Pelangi Tanpa Batas Warna

Pelangi Tanpa Batas Warna
Kekalahan Rain


__ADS_3

Rain dan Anih beradu sampai keduanya kelelahan. Tapi Anih seolah hanya menghindari setiap pergerakan Rain. Rain tidak menyangka dengan pergerakan Anih yang lincah. Perempuan yang lugu itu kini benar-benar berbeda.


"Cih! Sekali lemah tetap saja lemah. Mau sampai kapan kamu menghindar? Ku kira kamu benar-benar sangat kuat setelah mendengar omong besarmu, tapi ternyata kamu hanya bisa menghindar. Lawan aku, Anih, " Rain berucap sambil terengah-engah.


"Keluar juga sifat sombongmu. Aku hanya ingin bermain terlebih dahulu sebelum melumpuhkan mu. Aku ingin benar-benar merasa puas."


"Sampai kapan pun tidak akan ada kepuasan dalam dirimu, kamu akan merasa haus akan penderitaan orang lain. "


"Hahaha... Itu kamu tau. Tapi setidaknya kamu bisa menjadi penawar rasa haus ku itu. Itu juga untuk membuktikan bahwa aku bisa menjadi lebih kuat darimu. "


"Kalau begitu, lawan aku sekarang. "


Anih menyeringai dan kini perempuan itu mengeluarkan sebuah belati dari balik jubahnya.


"Cih! Kamu tidak bisa melawan ku dengan tangan kosong? "


"Kamu takut? "


"Tentu saja tidak. Majulah. "


Dengan gerakan kilat, Anih kini yang menyerang Rain. Rain pun tak kalah sigap mengimbangi pergerakan perempuan itu.


Walaupun dengan tangan kosong, tapi Rain bisa membuat Anih kewalahan. Bahkan perempuan itu kini mundur perlahan dan membuang belati yang sama sekali tidak membantunya.


"𝘛𝘦𝘳𝘯𝘺𝘢𝘵𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘤𝘶𝘬𝘶𝘱 𝘬𝘶𝘢𝘵 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘸𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘢. 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬𝘯𝘺𝘢 𝘩𝘢𝘭 𝘪𝘯𝘪 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘭𝘶𝘳 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘵𝘶𝘬𝘶. 𝘈𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘸𝘢𝘭𝘢𝘶𝘱𝘶𝘯 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪."


"Kenapa kamu diam? Ada apa? Apa sudah merasa kalah?"


"Mulutmu benar-benar menyebalkan, Rain. Aku ingin merobek mulut mu dan memotong lidahmu itu. "


Rain menggeleng sambil tersenyum. "Mengerikan sekali kata-katamu itu. Tapi aku tidak takut." Rain kembali menyerang Anih setelah mengucapkan itu.


Namun baru beberapa saat mereka bertarung, seseorang datang dan membantu Anih. Anih tersenyum penuh kemenangan melihat orang itu. Bahkan setelahnya banyak sekali orang yang datang di belakangnya.


"Maaf kami terlambat, Miss. "


"Tidak sama sekali. "


Rain melihat ke arah orang-orang itu dan teringat dengan suatu setelah melihat orang yang mencekiknya namun juga tak sengaja menciumnya. "Jadi kalian anak buah nya Anih? "


Mereka menoleh pada Rain dengan berbagai ekspresi. Anih tersenyum dan menjawab, "Tentu saja. Lihatlah bagaimana aku bisa mengumpulkan orang sebanyak ini dalam waktu yang singkat. Apa kamu masih meremehkan ku sekarang? "

__ADS_1


"Tidak. Sejak dulu pun tidak. Tapi dulu aku sangat menghargai mu karena sifat lembut mu. "


"Heh, apa kamu merasa takut makanya memuji ku? Tapi maaf, aku sama sekali tidak tersentuh. "


Anih menatap anak buahnya dan mengisyaratkan sesuatu. Orang-orang itu mengangguk dan kini posisi mereka berjauhan hingga mengelilingi Rain. Gadis itu hanya diam melihat apa yang mereka lakukan. Tatapan nya benar-benar datar.


