
.
.
.
"Aku anak ibu, kan? Aku anak ibu. Rain adalah anak ibu. " Tangisan Rain pecah dan tubuhnya meluruh ke lantai.
Hastini dan Arka memeluknya dengan tangisan mereka yang sama-sama menyayat hati.
"Hiks... Aku anak ibu... Kenapa ibu bilang ibu bukan ibu kandung Rain? Apa maksud ibu? "
"Iya, Rain. Rain anak ibu. Selamanya akan menjadi anak ibu. " Hastini memeluknya sambil mengusap rambutnya dengan sayang.
Rain hanya mampu menangis.
Kenyataan ini sungguh tak pernah dia duga. Kenyataan ini sungguh bukanlah sesuatu yang dia inginkan. Dan kenyataan ini sungguh membuatnya merasakan sakit yang amat dalam. Tapi kenyataan ini juga lah yang menjawab semuanya. "𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘪𝘯𝘪? "
Mereka duduk dan menangis cukup lama, hingga Rain bersuara dan bertanya pada ibunya, " Bu, siapa ibu kandung Rain? " Walaupun kenyataan ini membuat Rain hancur, tapi rasa penasaran itu kini tumbuh begitu besar bahkan melebihi kesedihannya.
Hastini tak mampu menahan tangisnya lagi. Wanita paruh baya itu tak bisa bicara karena tangisannya. "𝘗𝘢𝘥𝘢 𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳𝘯𝘺𝘢, 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘵𝘦𝘳𝘯𝘺𝘢𝘵𝘢 𝘵𝘪𝘣𝘢 𝘫𝘶𝘨𝘢. 𝘚𝘢𝘢𝘵 𝘥𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘪𝘣𝘶 𝘬𝘢𝘯𝘥𝘶𝘯𝘨𝘯𝘺𝘢. 𝘚𝘢𝘭𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘦𝘨𝘰𝘪𝘴 𝘵𝘢𝘬 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘥𝘪𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬𝘪 𝘢𝘭𝘢𝘴𝘢𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘪𝘵𝘶. 𝘏𝘢𝘵𝘪𝘬𝘶 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵, 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪. 𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘳𝘦𝘭𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘵𝘢𝘩𝘶𝘪 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘪𝘯𝘪. 𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘳𝘦𝘭𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘵𝘢𝘶 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘣𝘶 𝘬𝘢𝘯𝘥𝘶𝘯𝘨𝘯𝘺𝘢."
Arka mengusap punggung ibunya untuk menguatkan, dirinya tau bagaimana perasaan ibunya saat ini, namun dia juga tak bisa menyalahkan Rain. Mungkin inilah saatnya mereka untuk jujur, walaupun Arka sendiri takut dengan kejujuran itu.
Setelah beberapa waktu, akhirnya mereka bisa lebih tenang. Hastini mengajak kedua anaknya duduk di pinggiran kasur. Lalu wanita paruh baya itu mengambil sebuah kotak kayu dari bawah lemarinya. Arka dan Rain hanya melihat setiap pergerakan yang dilakukan ibunya.
Rain POV
Ibu duduk kembali ke kasur dan membuka kotak kayu yang diambilnya dari bawah lemari. Di dalamnya terdapat banyak sekali kertas dan barang-barang berharga.
Ibu mengambil sebuah kalung dari dalam kotak kecil, kalung dengan liontin batu permata bundar dihiasi ukiran bunga berwarna emas di pinggirannya. Ibu memberikan kalung itu padaku. "Ibu hanya bisa memintamu untuk menjaga kalung ini. Ibu tidak bisa membiarkanmu memakai kalung ini sekarang. "
Aku sudah tau itu adalah kalung ku, tapi aku bingung dengan kata-katanya. Aku dulu pernah memakainya, tapi setelah aku masuk sekolah, ibu memintaku untuk menyimpan kalung itu. Alasannya adalah takut kalung itu akan hilang. Aku menurut tanpa bertanya apapun.
"Bukalah, kamu bisa melihat siapa ibumu."
Aku yang tak pernah tau akan hal itu merasa terkejut. Ternyata, ada sesuatu di balik liontin kalung ini.
