Pelangi Tanpa Batas Warna

Pelangi Tanpa Batas Warna
Tanpa Alasan


__ADS_3

.


.


Aku sedang di dapur untuk mengambil air minum. Aku tidak mau kalau sampai aku bangun tengah malam hanya untuk mengambil air. Walaupun aku bangun dalam keadaan tidak sadar.


Setidaknya ini usahaku agar aku tidak pergi dari kamar, berjalan sambil tidur tepatnya...


"Ngapain loe! "


"E eh! " Hampir saja gelas yang kupegang jatuh karena saking kagetnya mendengar suara orang yang setengah berteriak.


Aku berbalik untuk melihat orang itu. Ace.


"Aku ambil air minum. " Jawabku seadanya.


"Udah berani loe, ya? Belum satu hari tinggal disini, udah seenaknya masuk dapur. Mau maling loe?! "


Aku mengerutkan dahiku. Orang ini aneh sekali.


"Aku cuma ambil air. Lagian aku udah izin bu Intan. "


"Halah! Alesan! Ngapain loe ngendap-ngendap kayak gitu? "


Aku membuang nafas kasar. Mengendap-endap bagaimana sih?


"Kayaknya bilang sama loe juga percuma, ya. Gak bakalan nyambung. Emang loe nya aja yang pengen salahin gue. " Gedeg aku.


Aku berjalan hendak meninggalkannya. Meladeni orang seperti dia hanya membuatku naik darah.


Tapi saat aku berjalan, tiba-tiba saja kakinya menghalangi jalanku. Aku pun jatuh dan tentu saja gelasnya juga. Bahkan benda itu sekarang sudah pecah dan berserakan di lantai.


Aku menatapnya tajam. "Loe apa-apaan sih?! Pecah kan jadinya! "


Aku berjongkok untuk memunguti pecahan gelas itu.


"Gelas-gelas siapa coba? " Ucapnya enteng.


Aku mendongak menatapnya dengan marah.


"Apa? " Tanyanya dengan wajah yang... Menyebalkan!


Aku lanjut memunguti gelas itu, tak peduli dengan orang yang kini sedang berdiri melihatku.


Apa yang dia lakukan? Menontonku?


Aku membuang pecahan gelas itu ke tempat sampah. Aku mengambil tisu untuk membersihkan pecahan gelas yang mungkin masih tersisa.


Aku berniat mengambil air lagi. Tapi lampu tiba-tiba saja mati. Mati lampu?


Tentu saja tidak.


Aku menatap datar Ace yang berdiri di dekat saklar. Lampu di ruangan lain masih menyala, jadi aku masih bisa melihat dengan jelas wajahnya.


Dia melipat kedua tangannya di dada. Tatapannya angkuh.


Aku membuang nafas kasar lalu mengambil air dengan cepat dan pergi dari dapur. Untung saja masih terlihat.


Aku sampai di kamarku. Rasa kesal masih saja kurasakan. Ku taruh gelas di atas nakas dan ku banting tubuhku ke kasur.

__ADS_1


"Huft... "


"Dia itu kenapa kekanak-kanakan sekali? "


Samar-samar aku mendengar suara orang yang sedang berdebat. Siapa?


Aku keluar dari kamar, sedikit mengendap-endap karena berniat menguping.


Aku mendekati sumber suara. Aku bersembunyi. Kuusahakan agar aku tidak terlihat oleh mereka.


"Sebenarnya apa masalah kamu sama dia? " Terdengar suara bu Intan.


Ace menjawab dengan kesal, "Aku gak suka sama dia. Aku gak suka dia tinggal disini. "


"Kamu itu kekanak-kanakan. Dia disini karena mama yang minta. Mama suruh dia kerja. Tolong lah kamu mengerti. Jangan seenaknya gitu sama orang hanya karena kamu gak suka sama dia. Kamu itu sudah dewasa. Lagipula ini bukan sifat kamu yang biasanya. "


Tidak ada jawaban.


"Coba kamu pikir, gimana kalo dia tadi jatuh terus kena pecahan gelas? Kalo sampai dia luka karena kamu, mama harus bilang apa sama ibunya? "


"Tapi kan dia gak pa-pa, ma. "


"Pokoknya mama gak mau tau! Jaga sikap kamu sama dia. Kalau sampai mama tau kamu kasar sama dia, siap-siap saja dapat hukuman dari mama. " Terdengar langkah kaki yang menjauh. Mungkin bu Intan pergi.


"Tapi, ma. Mama... " Ace membuang nafas kasar. Sampai aku bisa mendengarnya.


Kenapa bu Intan bisa tau aku tadi jatuh. Aku berpikir sejenak.


Oh iya!


Bu Intan kan pasang CCTV di rumahnya!


Aku tidak yakin dengan hal itu. Dilihat dari sikap Ace yang galak. Aku yakin gadis-gadis itu juga dapat perlakuan kasar darinya.


