Pelangi Tanpa Batas Warna

Pelangi Tanpa Batas Warna
Jadi Dia Sudah Tau?


__ADS_3

Aku memulai dengan kasus Anih dan Danang. Berlanjut dengan masalah yang seolah meneror keluargaku. Pengalamanku yang seolah diintai seseorang, dan itu bukan hanya seolah.


Zee tampak serius. Wajahnya masih terlihat tenang walaupun sesekali tampak ada kerutan di dahinya. Hingga dia menunjukkan wajah terkejutnya saat aku mulai bercerita tentang penyerangan yang direncanakan Anih dan berakibat pada kecelakaan bapak dan bang Arka.


Zee menatapku seolah tak percaya. Aku masih melanjutkan ceritaku tak tertinggal sesuatu apapun. Aku tidak ingin menyimpan masalah lagi. Walaupun dia tampak marah, tapi aku masih tidak berhenti bicara. Aku katakan semuanya padanya. Tentang siapa saja yang menjadi korban Anih, kelompoknya dan juga keadaan tentang Anih saat ini.


Sebelum kabar berita tentang Anih menjadi perbincangan hangat karena Anih juga adalah buronan, lebih baik aku menceritakan semuanya. Bukan aku ingin membela diriku, tapi tentang Anih yang memang membunuh suaminya, juga aku ceritakan pada Zee.


"Kakak minta maaf, Zee. Kemarahan Anih disebabkan oleh kakak. Walaupun bukan kakak yang membunuh Danang, tapi Anih beranggapan bahwa kakak lah penyebab semua masalah yang menimpanya. Kakak minta maaf, karena banyaknya orang yang menjadi korban karena kakak. "


Zee menunduk terdiam. Tatapannya seolah kosong. Namun tak lama, adikku ini menatapku dengan tatapan sedihnya.


"Itu juga karena aku. Kakak melakukan itu untuk melindungiku. Jadi, aku juga ikut bersalah."


Aku mengerutkan dahiku lalu menggeleng pelan. "Tidak, Zee. Kamu gak salah. Kenapa jadi salah kamu? "


"Kalau begitu, kakak juga jangan menyalahkan diri kakak sendiri. Apa yang dilakukan oleh Danang adalah salah. Kalau Anih merasa tak terima dan malah membalaskan dendam, itu adalah kesalahannya sendiri. Apalagi dia juga yang membunuh suaminya. Apakah itu bisa dibenarkan? Dia membalaskan dendam untuk suami yang dibunuhnya? Aku sebenarnya bingung, untuk apa dia membuat kekacauan sampai seperti ini kalau suaminya mati di tangannya sendiri?"


"Dia tidak terima dengan nasib yang dialaminya setelah mereka terusir. Dia tidak terima hidupnya menjadi sulit. Dan itu disebabkan oleh kakak. Seperti itulah kiranya."


Zee tertawa sinis. "Memangnya siapa yang bisa menerima ketika ada maling masuk ke rumah dan berniat untuk mencelakai pemilik rumah itu? Sudah pasti orang lain pun akan melakukan hal yang sama dengan kakak, apalagi kalau keluarga yang menjadi korbannya. Danang itu bukan hanya pencuri, kakak. "


"Iya, kakak tau. Tapi kakak hanya ingin menjelaskan. Kakak tidak ingin terkesan menyembunyikan hal ini apalagi sampai bapak dan bang Arka menjadi korban. "


Zee membuang nafasnya panjang. "Aku memang marah karena sampai bapak dan bang Arka menjadi korban. Tapi, mungkin usia bapak memang sampai disitu. Bapak dan bang Arka mengalami kecelakaan karena Anih yang salah sasaran. Itu bukan salah kakak. Kalau Anih tidak salah sasaran, berarti kakak yang jadi korban. "


"Ya, seperti itu. Dan kakak minta maaf karena itu. "


"Lalu, kalau kakak sendiri yang menjadi korban, apa kakak pikir kami akan senang?" Aku tidak menjawabnya.


"Kakak mengerti, kan? Aku sama sekali tidak menyalahkan kakak. Apa yang terjadi pada bapak, ku anggap memang sudah ditakdirkan oleh yang maha Kuasa. Walaupun bukan karena kecelakaan yang disebabkan oleh Anih, mungkin bapak akan meninggal dengan cara yang lain. Kakak faham, kan? Jangan menyalahkan diri sendiri lagi. "


Aku menghapus air mataku yang jatuh sedikit demi sedikit. Aku menunduk untuk mengendalikan diri agar bisa menatapnya. Zee memelukku dan mengusap-usap punggung ku. Aku menangis di pelukannya.


"Terima kasih karena kamu sudah mengerti dan menerima kakak. " Kemudian aku teringat suatu hal lagi yang ingin aku katakan padanya.