Aku tidak tau cara membukanya, jadi aku menyerahkan kalung itu pada ibu. Ibu menerimanya dan segera membuka liontin itu untukku.
Jantungku sudah berdegup dengan kencang. Aku memikirkan banyak hal. Siapa ibuku? Dan entah kenapa wajah bu Intan terlintas di kepalaku.
Tapi pikiran itu segera ku tepis setelah aku melihat liontin yang sudah terbuka itu.Ada dua wajah yang tidak ku kenali namun terasa dekat denganku.
"Mereka siapa, bu? "
"Mereka adalah kedua orang tuamu, " jawab ibu dengan suara yang bergetar.
Apa yang aku harapkan? Tentu saja bu Intan bukan ibuku. Ibu pasti akan mengenalinya saat pertama kali mereka bertemu.
Aku tersenyum setelah melihat foto seorang perempuan dalam bingkai kecil itu. Perempuan ini, ternyata dia adalah ibuku. Perempuan yang selalu hadir dalam mimpiku dan membuatku takut.Tapi kenapa dia membuatku takut? Seperti hantu saja.
__ADS_1
Aku mengusap foto kecil itu. Apakah ibuku masih hidup? Kenapa aku memimpikan dia seperti itu? Apakah aku masih bisa bertemu dengan ibuku?
Ku lihat foto yang bersebelahan dengan foto ibuku. Ku lihat orang itu dengan seksama.
"Jadi bapak bukan-"
"Bapak adalah bapak kandung mu, " Ibu menjawab dengan cepat seolah tau dengan kebingunganku. Tapi aku semakin bingung.
Orang di foto ini bahkan tidak mirip dengan bapak. Tidak juga dengan foto yang ada di buku nikah mereka. Lalu?
"Bapakmu dulu mengalami kecelakaan. " Aku menatap ibu lagi masih dengan kebingunganku.
Ibu menghela nafas panjang sebelum berkata, " Ibu akan menceritakan semuanya sekarang. "
Aku mendengarkan dengan seksama, begitu pula bang Arka. Kami seolah lupa dengan kesedihan kami tadi.
"Kami bertemu di Jogja saat kamu masih bayi. Saat itu, ibu baru saja berpisah dengan suami ibu karena dia sangatlah kasar. Ibu membawa pergi abangmu dan berencana pulang ke rumah orang tua ibu, namun dalam perjalanan, abangmu tiba-tiba saja demam. Ibu mencari rumah sakit terdekat.
Saat itu sedang turun hujan. Ibu dan abangmu berjalan kaki karena kami tidak menjumpai kendaraan yang bisa kami tumpangi. Karena saat itu hari juga sudah malam.
Tiba-tiba saat kami sudah dekat dengan rumah sakit, ada sebuah mobil yang menabrak pohon di sebrang jalan yang ibu lalui. Ibu sangat terkejut hingga ibu hanya diam walaupun ibu melihat mobil itu sudah berasap.
Ibu bahkan melihat orang-orang mengeluarkan dan menggotong orang dari dalam mobil itu, tapi tubuh ibu rasanya seperti dipaku. Ibu tersadar saat abangmu menangis dan akhirnya kami lanjut berjalan ke rumah sakit." Ibuku terdiam dan aku pun sama.
Jadi bang Arka bukan kakak kandungku?
"Apakah mobil yang menabrak pohon itu adalah mobil yang dikendarai bapak? " tanyaku setelah beberapa saat.
"Lalu? "
"Ibu masuk ke rumah sakit itu dan memeriksakan abangmu. Di ruang UGD itulah ibu bertemu denganmu dan bapakmu. Kalian berdua awalnya tak sadarkan diri, namun tak lama, bapakmu terbangun dan terlihat panik.
Dia mencarimu tanpa melihat bagaimana kondisi tubuhnya sendiri. Dia segera menghampirimu dan hendak membawamu pergi.
Kalau saja dia tidak mirip dan tampak sayang padamu, kami pasti sudah mengira kalau dia adalah penculik yang takut akan tertangkap. "
Mirip?
