Pelangi Tanpa Batas Warna

Pelangi Tanpa Batas Warna
ternyata...


__ADS_3

"Apa kabar, Dion? " Suaraku kuusahakan sesantai mungkin agar tidak membuatnya takut.


"A-aku b-baik. B-bagaimana dengan kakak? "


"Aku sebaik yang kamu lihat. "


Aku berjalan mendekatinya. Dia dan beberapa temannya yang dulu ikut karate tampak terlihat ketakutan.


Aku menghela nafas berat memandangi mereka. Niatku untuk marah hilang sudah setelah melihat kondisi Dion yang jauh dari dugaanku.


"Apa selama ini kamu sakit? " Mereka menatapku seperti orang bingung.


"I- itu a-aku tidak apa-apa. Hanya saja aku sedikit kelelahan akhir-akhir ini. "


Aku diam beberapa saat dan hanya memandangi sekeliling sekolah. Halaman sekolah yang sangat luas. Dua bangunan sekolah yang sangat besar berdiri berhadap-hadapan dengan jarak yang jauh.


Dibelakang sebelah kiri nampak pula beberapa bangunan yang tidak sebesar dua bangunan di depan ini.


Sekolahan ini memiliki lahan yang sangat luas. Sudah berdiri beberapa bangunan pun masih saja terlihat ada lahan yang tersisa. Aku tidak bisa melihat keseluruhan bangunan yang ada disini. Karena bangunan-bangunan itu menutupi sebagian pandanganku.


"Maaf." Terdengar suara lirih Dion.


Aku beralih menatapnya.


"Untuk apa? "


"Untuk kesalahanku yang telah mengganggu Zee, adiknya kakak. "


Aku menatapnya biasa-biasa saja.


"Hhhaaahhhh." Mereka menatapku waspada. Padahal aku hanya bernafas.


"Untuk apa minta maaf padaku. Kamu tidak melakukan kesalahan apapun padaku. " Jawabku enteng. Aku menunggunya merespon.


Aku tidak sabar melihat keterdiaman mereka. "Kalau kamu merasa bersalah, minta maaflah pada orang yang kamu rugikan. Bukan padaku. Apa itu sudah kamu lakukan? "


"Ya. Kami juga sudah melakukan itu. "


Aku menepuk bahu Dion. "Jangan pernah melakukan kesalahan yang sama. Kita tidak pernah tau apa yang akan terjadi suatu saat nanti. Jangan pernah menyakiti seseorang hanya karena kamu merasa hebat.


Mungkin suatu saat nanti kamu bahkan memerlukan bantuan mereka. Bisa saja mereka yang lemah akan menjadi lebih kuat dari kamu. Jangan pernah meremehkan orang lain dengan apa yang kita punya atau pun dengan apa yang kita bisa."


Aku menepuk-nepukkan tanganku yang masih berada di bahunya. Dia tersenyum menatapku. Sepertinya anak ini memang sudah berubah.


Tatapannya terlihat tidak seangkuh dulu.


Aku merasakan kalau kami sedang diperhatikan. Benar saja, orang-orang yang mulai banyak berdatangan, mereka menatap aneh kearah kami.


Kenapa dengan tatapan kalian itu? Seharusnya kalian terlihat biasa saja. Aku sedang menasehati anak sekolah tau.


Zee memanggilku. Aku mencari arah suaranya. Ku lihat dia sudah di dekat gedung utama sekolah SMP. Aku beranjak menghampirinya setelah sebelumnya pamit undur diri dari hadapan Dion dan teman-temannya.


"Kakak ngapain sih ngobrol sama Dion? Kayak kurang kerjaan aja deh. " Ucap Zee sambil cemberut saat aku sampai padanya.


"Dia dulu pernah ikut latihan karate di tempat latihan kakak. Kakak hanya menyapanya saja. "


Dia hanya membulatkan bibirnya. Tapi matanya masih menunjukkan ketidaksukaan. Mungkin dia masih ingat kejadian dulu tentang Dion.


"Anak-anak SMA gak libur, ya? "


"Kayaknya sih nggak. Mereka juga punya banyak kegiatan. Kita gak mesti tau walaupun kita satu lingkungan." Aku hanya mengangguk mengerti.


.


.


.


.


Beberapa saat berlalu. Semua wali murid sudah berkumpul di aula. Meskipun murid kelas 9 dibagi menjadi 4 kelas, tapi dalam rapat ini kami semua berkumpul bersama. Anak-anak mereka pun duduk berdampingan.


Kami duduk tenang menyimak beberapa rangkaian acara yang sedang berlangsung.


