
Jam dua belas malam. Tapi Rain masih duduk di ruang keluarga bersama Kana, Ace dan Intan.
Intan jelas tidak senang dengan apa yang dilakukan oleh kedua anaknya di kamar seorang gadis. Intan banyak memberi nasehat kepada kedua anak laki-lakinya.
Rain pun tak luput dari ocehan Intan yang baru kali ini dia dapatkan. Rain merasa bersalah karena telah membiarkan kedua laki-laki itu masuk.
Intan sebenarnya sangat khawatir. Terlebih lagi pada Rain. Anak gadis orang. Intan sudah meyakinkan orang tuanya kalau dirinya akan menjaga Rain.
Walaupun Intan tau bagaimana kondisi kedua anaknya, tapi kejadian di kamar Rain membuatnya memiliki pikiran lain. Senang kalau kedua anaknya sudah berubah dan lebih senang lagi kalau Rain lah yang membuat mereka berubah.
Tapi sekarang, Intan justru menghawatirkan Rain. Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada anak itu atau Rain menjadi tidak nyaman dan pergi dari rumahnya?
"Untunglah Papa kalian sudah pergi. Kalau dia masih di rumah, Mama gak tau gimana reaksinya. " Intan mengingat lagi tentang suaminya yang kurang menyetujui Rain tinggal di rumahnya.
"Sekarang kalian tidur. Ini sudah malam. " Intan hendak beranjak, namun diliriknya lagi tiga orang yang masih duduk di tempat.
"Kana... "
"Iya, Ma? "
"Masuk."
Kana menatap Rain dan Ace bergantian. Menghela nafas kemudian pergi tanpa mengatakan apapun.
"Kalian juga masuk. Mama akan tenang kalau kalian sudah masuk ke kamar kalian masing-masing. "
Ace mengangguk dan pergi. Menatap lagi Rain dengan ujung matanya. Bibirnya tersenyum manis mengingat kejadian di kamar Rain.
Rain berpamitan pada Intan sambil menunduk. Rain merasa tak enak hati.
Sampai dikamarnya, Rain merasa mengantuk. Tapi tubuhnya kembali terasa tak enak. Rain meminum obat penuru panas untuk menghindari dirinya demam saat tidur nanti.
Mungkin itu adalah efek dari luka di bahunya. Rain berniat memeriksakannya besok. Walaupun mungkin terlambat.
.
.
.
Ace bangun lebih awal dari biasanya. Mencuci muka lalu segera pergi ke dapur. Hatinya seolah berbunga-bunga saat melihat gadis yang tinggi itu sedang sibuk memasak, seorang diri.
"๐๐ฆ๐ฃ๐ฆ๐ต๐ถ๐ญ๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ข๐ญ๐ช. ๐๐ช๐ฎ๐ข๐ฏ๐ข ๐๐ข๐ฎ๐ข? "
Ace berjalan perlahan, takut mengganggu gadis yang sedang dilihatnya itu. Duduk di kursi dengan kedua tangannya menopang dagu.
__ADS_1
Rain memasak dengan tenang, tanpa suara. Kedua tangannya sibuk dengan peralatan dapur. Posisinya yang membelakangi Ace membuatnya tak menyadari kalau dirinya sedang diperhatikan.
Tak lama kemudian, datanglah Kana dengan langkah tergesa-gesa tapi dengan senyuman yang cerah. Bahkan dirinya sudah mandi dan berpakaian rapi.
Tapi senyumannya lenyap saat melihat Ace yang sedang duduk santai di kursi. Kana menatap datar Ace yang tersenyum sinis padanya. Kana tak memperdulikan nya dan memilih duduk di kursi yang lain.
Mereka saling pandang dengan tatapan permusuhan. Kana mengingat lagi saat semalam dia mengatakan perasaannya.
Flashback
Kana sengaja duduk berdua dengan Ace di balkon. Mencoba tenang untuk benar-benar mengakhiri hubungan terlarang mereka. Karena Kana beranggapan bahwa Ace masih menaruh hati padanya. Melihat dari sikap Ace yang terlihat cemburu saat dirinya dekat dengan Rain.
Tapi belum sempat Kana memulai, Ace sudah lebih dulu berucap. "Aku ingin bertanya sesuatu, tentang Rain. Apa yang terjadi padanya? Sepertinya bahunya terluka. "
Kana merasa terkejut, " Darimana kakak tau? "
"Aku melihatnya sendiri, " Jawabnya tenang tanpa menoleh.
Kana tidak berpikir buruk. "Iya, dia terluka, karena melindungiku. " ๐๐ถ๐ณ๐ข๐ด๐ข. "Dan karena itulah aku semakin menyukainya, " Ucap Kana sambil tersenyum, menatap langit-langit.