Bahkan aku tidak mirip dengan bapak yang selama ini aku lihat, hanya mataku yang sama persis dengannya. Ternyata, aku mirip dengannya saat sebelum kecelakaan.
"Lalu? "
Ibu tersenyum menatapku, mungkin dia tau dengan perasaanku yang tidak sabaran ini.
"Bapakmu menangis dan meminta orang-orang di sana untuk melindunginya. Tentu saja kami akan melindunginya. Tapi kami sama sekali tidak mengerti dengan apa yang dia takutkan.
Dia mencoba pergi dan membawamu namun pihak rumah sakit tidak mengizinkan melihat bagaimana kondisi mu dan bapakmu. Akhirnya bapakmu mengalah dan tenang saat pihak rumah sakit terus membujuknya. Ibu dan abangmu juga akhirnya bermalam di rumah sakit itu.
Namun keesokan harinya, datang segerombolan orang yang membuat panik seisi rumah sakit. Saat itulah bapakmu benar-benar tidak bisa ditahan lagi. Dia pergi dari rumah sakit itu dengan sedikit penyamaran. Saat itu juga ibu dan abangmu berniat untuk pulang.
Tapi, pikiran ibu terus tertuju padamu. Ibu mencari bapakmu yang sudah lari sambil membawamu. Walaupun ibu tidak tau dengan pasti bapakmu lari kemana, setidaknya ibu melihat seperti apa penyamaran yang dia lakukan dan melihat ke arah mana sebelumnya bapakmu berjalan. Ibu mencari kalian bersama abangmu yang kebingungan dengan sikap ibu.
__ADS_1
Entah itu kebetulan atau memang itu sudah ditakdirkan oleh yang maha Kuasa. Akhirnya ibu bertemu dengan kalian di dalam kerumunan pasar yang tidak jauh dari rumah sakit itu.
Bapakmu benar-benar terlihat ketakutan. Ibu menghampirinya dan membujuknya agar dia mau ikut dengan ibu pulang ke rumah orang tua ibu.
Awalnya dia ragu, namun dilihatnya lagi wajahmu yang tampak kelelahan dan hanya terdiam, akhirnya dia mau ikut bersama ibu."
Ibu diam dan aku tidak tau apakah dia akan melanjutkan lagi ceritanya atau tidak. Tapi, sepertinya bukan kecelakaan ini yang menyebabkan wajah bapak tidak sama dengan yang dulu.
Namun, kejadian ini persis dengan kejadian yang diceritakan oleh bapak saat aku bermimpi kecelakaan dulu. Ternyata itu bukan hanya mimpi? Dan ibuku menangis dari jarak yang jauh.
"Lalu, dimana ibuku? "
Ibu menatapku lembut. Diusap nya dengan sayang rambut panjang ku dan mulai bercerita lagi.
"Bapakmu terpaksa pergi meninggalkan nya sambil membawamu demi keselamatannya juga. "
"Keselamatan?"
Ibu menghela nafas panjang. "Mungkin kenyataan ini tidak dapat kamu terima. Namun kamu harus percaya, Rain. "
Aku tidak mengerti dan hanya mengerutkan dahi. Ibu mengambil sebuah buku yang tebal dari dalam kotak kayu dan menyerahkannya padaku.
"Mungkin beberapa informasi dan pesan bapakmu ini bisa menjawab kebingungan mu. Bukti ini juga yang membuat ibu percaya dengan sikap bapakmu. Ibu percaya dia benar-benar ingin melindungi kalian."
Aku memandangi buku itu tanpa membukanya.
"Apa ibu tau siapa ibu kandung saya? "
"Tentu. Karena sebelum bapakmu menikahi ibu, dia sudah menceritakan semuanya. "
Aku memandangi ibu dengan pikiranku yang berkelana.
"Ibumu bernama Rani, anak dari orang terpandang di Kalimantan. Kamu adalah anak pertama mereka dan ibumu sangat menyayangimu. Namun keadaan tak bisa membuat kalian bersama. Ceritanya sangat panjang kalau ibu menjelaskannya. Kamu bisa membaca buku itu untuk kejelasan semuanya. "
.
.
.
.
bersambung...
.
.
.
salam dari Yuya😉😉
__ADS_1