Semuanya berlalu seperti biasa.


Hingga perasaan tenang berangsur-angsur berganti dengan kebosanan ketika seorang guru botak berpidato yang pidatonya panjaaaang kali lebar. Sampai ku lihat beberapa orang tua yang tertunduk mengantuk.

__ADS_1


Ku lihat jam di ponselku. Masih jam 9, tapi kenapa rasanya sudah lama sekali aku duduk di sini?


Pidato pak botak akhirnya selesai. Huft.... Ku kira pidatonya akan membuatku ikutan botak.


Kini berganti dengan sambutan dari seorang guru perempuan. Cara bicaranya sangat pintar. Walaupun terkesan cerewet, tapi kata-katanya malah membuatku dan bahkan orang-orang yang tadi mengantuk kini terlihat segar kembali.


Celotehan yang pedas tapi mendidik disampaikan dengan nada gurauan yang terkesan galak, membuat kami bahkan sampai tertawa mendengarnya.


Terima kasih, bu.


Akhirnya acara pun selesai dengan diakhiri kata-kata perpisahan dan maaf dari pak kepala sekolah yang mewakili seluruh pihak sekolah. Aku terharu juga dengan kata-kata kepala sekolah itu. Dia terlihat sedih mengatakannya.


Walaupun dia mengutarakan rasa bangganya pada para siswa, tapi itu malah membuat anak-anak tampak menahan air mata. Dan kepala sekolah sendiri yang memimpin do'a untuk penutupan. Kami berdoa sesuai keyakinan.


Para murid di panggil ke depan satu persatu sesuai urutan nilai terbaik. Para guru wali kelas memberikan bingkisan kepada anak didiknya masing-masing. Mungkin ini kebiasaan di sini. Jamanku dulu tidak seperti ini.


Adikku tidak di panggil ke depan, itu artinya dia tidak mendapatkan juara. Tapi temannya, Rasty, dia dipanggil maju ke depan sebanyak dua kali. Anak itu sangat pintar. Tidak heran dia menjadi juara kelas dan juga menjadi juara menyaingi ke tiga kelas yang lain.


Dari cerita Zee, Rasty selalu mendapatkan nilai terbaik sejak pertama mereka masuk.


Acara pun selesai dan hanya tersisa beberapa orang yang memang sengaja masih tinggal di sekolah karena undangan pribadi dari pihak sekolah. Aku tidak termasuk, tapi karena aku tau akan hal ini dan juga karena aku temannya Arza tentunya, jadi aku masih tetap tinggal di sini. Zee dan Kedua temannya pun masih menunggu di sekolah.


Kami bertemu kepala sekolah dan beberapa orang lainnya dalam sebuah ruangan.


Aku melihat Arza disana. Dia sedang duduk mengobrol dengan orang yang entah siapa itu dan dia tidak melihatku.


Kepala sekolah menyambut kami dengan ramah. Dan saat itu ketegangan pun di mulai.


Kepala sekolah meminta maaf dengan tulus dengan apa yang sudah terjadi. Dia bukan tidak ingin menindak lanjuti masalah di sekolah, tapi keadaan dan bukti-bukti yang ada tidak bisa membuat dia memihak begitu saja pada murid yang di bully.


Dia sendiri pun merasa heran karena selalu saja bukti itu menyudutkan anak-anak yang menjadi korban itu.


Sampai ia dan beberapa pihak sekolah lainnya memasang kamera tersembunyi pun keadaannya masih sama.


Akhirnya seorang guru ahli IT bertemu dengan Arza. Yang sebenarnya itu adalah rencana Arza, aku tidak tau bagaimana caranya dia bisa sedekat itu dengan guru itu. Keadaan pun mulai bisa terkendali. Selama ini hasil rekaman CCTV itu telah di rusak oleh seseorang yang berasal dari pihak sekolah.


Pihak sekolah tidak pernah mencurigai orang itu karena dia selalu memberi berbagai cara bahkan memperkenalkan beberapa orang yang bisa menyelesaikan masalah.


Tapi selalu saja ada masalah baru yang muncul. Hingga Arza dan guru ahli IT itu memasang CCTV yang tidak diketahui siapa pun dari pihak sekolah.


Mereka akhirnya mengetahui bahwa ternyata penjaga sekolah lah dalang dari semua ini.


Zee dan beberapa teman-temannya pun sangat terkejut dan lebih membuat mereka terkejut lagi adalah Risya si gadis pembully, ternyata adalah anak dari penjaga sekolah.


Kenapa sampai tidak ada yang tau?


