
Supir pribadi Intan menjemput keluarga Rain di rumah sakit. Rain tetap bersikeras untuk langsung ke rumah Intan karena sudah beberapa hari dia tidak masuk kuliah. Dia tidak ingin bolos lagi. Walaupun semua temannya sudah tau penyebab Rain tidak masuk kuliah.
Hastini yang sebenarnya merasa khawatir dan juga merasa tak enak pada Intan, terpaksa harus menuruti keinginan Rain. Hastini merasa kondisi Rain belum cukup pulih. Rain masih butuh perawatan. Hastini tak enak hati jika meninggalkan Rain di rumah Intan yang tak lain adalah majikannya Rain. Tapi Rain berat dengan kuliahnya.
Rain menunjukkan keceriaan dan seolah tidak merasakan sakit apa-apa. Gadis itu tak ingin ibunya khawatir. Walaupun masih terasa sedikit sakit di beberapa bagian tubuhnya, namun ia menyembunyikan itu dari siapa pun.
.
.
.
Tibalah mereka di rumah Intan dan mereka langsung disambut pemilik rumah dengan suka cita.
Intan sengaja tidak ikut ke rumah sakit karena ingin menyambut Rain. Wanita itu hanya menyuruh supir dan satu asisten rumah tangga nya untuk menjemput keluarga Rain.
Ace dan Kana pun berada di rumah bersama suaminya Intan yang kali ini akan tinggal beberapa hari di rumah itu.
Intan segera menghampiri Rain saat gadis itu turun dari mobil dan memapahnya seolah Rain tak bisa berjalan. Tapi Rain membiarkan hal itu dan tetap berjalan masuk dengan Intan yang menempeli tubuhnya.
Hastini yang melihat itu kali ini hanya tersenyum. Walaupun rasa cemburu masih saja ada di hatinya, namun ia coba menepis semua itu dan berbaik sangka bahwa Intan menginginkan Rain menjadi menantunya. Ya, seperti itulah kata-katanya pada dirinya sendiri untuk menenangkan rasa cemburu nya.
.
.
.
Hari sudah semakin sore. Tiba waktunya untuk Hastini dan Arka pulang ke rumah nya. Rasa berat untuk meninggalkan Rain di rumah itu membuat Hastini tak kunjung beranjak. Wanita paruh baya itu masih saja duduk di samping anaknya.
Hastini seolah ingin menangis saat menatap Rain. Namun gadis itu hanya tersenyum. Tak ingin ibunya khawatir.
"Ibu bingung. Kamu disini kerja tapi kondisi mu seperti ini. Kamu masih membutuhkan banyak istirahat tapi kamu berada di rumah majikan mu. Hah... Ibu ingin sekali rasanya menemani kamu dulu disini. Merawatmu dengan tangan ibu sendiri."
"Ibu... " Rain mengelus tangan ibunya. "Ibu juga butuh istirahat. Beberapa malam ini bahkan ibu gak bisa tidur, kan? Kalo ibu masih jagain saya disini, kapan ibu istirahat nya? Lagian ibu tenang aja. Saya disini juga punya asisten, bu. " Rain terkikik sendiri. Hastini menatapnya tak percaya.
"Lah? Yang bener aja kamu? Masa kerja di rumah orang punya asisten? "
"Iya lah, bu. Kan saya koki. Saya punya asisten disini, " ucap Rain mencoba meyakinkan ibunya. Namun Hastini masih terlihat tidak percaya.
__ADS_1
Mereka hanya duduk berdua, jadi tidak ada yang mendengar mereka mengobrol seperti itu. Arka sedang berbincang dengan para lelaki lainnya di teras rumah. Melihat-lihat beberapa koleksi yang dimiliki oleh pak Ardian, suaminya Intan.
Tapi koleksi apa itu Rain pun tak tau.
Intan sedang berada di dapur untuk mengambil sesuatu. Wanita itu membuat berbagai macam kue untuk menyambut Rain. Saat kue itu tak habis, ia membungkus beberapa untuk di bawa pulang Hastini.
Intan kembali dari dapur bersama dua art di belakang nya. Mereka masing-masing membawa bingkisan yang besar yang entah apa pula isinya itu.
Intan tampak tersenyum bahagia saat menyerahkan bingkisan yang ia pegang pada Hastini. Sementara yang dibawa oleh art nya langsung dibawa keluar untuk dimasukkan ke dalam mobil.
