
.
.
"Sebenarnya ada suara seorang perempuan yang memanggil saya kakak dan menangis agar saya tidak pergi dari rumah ini. "
Kana dan ibunya saling menatap dan terlihat bingung.
"Perempuan itu pernah hadir di mimpi saya, tapi saya tidak mengenalinya sama sekali. Perempuan itu kira-kira seusia dengan Zee, " Ucap Rain sambil menatap Intan, melihat reaksi perempuan itu.
Intan mengerutkan keningnya, menatap kosong ke depan. Kana hanya diam melihat keduanya.
Setelah beberapa saat, Intan menatap wajah Rain lekat-lekat, meneliti wajah gadis itu dengan sendu.
' 𝘈𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘪𝘵𝘶 𝘒𝘢𝘯𝘪𝘢? 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘒𝘢𝘯𝘪𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘨𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢𝘱𝘶𝘯 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮𝘯𝘺𝘢. 𝘓𝘢𝘭𝘶 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘪𝘵𝘶 𝘥𝘪𝘢, 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨𝘨𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘙𝘢𝘪𝘯 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘬𝘢𝘬𝘯𝘺𝘢? 𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘨𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘙𝘢𝘪𝘯?'
"Ibu tidak tau harus bilang apa. Ibu sendiri tidak mengerti, apalagi dengan hal seperti itu. "
Rain menghela nafas, ada rasa kecewa dihatinya. "Ya sudah lah, Bu. Mungkin itu karena pikiran saya aja yang lagi gak tenang. "
Intan mengangguk walaupun merasa bersalah. "Pokoknya kalau ada masalah, kamu jangan tanggung sendiri dan membuat pikiranmu kacau. Ibu akan berusaha untuk membantumu."
Sementara Kana hanya menunduk sambil mengerutkan keningnya, merasa hal ini bukanlah suatu kebetulan. Walaupun dia sendiri tidak terlalu menghiraukan hal seperti itu.
.
.
.
Rain diam di balkon seorang diri, memandangi air di kolam yang berkilau tertimpa sinar matahari. Mengingat lagi suara yang didengarnya tadi pagi.
' 𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 di𝘢 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨𝘪𝘴 𝘢𝘨𝘢𝘳 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪? 𝘈𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘫𝘢𝘸𝘢𝘣𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘣𝘪𝘯𝘨𝘶𝘯𝘨𝘢𝘯𝘬𝘶 𝘪𝘯𝘪? '
Rain memandang lurus ke depan dengan tatapan kosong. "Kenapa kamu hanya datang menggangguku tanpa menjelaskan dengan maksud kedatanganmu? Kamu pikir aku bisa mengira-ngira apa yang sedang kamu lakukan dan apa yang kamu inginkan? Aku bahkan tidak mengenalmu sama sekali. "
"Siapa yang tidak kamu kenal?"
Rain sedikit terkejut saat mendengar suara itu lalu berbalik untuk melihat orang itu.
"Ace?"
"Ya?"
"Kenapa kamu pulang siang-siang begini?"
Ace sedikit cemberut . "Ini rumahku, kenapa aku tidak boleh pulang?"
Rain menghela nafas pelan. "Bukan itu maksudku. Ini masih siang, tidak biasanya kamu sudah pulang. Ibu dan adikmu bahkan baru saja pergi. "
Ace berjalan mendekatinya, melihat Rain dari bawah hingga ke atas. Rain melihat penampilannya sambil mengerutkan keningnya. "Ada apa?"
"Aku pulang karena menghawatirkanmu. Aku dengar dari Mama tentang yang terjadi padamu tadi pagi, tapi aku tidak bisa pulang. " Ace tersenyum menatap Rain. Rain merasa ada yang aneh.
Rain mengalihkan pandangannya dari Ace. "Lalu bagaimana kamu bisa pulang sekarang? Ini bahkan sudah lewat jam makan siang."
"Itu bukan urusanmu."
Tiba-tiba ponsel Ace berdering. Ace melihatnya sebentar lalu meletakkan benda itu di meja.
"Kenapa dibiarkan?"
"Itu juga bukan urusanmu."
__ADS_1
Rain memutar bola matanya. "Ya udah kalo gitu, " Ucap Rain kesal.
Rain hendak pergi meninggalkan Ace tapi Ace menggenggam tangannya. Rain menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang untuk menatap Ace.
Tanpa disangka, Ace menarik tangannya sehingga membuatnya menubruk tubuh Ace.
"Ace!" Rain benar-benar terkejut.
Ace menempelkan kepala Rain ke dadanya, itu niatnya. Tapi posisi kepalanya melebihi itu. Ya sudahlah, yang penting nempel.
"Apa kamu bisa dengar?"
Rain diam dan mendengarkan suara itu, suara debaran jantung yang membuatnya tersenyum malu.
"Apa itu hanya suara jantungku?" Tanya Ace sambil tersenyum. Sebenarnya dia sudah tau jawabannya.
Rain hendak melepaskan pelukannya karena sudah merasa sangat malu, tapi Ace menahannya.
"Jangan pergi, kumohon biarkanlah dulu seperti ini."
Rain seperti tersihir dan mengikuti perkataannya. Membiarkan Ace memeluknya dengan erat, menghirup lembut pucuk kepalanya. Membuat mereka sama-sama merasakan debaran jantung mereka.
"Apa kamu baik-baik saja karena kejadian tadi pagi?"