Pantas saja kelakuan anak itu tidak pernah jadi masalah karena dia selalu dipantau oleh ayahnya.


Kedua orang itu bersikap seolah mereka tidak saling mengenal.


Seapik itu permainan yang disembunyikan oleh tersangka untuk mengelabui korban.


Beberapa orang mulai riuh dan terlihat geram. Untung saja tersangka sudah di amankan beberapa hari yang lalu.


Kini tinggal orang-orang yang bersangkutan yang akan melanjutkannya ke persidangan. Tentu saja untuk menuntut ganti rugi dari si tersangka dan juga menuntut hukuman yang setimpal untuk si tersangka. Itu sudah pasti. Karena telah merugikan para korban. Kerugian financial dan juga kejiwaan dari beberapa anak yang dulu di bully.


Kasihan sekali mereka. Mereka selama ini dianggap tersangka atas sesuatu yang tidak mereka lakukan. Untung saja adikku tidak sampai separah itu.


Bayangkan saja, seorang siswa SMP dianggap sebagai pelaku pencabulan. Dan lagi seorang siswi yang dijebak hingga dia di tuduh sebagai pencuri besar dan masih banyak kejadian lainnya.


Si tersangka sudah merencanakan ini sebelum datang ke sekolah ini. Mulai beraksi dengan kejadian-kajadian yang terlihat kebetulan padahal itu semua memang di sengaja.


Mereka bahkan memasang CCTV tanpa sepengetahuan siapa pun agar aksi mereka tetap lancar tanpa ada yang tau.


Si tersangka tidak sembarangan mencari korban. Mereka memilih korban yang tampak berkecukupan dan juga beberapa anak yang berprestasi untuk memeras orang tua dari korban.


Seperti itulah kiranya yang di sampaikan oleh pak kepsek. Dia menyampaikan semua itu sambil memperlihatkan beberapa hasil rekaman CCTV yang di pasang Arza.


Semua orang terlihat lega.


.


.


.


.

__ADS_1


Arza menghampiriku setelah sebagian orang pergi. Zee dan teman-temannya yang memang menunggu Arza, tampak tertegun melihat Arza.


"Tumben loe cantik. "


"Biasanya gue jelek ya. " Jelas aku cemberut.


Arza terkekeh.


"Oh ya. Loe bilang adek loe mau ketemu sama gue. Mana dia? " Tanyanya sambil terus menatapku. Aku sedikit risih karena tatapannya.


Tatapanku beralih pada Zee dan beberapa temannya yang sudah tampak aneh.


Kenapa dengan mereka?


"Ee! Muka melongo begitu. Awas ngences loh!"


Seketika mereka memperbaiki ekspresi mereka.


Arza berkenalan dengan anak-anak itu. Anak-anak itu terlihat senang dan bahkan mungkin tetpana melihat Arza.


Lebay amat sih.


.


.


.


.


Aku dan Zee sedang dalam perjalanan pulang.


Aku senang karena setidaknya Zee masuk peringkat 10 besar. Tapi anak ini selalu tampak biasa saja. Seolah tidak peduli tentang nilai yang akan didapatnya yang terpenting baginya adalah dia sudah berusaha.


Kami sampai di area pemukiman tempat kami tinggal. Tapi sebuah keramaian membuatku menghentikan motorku.


Ada apa?


Aku mendengar suara seorang laki-laki yang berteriak seperti mengamuk.


Aku dan Zee turun dari motor untuk melihat apa yang terjadi.


"Bu. Ini ada apa ya? " Tanyaku pada tetanggaku.


"Itu, anaknya pak Tri ngamuk-ngamuk. " Aku mengkerutkan keningku.


Seketika terlihat seorang laki-laki bertubuh besar sedang digiring sambil tangannya diikat.


"Itu anaknya pak Tri? " Tanyaku sambil melihat orang yang digiring itu.


"Iya." Jawab tetanggaku tadi.


Jadi anaknya pak Tri itu ternyata laki-laki? Lalu siapa orang yang berdiri dimalam hari di lahan kosong itu beberapa hari yang lalu?


Aku masih ingat dengan perawakan orang itu. Tubuhnya kecil dan dia terlihat seperti seorang perempuan.


Aku masih diam ditempat sambil tertegun.


Siapa dia?


.


.


.


bersambung....


maaf kalo ceritanya bikin gak mudeng dan kurang kena....


bukannya membela diri tapi memang aku masih pemula😁


jadi maaf kalo ceritanya acak-acakan...


salam dari yuya😉😉😘😘


.

__ADS_1


....


__ADS_2