Pelangi Tanpa Batas Warna

Pelangi Tanpa Batas Warna
Penampakan


__ADS_3

..


..


Tidak terasa sudah hampir satu minggu aku tinggal di sini. Hari-hariku berlalu begitu saja.


Aku mulai bisa beradaptasi dengan orang-orang di sini. Para pekerja di rumah bu Intan semuanya baik.


Ace tidak pernah lagi menunjukkan rasa tidak sukanya padaku. Kana sudah terlihat biasa, walaupun dia tidak pernah bicara padaku.


.


.


Hari ini aku tidak pergi kuliah. Aku membantu mbak Sari membersihkan rumah, karena sampai hari ini temannya belum bisa masuk kerja. Biasanya aku membantunya setelah pulang kuliah. Tapi tentu saja pekerjaannya sudah sedikit.


Mbak Sari orang yang ramah dan supel. Dia berusia 32 tahun. Dia sudah mempunyai keluarga dan punya seorang anak yang masih SD.


Ternyata mbak Sari yang biasa memasak untuk teman-teman kerjanya. Dia bilang kalau bu Intan tak pernah menyuruhnya memasak untuk bu Intan. Bu Intan akan memesan makanan dari luar kalau dia tak ingin memasak.


Baginya, bu Intan adalah orang yang baik. Bu Intan tidak memberatkan mereka. Bu Intan akan memberikan waktu pada mereka untuk kegiatan di rumah masing-masing, barulah setelah itu mereka bekerja di sini.


Tidak ada satupun dari mereka yang tinggal di rumah ini. Tapi mereka tinggal tak jauh dari sini. Ketika malam, ada penjaga khusus untuk menjaga rumah bu Intan.


.


.


.


Aku tergiur untuk memasuki sebuah ruangan yang mbak Sari bilang ruangan itu adalah tempat yang biasanya dipakai majikannya untuk nge-gym. Aku melongok ke dalam ruangan itu. Beberapa alat olahraga berada di ruangan itu.


Aku tersenyum melihat benda-benda itu. Aku ingin sekali mencobanya. Aku sudah jarang berlatih. Mungkin dengan menggunakan alat-alat itu aku bisa sedikit meregangkan otot-ototku.


Aku meminta izin pada mbak Sari. Tapi dia nampak enggan untuk mengizinkan. Ya tentu saja, dia bukan pemilik rumah ini. Aku juga gak tau diri, mentang-mentang bu Intan baik padaku.


Kami membersihkan ruangan itu. Setelah kami selesai, tiba-tiba Kana datang menghampiri kami di depan pintu. Aku lupa kalau dia juga ada di rumah.


"Kalian ngapain? "


"Lagi bersih-bersih, Den.. "


"Um... Gitu. Terus sekarang kalian mau ngapain? "


"Saya mau ke atas. Mau selesaikan pekerjaan di atas."


"Aku ikut, mbak! "


"Gak usah, neng. Ini kerjaan punya mbak. Lagian kamu kan udah bantuin mbak dari tadi."


Hatiku sedikit bergetar kala dia memanggilku 'Neng', itu mengingatkanku pada bapakku.


"Uhm... Gak pa-pa, mbak. Lagian aku mau ngapain? Mau masak juga masih jam segini. "


"Kamu ikut aku aja. " Kana berucap. Aku dan mbak Sari menoleh padanya.


"Kemana? " Tanyaku.


"Uhm... Mbak Sari bisa mulai kerja sekarang?" Kana tampak tak enak hati bertanya begitu.


"Oh iya, Den! Mbak permisi dulu. "


Mbak Sari sudah pergi. Aku menatap Kana dengan bingung.


"Kita olahraga bareng, yuk! " Ajaknya lalu tersenyum lebar. Aku hanya mengerjapkan mataku.


Dia menarikku masuk kembali ke ruangan itu. Ada apa dengannya? Kenapa dia tiba-tiba baik padaku? Apa dia terlihat dingin padaku hanya karena adanya Ace?


