Pelangi Tanpa Batas Warna

Pelangi Tanpa Batas Warna
tamu dalam mimpi


__ADS_3

Rain sudah kembali kuliah. Hari-hari nya berlalu seperti biasanya. Kuliah- Resto, kuliah-karate. Hari sabtu dan minggu selalu sibuk di resto.


Pak Djaja dan Arka sudah mendapatkan pekerjaan kembali. Walaupun pekerjaan itu tidak sebesar pekerjaan beberapa bulan lalu, tapi mereka tetap giat dan semangat mengerjakan itu.


Rain tampak lesu ketika siang hari saat dirinya akan pulang. Rain teringat akan Intan yang berpamitan padanya di resto dua hari yang lalu. Rain merasa hatinya menjadi sepi. Rasanya lemas sekali baginya untuk mengerjakan apapun.


Intan pergi menemui suaminya di daerah terpencil. Suaminya Intan adalah seorang dokter. Dokter yang baik hati yang mau menjadi relawan di daerah pelosok.


Intan rencananya akan pergi selama satu bulan. Rain tidak tau dimana daerah yang akan dituju oleh Intan.


Rain berjalan dengan gontai dan menaiki motornya. Dia melajukan motornya sangat pelan sekali bahkan kecepatannya kalah dengan orang yang sedang berlari.


Tin...


Tin...


....


Tin...


Tin...


...


Tiiiiiinn......


"Woi berisik!! ! " Rain berteriak ke sembarangan arah. Tidak melihat siapa yang membunyikan klakson tersebut.


Seseorang memukul tengkuk Rain pelan.


"Sadar woi!! " Ucap orang itu.


Rain menatapnya tajam. "Apa loe?! Ngapain loe di sini?! "


"Loe yang ngapain? Ngapain loe berhenti di tengah jalan sambil ngelamun? Noh liat, udah banyak yang antre mau lewat! "


Rain mengerjap dan menoleh ke kiri ke kanan dan ke belakang. "Eh! Kok banyak orang? " Rain kebingungan.


"Mereka pada ngapain, Za? "


Orang yang memukul Rain, Arza. Laki-laki itu tampak frustasi memandang temannya yang belum juga sadar.


"Loe ngapain masih diem disini? Cepetan pergi. Loe sadar posisi loe dimana? "


Rain mengernyit dan segera mengedarkan pandangannya.


Ternyata, Rain dengan motornya melintang menghalangi jalanan yang membuat pengendara lain terlebih mobil, kesulitan untuk lewat.


"Waduh! " Rain kikuk.


Samar-samar Rain bisa mendengar omelan orang-orang disekitarnya.


𝘊𝘦𝘱𝘦𝘵𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘸𝘰𝘪!!!


𝘓𝘰𝘦 𝘮𝘢𝘶 𝘣𝘶𝘯𝘶𝘩 𝘥𝘪𝘳𝘪?!


𝘒𝘢𝘭𝘰 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘮𝘶𝘯 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘵𝘦𝘯𝘨𝘢𝘩 𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯, 𝘮𝘣𝘢𝘬!


𝘈𝘬𝘶 𝘬𝘦𝘣𝘦𝘭𝘦𝘵 𝘭𝘰𝘩!!


𝘒𝘢𝘭𝘰 𝘨𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘫𝘶𝘨𝘢, 𝘨𝘶𝘦 𝘵𝘢𝘣𝘳𝘢𝘬 𝘭𝘰𝘦!


"I-iya-iya. Maaf! " Rain segera menepi.


Rain turun dari motornya dan bersembunyi di balik punggung Arza. Saking malunya dengan tatapan orang-orang yang bermacam-macam ekspresi itu.


Sekumpulan pengendara itu pun berlalu. Jalan kembali lancar seperti sediakala.


Arza berbalik dan menatap Rain yang masih termangu. "Udah! Kok masih dilanjut bengongnya. "

__ADS_1


Rain kini menatap Arza. "Thanks."


Arza mengernyit. Tumben amat reaksinya begini? Batinnya.


"Ok. Gue terima ucapan makasih loe. Tapi loe harus ikut gue. Loe masih inget kan kalo gue belum belanjain loe? Sekarang loe gak bisa menghindar lagi dan gak boleh ada alasan lagi. Ayo ikut gue. Kalo nggak, kunci motor loe ini gue tahan," Ucap Arza panjang lebar.


Rain melotot melihat kunci motornya yang sudah dimasukkan ke kantong celana Arza.


"I-itu kapan loe ambil? Terus kalo loe tahan, gue perginya gimana? Masa itu motor gue tinggal di pinggir jalan? "


"Kita naik motor loe sama-sama."


"Emang motor loe dimana? "


"Di bengkel. "


"E elah... Tinggal bilang minjem motor aja, sok-sok an nahan kunci motor gue terus mau belanjain. " Rain mencebik.


Arza memutar bola matanya. "Kalo gitu gue bawa pergi motor loe. Biar loe jalan kaki sekalian ntar pulang. " Arza berbalik hendak pergi. Rain cepat-cepat mengikutinya dan setuju untuk berbelanja dengannya.


.


.


Arza sangat tau seperti apa selera fesyen Rain. Walaupun Rain tidak terlalu suka berbelanja, tapi Rain tidak akan menolak kalau sudah dibawa ke tempat dimana baju-baju yang biasa dipakainya sedang terpanjang.