Anih berjalan menghampirinya dengan perlahan. Perempuan itu tersenyum senang. "Oh ya, aku masih belum mengatakan hal lainnya padamu. Setelah kekalahan mu nanti, aku akan mengambil beberapa aset milik keluargamu. Mereka akan menyerahkan itu dengan senang hati. Juga, aku akan mengambil beberapa aset milik tuan mu dan bekerja sama dengan pesaingnya.


Aku juga sudah membuat kekacauan di perusahaan nya dan bahkan memblokir dengan paksa tempat kerjamu saat ini. Setelah dulu aku gagal, aku tak ingin mengulangi kesalahan yang sama.


Aku ingin kekalahan mu membuat mereka tenang tanpa memberatkan mu. Kamu juga akan tenang setelah melepaskan semuanya. Saat ini, yang mereka tau, kamu lah yang menjadi sumber utama kekacauan ini. Tanpa bukti, kamu akan kesulitan walaupun kamu menang dariku sekalipun.


Kamu memang anak pembawa sial, Rain. Tanpa ulahku pun, kehadiranmu sudah membuat orang lain kesulitan. Orang-orang terdekatmu akan membencimu setelah ini.


Menang atau pun kalah dariku tetap tidak akan membawa perubahan pada hidupmu setelah ini. Berusahalah kalau kamu ingin berusaha. Berusahalah untuk menang melawan mereka. " Anih berlalu dari hadapan Rain dan duduk dengan santai di kursi taman.


Rain terdiam dengan pikiran yang berantakan. "𝘈𝘬𝘶 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘮𝘣𝘢𝘸𝘢 𝘴𝘪𝘢𝘭? 𝘓𝘢𝘨𝘪-𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘢𝘬𝘶? 𝘓𝘢𝘭𝘶 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘢𝘱𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘪𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘪𝘵𝘶 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘬𝘦𝘴𝘶𝘭𝘪𝘵𝘢𝘯?" Rain menatap mereka dengan sendu.


Anih tersenyum menang melihat itu. "𝘗𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢𝘢𝘯 𝘮𝘶 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘭𝘦𝘮𝘢𝘩, 𝘙𝘢𝘪𝘯. 𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘫𝘶 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘪𝘯𝘪, 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘢𝘥𝘢𝘱𝘪 𝘮𝘢𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳𝘨𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘳𝘵𝘪. 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘬𝘦𝘤𝘰𝘩 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘢𝘯𝘤𝘢𝘮𝘢𝘯 𝘬𝘶? 𝘈𝘱𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘳𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘬𝘶𝘢𝘵 𝘪𝘵𝘶? " Anih merasa senang karena berpikir rencananya akan berjalan lancar.


"Majulah, untuk apa kalian menunggu dia? Lumpuhkan dia dan setelah itu kalian pun akan bebas. " Ucapan Anih tidak langsung dilaksanakan oleh anak buah nya.


Mereka bukan tidak mau melawan, tapi mereka tidak bisa. Anih mengambil sebuah benda kecil dari balik jubahnya dan menekan tombol yang ada pada benda kecil itu.


Lalu hal yang tidak dimengerti Rain pun terjadi. Salah satu dari orang itu meringkuk di tanah dengan tubuh yang kejang seolah terkena setrum. Belum sempat Rain mencerna kejadian itu, tapi Anih sudah berteriak dan orang-orang itu pun mulai menyerang Rain.


Sepuluh orang laki-laki bertubuh besar melawan seorang perempuan yang kini tampak rapuh. Belum hilang lelah yang dirasakan Rain, orang-orang itu sudah berganti posisi dengan sepuluh laki-laki lainnya dan menyerang Rain.


Begitu seterusnya hingga Rain kewalahan dan terjatuh. Namun orang-orang itu masih belum berhenti. Mereka menendang, memukul dan bahkan menginjak tubuh yang kini sudah lemah dan terbaring di tanah.