"Ini gimana cara pakenya? " Kana menunjuk sebuah treadmill.


"Loh... Masa kamu gak tau cara pakenya?" Dia menggeleng.


"Ini kan rumah kamu. Kamu yang lebih tau dan pastinya terbiasa dengan barang-barang di sini. Emang ruangan ini gak pernah dipake buat olahraga? "


Dia nyengir. "Heheh... Yang biasanya pake itu papa sama kakak. Aku jarang ke ruangan ini, apalagi pake barang-barang di sini. Palingan aku cuma nengok bentar kalo papa sama kakak lagi latihan."


Aku jelas melongo. Masa cuma treadmill aja gak bisa? Padahal barang itu ada di rumahnya.


Aku menaiki benda itu. Mengawali dengan berjalan perlahan untuk pemanasan. Kana tampak serius memperhatikanku. Sebenarnya ekspresinya itu berlebihan.

__ADS_1


Aku mulai menambah kecepatan setelah kurasa cukup dengan pemanasan. Menambah lagi kemudian berlari di atas benda itu.


Entah kenapa aku rasanya senang sekali. Kalau orang lain melihat, pastilah mereka mengira aku katrok. Bodo amat lah. Yang jelas, orang yang memperhatikanku sekarang tampak serius. Lucu sekali. Mukanya melongo blo'on begitu...


Ampuni aku Tuhan...


Karena mengejek orang...


.


.


Keringat sudah keluar dari tubuhku. Kurasa sudah cukup aku berlari. Aku memperlambat laju benda itu, menghentikannya kemudian turun.


Haah... Capek juga. Aku jarang sekali olahraga akhir-akhir ini. Badanku jadi terasa lemas.


"Kamu gak merasa takut naik benda itu? " Tanya Kana tiba-tiba.


Aku yang sedang duduk selonjoran pun menatapnya. "Nggak. " Aku merasa ada yang aneh.


"Sebenarnya aku trauma sama yang namanya alat olahraga. Aku sudah beberapa kali kecelakaan saat mencoba beberapa benda itu. Bahkan mungkin ketika aku mencoba, maka saat itu pula aku cedera." Ucapnya lalu duduk di sampingku. Aku menatapnya serius.


"Jadi kamu gak benar-benar gak pernah menyentuh barang itu? " Dia hanya diam sambil menatap ke depan. Seperti ada ketakutan dalam tatapannya.


"Mungkin kamu bisa mencoba yang lain. Yang minim resiko kecelakaan. "


Aku berdiri dan berjalan menghampiri samsak yang tak jauh dari sana. Melihat benda itu rasanya membuat ototku tak sabar untuk meninju.


Aku meninju benda itu kuat-kuat, sampai rasanya aku ingin berteriak dengan keras untuk menambah semangatku.


Ku lihat Kana berdiri memperhatikanku. Aku menghentikan kegiatanku dan menatapnya.


"Kamu bisa coba yang ini. Tapi pelan-pelan. "


Dia berjalan mendekatiku. Menatap benda yang baru saja aku pukuli.


Puk!


Puk!


Dia memukul benda itu seperti menepuk nyamuk.


Ya ampun...


Tiba-tiba dia melepas kaos panjang yang dipakainya. Terlihatlah tangan dan dada kurus yang hanya terbalut kaos dalam.


Seperti apapun penampakannya aku tetap terkejut.


"Kamu kenapa buka baju?! " Jujur aku risih.


"Susah kalo pake baju panjang begini. " Ucapnya tak peduli.


Ya ampun... Anak ini!


Tapi aku merasa iba melihat tubuhnya. Kurus sekali dia. Bahkan lengan atasku lebih besar darinya. Hanya saja tidak dengan kepalan tangannya.


Dia mulai memukul samsak itu dengan perlahan. Aku masih diam menatapnya.


