Pelangi Tanpa Batas Warna

Pelangi Tanpa Batas Warna
Dua Insan Di Tepi Kolam


__ADS_3

⚠️⚠️


.


.


Aku merutuki kecerobohanku. Kenapa bisa sampai jatuh? Bagaimana kalau Rain mendengarnya?


Aku sedikit kesal tapi marah pun pada siapa? Ini adalah ulahku sendiri. Akhirnya aku berenang ke tepi di bagian lain kolam. Naik dengan perlahan.


Karena pakaianku yang berlapis dan tebal, membuat banyak air berjatuhan dari tubuhku.


Baru sebentar aku berjalan, aku sudah terpeleset lagi. Tubuhku tidak seimbang dan kini aku malah jatuh ke kolam dengan lebih keras.


Byurr!!


Aku yakin kini Rain benar-benar bisa mendengarnya. Aku bergegas ke pinggir supaya bisa pergi lebih cepat. Aku tak ingin Rain melihatku berenang dengan pakaian seperti ini. Apa yang akan dia pikirkan nanti? Bahkan aku terlihat konyol sekarang.


Aku mencoba meraih tepian kolam namun seketika teriakan seseorang membuatku mengurungkan niatku.


"Ya ampun!! "


Itu Rain.


Aku memejamkan mataku dan membuat tubuhku mengapung di air, menjauh lagi dari tepi kolam. Biarlah apapun yang dia pikirkan. Lebih baik dia berpikir kalau aku pingsan daripada mengetahui kebenarannya.


Rain sepertinya sekarang sedang mendekat ke arahku. Aku bisa mendengar langkah kakinya yang terburu-buru.


"Ya ampun!! Ace!! "


"Ace! Bangun! Aduh... Ini gimana? " Dia terdengar panik.


"Tolong...!! Tolong..!!. "


"Aduh... Ini orang pada kemana semua... "


"ACE!! " Dia berteriak sampai suaranya serak.


"Bangunlah... Aku gak bisa berenang loh. Ya ampun... "


Aku bisa merasakan kalau Rain mencoba meraih tubuhku. Menarik air dengan gerakan cepat dan kuat. Tapi yang dilakukannya malah membuat tubuhku semakin ke tengah.


Dalam hati aku ingin tertawa.


Tapi kemudian...


Aku bisa merasakan kalau ada orang yang masuk ke dalam kolam.


Mungkin kah Rain? Tapi tadi dia bilang dia tidak bisa berenang.


Air bergerak perlahan. Tapi tak lama gerakan air menjadi kacau. Seperti diguncang oleh gempa. Terdengar pula suara cipratan air yang terdengar keras.


Kenapa Rain masih belum sampai juga padaku? Padahal aku bisa merasakan air yang bergerak kuat.


Sepertinya ada yang tidak beres.


Ku buka perlahan mataku dan aku terbelalak saat melihat Rain yang meronta berusaha untuk tidak tenggelam.


Segera ku hampiri dia yang masih meronta. Ku raih dia dan kucoba membawanya ke tepi.


Aku tidak tau kenapa dia masih tidak tenang, padahal Aku sudah memeganginya. Aku sampai kewalahan menahan tubuhnya yang tidak mau diam.


Aku membawanya kebagian lain kolam di dekat kamarnya. Saat hampir sampai, aku bisa merasakan kalau kepalanya terbentur dinding kolam. Tubuhnya diam seketika.


Aku membaringkannya di lantai. Rasa panik menderaku melihatnya yang terbaring.


Mama...


Bagaimana kalau dia tau? Aku benar-benar panik. Aku mengguncang tubuhnya, berharap itu bisa membuatnya bangun. Menepuk-nepuk pipinya bahkan dengan keras.


Ya Tuhan...


Bagaimana ini? Kenapa dia tidak bangun juga?


Apa ini balasannya karena aku berpura-pura tadi? Kalau tau begini jadinya, lebih baik dia melihatku terlihat konyol tadi.

__ADS_1


"Hei... Bangunlah... Ku mohon. Rain... " Aku masih menepuk-nepuk pipinya.


Tapi tatapanku kini beralih ke pakaiannya yang basah dan membuatnya sangat transparan. Sampai kacamata hitam di balik bajunya itu terlihat.


Hei!


Apa yang aku lihat?!


Segera ku tepis pikiran kotorku dan fokus pada tujuanku.Sebenarnya aku ragu, tapi ku coba saja. Ku taruh tanganku di dadanya dan menekannya berkali-kali. Tapi dia tidak bangun juga. Pikiranku buntu, aku semakin panik.


Apa harus kugunakan cara itu?


Aku menatap wajahnya yang basah. Lalu tatapanku terpusat pada bibir mungilnya.


"Maaf, ya. "


Mungkin harus begini.


Aku duduk bertumpu pada kedua lututku. Mencondongkan tubuhku perlahan. Aku merasa ragu, tapi menurutku ini bisa membantunya.


Aku berhenti tepat di depan wajahnya. Memandanginya dan meyakinkan diriku kalau yang aku lakukan ini benar.


Tak ragu lagi, aku pun memberinya nafas buatan.


Sekali


Dua kali


Tiga kali


Ku tatap wajahnya dengan perasaanku yang campur aduk. Dia terbatuk dan keluarlah air dari dalam mulutnya. Nafasnya tersengal dengan mata yang masih terpejam.


"Hah... Uhuk uhuk. Hah... Hah... "


Ini terjadi lagi.


Kenapa pikiranku selalu kacau saat melihatnya terengah-engah begitu? Aku diam mematung memandangi wajahnya, lebih tepatnya bibir mungil itu.