Aku berjalan pelan untuk kembali ke kamarku. Tapi suara seseorang membuatku berbalik kembali.


"Loe ngapain disitu? Nguping? " Tanyanya terdengar kesal.


Aku menatapnya datar. Aku mengusap ujung hidungku dengan telunjuk sambil terus menatapnya.


"Apa sih yang bikin mama suka sama orang kayak loe? Apa yang bisa dibanggain dari loe? "


Aku sedikit memiringkan kepalaku. "Hah? Bangga, ya?"


Aku menatapnya dengan tatapan mengejek. "Mungkin karena gue gak memandang rendah dan meremehkan orang lain. Kayak yang loe lakuin ke orang lain. Kok bisa sih, bu Intan punya anak kayak loe? Sifat kalian itu jauh... Banget bedanya.


Lagian apa sih masalah loe sama gue? Emang gue ada salah apa sama loe? "


Bukannya menjawab, dia malah pergi begitu saja sambil mengeratkan tulang pipinya.


Aku tau dia tidak punya alasan lain selain karena dia tidak menyukaiku.


Memang aneh. Tapi terkadang memang manusia tidak menyukai orang lain tanpa alasan yang jelas. Bahkan hanya melihat orang itu saja bisa membuatnya merasa kesal.


.


.


.

__ADS_1


Pagi pertamaku di rumah bu Intan. Hari ini aku sudah mulai memasak di rumahnya. Aku menyelesaikan pekerjaanku dengan segera. Walaupun dengan bantuan bu Intan. Itu karena aku belum tau dimana letak barang-barang yang aku butuhkan untuk memasak.


Setelah kami selesai, bu Intan memintaku untuk ke ruang tamu. Dia bilang, ada yang ingin dia kenalkan padaku.


Aku pun datang ke ruang tamu. Di sana aku melihat ada lima orang yang sedang berdiri dengan sopan.


Bu Intan memperkenalkan mereka padaku.


"Ini pak Rusli dan pak Mudi, mereka adalah satpam di rumah ini. " Ucap bu Intan sambil berdiri di depan dua orang yang memakai seragam satpam.


Kemudian dia berdiri lagi di depan dua orang laki-laki dan seorang perempuan. "Ini pak Daus, tukang kebun. Ini mbak Sari, yang bersih-bersih rumah. Sebenarnya ada dua orang, tapi yang satunya lagi sakit. Lalu ini pak Hendra, supir pribadi ibu. Di rumah ini gak ada tukang masak. Karena ibu biasanya kalau di rumah masak sendiri. " Ucapnya lalu berjalan menghampiriku.


Aku tersenyum pada orang-orang itu. "Perkenalkan, saya Rain. "


Bu Intan merangkul pundakku. "Rain ini adalah koki di rumah ini. Saya harap kalian mau bekerja sama dengannya. Dia anak yang baik. "


Kelima orang itu mengangguk sambil tersenyum.


"Ya sudah kalau begitu. Silahkan bekerja. Tapi sebelum itu, silahkan kalian sarapan dulu. Kalian cicipi masakan Rain. Kalian pasti suka. Kita sarapan sama-sama. Karena sebentar lagi saya mau pergi ke kantor. Rain juga mau berangkat kuliah."


Keempat orang itu menatapku tiba-tiba setelah mendengar ucapan terakhir bu Intan. Tapi mereka mengiyakan sambil mengangguk. Pak supir sudah tau tentang diriku.


Mereka pun bubar.


Apa mereka selalu makan di sini? Walaupun majikannya yang memasak? Entahlah...


Kami sarapan bersama. Tapi para pekerja bu Intan lebih memilih makan bersama di dapur.


Jadi hanya ada kami berempat yang makan di meja yang sama.


Ace dan Kana makan dalam diam. Aku memperhatikan mereka. Mereka tampak menikmati makanannya. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut mereka.


"Nanti kamu berangkat sama ibu, ya. " Ucap bu Intan tiba-tiba.


"Saya mau bawa motor, bu. Lagipula motor saya sudah sampai. Nanti saya bingung sendiri kalo saya pulang nanti. "


"Ya nanti pulangnya biar dijemput pak Hendra."


"Gak usah, bu. Saya sudah terbiasa sendiri. "


Ace berdehem keras membuat aku dan bu Intan menoleh padanya.


"Tenggorokan kamu kenapa? " Tanya bu Intan.


"Gak pa-pa, ma. Cuma gatel doang. Mungkin kaget sama rasa makanannya. "


"Masakannya enak, kok. " Ucap bu Intan sedikit heran.


Aku sudah tau kalau Ace hanya ingin membuatku kesal? Itu tidak mempan untukku. Kamu tadi makannya lahap begitu, sekarang setelah makanannya sisa sedikit baru protes.


.


.


.


.


bersambung...

__ADS_1


salam dari yuya ☺☺


__ADS_2