
.
Rain POV
Pikiranku benar-benar kalut saat mendengar kabar dari ibuku. Bagaimana tidak? Abangku yang belum sepenuhnya sembuh, kini malah mengalami kecelakaan lagi.
Ya Tuhan... Bagaimana keadaan abangku sekarang?
Aku meminta izin pada bu Intan untuk pulang ke rumah, sebenarnya ke rumah sakit untuk melihat kondisi abangku.
Bu Intan tidak mengizinkan aku pergi sendiri. Dia menyuruh supirnya untuk mengantarku, aku tidak menolak karena memang sepertinya tanganku belum bisa ku pakai untuk mengendarai motor terlalu jauh.
Ibuku tidak tau perihal lukaku. Aku tidak ingin dia menghawatirkan ku dan membuatku tak bisa kerja lagi.
Saat ini aku benar-benar membutuhkan banyak biaya. Mungkin saja operasi bang Arka akan menghabiskan banyak biaya.
Aku sampai di rumah sakit dan langsung mencari keberadaan ibuku. Aku melihatnya sedang duduk di depan sebuah ruangan bersama Zee dan beberapa orang yang sebagian tidak ku kenal.
Zee dan ibuku tampak sedih, itu sudah pasti.
Pertemuan kami kali ini terasa menyedihkan.
Aku berjalan menghampiri mereka. "Bu... "
Mereka menoleh ke arahku. Tatapan keduanya terlihat sayu.
"Rain... Bagaimana kabarmu? " Tanya Ibu saat aku menyalaminya.
"Saya baik, bu. Ibu dan Zee bagaimana kabarnya? " Walaupun hampir setiap hari kami bertukar kabar, tapi setiap kami bertemu pasti kami bertanya pula.
"Ibu dan Zee baik. " Ibu menunduk sedih. Walaupun dia tidak menangis, tapi tatapannya sudah cukup memberiku jawaban.
"Gimana kondisi bang Arka, bu? "
"Abangmu masih di dalam. Kita tunggu aja. "
Aku menatap ruang IGD di hadapanku dan menghela nafas pelan. "Sebenarnya bagaimana kejadiannya sampai bang Arka kecelakaan? " Tanyaku seraya duduk di sampingnya.
Ibu menghela nafas. "Sebenarnya ibu sendiri tidak tau abangmu itu kecelakaan atau sengaja dicelakai orang. "
"Maksud ibu? "
Bibir ibu bergetar, air mata mulai tergenang di pelupuk matanya. "Abangmu tidak sendirian saat kecelakaan itu. Awalnya temannya mengajak dia untuk melihat tempat kerja baru mereka. Mereka berempat mengendarai dua motor. Mereka tidak merasa ada yang aneh. Tapi saat akan menyebrang, tiba-tiba ada sebuah mobil yang melaju kencang. Mobil itu menabrak motor yang dikendarai abangmu. Mobil itu langsung kabur setelahnya. "
Ibuku menangis. Akupun tak bisa menahan tangisku. Membayangkan bagaimana kondisi abangku saat itu.
"Dimana temannya bang Arka? "
"Temannya yang jatuh bersamanya ada di dalam juga. Dia bahkan tidak sadar sejak kecelakaan. Kedua temannya yang melaju lebih dulu, tidak tau pasti dengan kejadian itu. Mereka hanya mendengar suara motor yang dikendarai abangmu jatuh. Lalu mereka melihat mobil yang melaju dengan cepat. Mereka tidak mengira mobil itu yang menabrak abangmu."
"Dimana kejadiannya? "
"Di jalan pertigaan di dekat toko furniture, jalan menuju masjid kota. "
"Apa kejadiannya ini sudah di laporkan ke polisi? "
"Sudah. Tapi polisi masih menyelidiki karena ternyata setelah dilihat dari hasil rekaman cctv, mobil itu tidak memiliki plat nomor. Itu yang membuat ibu berpikir kalau ini bukan kecelakaan. Mereka seperti sengaja dan tidak ingin orang lain tau. Entah siapa yang diinginkan oleh orang itu. Abangmu atau temannya."
Berbagai pertanyaan muncul di benakku. Aku benar-benar ingin tau semuanya. Apakah ini sudah direncanakan? Dan kalau iya, siapa target orang itu?
.
.
.
Berhari-hari berlalu dan rasa penasaranku belum terjawab. Aku yang meminta hasil rekaman cctv dengan mengatasnamakan keluarga korban, hanya bisa melihat-lihat rekaman itu.
__ADS_1
Rekaman yang menunjukkan mobil tanpa plat nomor itu yang melaju kencang dan menabrak abangku. Setelah itu aku tidak tau. Rekaman di tempat yang lain tidak bisa menjawab kebingungan ku, atau aku yang memang tidak tau dengan hal seperti ini.
Aku bukan Arza yang ahli dalam hal seperti ini. Keahlianku adalah memasak di dapur. Salahkah?
Arza masih belum bisa ku hubungi sampai saat ini. Andai saja dia ada, pasti aku tidak akan sebingung ini.
Entah para polisi itu benar-benar menyelidiki kasus abangku atau tidak. Berapa kali aku bertanya, tapi jawabannya tetap sama dan membuatku kecewa.
Andaikan uang di tabunganku masih tersisa banyak, pasti sudah ku usahakan membayar orang untuk mencari tau masalah ini.
