Pelangi Tanpa Batas Warna

Pelangi Tanpa Batas Warna
Tamu


__ADS_3

.


.


.


Aku dan Kana bersiap untuk pergi. Aku tidak tau kenapa, tapi rasanya Kana terlihat berbeda hari ini. Mungkin karena akan datangnya tamu yang spesial ini. Dia terus bernyanyi dengan lirih dan aku tak tau lagu apa yang sedang dia nyanyikan.


"Sebenarnya siapa yang akan datang? Kamu kelihatan berbeda sekali hari ini. "


"Sudah ku bilang, tamu ini spesial. Kamu akan tau nanti saat mereka datang." Dia mulai berlari pelan meninggalkan aku yang benar-benar penasaran.


Kalau dia bilang mereka, berarti tamunya bukan hanya satu orang.


Aku mengikutinya berlari pelan. Kami berlari pelan menyusuri jalan di depan rumah. Sepanjang perjalanan, Kana terus saja bernyanyi. Aku tidak bosan mendengar nyanyiannya.


Hingga beberapa menit kemudian. Kami merasa sudah cukup untuk berlari. Kami pun bergegas pulang.


Kana berlari kecil mendahuluiku. Saat tiba di jalan masuk pekarangan rumah, Kana berteriak tanpa menoleh padaku, " Kalau kamu bisa mendahuluiku, akan aku katakan siapa yang akan datang! " Lalu dia berlari kencang sambil tertawa.


Aku membelalakan mataku karena dia tidak menungguku. Aku menyusulnya dengan berlari kencang pula.


Aku terengah-engah setelah sampai di teras rumah. Karena jarak dari jalan di depan dengan rumah ini cukup jauh ditambah lagi aku berlari sekencang mungkin. Tapi tetap saja kalah...


Kana sudah duduk santai di kursi teras sambil tersenyum geli. "Serius amat, " Ucapnya lalu terkekeh.


Aku masih mengatur nafasku dan menghampirinya untuk ikut duduk. Tapi langkahku terhenti saat tiba-tiba Ace keluar dengan tubuh yang sedikit berkeringat. Mungkin dia baru saja olahraga.


Dia tertegun menatapku yang masih mengatur nafasku. Aku tidak tau arti tatapannya itu. Aku tidak memperdulikannya dan duduk di samping Kana.


"Iya, deh. Aku kalah. Tubuhmu itu terlalu kecil makanya jadi ringan sekali saat kamu berlari."


Kana mengangkat sebelah alisnya. "Itu memuji atau mengejek? " Aku hanya mengedikkan bahuku.


Terdengar suara deheman Ace. Aku lupa kalau ada dia di sini. Padahal baru saja aku melihatnya. Kana pun sepertinya tidak terlalu memperhatikan keberadaan Ace. Dia masih saja asyik bercanda denganku.


Entah perasaanku atau memang kenyataannya, Kana akhir-akhir ini sedikit memberi jarak pada Ace. Mungkin mereka sedang ada masalah. Tapi entahlah, Kana terlihat baik-baik saja seperti biasanya. Hanya dia terlihat tidak begitu memperdulikan kakak sekaligus pasangannya itu.


Ace akhirnya pergi setelah kami mengabaikan keberadaannya. Kana sama sekali tidak perduli bahkan tidak menoleh sedikit pun pada Ace.


.


.


.


Kami sudah selesai memasak, masak dengan jumlah yang sangat banyak. Aku tidak tau berapa orang yang akan datang sehingga bu Intan menyuruh kami memasak sebanyak ini.


Aku duduk di kursi dapur untuk beristirahat. Kakiku pegal sekali rasanya. Berdiri dan berjalan ke sana kemari terlalu lama.


Kana menghampiriku dengan senyuman manis di bibirnya. Dia menyembunyikan sesuatu di belakang punggungnya.


"Taraa... " Kana menunjukkan dua cup puding berukuran sedang.


"Wah... Ini kamu yang buat? " Tanyaku berbinar.


"Tentu saja aku. Ini, ambillah. " Kana menyodorkan satu cup puding padaku. Aku menerimanya dengan senang hati.


"Kapan kamu buat ini? "


"Saat kamu sedang sibuk memasak. Aku membuat ini spesial untukmu, " Ucapnya dengan senyum yang tak memudar. Aku merasa tersentuh mendengarnya.


"Terima kasih. " Kana hanya membalasnya dengan senyum.