"Suka? " Ace menatapnya tak senang.
Kana tersadar dan kembali fokus pada tujuannya. "Aku minta maaf, kak. Sepertinya aku menyukai Rain, suka sebagai laki-laki terhadap perempuan. Aku minta maaf kalau ini membuatmu tidak nyaman. Tapi ya... Aku tidak bisa menepis perasaanku. Aku jatuh cinta padanya. Jadi maafkan aku, hubungan yang kita jalani benar-benar harus ku akhiri." Kana menatap Ace ragu.
Ace tersenyum sinis. Kana masih beranggapan Ace tidak menerima itu. "Suka ya? Hem... Sepertinya aku juga menyukainya. Lebih tepatnya jatuh cinta padanya. " Ace tersenyum menantang pada Kana. Kana jelas terkejut.
"Aku tidak bercanda. Aku sendiri tidak tau sejak kapan aku menyukainya. Tapi, setiap saat melihat dia terengah-engah, rasanya, seperti dia menantangku. Apalagi... Saat setelah kami melakukan itu. " Ace tersenyum.
"Itu... Apa? " Kana tampak tak tenang mendengar kata-kata yang pastinya membuat orang berpikiran negatif.
Ace pun menceritakan kejadian di kolam dan yang pastinya ditambahi dengan cerita yang membuat Kana panas hati. Ace tersenyum puas saat Kana pergi dengan raut wajah kesal.
Kana tidak menyangka Ace akan tertarik pada Rain. Keadaan sekarang sungguh berbanding terbalik dengan dulu. Rain yang membuat mereka cemburu justru sekarang mereka merebutkan gadis itu.
Flashback end
Kana yang terlihat kesal ditambah panas dengan ekspresi Ace yang seperti ingin menertawakannya. Ace mengusap bibirnya menggunakan telunjuk dengan gerakan menggoda. Kana sungguh geram.
"Ah... Setidaknya aku sudah selangkah lebih maju darimu. Aku yakin, sengaja ataupun tidak, kamu pasti belum pernah melakukan itu dengannya," Ucap Ace lirih.
.
.
.
__ADS_1
Rain berbalik untuk menyimpan makanan di meja. Tapi dia terkejut sampai makanan yang siap dihidangkan itu hampir tumpah saat melihat dua laki-laki itu. Rain menghela nafas untuk menenangkan diri dan berjalan tanpa menghiraukan dua lelaki itu.
Rain kembali ke dapur dan disambut dengan senyuman manis dari Kana dan wajah mempesona Ace. Rain rasanya ingin jungkir balik melihat wajah itu. Entah kenapa wajahnya selalu terngiang-ngiang akhir-akhir ini.
"Bisa ku bantu? " Tanya Ace seraya bangkit dari duduknya dan menghampiri Rain.
Rain tetap melanjutkan kegiatannya. "Aku terbiasa melakukannya sendiri. Rasanya tidak nyaman kalau ada yang membantu. "
Ace diam. Kana yang sudah tau akan hal itu hanya tersenyum mengejek ke arah Ace, masih duduk santai di kursi.
"Lagipula, sebaiknya kalian tidak usah menggangguku dan membuatku terkena masalah. " Rain pergi lagi untuk menaruh makanan di meja makan yang jaraknya agak jauh dari sana.
Ace diam menekuk wajahnya tapi tak lama kemudian dia berlari dan mengekori Rain. "Tapi Mamaku tidak disini. "
Rain berhenti dan membuat Ace hampir menabraknya. "Dia memang tidak di sini, tapi dia masih tetap bisa melihat kita, " Ucap Rain sambil melirik ke arah CCTV.
Ace yang baru sadar pun berhenti mengikutinya. Akhirnya Ace mengikuti Kana yang hanya duduk santai di kursi.
.
.
.
Rain yang selesai dengan pekerjaannya beralasan pergi ke kamar mandi agar terhindar dari Ace dan Kana. Tapi sebenarnya Rain langsung berangkat kuliah setelah mengirim pesan pada Intan.
Alhasil, kedua lelaki itu duduk diam dengan canggung sampai Intan datang dan menceritakan apa yang terjadi. Tentu saja mereka berdua kesal bukan main. Berniat pergi tanpa sarapan, tapi teguran dari Intan membuat mereka mengurungkan niatnya.
.
.
.
bersambung...
Hai Hai Hai....
maaf kalo part nya gak jelas...
minal aidzin wal faidzin walaupun telat๐
pokoknya mohon maaf untuk kalian semua atas setiap kesalahanku...
dan Terima kasih buat kalian yang masih mau memantau karyaku... makasih banyak-banyak๐ฅฐ๐ฅฐ
__ADS_1
salam dari yuya๐๐๐