Tapi mau bagaimana? Kebutuhanku dan keluargaku datang bersamaan dengan adanya masalah ini. Membuat tabungan ku benar-benar menipis.
.
.
.
Aku berputar arah saat hendak kembali ke rumah bu Intan. Entah kenapa aku ingin mengunjungi rumah Arza walaupun aku yakin dia tidak ada di rumahnya.
Ini sudah keberapa kalinya aku singgah kerumahnya setelah beberapa kali aku menengok keluargaku.
Ini sudah dua minggu kepulangan abangku dari rumah sakit. Selama itu pula rasa pensaranku masih menemaniku. Ini pula alasanku ingin sekali bertemu Arza, selain aku menghawatirkan keadaannya sekarang.
Walaupun polisi sudah menyelesaikan kasus ini dan bahkan sudah menangkap tersangka, tapi entah kenapa perasaanku tetap tidak yakin.
Polisi menangkap orang yang menabrak abangku dan temannya dengan alasan cemburu. Cemburu pada teman abangku yang sekarang harus duduk di kursi roda.
Tapi lagi-lagi aku tak yakin kalau teman abangku lah targetnya. Perasaanku masih belum lega.
.
.
.
Tak ada tanda kehidupan bahkan rumah tetangganya pun tampak sepi. Biasanya aku selalu bertanya pada mereka walaupun jawabannya tetap sama.
Arza tidak ada di rumahnya.
Akhirnya aku memutuskan untuk kembali setelah diam hampir setengah jam di sini.
Tapi...
"Rain... "
Suara itu menghentikan pergerakan ku. Aku menoleh untuk melihat orang yang memanggilku dan menatapnya tak percaya.
.
.
.
.
"Gue sembunyi. Beberapa bulan terakhir ini ada beberapa orang yang ngincer gue. Sorry kalo gue bikin loe khawatir. " Arza menepuk-nepuk bahuku yang bergetar.
Ya, aku menangis. Bisa melihatnya lagi membuat diriku seakan tak percaya kalau saat ini aku bertemu dengannya. Melihatnya dalam keadaan baik-baik saja di depan mataku sungguh membuatku senang.
"Gue tuh khawatir tau gak? Gue ngerasa bersalah banget sama loe, " Ucapku sambil sesenggukan.
"Gue baik-baik aja. Loe liat sendiri kan, gue gak pa-pa, " Ucapnya sambil merentangkan kedua tangannya.
"Emang siapa orang yang ngincer loe? "
Dia mengalihkan pandangannya. "Gue gak tau. Yang pasti mereka bukan cuma satu kelompok. " Lalu dia kembali menatapku.
__ADS_1
Aku diam menatapnya karena ingin mendengar apalagi yang akan diucapkan nya. Tapi dia hanya diam dengan kedua manik matanya yang bergerak menatap wajahku.
"Kenapa? "
Dia menggeleng.
Kenapa rasanya dia menjadi aneh? Apa kepergiannya merubah sebagian sikapnya?
.
.
.
Kami duduk di kursi rumahnya dan mengobrol seperti kebiasaan kami dulu. Bercerita tentang banyak hal yang kami lalui selama kami tidak bertemu.
"Jadi loe nyariin gue karena mau minta tolong? " Sedikit menjengkelkan saat melihat ekspresi wajahnya. Tapi aku memang membutuhkan dia.
Aku menghela nafas. "Ya. Gue emang cuma bisa nyusahin loe. " Aku menunduk lesu.
"Ck, orang bercanda juga. Sensi amat sih loe."
"Gue tuh pusing, Za. Mana uang tabungan gue udah gue pake bayar semester, bayar keperluan sekolahnya Zee. Satu bulan yang lalu juga gue pake buat bayar cicilan tanah. Sekarang abang gue kecelakaan... "
Aku menghela nafas kasar.
Arza menaikkan sebelah alisnya. "Jadi loe gak ikhlas nolong keluarga loe? "
"Ish! Bukan gitu. Gue pengen cari tau kasus ini tapi gak bisa. " Aku menatapnya sayu. Mungkin terlihat berlebihan.
"Haha... Loe bokek? "
Aku merengut dan ingin menangis. Kenapa dia malah menertawakan ku?
"Loe tuh ya, giliran gue aja maunya gratisan. Gue kerja juga cari duit buat makan. "
Entah seperti apa wajahku sekarang. Kenapa dia malah memojokkan ku terus?
Aku menangis histeris, tak tau lagi bagaimana bereaksi dengan kata-katanya yang entah serius atau bercanda.
Arza gelagapan karena tangisanku yang meraung-raung. Terserah lah. Entah ada orang yang mendengar atau tidak di luar sana.
"Udah diem. Loe mau kita digerebek warga apa? Gue bercanda tau. "
"Beneran? " Tanyaku dengan air mata yang masih bercucuran.
"He'em."
Akhirnya aku diam dan menatapnya dengan wajah kacauku.
"Ampun dah... Loe makan apa sih akhir-akhir ini? " Arza menghembuskan nafas kasar sambil geleng-geleng kepala.
.
.
.
bersambung...
.
.
masih banyak kekurangan karena author kurang berpengetahuan...
jika ada salah mohon kritik dan sarannya ya. makasih dukungannya.
__ADS_1
salam dari Yuya😘😘😘