatu yang dilakukan Ace padamu di tepi kolam." Suara Kana pelan dan serak. Rain menatapnya tak percaya. Matanya semakin melebar ketika Kana mendekatkan wajahnya.


Tapi keadaan itu berubah saat tubuh Kana terdorong oleh seseorang.


Ace.


Wajahnya jelas menunjukkan kalau dirinya tidak suka melihat itu. Kana menatapnya geram. Kedua lelaki itu terlihat seperti akan berkelahi.


Ace menatap Rain tajam. Rain menjadi salah tingkah. "๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ? "


Rain membeku seketika saat tangan Ace menariknya kedalam pelukannya. Rain seolah seperti boneka.


Jantungnya berdegup kencang. Apalagi saat Ace melepas pelukannya dan menatapnya dengan kedua tangan Ace menangkup wajahnya. Padahal saat Kana melakukan itu, Rain tidak merasakan apa-apa.


"Tidak akan ada orang lain yang bisa melakukan ini padamu. Hanya aku seorang yang bisa, " Ucap Ace tegas. Melupakan sikap dinginnya.


Rain menatapnya tak berkedip dan bertanya dengan polosnya, "Ma-maksudnya? "


Ace tidak menjawab. Justru wajahnya semakin mendekat dan Rain hanya diam seolah terhipnotis.


"Ekhem! "


Suara deheman seorang perempuan membuat mereka sadar. Mereka sontak melihat ke arah orang itu yang sedang berdiri di ambang pintu dengan tatapan yang tajam.


"Bu Intan! "


"Mama! "


.


.


.


.


.


bersambung....


Hai Hai Hai ๐Ÿค—๐Ÿค—โ˜บโ˜บ


aku kembali dengan kehaluanku yang sudah berhari-hari tersangkut๐Ÿ˜๐Ÿ˜


semoga yang membaca tidak bosan โ˜บ


.


.

__ADS_1


.


salam dari yuya๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


__ADS_2