"Tapi... "

__ADS_1


Zee mengurai pelukannya dan menatapku dengan tatapan bertanya. "Kenapa, kak? "


"Apakah kamu masih bisa menerima kakak jika penyebab pelarian keluarga kita adalah kakak? "


Zee mengerutkan keningnya. "Maksud kakak?"


"Maafkan kakak. Tapi... " Zee tampak sangat penasaran. Wajahnya terlihat tidak ramah. Kali ini, apakah dia marah padaku?


"Maksud kakak apa? Kakak jadi buronan? " Kerutan di dahinya semakin bertambah.


"Bukan. Tapi, mungkin juga iya. " Aku bingung sendiri. "Tapi bukan berarti kakak dikejar oleh polisi. "


"Lalu apa? Kalau misalkan buronan pun, sejak kapan kakak menjadi buronan? Tidak mungkin kan kalau kakak yang masih kecil saat itu sudah menjadi penjahat? " Kerutan di dahinya menghilang. Wajah Zee terlihat lebih tenang.


"Tentu saja bukan itu. "


Zee menyandarkan tubuhnya ke kursi dan menatapku dengan tidak sabaran. Mungkin baginya aku terkesan bertele-tele. Tapi, aku bingung.


"Kakak bilang saja, jangan takut. Aku yakin, kali ini juga bukan salah kakak. "


"Kakak tidak tau. Tapi, keadaannya tidak bisa dianggap sepele. "


Aku menarik nafas dan membuangnya perlahan sebelum mencoba berani untuk mengatakan ini pada Zee. "Kakak memiliki keluarga, yang jauh disana. Dengan alasan yang kakak sendiri tidak tau, beberapa dari mereka mengejar kakak. Untuk melindungi kakak, bapak melakukan pelarian hingga berkali-kali. Pelarian yang dilakukan bapak juga tidak bisa dianggap mudah. Sebelum pergi ke tempat lain, kita meninggalkan banyak kenangan buruk. Meninggalkan banyak korban jiwa. " Kata-kata ku terhenti karena aku mulai menangis lagi.


"Dan itu semua, karena kakak. Bapak melakukan itu untuk melindungi kakak. Pelarian yang kita lakukan pasti bukanlah hal yang mudah untuk kamu terima, apalagi kamu juga memiliki kenangan buruk karena pelarian itu. Maafkan kakak, Zee. "


Zee hanya terdiam. Wajahnya tidak terlihat marah ataupun bersedih.


"Zee... "


"Kita sudah tau sejak lama tentang pelarian yang dilakukan bapak. Tapi alasannya masih belum jelas. Sekarang kakak mengungkit hal itu tanpa alasan yang bisa aku mengerti. Kalau keluarga kakak, berarti itu juga keluarga ku. Lalu salahnya kakak dimana? Apa kakak yang masih kecil bisa membuat kekacauan yang sangat besar hingga membuat keluarga kita sendiri mengejar kita? "


Aku menggeleng pelan. "Tidak, Zee. Mereka hanya keluarga ku, bukan keluarga mu. "


"Maksud kakak? " Zee mencondongkan tubuhnya dan menatapku lebih dekat.


Aku menunduk karena merasa takut. "Zee, kita memiliki ayah yang sama, tapi tidak dengan ibu. Kita dilahirkan oleh ibu yang berbeda."

__ADS_1


"Ibu? " Lalu Zee seolah mematung dan terdiam dengan lemas.


Aku menangis karena Zee tidak merespon apapun yang aku ucapkan setelah itu. Aku memanggilnya, tapi dia juga masih saja terdiam.


"Zee... "


"Jadi, kakak sudah tau? " Tanyanya dengan tatapan kosong. Pertanyaan nya jelas membuatku terkejut.


"Maksud kamu apa, Zee? Apa kamu sudah tau dengan hal ini?" Aku menatapnya dengan penasaran.


Kini Zee terlihat kebingungan. Matanya melihat kesana kemari dengan tidak tenang.


"Zee, apa maksudnya? " Tangisku reda seketika karena hal ini.


"Aku... "


"Apa kamu sudah lebih dulu tau? Tapi sejak kapan? "


Zee menatapku sedih. "Maafin aku, kak. Bukan aku mau sembunyikan masalah ini dari kakak, tapi jujur, aku sangat takut. Aku takut kakak pergi meninggalkan kami dan beralih pada keluarga kakak. Aku takut, kakak benar-benar meninggalkan kami, bukan hanya untuk tinggal bersama keluarga kakak, tapi juga meninggalkan dunia ini untuk selamanya. "


Aku tertegun. Jadi dia sudah tau? Bahkan sepertinya bukan sedikit yang ia tau.


.


.


.


.


bersambung...


.


.


.

__ADS_1


salam dari Yuya🥰🥰


__ADS_2