Tiba-tiba...


"Loe liatin apa? Dasar mesum! "


Eh!


Aku terperanjat mendengar suara dan kata-kata itu.


"Me-mesum? " Aku menatap si penuduh dengan bingung.


"Loe ngapain liatin Kana sampe kayak gitu?! "


"Aku... " Memangnya ekspresiku seperti apa?


"Gak usah macem-macem sama dia! " Ace menghampiri Kana yang sudah menghentikan kegiatannya.


Mereka berdiri berhadap-hadapan. Saling menatap dan tersenyum.


Hem... Perasaanku tidak enak.


Ace mengusap lembut pipi kiri Kana. Kemudian memegang kedua bahunya.

__ADS_1


"Jangan dipaksakan kalau kamu gak bisa. Gak usah peduliin orang lain. " Ucapnya terdengar sangat lembut.


Kemudian dia mengambil baju Kana dan memakaikannya. Kana terlihat seperti adik yang masih kecil untuk Ace.


Ace berbalik menatapku dengan tajam. Aku sampai terperanjat karena tatapan itu.


"A-apa? " Ucapku gelagapan. Padahal aku kan tidak salah apa-apa, menurutku.


"Gue mau tantang loe. Kalo loe bisa kalahin gue, gue bakalan penuhin satu permintaan loe. Tapi kalo loe kalah, loe harus jaga jarak dari Kana dan gue. "


Hah? Tantangan macam apa itu? Apa untungnya juga untukku? Hanya ada satu permintaan pula yang bisa ku ajukan. Dia memintaku untuk menjaga jarak. Aku bahkan tidak peduli walaupun aku tidak berdekatan dengan kalian.


"Ok. Gue cuma gak mau jadi pecundang kalo gak terima tantangan dari loe. " Ucapku angkuh. Ace mengedikkan bahunya.


Ace berjalan ke dekat kursi, lalu melepaskan kemeja yang dipakainya dan..


Wow... ototnya...


Tubuhnya jauh berbeda dengan tubuh kurus Kana tadi. Sangat sempurna. Berotot tapi tidak terlalu besar.


Ya ampun! Apaan sih aku ini?!


Apa yang aku lihat? Aku sudah mengotori mata dan otakku. Ingin rasanya aku menampar pipiku sendiri. Tapi tentu saja aku tidak boleh melakukannya.


Aku membuang nafas kasar. Kalo begini, bisa-bisa aku kalah! Fokus... Fokus...


Untung Ace tidak melihatku. Apa jadinya kalau dia melihatku dengan takjub begitu? Bisa tambah berbisa kata-katanya.


Aku masih diam ketika dia berbalik dan menatapku. Aku balas menatapnya, tentu dengan wajah datar agar dia tidak curiga.


"Push up! " Ucapnya.


Aku melongo. "Hah? "


"Loe sekarang push up. Kita lihat siapa yang push up paling banyak, maka dia pemenangnya. "


Aku tersenyum sinis.


"Haha... Tentu saja aku yang akan menang. Itu mudah. " Dia tampak tak senang dengan ucapanku.


"Cih! Jangan sombong dulu. Buktikan sekarang! "


"Ya loe juga harus mulai dong! Kita push up sama-sama! "


"Ok."


Aku dan Ace melakukan sedikit pemanasan. Lalu kami mengambil posisi yang sama sambil berhadap-hadapan. Kana duduk di kursi, menonton.


"1 "


"2 "


"3! "


Ucap kami serempak.


Aku melakukan push up dengan percaya diri. Ace tampak berambisi untuk menang.


Ayo kita lihat, aku ingin membuatmu malu. Aku tersenyum licik sambil menatapnya.


Entah kenapa tatapannya jadi aneh. Aku pun segera menghilangkan senyumanku dan kembali fokus.


.


.


.


.


.


bersambung...


.


.


salam dari yuya 😘😘

__ADS_1


__ADS_2