
Ace menatap dengan sedikit kesal Rain yang menertawakan nya. "Haha... Lucu ya? Tapi bagus deh kalo kamu senang. "
Rain menghentikan tawanya dan mengangkat bahu.
"Kamu kangen gak sih sebenernya sama aku?" Sepertinya Ace belum puas kalau belum mendapatkan jawaban dari Rain. Rain tersenyum dan menunduk malu.
"Lihat aku dong. " Ace seolah tak sabar dan ingin sekali memeluknya.
"Iya. Aku kangen. Kangeenn banget sama kamu, " jawab Rain sambil menatap Ace. Senyuman nya membuat Ace terpesona, padahal kondisi wajah Rain tidak baik-baik saja.
"Udah kan? Sekarang kamu senyum dong. Kamu sendiri gak kangen sama aku? Atau... Rasa kangenmu ilang karena lihat wajahku yang kayak gini? " Rain berekspresi cemberut sehingga membuat Ace tersenyum.
"Mukamu emang lucu. "
"Ih! Ngambek beneran nih aku. "
"Emang kenyataannya gitu. Tapi rasa kangen ku gak ilang gara-gara itu kok. " Rain tidak menjawab dan masih menekuk wajahnya.
"Aku masih kangen, " ucap Ace pelan dengan suara seraknya. Rain menatapnya dan tertegun melihat Ace dengan tatapan itu. Tatapan yang membuatnya lemas seketika.
Ace menggeser posisi duduknya dan mendekati Rain. Gadis itu terlihat gugup dan kebingungan, namun ia tak mengalihkan pandangan nya dari Ace.
"Rain."
"Ya? "
"Aku minta hadiah darimu. Hadiah pertemuan kita. " Ace berucap dengan tatapan seolah dia tidak sadar dengan ucapannya.
"Hah? Emm... Ya. Nanti aku kasih kalau aku sudah pulih dan pulang dari sini. "
"Tapi aku maunya sekarang. "
Rain memejamkan matanya sebentar karena sikap, kata-kata dan suara Ace sudah membuatnya tidak bisa fokus. "Tapi aku gak punya hadiah spesial yang bisa aku kasih ke kamu sekarang. Nanti kalo aku udah pulih, aku masakin yang spesial deh buat kamu. "
"Tapi aku gak mau itu. "
"Mm... Terus? "
"Aku maunya kamu. "
"Hah? M-maksudnya? "
Detak jantung Rain sudah tidak bisa lagi ia kondisikan. Gadis itu gugup setengah hidup menghadapi sikap Ace saat ini. "Ace, jangan buat aku takut, " cicitnya.
"Takut? " Ace bengong sendiri. Nyalinya yang ia bangun tadi seolah bersiap pergi berhamburan, tapi segera ia kumpulkan lagi.
Ace tersenyum dengan tampang innocent nya. "Lihat aku. "
"Kan dari tadi aku udah liatin kamu. "
"Ya... Li-liatnya pake perasaan dong. "
"Aku takut liat kamu kayak gini, itu perasaan juga kan? "
"𝘖𝘩... 𝘠𝘢 𝘢𝘮𝘱𝘶𝘯... " Ace membuang nafas panjang. "𝘚𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘢𝘴𝘪𝘭. 𝘚𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘤𝘢𝘳𝘢𝘬𝘶 𝘪𝘯𝘪 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩. "
"Hah... Ya sudah lah. Aku tunggu masakan spesial kamu aja. " Akhirnya Ace menyerah. Memundurkan sedikit posisi duduknya dengan wajah yang kusut.
__ADS_1
Rain tersenyum senang seolah menang melawan ketakutan nya.
Ace menunduk dengan lesu. Ia melihat jam di pergelangan tangannya dan wajahnya semakin lesu. "𝘜𝘥𝘢𝘩 𝘫𝘢𝘮 𝘴𝘦𝘨𝘪𝘯𝘪 𝘢𝘫𝘢 𝘴𝘪𝘩. 𝘗𝘢𝘴𝘵𝘪 𝘮𝘢𝘮𝘢 𝘣𝘦𝘯𝘵𝘢𝘳 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘵𝘦𝘳𝘶𝘴 𝘯𝘨𝘢𝘫𝘢𝘬 𝘱𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨."
"Kamu gak pulang? Ini udah malem, loh, " ucap Rain seadanya tapi malah membuat Ace bertambah sedih.
..."𝘓𝘢𝘩, 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘢𝘫𝘢 𝘥𝘪 𝘱𝘪𝘬𝘪𝘳, 𝘥𝘪𝘢 𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘣𝘢𝘩𝘢𝘴 𝘫𝘶𝘨𝘢? "...
"Kamu ngusir aku, ya? "
"Ih... Bukannya ngusir, tapi ini kan emang udah malem. Kamu juga butuh istirahat. Mama kamu juga pasti nungguin. Kasian, loh, dia dari tadi jalan sana-sini. Pasti dia capek. "
Ace lagi-lagi membuang nafas panjang. "Iya deh, iya. "
"Jangan cemberut gitu dong. " Rain mencubit kedua pipi Ace dengan gemas. " Senyum dong, ntar gantengnya ilang, " candanya.