Beberapa dari orang-orang itu sampai mengeluarkan air mata saat melihatnya. "𝘔𝘢𝘢𝘧𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘪. 𝘒𝘢𝘮𝘪 𝘵𝘦𝘳𝘱𝘢𝘬𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘰𝘳𝘣𝘢𝘯𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘳𝘪𝘮𝘶 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳𝘪 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘪𝘯𝘪. "


"Cukup! " Perintah Anih dengan lantang dan akhirnya mereka berhenti.


Anih mendekat dan melihat ke arah orang-orang itu yang tampak sedih. "Kenapa kalian menangis? Kalian merasa kasihan padanya? Ingat, dia lah penyebab semua ini. Maka kekalahannya akan membebaskan kalian. " Orang-orang itu tidak sepenuhnya mengiyakan.


Sebenarnya tidak semuanya dari puluhan orang yang dijadikan Anih anak buah, mendapatkan ancaman dari perempuan itu. Anih hanya memiliki sekitar delapan belas anggota yang sejalan dengannya. Selebihnya mereka semua hanya terpaksa.


Dengan hasutan dan ancaman, Anih bisa merekrut orang-orang itu yang awalnya bersedia menyerang Rain.


"Lihat bagaimana kondisimu saat ini, gadis kecil. Apakah kamu masih bisa sesombong tadi? Ingatlah, kamu penyebab semua penderitaan keluargamu. Kamu lah penyebab kematian ayahmu. Kamulah penyebab kecelakaan pada mereka. Kamu juga yang menyebabkan temanmu mati. Maka,terima lah semua ini dengan lapang. Percuma kamu menyesali semuanya, Rain. Mereka sebenarnya membencimu, anak pembawa sial. "

__ADS_1


Anih berjongkok di samping tubuh Rain dan mencengkram dagu gadis yang kini menangis itu. "𝘏𝘦𝘩! 𝘓𝘦𝘮𝘢𝘩! "


Anih memanggil salah satu anggota setianya dan memberi perintah yang menakutkan. Bahkan orang-orang yang mendapatkan ancaman itu pun merasa tak percaya.


"Potong jari-jari tangan dan kakinya setelah kalian memuaskan keinginan kalian. Semakin ganas, semakin bagus. Rusak mentalnya sampai dia merasa tak ingin hidup lagi. " Orang-orang itu pun tersenyum dengan senang.


"Dan untuk kalian, " Anih menunjuk pada orang-orang yang mendapatkan ancaman itu. "Kalian pergilah. Aku sudah membebaskan keluarga kalian dan akan segera melepaskan benda itu dari tubuh kalian. Tapi kalian harus menjaga jalan ini sebelum mereka selesai. "


Orang-orang itu hanya terdiam dengan wajah yang sendu.


Bima, laki-laki itu adalah salah satu dari mereka. Pemuda itu melihat Rain yang sudah dalam gendongan laki-laki bertubuh besar yang dulu gagal memuaskan hasratnya pada Rain. "𝘉𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘪𝘫𝘪𝘬𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘶 𝘬𝘪𝘳𝘢. 𝘉𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘨𝘢𝘥𝘪𝘴 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘭𝘦𝘮𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘭𝘶𝘮𝘶𝘳𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘢𝘩? "


Tapi lamunannya dibuyarkan oleh suara tembakan di langit. Semua orang di sana melihat ke sembarangan arah untuk menemukan sumber suara itu.


Tapi,


"Argghh.... "


Teriakan demi teriakan dari mereka membuat semuanya kacau. Anih dan anggota nya kebingungan dengan itu.


Sebagian dari orang-orang itu kini tak sadarkan diri. Hingga tersisa Anih dan empat belas anggotanya yang mulai gelisah.


Lampu di taman itu mati dan suasana di sana menjadi gelap gulita. Lalu, muncullah beberapa orang dari kegelapan dan cahaya muncul beriringan dengan kemunculan mereka.


.


.


.


.


bersambung...


.


.


.


salam dari Yuya😉😉😉

__ADS_1


__ADS_2