Pelangi Tanpa Batas Warna

Pelangi Tanpa Batas Warna
Alasan


__ADS_3

Intan menangis tanpa suara, ia tak ingin suaminya terbangun dan khawatir jika melihat keadaannya saat ini.


"Aku tidak bisa gegabah dalam mencari kalian. Mereka tak akan membiarkan ku kalau sampai kehidupan masa lalu ku terbongkar. Bukannya bertemu dengan kalian, malah pencarian ku akan membahayakan banyak orang termasuk kalian, jika aku melakukannya secara terang-terangan. "


Intan membuang nafas panjang, mencoba menghilangkan rasa sesak di dadanya.


"Apakah mereka juga yang mengejar kalian? Apa kamu benar-benar tidak tau apa-apa tentang Rara? Apa yang terjadi sebenarnya sehingga kamu menuduhku seperti itu, Rey? Om Gerald, apakah kau tidak bisa menemuiku saat itu? Tidak mungkin kan kalau engkau tidak tau bahwa ibuku sudah meninggal? Apakah ada pihak lain yang menghalangi mu? "


Intan terus teringat dengan kata-kata Arza. "Kalau kalian diburu, diburu karena apa? Tidak mungkin kan ada orang yang menginginkan nyawa kalian tanpa alasan? Tapi kata-kata mu seolah memberi tahu ku bahwa Rara masih hidup, Rey. Apa karena itu juga ada pihak yang mengejar kalian? Karena kalian melindungi Rara? "


Intan terdiam beberapa saat.


"Hanya om Gerald yang bisa memberiku jawaban tentang semua itu dan sekarang dia sudah meninggal. Lalu aku harus bagaimana? Sedangkan Rey memusuhi ku. Kalau aku mengerahkan orang-orang untuk menyelidiki tentang Arza lebih jauh, aku takut jika Arza hanya lah tinggal namanya saja. Tapi aku tidak bisa mencari tau sendiri."


Intan menatap langit-langit kamarnya yang temaram dengan sedih. "Ya Tuhan, tolong tunjukkan lah jalan untuk hamba. "


"Aku ingin tau semuanya tanpa menyakiti siapa pun. Karena setiap aku memulai pencarian dan mengerahkan banyak orang, aku seolah selalu didului. Walaupun aku melakukan nya secara diam-diam, tapi masih saja ada korban saat semua itu berlangsung. Aku tidak ingin itu terjadi lagi. "


.


.


Arza duduk berdiam diri di kursi kerjanya. Pemuda itu menatap selembar foto yang sudah tampak usang. Raut wajahnya mengisyaratkan banyak luka.


"Papa, Rey rindu Papa. Salahkah jika Rey tak ingin semua itu terjadi? Rey tidak sanggup berhadapan dengan dia. Rey selalu mengingat hal keji yang dilakukan orang-orang itu pada Papa. " Arza menangis. Menangis dengan suara yang terdengar pilu.


"Kenapa semua ini terjadi pada kita? Kenapa Papa masih saja berjuang untuk keluarganya yang bahkan tidak peduli dengan keberadaan kita? Salahkah jika sekarang Rey membenci mereka? Walaupun Rey tau, Nyonya Atmarani tidaklah bersalah. Tapi rasa benci ini tidak bisa pergi. Rasa benci ini butuh pelampiasan. "

__ADS_1


"Nyonya Atmarani, maafkan aku karena aku berbohong padamu. Papa memang meninggal, tapi dia meninggal tepat di sampingku. Kami tidak berpisah. Tapi aku menyaksikan sendiri bagaimana perjuangan Papa ku saat nyawa sudah ditarik dari tubuhnya. Itu lebih menyakitkan. Dan itu semua adalah karena ulah keluarga mu. " Arza terus saja menangis.