Rain memilih-milih. Matanya berbinar kala melihat baju yang menurutnya bagus. "Ini bagus, bu. Bu? Bu Intan? " Rain tersadar.


"Huwaa... Bu Intan... Haaaa.. " Rain menangis, entahlah kenapa dia sangat sedih.


Arza yang tak jauh dari sana sedang memilih baju, terkejut bukan main mendengar tangisan kecil temannya yang terkenal menyeramkan itu.


Arza menghampiri Rain. "Loe kenapa? Loe kok jadi mellow gini sih? "


Rain menatap Arza dengan wajah sendu dan mata yang berkaca-kaca. "Gue kangen bu Intan... "


Arza, "..... "


.


.


.


.


.


Rain POV


Aku di mana? Kenapa ruangan ini begitu gelap?


Aku berjalan menyusuri ruangan gelap itu. Aku tidak merasakan apapun.


Aku terus berjalan hingga aku melihat ada sebuah cahaya masuk dari atas. Aku berjalan mendekati cahaya itu.


Tap


Tap


Tap


Aku berhenti ketika aku melihat ada yang aneh. Sesuatu tergantung tepat di bawah cahaya itu dengan tali yang panjang yang mengikatnya dari atas.


Seperti sebuah kain. Kain yang putih. Tapi tak lama kain itu berputar dan nampaklah sesuatu yang membuat aku terbelalak.


Seorang perempuan dengan wajah pucat.


Mata dan mulutnya tertutup.

__ADS_1


dan dengan tali yang terikat di lehernya.


Apa dia mati? Tapi kenapa aku tidak takut?


Aku menunduk mencoba mencerna keadaan. Tapi saat aku melihat orang itu kembali, mata dan mulutnya sudah terbuka.


Aku terkejut.


Aku terus menatapnya tanpa henti. Perlahan, mulut itu tertarik sedikit demi sedikit hingga tampaklah seringaian dari wajah itu. Mata yang terbuka lebar menatapku dengan tatapan yang sendu. Tampak di sudut mata itu mengeluarkan cairan bening.


Tapi, wajah dengan seringaian itu tampak mengerikan dengan keluarnya darah yang mengucur dari sudut bibirnya. Kini tatapannya seolah ingin memakanku.


Apa dia manusia?


Aku mundur perlahan, merasa waspada dengan kemungkinan yang akan terjadi.


Matanya bergerak mengikuti pergerakanku. Aku mulai takut. Aku tidak bisa bergerak!


Ada apa dengan tubuhku? Wajah itu bertambah mengerikan dengan senyuman yang menakutkan.


Tolong...


Makhluk itu bergerak cepat seolah terbang ke arahku.


Aaaak!!


Jeritannya memekakkan telinga.


Aaaaak!


Aaargh....!!


Aku bangun!


Aku bermimpi?


Ya ampun... Kenapa menyeramkan sekali? Tapi perempuan itu? Perempuan itu adalah orang yang sama yang ada dalam mimpiku yang waktu itu menangis dan juga yang menggendong bayi.


Siapa dia?


Aku mengatur nafasku yang memburu. Kenapa perempuan itu ketika hadir di mimpiku selalu membuatku takut?


Aku ke luar dari kamarku untuk mengambil minum. Entahlah ini jam berapa?


Aku melintasi kamar orang tuaku. Tapi seketika aku berhenti saat mendengar tangisan ibu. Bapak sedang berbicara. Apa bapak memarahi ibu?


Tapi sepertinya tidak. Suara bapak terdengar halus. Aku menempelkan telingaku ke dinding untuk menguping.


"Apa ibu bisa menjelaskan sendiri pada Rain?


Terdengar suara bapak. Ibu hanya terisak.


"Kita tidak tau seperti apa hari esok. Bapak belum tentu masih ada di sini menemani ibu dan menjelaskan pada Rain. Bahkan mungkin mereka sudah bertemu atau mungkin Rain sudah mengenalnya. " Aku mengernyit dengan kata-kata bapak.


"Bapak tau ibu sangat khawatir. Tapi bapak hanya ingin menjelaskan tentang semuanya pada Rain. Tapi kalau ibu belum siap, bapak tidak bisa memaksa. Hanya saja, kalau bapak sampai sudah tidak ada lagi di sini, ibu sendiri yang harus menjelaskan semuanya. " Ucap bapak tegas.


Ibu terisak dan menjawab, " Mungkin ibu memang egois, tapi ibu terlalu takut mereka akan menyakiti Rain. Bapak harus tetap ada sampai Rain mengetahui kenyataannya. " Suaranya bergetar.


Terdengar hembusan nafas keras dari bapak.


Aku ingin mendengarkan lagi, tapi di dalam sekarang sangatlah hening. Aku pergi ke kamarku lagi. Rasa hausku sudah hilang berganti dengan rasa penasaranku yang besar.


Sebenarnya ada apa denganku? Siapa orang yang mereka maksud?


Haaahh!!


Aku lelah kalau harus terus memikirkan hal ini. Ku coba memejamkan mataku kembali, tak lupa aku membaca do'a, berharap mimpi buruk itu tidak datang lagi.


\=\=\=**\=\=\=

__ADS_1


bersambung....


salam dari yuya🤗


__ADS_2