Aku mulai memakan puding dengan rasa coklat vanilla itu. Rasanya enak. Padahal sepertinya dia baru-baru ini saja belajar membuatnya.


Kana mulai memakan puding miliknya.

__ADS_1


"Kamu hanya buat dua? " Tanyaku. Kana mengangguk sambil masih makan.


"Kamu tidak membuatkan untuk kakakmu? " Kana lagi-lagi tidak menjawab dan hanya menggumamkan kata 'hem' sambil menggeleng seolah tak peduli.


Aku menatapnya heran. "Apa kamu sedang ada masalah dengan kakakmu? "


"Tidak, " Jawabnya tenang tanpa menatapku.


"Kana... " Terdengar suara Ace dan saat ku lihat, dia sedang berjalan ke arah kami dengan pakaian yang sudah rapi.


Kana hanya mendongak menatapnya tanpa menjawab.


"Kakak mau ke bandara, apa kamu mau ikut? "


"Tidak, kak. Aku bahkan belum mandi. "


"Bersiaplah. Aku akan menunggu. "


Kana menggeleng. "Tidak, kak. Aku di rumah saja. " Lalu dia tersenyum.


Ace berlalu tanpa bicara apapun lagi.


.


.


.


"Haah.... Segarnya... " Aku merentangkan tanganku. Berdiri di dekat taman dengan angin yang bersemilir. Tubuhku terasa segar karena aku sudah mandi. Beberapa saat lalu aku sudah menyelesaikan pekerjaanku, lebih tepatnya kami.


Semua hidangan sudah tersaji di meja makan. Semua peralatan sudah kami bersihkan. Hanya tinggal menunggu sang tamu datang.


"Rain... " Terdengar suara Kana memanggilku. Aku melihatnya yang sedang berdiri di dekat kolam. Aku datang menghampirinya.


"Kenapa? " Tanyaku sambil berjalan.


Beberapa hari lalu dia mengatakan ingin sekali bisa mengendarai sepeda. Saat itu aku merasa heran kenapa dia tidak bisa melakukannya padahal benda dan waktu juga tersedia untuknya.


Ternyata Ace tidak mengijinkannya karena rasa khawatir yang terlalu berlebihan. Sudah tau kan kalau Kana memiliki tingkat keseimbangan yang kecil. Tapi seharusnya Ace tidak terlalu mengekangnya. Kana bukan anak kecil lagi. Masa belajar sepeda saja gak boleh?


Aku menuruti keinginannya karena aku juga tidak ada kegiatan. Jangan lupakan keseharianku yang bekerja di cafe. Kami berjalan bersama menuju belakang rumah. Halaman belakang rumah sangatlah luas. Kami bisa leluasa bersepeda di sana.


.


.


Kami sedang asyik bersepeda, sebenarnya hanya aku. Kana sedari tadi hanya berlarian mengikutiku. Dia masih terlalu takut. Padahal aku dari tadi dengan sabar mengajarinya. Tapi ternyata sulit. Mungkin karena dia sudah terlalu besar atau karena keseimbangannya yang kurang.


Bu Intan memanggil kami. Kami menghentikan kegiatan bersepeda dan menghampiri bu Intan.


"Mereka sudah datang. Ayo kita ke depan! "


Kana terlihat sumringah dan langsung berlari tanpa menungguku dan bu Intan. Bu Intan hanya menggelengkan kepala melihat tingkahnya itu.


Di ruang tamu, aku bisa melihat ada tiga orang yang masih asing bagiku. Sebenarnya yang satu orang aku sudah melihatnya walau dalam foto. Orang itu adalah suaminya bu Intan.


Lalu dua orang lagi?


Kana duduk di tengah kedua orang itu. Mereka tampak akrab. Saat ku perhatikan, Kana terlihat mirip dengan perempuan yang sepertinya seusia dengan bu Intan.


Aku dan bu Intan sampai di depan mereka. Mereka menatapku dan bu Intan bergantian. Aku sedikit membungkuk memberi hormat pada mereka.


Mereka tampak diam menatapku. Apalagi perempuan seusia bu Intan itu. Entah kenapa matanya seolah tak berkedip menatapku.


Bu Intan memperkenalkan aku pada mereka. "Ini yang namanya Rain. Koki di rumah ini sekaligus koki di cafe baru kami. "


Perempuan itu berdiri. Masih dengan tatapan yang sama dia bergumam, " Rafendra. "

__ADS_1


Sepertinya hanya aku yang mendengarnya. Aku hanya mengernyit sedikit heran dengan sikapnya.