"Ini apa, bu? " Rain bertanya terlebih dahulu. Terlihat sekali kalau gadis itu penasaran dengan isi dari bingkisan yang dibawakan Intan untuk Hastini.
Hastini menyenggol lengan Rain pelan. "Sst, gak sopan, " peringat nya pada Rain dengan lirih. Rain hanya tersenyum sambil mengerjap-ngerjapkan matanya pada ibunya.
Intan yang melihat itu hanya menggeleng sambil tersenyum.
.
.
.
Rain tersenyum walaupun terlihat di matanya kalau gadis itu juga sedih. Banyak hal yang membuatnya sedih. "Ya, bu. Rain akan jaga diri baik-baik dan juga akan berusaha untuk tidak merepotkan orang lain. Ibu jangan terlalu banyak pikiran, ya. Saya gak mau kalau darah tinggi ibu naik lagi. "
Hastini mengangguk. "Iya. "
Hastini tak kunjung beralih dari posisi nya dan masih saja menatap Rain dengan sedih. Seolah ada sesuatu yang ingin dia sampaikan tapi tak bisa terucap.
Rain memeluknya dan menepuk bahunya. "Rain sayang ibu. Ibu jangan berpikiran aneh-aneh. Saya gak bisa maafkan diri saya kalo sampe ibu sakit gara-gara saya, " ucap Rain lirih. Mata Hastini berkaca-kaca. Rasanya, wanita itu ingin sekali menangis saat ini.
"Bagi Rain, ibu adalah segalanya. Ibu tidak tergantikan. Rain akan tetap jadi anak ibu. Ibu jangan khawatir. Jangan takut kalau Rain akan meninggalkan ibu. Rain akan tetap bersama ibu. Di hat saya selalu ada ibu. " Kata-kata Rain seolah menjadi penenang untuk Hastini. Seolah kata-kata itulah yang ingin ia dengar.
Hastini melepaskan pelukannya dan tersenyum. Ditatap nya Intan yang berdiri bebeberapa langkah di belakang Rain. "Bu, saya titip Rain, ya. "
"Iya, bu. Ibu tenang saja. Jangan terlalu banyak pikiran. "
Lalu Hastini menata Ace yang berdiri di samping Intan. Ace tersenyum namun juga merasa gugup ketika Hastini menatapnya dengan ekspresi yang baginya menakutkan.
"Ibu titip Rain, ya. Tolong jaga dia baik-baik, " pinta Hastini masih dengan tersenyum namun tatapan nya benar-benar serius. Dia benar-benar khawatir pada Rain.
__ADS_1
Ace menatapnya dengan serius untuk membuatnya yakin bahwa dirinya bisa menjaga Rain. "Iya, bu. Saya akan menjaga Rain, " jawab Ace mantap.
Lalu Hastini dan Arka masuk ke dalam mobil dengan langkah yang berat. Ditatap nya lagi Rain yang berdiri mematung melihat mereka dari luar. Hastini rasanya ingin sekali turun lagi dan memeluknya. Namun semua itu ia tahan hingga mobil yang membawanya membuat tatapan nya dan Rain terputus.
Hastini menangis. Benar-benar menangis. Menangis hingga sang supir mendengar nya dan merasa tak enak hati.
Arka berusaha menenangkan nya dengan berbagai bujukan. Namun Hastini masih menangis. Hastini diselimuti kekhawatiran yang besar, namun ia tak bisa bicara di sini.
"Sudah lah, bu. Ibu tenang dulu. Nanti kita bicara di rumah. Lagipula, ini tidak baik untuk kesehatan ibu. "
Hastini mencoba menenangkan diri sedikit demi sedikit. Mengatur nafasnya dan memejamkan matanya untuk membantu pikiran nya tenang.
.
.
Rain masih berdiri mematung selama beberapa saat. Intan segera menghampiri nya disusul oleh Ace. Mereka khawatir melihat Rain yang tampaknya tidak baik-baik saja.
"Sayang, ayo masuk. Kamu juga butuh istirahat. Lagipula ini sudah sore. "
Rain menatapnya kosong tanpa menjawab. Intan memapah Rain agar gadis itu mau beranjak dari tempatnya berdiri saat ini. Mereka pun masuk.
.
.
.
.
bersambung...
.
.
.
salam dari Yuya☺☺
__ADS_1