"Hem. Eh?! Apa? Ganteng? " Ace seketika sumringah kembali. Tapi tak lama kemudian, Intan masuk sendirian dengan wajah yang sayu.
Wanita itu terlihat seperti habis menangis. Rain dan Ace yang menyadari hal itu bertanya dengan khawatir.
Intan menjawab dengan mata yang dibuat berat seolah dia mengantuk. "Ngantuk."
Tapi Rain dan Ace malah saling menatap dengan bingung.
"Pulang yuk, sayang. Papa kamu juga ada di rumah, baru aja dia nyampe. Lagian ini udah malem. "
"Oh, ya udah. Kita pulang. Lagian aku juga udah kangen banget sama papa. " Ace terlihat benar-benar senang.
Kini Rain yang tampak murung. Gadis itu menunjukkan senyum terpaksa nya.
Intan berpamitan pada Rain. "Kami pulang dulu. Sebentar lagi Ibu sama abangmu juga masuk. "
"Iya."
Rain menatap Ace yang malah bermain ponsel. Kemudian pintu ruangan itu terbuka dan masuklah Hastini bersama Arka.
Intan pun berpamitan pada mereka. Rain melihat mereka dengan sedih.
Intan dan Ace pergi dari ruang itu diikuti oleh Hastini dan Arka. Rain menjadi semakin murung. "Kok aku ditinggal sendirian sih? Ace juga, kok dia gak pamit sih? Bilang apa kek gitu. Huuh... " Rain menekuk wajahnya dan melipat tangannya di dada.
Tiba-tiba pintu terbuka dan Ace masuk sambil berlari kecil menghampiri Rain.
"Sayang, " ucap Ace sambil cengar-cengir.
Rain tersenyum menahan malu. Sedikit aneh rasanya dia mendengar Ace memanggilnya seperti itu. "Ada apa? Kok balik lagi? "
"Ada yang lupa. "
"Apa? "
Ace mendekati Rain dan membungkukkan badannya untuk mensejajarkan tingginya dengan Rain yang duduk di ranjang. Terdengar bunyi dag dig dug dari balik dada mereka.
"Luv you, aku pulang dulu, ya. "
Cup
Ace mengecup pipi Rain dengan lembut. Wajah Rain mendadak panas dan entah kenapa rasa kesalnya hilang seketika.
__ADS_1
"I-iya. Hati-hati. "
Rain mematung karena Ace masih bertahan di posisi nya. "Ada lagi? "
Ace menunjuk kedua pipinya, memberi isyarat untuk Rain agar mencium pipinya juga.
"Ih... Nggak ah. "
"Cuma pipi doang. Ayo dong, ntar aku gak bisa tidur, " rengeknya.
"Nggak ah. Nanti kamu kebablasan. "
"Ngakak kok. Lagian yang kebablasan itu kamu. " Ace tersenyum.
Rain cemberut. "Ih... Ace! Udah sana pulang. "
Ace tertawa pelan. "Ya udah kalo gitu. Jangan marah, ya? "
"Ya nggak lah, ngapain mar- "
Cup
Rain diam seketika dan tubuhnya menegang saat Ace mencium bibir nya. Walaupun sekilas, tapi Rain merasa seperti waktu berhenti berputar. Matanya bahkan seolah tak bisa berkedip.
"Love you. Aku pulang dulu. Bye, " pamit Ace dengan suara yang lirih menggoda.
Rain diam tanpa menjawab, bahkan tidak sadar saat laki-laki itu pergi. Bahkan saat ibu dan abangnya masuk pun dia masih seperti itu.
Mereka saling menatap bingung dengan sikap Rain.
"Haaa.... " Rain berteriak dan langsung menggulingkan tubuhnya ke ranjang.
Hastini dan Arka terkejut dan mendekatinya, bertanya padanya apakah yang terjadi. Namun Rain malah menutupi kepalanya dengan bantal dan menjerit-jerit. Suaranya tidak sekeras tadi karena tertutupi oleh bantal.
Hastini dan Arka kelabakan, takut sesuatu terjadi pada Rain. Namun setelah beberapa saat mereka memanggilnya, gadis itu malah hanya menampakkan sedikit wajahnya sambil tersenyum tanpa dosa.
"Kamu kenapa?! " tanya Hastini yang masih panik.
"Aaaa... Ibu... " Rain kembali menyembunyikan wajahnya.
"Ck! Udah lah, bu. Liat dia cengar-cengir kayak gitu, palingan dia kesenengan karena ketemu pacarnya, " ucap Arka tidak peduli dan berjalan menuju sofa.
Tapi ibunya masih terlihat bingung. "Bisa sampe begitu, ya? Anak ibu udah benar-benar jadi perempuan rupanya. " Hastini berjalan menjauhi Rain dan menghampiri Arka.
Rain mengangkat bantalnya lalu duduk. "Ah, ibu. Dari dulu saya sadar kok kalo saya ini perempuan. "
.
.
.
bersambung...
.
.
__ADS_1
.
salam dari Yuya☺🥰🥰🥰