Pelangi Tanpa Batas Warna

Pelangi Tanpa Batas Warna
Sesaat Mencoba Tenang


__ADS_3

🌼🌸🌼🌸


"Kenapa aku berpikir begitu? Kamu sendiri pasti tau jawabannya. " Ace tersenyum lalu mengalihkan pandangannya dariku.


Ya, aku sadar. Aku memang seolah tidak serius padanya saat dia menginginkan keseriusan denganku.Tapi aku melakukan itu bukan tanpa alasan.


"Ace, " panggil ku lirih dan dia masih tidak menatapku.


"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu. "


"Katakan saja, " ucapnya lirih tapi tatapannya terlihat sedikit tegang. Aku tidak tau apa yang dia pikirkan.


Aku menghembuskan nafas panjang sebelum menceritakan semuanya pada Ace. Semua tentang Anih. Aku tentu saja tidak bisa bercerita padanya tentang siapa aku dalam keluarga ku.


Aku menceritakan tentang awal mula Anih membenci keluarga ku. Tentu saja itu adalah awal ketika aku menghajar Danang sampai laki-laki itu lumpuh. Tapi itu karena kemarahan ku saat Danang berusaha mencelakai adikku. Aku tidak bisa menahan diri.


Aku juga menceritakan pada Ace tentang percobaan pembalasan Anih yang tidak tepat sasaran dan malah mencelakai kakak dan ayahku.


Aku juga menceritakan tentang Anih yang membakar restoran tempat ku bekerja. Aku menceritakan semuanya sambil menangis. Aku menangis karena mengingat akulah penyebab orang-orang itu menderita.


Semuanya karena aku tidak bisa menahan emosi terhadap Danang. Anih menjadi dendam karena hal itu.


"Sekarang kamu sudah tau. Lalu, aku harus bagaimana sekarang? " tanyaku pada Ace dengan suara yang bergetar.


Ace masih mematung. Dia terlihat benar-benar syok dengan apa yang aku katakan. Rupanya bu Intan tidak menceritakan hal itu pada siapapun. Reaksi Ace benar-benar terlihat kalau dia baru mendengar hal ini. Padahal, aku tidak menceritakan tentang aku yang seorang anak tiri. Kalau aku tambahkan itu juga, akan seperti apa reaksi Ace?


"Ace? " Dia perlahan menatapku dengan tatapan yang beragam.


"Reaksimu saja seperti ini, lalu bagaimana dengan keluargaku? " Air mata jatuh kembali dari kedua mataku. Rasanya hatiku sakit. Aku juga merasa takut. Karena kenyataan yang sebenarnya lebih buruk dari itu.


Ace memelukku yang masih saja menangis. Pelukannya malah membuatku semakin kacau. Aku malah bertambah ketakutan dengan reaksi keluarga ku.


"Tenanglah dulu. Kita pikirkan dulu baik-baik. Berhentilah menangis, " bujuk nya sambil mengusap lembut kepalaku.


"Aku takut, Ace. Aku takut keluarga ku membenciku. " Aku jujur mengatakan semua itu.


"Sstttt, jangan berpikir seperti itu. Aku yakin keluarga mu akan menerima semuanya dan mendengarkan penjelasan mu. Yakinlah keadaan tidak seburuk itu. Aku akan selalu bersama mu, jangan takut. " Ace masih memelukku dan mengusap rambutku dengan lembut.


"Aku minta maaf. Karena hal ini, aku seolah tidak merespon mu. Maafkan aku kalau aku juga membuatmu kecewa."


Ace mengurai pelukannya dan memegangi kedua bahuku. Menatapku dengan tatapan lembutnya. "Aku yang seharusnya meminta maaf. Walaupun tidak ada kejadian seperti ini, seharusnya aku tidak memaksakan keinginan ku. Tapi, aku takut aku tidak bisa mengendalikan diriku saat aku bersamamu. Makanya aku ingin hubungan kita lebih serius. Selain itu, aku juga ingin membuatmu seutuhnya menjadi milikku."


Aku menatapnya terdiam. Itu juga yang ia lakukan." Kamu bersedia? " tanyanya lirih dan membuatku tersadar.


"Aku bersedia. Tapi... "


"Aku akan menunggu. Tapi, jangan pernah berpaling dariku saat kita berjauhan. Aku mohon, tetapkan lah hatimu untuk ku sampai semua masalahmu selesai. "


"Apa tidak terbalik? Seharusnya aku yang mengatakan itu. Seharusnya aku yang memintamu untuk menjaga hatimu saat menunggu ku. "

__ADS_1


Ace tersenyum. "Kalau kita memiliki perasaan yang sama, kita pasti memiliki keinginan dan kekhawatiran yang sama. "


Aku tersenyum menatapnya. Dia manis sekali. Sesaat, pikiran burukku hilang karena sikap dan kata-kata nya.


"Jadi, kapan kita akan berkunjung ke rumahmu? " tanya Ace tiba-tiba dan itu membuatku tersadar sekaligus terkejut.