"Mungkin sebaiknya anakmu tidak ditemukan. Hidup kita akan sama-sama damai walaupun kau menderita dengan ketidak pastian. Setidaknya, anak yang tidak ku ketaui siapa, bisa tenang tanpa ancaman dari keluarga mu. "


Setelah beberapa saat, Arza mulai tenang kembali. "Hah... Andai saja Papa memberitahuku siapa Rara dan dimana dia tinggal, mungkin aku bisa mengendalikan keadaan ini. Dan andai saja aku tau siapa Intan Atmarani sejak awal, aku pasti tidak akan semarah ini padanya. Mungkin. Tapi aku tidak bisa memastikan semua itu. "


"Aneh sekali memang, ketika aku diberi amanah untuk menjaga orang, tapi aku tidak tau siapa dan dimana orang itu berada. Harus aku cari bagaimana? Ketika mencari nya saja sudah beresiko, apa tidak lebih baik jika kita hidup masing-masing? Tanpa resiko Rara dalam bahaya. Aku pun tidak dikejar seperti Papa dulu. Benar begitu, bukan? Haha, dan siapa yang menjadi akar masalah ini? Aku pun tidak tau. " Arza tersenyum dengan tatapan yang kosong.


🌸🌸🌼🌺🌸🌸🌼🌺


Tiga hari berlalu dan hari ini Rain sudah diizinkan untuk pulang. Gadis itu bahkan terlihat ingin berjoget saking senang nya.


"Hem... Yang mau ketemu pacar, girangnya gak ketulungan, " celetuk Arka.


Rain seketika menatapnya malas. "Apaan sih, bang. Orang aku tuh senang karena keluar dari rumah sakit yang serasa memenjarakan ini. Kok malah pikiran nya kesana. "


"Lah, abang kayak gak pernah tinggal di rumah sakit, " ucap Rain masih terdengar riang.


Namun...


Dirinya tersadar, siapa yang menyebabkan kakaknya tinggal di rumah sakit? Siapa?


"𝘈𝘬𝘶. 𝘈𝘬𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘣𝘢𝘣𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵 𝘪𝘵𝘶. 𝘈𝘬𝘶. 𝘈𝘬𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘣𝘢𝘯𝘨 𝘈𝘳𝘬𝘢 𝘭𝘶𝘮𝘱𝘶𝘩 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘪𝘵𝘶. 𝘈𝘬𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘱𝘦𝘯𝘺𝘦𝘣𝘢𝘣 𝘣𝘢𝘱𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭. 𝘈𝘬𝘶 𝘱𝘦𝘯𝘺𝘦𝘣𝘢𝘣𝘯𝘺𝘢." Rain menangis.


Hastini dan Arka yang sedang merapikan barang mereka pun terkejut.


"Kenapa jadi nangis? " Tanya Hastini dengan khawatir. Rain hanya menggeleng tapi tangisannya belum berhenti.

__ADS_1


"Gak mungkin kalo gak ada apa-apa terus kamu nangis. Cerita sama ibu, ada apa? Selagi kami masih bersamamu. "


Rain terkejut dengan kata-kata Hastini dan menatap cepat ke wajah ibunya itu. Hastini segera menyadari kata-kata nya. "Kamu jangan berpikiran macam-macam. Kita kan emang mau berpisah karena kamu harus kuliah dan ibu pastinya pulang ke rumah. Kamu do'a in ibu cepat meninggal? "


Rain segera memeluk Hastini sambil menangis meraung-raung. "Lah.. Ibu... Kok ibu bilang nya gitu? Saya gak mau ditinggal sama ibu. "


Hastini tersenyum dan mengelus rambut Rain dengan sayang. Dalam hatinya, dia pun gelisah. Sekarang Rain sudah tau kebenarannya. Dan apakah sikapnya akan berubah ketika dia bertemu dengan keluarga nya? Hastini sebenarnya sangat takut. Dia tak ingin kasih sayang anak-anaknya terbagi. Dia ingin menjadi ibu satu-satunya untuk mereka.


Tapi kenyataan berkata lain. Mungkin tak membutuhkan waktu lama, Rain akan bertemu dengan ibu kandungnya. Cepat atau lambat semua akan terungkap.


Hastini yakin, Rain tidak akan diam saja menunggu. Gadis itu pasti akan mencari tau tentang keluarganya.


Yang membuat Hastini lebih takut lagi adalah, nyawa Rain akan terancam bila gadis itu bertemu dengan keluarganya. Hastini tak ingin semua itu terjadi.


Tapi sekarang, mereka tak bisa pergi lagi. Melawan pun rasanya mustahil. Hal ini juga lah yang membuat Hastini enggan untuk jujur pada Rain tentang siapa dia sebenarnya.


.


.


.


bersambung...


.


.

__ADS_1


salam dari Yuya🙂🙂🙂


__ADS_2