Pelangi Tanpa Batas Warna

Pelangi Tanpa Batas Warna
Sisi Yang Menyeramkan


__ADS_3

Author POV


.


.


Rain merutuki dirinya sendiri karena terlalu fokus pada Ace sehingga tidak menyadari kedatangan Kana. Dalam hatinya dia merasa takut dengan wajah tegang dari kedua lelaki di hadapannya.


Tapi sikap Kana yang tetap ramah seperti biasanya membuatnya sedikit lega. Berbeda dengan Ace yang terlihat sekali tidak senang dengan kedekatan Kana dan Rain.


Kana yang terang-terangan memberi perhatian pada Rain justru membuat Rain semakin serba salah.


Merasa tak diperdulikan, akhirnya Ace pergi dari kamar Rain dengan raut wajahnya yang kesal. Rain menatap Kana seolah ingin memberitahu ekspresi Ace. Tapi Kana hanya mengedikkan bahu seolah tak peduli.


Rain menghela nafas panjang merasa sedikit bersalah. Tapi jika diingat lagi dengan kejadian di kolam, membuat rasa bersalah itu menguap begitu saja.


"Tidak usah terlalu dipikirkan dengan sikap kakakku. Ngomong-ngomong, tumben sekali kamu demam. Selama tinggal disini, baru pertama kali aku lihat kamu sakit, " Ucap Kana sambil terkekeh.


Rain menatap Kana dengan gugup. "Karena aku juga manusia, jadi wajar saja kalau aku sakit. " Rain berusaha menyembunyikan kegugupannya. Kana tidak merespon ucapannya. Dari raut wajahnya, Kana tampak memikirkan sesuatu.


Rain menghela nafas panjang. Tak pernah terlintas di benaknya akan terlibat dalam masalah kakak adik yang saling menyukai. Yang lebih parah lagi adalah, mereka sama-sama laki-laki.


Rain tersenyum getir dengan kenyataan itu.


.


.


Berhari-hari berlalu. Tapi sikap Ace masih sama seperti terakhir kali dia ke kamar Rain. Saat melihat Rain, wajahnya selalu di tekuk. Bahkan sikapnya terkesan dingin melebihi sikapnya dulu.


Rain semakin yakin kalau kedekatannya dengan Kana lah penyebabnya. Apalagi Kana tampak acuh tak acuh dihadapan Ace.


Tapi lagi-lagi Kana tak peduli dengan sikap dingin Ace walaupun dia mengetahuinya. Kana malah bersikap lebih dewasa dan sikap gemulainya perlahan menghilang.


Rain senang dengan perubahan baik Kana. Walaupun Rain sendiri tidak tau apa penyebab Kana berubah seperti sekarang.


.


.


.


Rain dan Kana sedang dalam perjalanan pulang dari cafe. Seperti biasa, mereka naik motor matic milik Rain.


Kana bersenandung merdu ketika dalam perjalanan. Dan seperti biasa, Rain selalu merasa senang mendengarnya. Suara Kana yang halus membuat Rain nyaman mendengar nyanyiannya.


Tapi ketika mereka sampai di jalan yang sepi, seseorang menghadang mereka. Rain berpikir, mungkin orang itu ingin meminta bantuan.


Rain menghentikan motornya tepat di depan orang itu. Laki-laki dengan helm yang masih menutupi kepalanya. Bahkan kacanya pun tidak dibukanya.


"Ada apa ya, mas? " Rain bertanya dengan sopan.


Tiba-tiba, orang itu menodongkan sebuah pisau ke arah mereka. Rain dan Kana terkejut. Orang itu mendekat. Rain hendak melajukan lagi motornya, tapi dari arah lain, datang orang-orang dengan penampilan yang sama.


Rain menghela nafas pelan dan tetap santai. Tapi Kana sudah panik melihat orang-orang itu kini sudah mengepung mereka.


"Turun! " Ucap si orang pertama yang memegang pisau.


Rain dan Kana turun. "Kalian mau apa? " Tanya Rain tenang.


"Kami? Kami ingin mengalahkanmu! " Seketika orang itu maju dan menyerang Rain. Rain dengan sigap menangkis setiap serangan orang itu.

__ADS_1


Orang itu merasa geram dan menyerang Rain lagi seolah kerasukan. Rain tertawa melihat tingkah orang itu yang seperti orang gila mengamuk.


Rain menyerang balik orang itu dan dalam sekali tendangan, orang itu sudah ambruk.


"Ck ckck.... Mana kegaranganmu tadi? Di tendang sekali kok langsung tepar? Hahah."


Kana menepuk pundak Rain lalu menunjuk pada beberapa orang yang bersiap menyerang mereka.


Rain melepaskan helmnya dan memberikannya pada Kana. "Kamu tenang di sini, ya. Lihat aksiku seperti beberapa minggu yang lalu. " Rain tersenyum dan berjalan ke arah orang-orang itu.


Kana walaupun merasa tersindir tapi dia juga merasa khawatir. Mengingat lagi beberapa minggu lalu ketika mereka di hadang tiga orang preman. Tapi saat itu hari masih lah terang dan orangnya pun tak sebanyak sekarang. Jadi Rain masih bisa menang. Tapi sekarang?