"Hah? Ke rumahku? "


"Iya. Bukankah kamu akan menyelesaikan semuanya dengan segera? "


"Oh." Pikiran ku sempat kemana-mana tadi. "Maksudnya kamu mau temani aku?" Dia mengangguk.


"Lalu apa yang akan dipikirkan oleh keluarga ku saat aku datang bersamamu? "


Dia tampak berpikir lalu mengedikkan bahu dan menjawab sambil tersenyum polos, "Langsung lamaran juga gak pa-pa. Aku siap kok. "


Ya ampun...


Ingin sekali aku mencubit kedua pipinya andai itu tidak berdampak. "Tapi sayangnya kenyataan tidak semanis itu, " ucapku lalu tersenyum setelahnya.


"Yakinlah kenyataan tidak akan seburuk yang kamu pikirkan. Kamu terlalu takut sehingga semuanya menjadi begitu berat."


Aku hanya menunduk. Tapi kenyataannya semuanya memang terasa buruk karena diriku sendiri. Bagaimana aku tidak berpikir kalau akhirnya akan lebih buruk dari apa yang aku bayangkan?


Ace menepuk bahuku. "Sudahlah, tenangkan dulu pikiran mu. Jangan terlalu takut. Katakan semuanya agar pikiran mu tenang. Bagaimana pun hasilnya, yang penting kamu sudah berusaha jujur pada mereka. Semua ini bukanlah kesalahanmu. Aku yakin, keluarga mu adalah orang-orang yang baik. Mereka akan menerima mu seperti sedia kala. "


Aku membuang nafas kasar. Ace berusaha menenangkan ku, walaupun aku masih saja tidak bisa tenang. "Makasih. "


Aku tidak menatapnya dan malah melihat ke sekeliling tempat itu sambil menahan air mataku. Aku tidak mungkin mengatakan yang sejujurnya. Cukup sudah orang-orang terdekat ku menderita, jangan ditambah lagi.


Aku tidak ingin orang-orang yang menyerang keluarga ku dulu, menyerang ku lagi dan berdampak pula pada orang-orang terdekatku kini. Biarlah aku cari tau sendiri. Tapi saat ini, lebih baik aku simpan dulu keinginan ku.


"Aku akan merindukanmu. "


Ace berbalik menatapku. "Itu harus. Tapi mana jawaban dari kata-kataku barusan? "


"Iya, akan aku usahakan untuk berbagi masalah denganmu biar kamu tenang. " Lalu aku tersenyum.


"Kok kayaknya kata-katanya bermakna lain?"


"Kamu bilang berbagi masalah. Iya aku pasti bagi-bagi. " Aku tertawa dan Ace malah menekuk wajahnya. Tapi tak lama dia tersenyum dan mengacak-acak rambutku.


"Gitu dong, senyum. Kan cantik. Jangan nangis mulu. "


Senyumku bertambah lebar karena perlakuannya. "Makasih."


"Sama-sama, Hujan... "


Dan kami pun tertawa bersama. Untuk sesaat, ku hilangkan pikiran burukku dan mencoba untuk tenang.

__ADS_1


.


.


.


Ku hembuskan nafas kasar saat aku berdiri di depan rumahku. Rasanya berat sekali melangkah untuk aku memasuki rumah ini. Mengingat tujuan ku pulang adalah untuk mengatakan kebenaran tentang Anih. Walaupun mungkin masalah ini akan membuat kakak dan ibuku terbebani, namun aku sendiri tidak bisa tenang. Apalagi kalau sampai orang lain yang mengatakan hal ini pada keluargaku. Entah bagaimana jadinya kalau seperti itu.


"Assalamu'alaikum." Akhirnya aku mengeluarkan suara setelah beberapa lama terdiam di depan rumah. Ku langkahkan kakiku untuk memasuki rumah ini.


"Waalaikumsalam, " jawab Ibu dari dalam rumah dan langsung menghampiriku.


Aku terdiam menatapnya setelah menyalaminya. Dia tampak senang dengan kepulangan ku. Senyumnya tampak mengembang dan tangannya terus saja mengusap-usap kepalaku.


"Kok kamu gak bilang kalau mau pulang? Ibu kan bisa masakin menu kesukaan kamu, " ucap Ibu sambil menggiring ku duduk di kursi.


"Saya sengaja. Saya gak mau ibu kerepotan."


"Kamu ini. Repot apanya sih? Ibu udah jarang masak buat kamu loh. "


Kami duduk bersama dan ibu banyak sekali bertanya tentang kabarku. Walaupun setiap hari aku mengabarinya, tapi seperti inilah kebiasaan ibu.


"Saya baik, bu. Ibu sendiri bagaimana? "


"Seperti yang kamu lihat, " jawabnya sambil tersenyum.


"Mana bang Arka? "


"Abangmu lagi keluar, sebentar lagi juga dia pulang."


.


.


.


.


bersambung...


.


.


.


mohon dukungannya ya teman-teman..


tolong tinggalkan jejak supaya saya lebih semangat...

__ADS_1


Terima kasih😘😘


salam dari Yuya


__ADS_2