Tangannya bergerak memegangi kepalanya, matanya perlahan terbuka. Tapi bibir itu tidak berhenti tersengal.


Aku sudah berada tepat di depan wajahnya. Sejak kapan aku tidak tau.


Matanya sedikit menyipit, mungkin pandangannya masih tidak jelas.


Nafasku dan nafasnya beradu. Saat itulah aku tidak tau apa maksud dari yang aku lakukan padanya.


Ku daratkan b****ku di atas b****nya, tanpa ragu. Mengikuti gejolak aneh yang aku rasakan.


Kurasakan tubuhnya menegang sebelum tangannya mencoba mendorong ku. Ku tahan kuat kedua tangannya masih dengan posisi yang sama.


Dia meronta tapi ku tekankan lagi tubuhku agar dia tidak bisa menghindar. Sungguh, perasaan ini baru untukku dan aku menyukainya.


Dia menyerah dengan usahanya. Itu membuatku semakin kehilangan kendali. Aku merengkuh erat tubuhnya. Memeganginya agar rasa ini tidak berakhir.


Rain...


Apa yang aku lakukan padamu?


Aku memang menyukainya, tapi apa aku boleh berpikir kalau Rain juga sama? Bahkan dia membiarkan b****ku bergerak lebih jauh.


"Mmpphh.. "


Kegiatan kami terhenti saat tangannya menepuk-nepuk keras dadaku.


"Mmpphh... ng... ng... "


Sepertinya dia sudah kesulitan bernafas. Kulepaskan tautan bibir kami. Dengan nafasku yang juga tersengal, ku pandangi wajahnya yang masih berada di bawah ku. Pemandangan yang membuatku terpesona.


Rona merah di pipinya terlihat sangat jelas. Tatapan matanya tidak bisa ku artikan. Suara degup jantungnya terdengar begitu jelas, sama pula dengan degup jantungku. Aku benar-benar tidak bisa mengendalikan ini. Aku bangkit sebelum hal itu terjadi lagi.


Ku buang nafasku kasar. Lalu ku tatap lagi dia yang masih terbaring.


Dia menangis?


Kenapa baru sekarang? Tapi kapan lagi? Sedari tadi aku sudah membekapnya.

__ADS_1


Dia duduk perlahan. Menunduk kemudian dia terlihat terkejut. Dia segera menarik kakinya untuk menutupi tubuhnya yang terbungkus baju yang basah. Tangannya memeluk tubuhnya sendiri.


Mungkin dia baru sadar dengan pakainya. Bahkan lekuk tubuhnya masih terlihat jelas. Tubuh yang tidak sedatar yang aku kira.


Tapi kata-kata yang keluar dari mulutnya membuatku mengalihkan perhatianku dan membuat hatiku sedikit ngilu.


"Jangan menyentuh dan melihat sesuatu yang bukan hakmu! "


Kata-kata itu terasa menusuk. Jelas dengan apa yang aku lakukan padanya barusan.


Tapi keegoisanku tak menerima itu. Walaupun memang benar aku yang salah.


"Aku hanya ingin membantumu. "


Dia mendesis sambil masih menunduk.


"Kalau begitu, terima kasih, " Ucapnya dengan senyuman sinis.


"Sama-sama, " Jawabku angkuh.


Dia berdiri perlahan. Tangannya menutupi dadanya. Dia meringis dan hampir terjatuh. Aku menghampirinya berniat membantu. Tapi tanganku di tepisnya dengan kasar.


"Aku bisa sendiri! Berpalinglah dariku. Jangan melihatku kalau kamu ingin membantu, " Ucapnya sinis walaupun lirih.


Dia berbalik. Aku membiarkannya pergi. Tapi aku tak bisa mengalihkan pandanganku. Kulihat lagi dia yang berjalan perlahan.


Sial!


Mungkin memang lebih baik aku memalingkan wajahku agar tidak melihat tubuhnya lagi. Sungguh, baju transparan itu membuat tubuhku meremang dan terasa panas.


.


.


.


.


.


.


Seharian aku terus memikirkan Rain. Kenapa dia tidak keluar juga dari kamarnya? Ku kira dia akan keluar dan pergi ke cafe hari ini.


Aku merasa tak enak hati. Kenapa penyesalan selalu hadir setelah semuanya terjadi? Kenapa juga aku tidak bisa menahan diriku?


Sedari tadi aku menunggunya keluar, duduk di ruang keluarga sendirian. Bahkan makan siang pun bukan dirinya yang menghidangkan.


Ku tanya Mbak Sari yang menyajikan makanan untukku. "Rain kemana, mbak? Bukannya dia gak ke cafe? Kok bukan dia yang siapin makanannya? "


Mbak Sari menatapku. "Dia demam. Dari tadi sudah saya suruh berobat biar di antar pak supir, tapi dia gak mau, " Ucapnya terdengar khawatir.


Aku merasa tubuhku kaku. Apakah kelakuanku tadi yang membuatnya sakit? Perasaanku menjadi lebih kacau.


"Kenapa, den? Kok kayak orang bingung begitu?"


"E... Enggak kok, mbak. Ya udah, mbak lanjut aja. " Dia mengangguk dan berlalu.


Segera ku habiskan makananku, berniat menjenguknya setelah ini. Perasaanku tidak tenang sebelum melihat dia.


.


.


.


.


bersambung....


aku merasa takut dengan kata-kata kacau yang kubuat sendiri 😭😭


mohon maaf...


salam dari yuya

__ADS_1


__ADS_2