"Baru sekarang kamu bertanya? "
"Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali." Rain mendengus.
Ace melepaskan pelukannya dan menatap Rain yang menunduk, menarik dagu gadis itu agar menatapnya.
"Aku benar-benar menghawatirkan mu. "
Rain tidak menjawab dan hanya menatap Ace yang kini memegangi kedua pipinya. '𝘉𝘶𝘬𝘢𝘯𝘬𝘢𝘩 𝘒𝘢𝘯𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘯𝘵𝘢𝘬𝘶 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘶𝘩𝘪𝘯𝘺𝘢? 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘶 𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨? 𝘠𝘢 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯... 𝘒𝘦𝘯𝘺𝘢𝘵𝘢𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘮𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘭𝘶𝘱𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘩𝘢𝘭. 𝘈𝘱𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘸𝘢𝘫𝘢𝘳? 𝘈𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘨𝘢𝘮𝘱𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯? '
"Hei!"
"Apa?"
"Ehm... Itu..." Rain menatap sekeliling, menghindari tatapan Ace.
Tiba-tiba ponsel Ace kembali berdering. Ace berdecak kesal lalu berjalan menuju meja untuk mengambil ponselnya.
Rain mengernyit heran karena Ace malah menonaktifkan ponselnya. "Kenapa dimatikan?"
Ace berbalik menatapnya." Mengganggu."
Rain merengut heran. '𝘔𝘦𝘯𝘨𝘨𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶? 𝘔𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢? '
Ace diam memandangi gadis yang kini tampak kesal itu.' 𝘚𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘢𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘵𝘢𝘳𝘪𝘬 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘫𝘶𝘴𝘵𝘳𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘴𝘢𝘪𝘯𝘨𝘢𝘯𝘬𝘶 𝘥𝘶𝘭𝘶?𝘈𝘱𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘤𝘢𝘺𝘢 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘬𝘶 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘵𝘢𝘳𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢𝘢𝘯𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨? '
Ace menerawang jauh sambil menatap gadis itu dan tidak sadar dengan apa yang sedang dilakukan oleh orang yang diperhatikan nya.
"Ace... " Rain mengibaskan tangannya di depan wajah Ace.
"Apa?"
"Ibumu menghubungiku." Rain menyerahkan ponselnya.
"Apa?" Ace terkejut dan semakin terkejut saat melihat layar ponsel itu. "Kenapa sudah kamu angkat?"
Rain mengangkat bahu." Ada masalah?"
"Ck! Sudahlah. "
__ADS_1
Mereka sama-sama mendengarkan suara Intan yang mengomel di seberang sana.
"Kamu tau kan Mama sibuk? Kenapa kamu malah pulang tanpa izin?! Kenapa telfon Mama juga gak kamu angkat?! Apa kamu gak tau orang-orang di sini kelimpungan gara-gara kamu? Cepat kembali ke kantor sekarang!"
Rain dan Ace saling memandang saat Intan menutup panggilannya.
"Jadi kamu kabur?" Rain bertanya setelah mereka terdiam beberapa saat.
Ace mengangkat bahunya. "Hem... Bisa dibilang begitu," Jawabnya enteng.
"Aku akan dalam masalah kalau sampai ibumu tau alasanmu pulang."
"Bukan kamu, tapi hanya aku dan aku tidak peduli, " Ucap Ace sambil menyentuh pipi Rain , membuat gadis itu mendelik.
Ace terkekeh. "Kamu lucu. Semakin lama aku menemukan sisi yang lain darimu. Dan kamu juga ternyata masih bisa bersikap seperti gadis pada umumnya."
Rain mengernyit." Maksudnya?"
Ace mengulum senyumnya, menunduk sebentar lalu kembali menatap Rain. "Aku menyukaimu," Ucapnya kemudian mencium pipi Rain sekilas dan lari dengan cepat.
Rain mematung sambil membelalakkan matanya.
"Hah?!"
Rain tersadar saat ada suara mobil yang pergi menjauh.
.
.
Ace terus tersenyum sepanjang perjalanannya. Hatinya sungguh berbunga-bunga. Ace tak ingin mendengar jawaban Rain sekarang karena dia takut kalau Rain menolaknya. Setidaknya, Rain tau perasannya sekarang, itulah pikirannya. Walaupun entah gadis itu bisa mengerti atau tidak.
Tapi sepertinya, perlu menjelaskan dengan detail tentang sebuah perasaan pada gadis itu. Ace hanya bisa menghembuskan nafas pelan mengingat hal itu. Mengingat tentang kecemburuannya yang dianggap lain oleh gadis itu.
.
.
"Apa? Apa ini wajar?" Rain terus menyentuh pipinya tanpa berkedip, merasa tak percaya.
"Apa aku gampangan? Kenapa mudah sekali aku menerima perlakuannya? Padahal dulu, ketika seorang lelaki menggenggam tanganku saja sudah ku hajar, selain Arza tentunya. Tapi kenapa Ace tidak membuatku begitu? "
Rain berpikir ke sana kemari sambil berjalan mondar-mandir di balkon sampai suara deringan ponsel menyadarkannya dari kebingungannya. Rain menatap ponselnya, melihat ternyata ibunya yang menghubunginya.
"Halo, Bu."
"....."
Rain tampak terkejut. "Kecelakaan? "
.
.
.
bersambung....
.
.
.
__ADS_1
.
salam dari Yuya😘😘😘