Kana hanya bisa berdoa dalam hati. Berharap Rain seberuntung saat itu.


Orang-orang itu mulai menyerang dan Rain meladeni orang-orang itu dengan lincahnya. Seolah dia sedang menari dan melompat kesana kemari. Perkelahian yang serius pun tak terhindari.


Rain cukup kewalahan menghadapi orang-orang itu. Terengah-engah dan istirahat sejenak. Namun diamnya justru dimanfaatkan oleh orang-orang itu.


Mereka mengepungnya dan salah satu dari mereka memeganginya dari belakang. Yang lain bersiap menyerangnya. Tapi karena Rain berontak, orang yang memeganginya tak sengaja menyentuh dadanya.


Rain diam membeku dan matanya berubah gelap. Otot-ototnya mengeras. Rain membungkuk dan menarik orang yang memeganginya sehingga orang itu jatuh tersungkur.


"Beraninya kalian menggangguku. Kalian punya nyawa berapa, hah?! "


Seolah monster yang terusik ketenangannya, Rain menyerang orang-orang itu dengan brutal. Menghajar mereka satu persatu tanpa ampun.


Kana terkejut melihat perubahan Rain. Dirinya merasa takut sendiri dengan kemarahan gadis itu. Apalagi melihatnya tanpa segan memukuli orang-orang itu.


Beberapa dari mereka masih bisa bangkit dan memegangi Rain lagi. Tapi malah mereka yang dicengkram oleh Rain.


"Siapa yang menyuruh kalian? " Ucapnya menatap orang-orang itu.


Hening.


Rain hendak memukuli orang-orang itu tapi dari arah belakang, orang pertama yang memegang pisau langsung saja menusuk bahu Rain.


"Rain! " Kana memekik. Sangat khawatir tapi tidak berani untuk maju.


Yang dipanggil hanya diam dengan mata yang semakin menggelap. Berbalik dan menatap nyalang orang yang menusuknya.


"Kamu mau mati? " Seringaian muncul diwajahnya dan membuatnya bertambah menakutkan. Seketika Rain menerjang orang itu tanpa ampun. Menghujaninya dengan pukulan yang kuat.


Orang-orang yang lain mencoba melerai, tapi mereka pula yang menjadi gantinya. Walaupun awalnya sulit, tapi akhirnya orang-orang itu berhasil melarikan diri dengan langkah tertatih.


Rain menatap kepergian mereka dengan wajah datar. Tak berniat menghentikan mereka.


Kana menghampiri Rain yang masih mematung.


"Rain? " Tanyanya. Sedikit takut mengingat sikap Rain tadi.


"Ayo pulang. " Rain berucap tanpa menoleh dan berlalu begitu saja. Dengan langkah tegap tanpa terlihat kesakitan.


"Tapi lukamu? " Kana mengejarnya.


"Cepat naik. " Lagi-lagi Rain tidak menghiraukan Kana. Rain memasang helm dan men-starter motornya.


Kana naik tanpa berkata apapun.


.


.

__ADS_1


"Rain? "


"Hem? "


"Apa tanganmu tidak sakit? "


"Sakit."


"Tapi kenapa kamu biasa saja tadi? "


Rain menghela nafas. "Saat aku marah, aku bahkan tidak bisa merasakan apapun. "


"Oh... Begitu. "


Hening. Hanya terdengar deru motor yang bersahut-sahutan.


"Rain... "


"Hem? "


"Apa perkelahian itu biasa untukmu? "


"Tidak juga. "


"Tapi sepertinya kamu tenang sekali tadi. Lalu... Hehe... Kurasa kata-katamu tentang punya nyawa berapa, sepertinya itu berlebihan. Kamu kayak orang sombong kalau bilang begitu."


"Oh ya? "


"Hu'um."


"Itu tidak berlebihan kalau mengingat seperti apa aku saat marah. Aku dulu bahkan hampir membunuh orang. Aku juga membuat seseorang lumpuh karena dia mencekik adikku. Aku seolah tidak sadar ketik aku merasa marah. Makanya, aku berusaha mengendalikan diriku walaupun aku merasa sakit. "


Kana terdiam. Mencerna kata-kata Rain yang baru didengarnya.


"Sakit, ya? "


"Iya. Sakitnya tidak bisa dijelaskan. "


Mereka pun sama-sama diam dengan pikiran masing-masing.


Rain terpikir dengan pesan dari Adi. Adi mengingatkannya untuk berhati-hati karena ada seseorang yang menginginkan nyawanya.


"𝘈𝘱𝘢 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘪𝘯𝘪 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘶𝘭𝘢𝘩 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘵𝘶? 𝘖𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯𝘬𝘢𝘯 𝘯𝘺𝘢𝘸𝘢𝘬𝘶?"


.


.


bersambung...


.


.


.


Hai Hai Hai...


semoga yg membaca senang membacanya.


berharap banget kalo karyaku ada yang nunggu 😁😁😁

__ADS_1


maaf dengan segala kekurangannya dan terima kasih atas dukungannya selama ini...


salam dari yuya😘😘😘


__ADS_2