"Perkenalkan, saya Rain. " Aku mengulurkan tanganku. Dia mengerjap dan menyambut uluran tanganku. "Erika. Bundanya Kana, " Jawabnya dengan senyum simpul.


Aku merasa kebingungan. Bundanya Kana? Maksudnya apa?


Aku menatap bu Intan meminta penjelasan. Tapi bu Intan hanya tersenyum dan dia memintaku untuk duduk setelah menyalami suaminya dan suami bu Erika.


"Ini adalah kedua orang tua kandung Kana. " Bu Intan mulai menjelaskan masih dengan tersenyum.


Aku menatap dua orang yang dimaksud bu Intan itu. Mereka duduk berhadapan denganku dan bu Intan.


Jujur aku merasa bingung. Jadi Kana masih punya orang tua kandung? Lalu kenapa Kana masih tinggal bersama bu Intan dan terus- menerus menjalani hubungan terlarang dengan Ace?


Aku berpikir ke sana kemari. Tidak salah lagi bahwa keluarga ini punya banyak rahasia. Walaupun ini bukan masalahku tapi pikiranku merasa sedikit terganggu. Apalagi dengan tatapan bu Erika tadi dan dengan gumamannya itu.


Rafendra? Aku seperti pernah mendengarnya. Tapi dimana? Dan apa pula hubungannya denganku?


Mereka masih sibuk mengobrol tapi pikiranku sama sekali tidak terhubung dengan mereka. Entah kenapa pikiranku melayang tak tentu arah.


Saat aku larut dalam lamunanku, ponselku berdering dan itu menyadarkanku. Kulihat layar ponselku, nama Andre terlihat di sana.


Andre adalah teman sekaligus pemilik bengkel tempatku dulu bekerja.


"Halo... Kenapa, Ndre? " Entah kenapa perasaanku tak enak.


"𝘙𝘢𝘪𝘯... 𝘈𝘥𝘪 𝘬𝘦𝘤𝘦𝘭𝘢𝘬𝘢𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘮𝘱𝘶𝘯𝘨. 𝘋𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭 𝘥𝘪 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵. 𝘚𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘨𝘶𝘦 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘱𝘦𝘳𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘫𝘶 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘥𝘶𝘬𝘢. "


Aku mematung.


Adi...


Dia adalah temanku di bengkel. Seorang laki-laki yang ceria tapi tertutup tentang masalah pribadinya.


"Kenapa loe baru kabarin gue? " Ucapku dengan air mata yang sudah meleleh.


"𝘚𝘰𝘳𝘳𝘺... 𝘎𝘶𝘦 𝘨𝘢𝘬 𝘴𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘬𝘢𝘣𝘢𝘳𝘪𝘯. 𝘒𝘢𝘣𝘢𝘳 𝘪𝘯𝘪 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘣𝘦𝘯𝘦𝘳-𝘣𝘦𝘯𝘦𝘳 𝘣𝘪𝘬𝘪𝘯 𝘨𝘶𝘦 𝘬𝘢𝘨𝘦𝘵. 𝘎𝘶𝘦 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘦 𝘨𝘢𝘬 𝘪𝘯𝘨𝘦𝘵 𝘢𝘱𝘢-𝘢𝘱𝘢. 𝘗𝘢𝘥𝘢𝘩𝘢𝘭 𝘵𝘢𝘥𝘪 𝘱𝘢𝘨𝘪 𝘥𝘪𝘢 𝘱𝘢𝘮𝘪𝘵 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘣𝘢𝘪𝘬-𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘢𝘫𝘢. 𝘊𝘶𝘮𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘸𝘢𝘫𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘬𝘢𝘺𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘱𝘦𝘯𝘺𝘦𝘴𝘢𝘭𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘯𝘺𝘦𝘮𝘣𝘶𝘯𝘺𝘪𝘪𝘯 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶. "


Aku menunduk dan hanya bisa terisak di tempat. Bisa kurasakan tangan seseorang mengusap-usap pundakku.


Aku kehilangan lagi....


.


.


.


bersambung...


.


.


Hai...


aku hadir lagi dengan kelanjutan cerita ini...


moga kalian gak bosen ya...


walaupun ceritanya masih awur-awuran.


mohon dimaklumi karena aku masih belajar.


Terima kasih atas dukungannya.


sehat selalu...

__ADS_1


salam dari yuya😉😉😉


__ADS_2